Apa Dampak Negatif Media Sosial Pada Kesehatan Mental Kita ?
Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
Ada satu kebiasaan yang terasa sangat kecil, hampir tidak berarti.
Membuka ponsel.
Menggeser layar.
Melihat satu, dua, lalu puluhan kehidupan orang lain dalam hitungan menit.
Semua terasa biasa saja.
Bahkan menyenangkan.
Sampai suatu titik, seseorang mulai merasa lelah… tanpa tahu persis kenapa.
Ada seseorang yang awalnya menggunakan media sosial hanya untuk hiburan. Ia mengikuti akun-akun yang menarik, melihat konten lucu, kadang belajar hal baru.
Tidak ada yang salah.
Tapi perlahan, tanpa disadari, ada perubahan kecil dalam cara ia melihat hidupnya sendiri.
Ia mulai membandingkan:
Dan anehnya, semua itu terjadi tanpa ada yang secara langsung memintanya untuk membandingkan.
Media sosial tidak memaksa seseorang untuk merasa kurang… tapi ia menciptakan kondisi di mana merasa kurang menjadi sangat mudah.
Leon Festinger, dalam teori social comparison, menjelaskan bahwa manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain untuk memahami dirinya.
Di dunia nyata, perbandingan itu terbatas.
Kita hanya melihat orang-orang di sekitar kita.
Tapi di media sosial, batas itu hilang.
Kita bisa membandingkan diri dengan siapa saja:
Dan yang terlihat hanyalah bagian terbaik mereka.
Ada seseorang yang merasa hidupnya biasa saja, sampai ia melihat orang lain liburan, menikah, sukses, terlihat bahagia setiap hari.
Padahal, ia tidak melihat:
Kita membandingkan kehidupan penuh kita… dengan potongan terbaik kehidupan orang lain.
Dan perbandingan seperti itu hampir selalu terasa tidak adil.
Media sosial jarang menunjukkan realitas secara utuh.
Yang ditampilkan adalah:
Ini bukan kebohongan, tapi juga bukan kebenaran sepenuhnya.
Masalahnya muncul ketika seseorang mulai menganggap itu sebagai standar normal.
Ada seseorang yang mulai merasa hidupnya tidak cukup menarik. Bukan karena hidupnya buruk, tapi karena terlihat biasa dibandingkan dengan apa yang ia lihat setiap hari.
Semakin sering seseorang terpapar kehidupan yang tampak “sempurna”, semakin sulit baginya menerima realitas yang tidak sempurna.
Dan dari situlah muncul perasaan: tidak cukup,
tidak menarik,
tidak berarti.
Ada sesuatu yang halus tapi kuat dalam media sosial:
“like”, komentar, dan respon dari orang lain.
Awalnya terasa menyenangkan.
Seseorang membagikan sesuatu, lalu mendapat respon positif.
Ada rasa dihargai.
Tapi lama-lama, tanpa disadari, muncul ketergantungan.
Ada seseorang yang mulai merasa:
Bahkan, sebelum memposting sesuatu, ia mulai berpikir: “Apakah ini akan disukai orang?”
Ketika nilai diri mulai bergantung pada respon orang lain, maka kebahagiaan menjadi sesuatu yang rapuh.
Karena ia tidak lagi berasal dari dalam…
tapi dari sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dikontrol.
Dalam penelitian oleh Baumeister tentang self-esteem, validasi eksternal memang bisa meningkatkan rasa percaya diri sementara, tapi tidak menciptakan rasa nilai diri yang stabil.
Media sosial dirancang untuk membuat seseorang terus kembali.
Setiap notifikasi, setiap scroll, setiap konten baru… memberikan stimulus kecil yang menyenangkan.
Dopamin dilepaskan.
Dan otak belajar satu hal: “Ini menyenangkan. Lakukan lagi.”
Ada seseorang yang hanya ingin membuka ponsel sebentar. Tapi tiba-tiba, satu jam berlalu.
Bukan karena ia benar-benar menikmati semuanya…
tapi karena sulit berhenti.
Media sosial tidak hanya menarik perhatian kita… tapi juga melatih otak untuk terus mencarinya.
Dalam penelitian tentang behavioral addiction, pola ini mirip dengan mekanisme kecanduan ringan—di mana reward kecil yang tidak konsisten justru membuat perilaku semakin sulit dihentikan.
Ada momen yang sering terjadi:
seseorang sedang bersama orang lain… tapi pikirannya tidak benar-benar di situ.
Ia melihat ponsel.
Membalas pesan.
Melihat notifikasi.
Dan tanpa sadar, momen itu berlalu tanpa benar-benar dialami.
Ada seseorang yang suatu hari menyadari bahwa ia sering merekam momen… tapi jarang benar-benar merasakannya.
Ia punya banyak foto, banyak cerita…
tapi sedikit kehadiran.
Media sosial membuat kita terhubung dengan banyak hal… tapi kadang menjauhkan kita dari apa yang sedang ada di depan mata.
Paparan informasi yang terus-menerus juga memiliki dampak lain.
Berita buruk.
Pendapat orang.
Perdebatan.
Standar hidup yang terus berubah.
Semua itu masuk ke dalam pikiran tanpa jeda.
Ada seseorang yang merasa pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Selalu ada sesuatu yang dipikirkan, dibandingkan, atau dikhawatirkan.
Ketika pikiran tidak pernah punya ruang untuk diam, maka kecemasan menjadi lebih mudah tumbuh.
Dalam studi oleh Twenge dan koleganya, penggunaan media sosial yang tinggi berkaitan dengan peningkatan gejala kecemasan dan depresi, terutama pada remaja dan dewasa muda.
Media sosial sering menjadi aktivitas terakhir sebelum tidur.
Scroll sebentar… lalu berlanjut.
Tanpa sadar, waktu tidur berkurang.
Dan bukan hanya soal waktu.
Paparan layar, informasi, dan emosi sebelum tidur membuat pikiran tetap aktif.
Ada seseorang yang merasa lelah secara fisik, tapi sulit benar-benar istirahat.
Kurangnya kualitas tidur tidak hanya membuat tubuh lelah… tapi juga memengaruhi kestabilan emosi.
Dalam penelitian oleh Walker (Why We Sleep), tidur yang terganggu berkaitan dengan peningkatan reaktivitas emosional dan penurunan kemampuan mengatur emosi.
Ini mungkin salah satu paradoks terbesar.
Media sosial membuat seseorang terhubung dengan banyak orang.
Tapi pada saat yang sama, banyak yang merasa lebih kesepian.
Ada seseorang yang memiliki ratusan koneksi, tapi merasa tidak benar-benar dekat dengan siapa pun.
Karena interaksi yang terjadi sering kali dangkal.
Ada komunikasi… tapi tidak selalu ada kedalaman.
Kehadiran digital tidak selalu menggantikan kebutuhan akan koneksi emosional yang nyata.
Bukan karena media sosial itu buruk secara mutlak.
Tapi karena:
Media sosial bukan hanya alat. Ia adalah lingkungan psikologis—dan setiap lingkungan membentuk cara seseorang berpikir dan merasa.
Mungkin pada akhirnya, media sosial tidak benar-benar mengubah siapa kita.
Ia hanya memperbesar apa yang sudah ada di dalam diri kita—
ketakutan, keinginan, kebutuhan untuk diakui, dan keraguan yang diam-diam kita bawa.
Dan di tengah semua itu, ada satu pertanyaan yang mungkin jarang kita tanyakan:
ketika semua layar dimatikan,
dan tidak ada lagi yang dilihat atau dibandingkan…
apakah kita masih merasa cukup… dengan diri kita sendiri?
Ada satu kebiasaan kecil yang, tanpa disadari, menjadi bagian dari kehidupan banyak orang: membuka media sosial beberapa detik setelah bangun tidur, dan menutupnya beberapa detik sebelum tidur kembali.
Di sela-sela hari, jari kita bergerak hampir otomatis—scroll, like, scroll lagi. Seolah-olah itu hanya aktivitas ringan, tidak berbahaya, bahkan kadang terasa menyenangkan.
Namun ada satu kisah yang selalu teringat ketika membicarakan hal ini.
Saya pernah mengenal seseorang yang hidupnya terlihat sangat tertata. Ia produktif, memiliki relasi yang luas, dan secara kasat mata tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tetapi suatu hari, dalam percakapan yang sederhana, ia berkata,
“Aku capek… tapi aku tidak tahu kenapa.”
Ketika ditelusuri perlahan, ternyata sebagian besar waktunya dihabiskan untuk terhubung dengan dunia digital—melihat kehidupan orang lain, membandingkan, merespons, dan terus-menerus menerima informasi tanpa jeda.
Di situlah muncul satu pertanyaan yang jarang kita tanyakan dengan jujur:
apakah media sosial hanya memengaruhi waktu kita, atau sebenarnya juga membentuk cara kita merasakan hidup?
Salah satu dampak paling halus namun kuat dari media sosial adalah perbandingan sosial.
Manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain. Namun di dunia nyata, perbandingan itu terbatas. Kita hanya melihat sebagian kecil kehidupan orang lain.
Media sosial mengubah itu.
Kita tidak lagi membandingkan diri dengan satu atau dua orang, tetapi dengan ratusan bahkan ribuan kehidupan—yang sebagian besar telah dipilih dan disaring untuk menampilkan sisi terbaik.
Foto terbaik.
Momen terbaik.
Pencapaian terbaik.
Yang kita lihat bukan realitas utuh, tetapi potongan-potongan yang sudah dipoles.
Namun otak kita tetap meresponsnya seolah itu adalah gambaran nyata.
Ada seseorang yang mulai merasa hidupnya tertinggal. Bukan karena ia benar-benar gagal, tetapi karena setiap hari ia melihat versi “terbaik” dari kehidupan orang lain.
Perbandingan ini tidak selalu disadari, tetapi perlahan membentuk perasaan tidak cukup.
Media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian.
Setiap notifikasi, like, atau komentar memberikan rangsangan kecil pada sistem reward di otak. Dopamin dilepaskan, menciptakan rasa senang yang singkat.
Masalahnya, efek ini bersifat sementara.
Setelah beberapa saat, otak kembali ke kondisi semula dan mencari rangsangan berikutnya.
Inilah yang membuat seseorang terus membuka aplikasi, bahkan tanpa alasan yang jelas.
Bukan karena ia benar-benar ingin, tetapi karena sistem di dalam dirinya sudah terbiasa mencari stimulasi itu.
Ada seseorang yang berkata bahwa ia merasa gelisah jika tidak membuka media sosial selama beberapa jam. Bukan karena ada hal penting, tetapi karena tubuhnya sudah terbiasa dengan ritme stimulasi tersebut.
Setiap hari, kita menerima lebih banyak informasi dibandingkan generasi sebelumnya dalam waktu yang sama.
Berita, opini, konflik, hiburan, iklan—semuanya datang tanpa henti.
Otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk memproses informasi sebanyak ini secara terus-menerus.
Akibatnya, muncul apa yang sering disebut sebagai kelelahan mental.
Sulit fokus.
Cepat lelah.
Mudah merasa kewalahan.
Banyak orang merasa lelah bukan karena terlalu banyak melakukan sesuatu, tetapi karena terlalu banyak menerima sesuatu.
Ada seseorang yang merasa tidak produktif, padahal sebagian besar energinya habis untuk memproses hal-hal yang sebenarnya tidak ia butuhkan.
Media sosial mempercepat perubahan emosi.
Dalam hitungan menit, seseorang bisa berpindah dari tertawa karena video lucu, menjadi marah karena berita, lalu merasa iri karena melihat pencapaian orang lain.
Perubahan yang cepat ini membuat sistem emosi sulit untuk stabil.
Ketika emosi terus-menerus naik turun tanpa jeda, tubuh kehilangan kesempatan untuk benar-benar kembali ke kondisi tenang.
Ada seseorang yang merasa cemas tanpa alasan yang jelas. Setelah diperhatikan, ternyata ia hampir tidak pernah benar-benar lepas dari arus informasi yang memicu emosi secara terus-menerus.
Media sosial tidak hanya memengaruhi apa yang kita lihat, tetapi juga bagaimana kita memahami dunia.
Ketika seseorang terus-menerus melihat standar tertentu—baik itu tentang kesuksesan, penampilan, atau gaya hidup—standar itu perlahan menjadi “normal” di dalam pikirannya.
Padahal, standar tersebut sering kali tidak realistis atau tidak representatif.
Realitas yang kita lihat di layar bisa mulai menggantikan realitas yang kita alami sendiri.
Ada seseorang yang merasa hidupnya tidak cukup menarik, hanya karena ia tidak memiliki pengalaman yang “layak diposting.”
Ironisnya, di tengah kemudahan untuk terhubung, banyak orang justru merasa lebih kesepian.
Interaksi digital sering kali menggantikan interaksi yang lebih dalam.
Percakapan menjadi lebih singkat.
Kehadiran menjadi lebih dangkal.
Kita bisa terhubung dengan banyak orang, tetapi tidak benar-benar merasa dekat dengan siapa pun.
Ada seseorang yang memiliki banyak teman di media sosial, tetapi merasa tidak memiliki satu pun tempat untuk benar-benar bercerita dengan jujur.
Paparan layar, terutama di malam hari, memengaruhi produksi melatonin—hormon yang mengatur tidur.
Selain itu, konten yang terus mengalir membuat otak tetap aktif, bahkan ketika tubuh sudah lelah.
Akibatnya, kualitas tidur menurun.
Dan ketika tidur terganggu, dampaknya tidak hanya pada tubuh, tetapi juga pada emosi dan kemampuan berpikir.
Kesehatan mental dan kualitas tidur memiliki hubungan yang sangat erat.
Ada seseorang yang merasa lebih mudah marah dan cemas. Setelah diperhatikan, pola tidurnya terganggu karena kebiasaan menggunakan media sosial hingga larut malam.
Media sosial sering kali membuat seseorang mengaitkan nilai dirinya dengan respons dari orang lain.
Jumlah like.
Komentar.
Followers.
Hal-hal ini bisa menjadi ukuran tidak langsung tentang seberapa “berharga” seseorang merasa.
Masalahnya, validasi eksternal bersifat tidak stabil.
Hari ini mungkin terasa cukup.
Besok bisa terasa kurang.
Ketika rasa berharga bergantung pada sesuatu yang berubah-ubah, emosi pun menjadi ikut tidak stabil.
Ada seseorang yang merasa senang ketika unggahannya mendapat banyak respons, tetapi merasa sangat jatuh ketika respons itu tidak sesuai harapan.
Ada satu dampak yang jarang dibahas: media sosial bisa menjadi cara untuk menghindari diri sendiri.
Setiap kali ada rasa tidak nyaman—bosan, sedih, cemas—media sosial menawarkan distraksi instan.
Namun semakin sering distraksi ini digunakan, semakin sedikit ruang untuk benar-benar memahami apa yang dirasakan.
Kita menjadi terbiasa lari dari diri sendiri, tanpa pernah benar-benar berhenti untuk mendengarkan.
Ada seseorang yang selalu merasa harus “mengisi waktu,” karena setiap kali ia diam, muncul perasaan yang tidak ingin ia hadapi.
Jika dilihat secara menyeluruh, media sosial memengaruhi banyak sistem dalam diri manusia:
Sistem reward (dopamin) yang membuatnya adiktif
Sistem emosi (amygdala) yang membuat respons menjadi lebih reaktif
Sistem kognitif (prefrontal cortex) yang menjadi lebih mudah lelah
Ini bukan berarti media sosial sepenuhnya buruk.
Namun tanpa kesadaran, ia bisa membentuk pola yang secara perlahan menggeser cara kita berpikir, merasakan, dan menjalani hidup.
Mungkin selama ini kita melihat media sosial sebagai sesuatu yang kita gunakan setiap hari
Namun ada kemungkinan yang jarang kita sadari: bahwa perlahan-lahan, sesuatu itu juga mulai “menggunakan” kita
Membentuk apa yang kita lihat
Mempengaruhi apa yang kita rasakan
Dan bahkan menentukan bagaimana kita menilai diri sendiri
Karena pada akhirnya, pertanyaannya mungkin bukan lagi sekadar berapa lama kita menghabiskan waktu di sana
Tetapi seberapa jauh kita masih benar-benar hadir dalam hidup kita sendiri, di luar layar yang terus menyala itu
Lanjutan dari dampak positif media sosial dalam kesehatan mental, media sosial juga memiliki dampak negatif pada para penggunanya ketika menggunakan media sosial. Menurut Fisher (2013) Penyalahgunaan teknologi mobile dan jaringan media sosial menjadi masalah bagi semua kalangan di seluruh dunia. teknologi membutuhkan tanggung jawab dan tidak merugikan oranglain secara langsung ataupun tidak langsung, akan tetapi kebanyakan media sosial sering disalahgunakan sehingga menyebabkan insiden seperti tindakan mengancam, melecehkan hingga menghina.
Salah satu penelitian skala besar yang dilakukkan oleh Davine dan Lloyd (2012) media sosial berdampak negative yakni menurunkan kesejahteraan psikologis, akan tetapi dampak ini terjadi pada perempuan dimana menggunakan media sosial dan peningkatan paparan bahaya online seperti kasus cyberbullying. selain itu kembali dibahas penelitian yang dilakukkan oleh Best, R. Manktelow dan B. Taylor (2014) bahwa media sosial adalah interaksi lemah akan berakibat peningkatan resiko depresi atau isolasi sosial . penyalahgunaan dalam mencari informasi, mempengaruhi pandangan diri penggunannya dan hubungan interpersonal melalui interaksi negative termasuk cyberbullying, selain itu dampak negatif lainnya bahkan berpotensi untuk menyakiti diri sendiri. oleh karena itu dengan adanya fasilitas teknologi yang dapat memudahkan para penggunanya untuk mengakses apapun, tetap perlu adanya kesadaran diri dan kebijakan sosial dalam menggunakan media sosial.
Kesimpulannya bahwa dalam menggunakan media sosial harus benar-benar memahami dalam penggunaannya dan membatasi secara bijak, karena dengan teknologi media sosial itu sendiri memudahkan para penggunanya baik untuk Pendidikan, bersosialisasi, ataupun mencari informasi, jika tidak maka media sosial juga akan memberikan dampak yang seharusnya tidak dialami oleh para penggunanya yang dapat menimbulkan seperti isolasi sosial, depresi bahkan hingga sampai munculnya kasus-kasus yang tidak semestinya. oleh karena itu dengan adanya pandemic covid-19 ini perlu memanfaatkan media sosial secara baik, benar dan bijak.
Sumber:
Fadhlurrohman , M., Rahmadian , L., & Epifani, I. (t.thn.). Dampak Penggunaan Media Sosial Terhadap Kesejahteraan Penggunaanya. Prosiding Seminar Nasional, 123-129.
Septiana, N. Z. (2021). Dampak Penggunaan Media Sosial Terhadap Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Sosial Remaja di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Nusantara of Research, 8 (01), 1-13.
Hidajat , M., Adam , A. R., Danaparamita, M., & Suhendrik. (2015). Dampak Media Sosial dalam Cyber Bullying. ComTech: Computer, Mathematics and Engineering Applications, 6 (01), 72-81.
Beberapa masalah kesehatan mental yang berkaitan dengan penggunaan media
sosial antara lain stres, kecemasan, depresi, kesepian. Penelitian lain terkait depresi berdasarkan gender dilakukan oleh Kelly dkk. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dan gejala depresi lebih besar pada perempuan dibandingkan anak laki-laki. Penggunaan media sosial yang lebih besar terkait dengan pelecehan online, kurang tidur, harga diri rendah, dan citra tubuh yang buruk, hal ini menunjukkan skor gejala depresi yang lebih tinggi. (Kelly, Zilanawala, Booker, & Sacker, 2018)
Dampak penggunaan media sosial selain terkait dengan kesehatan mental juga berkaitan dengan kesejahteraan ( wellbeing )khususnya kesejahteraan sosial ( social wellbeing) Kesejahteraan sosial itu sendiri merupakan kondisi dimana seseorang memiliki hubungan yang baik dengan orang lain, memiliki stabilitas sosial dan kedamaian ( Cicognani, 2014 ) Kesejahteraan sosial perlu dibangun mengingat setiap orang adalah makhluk sosial yang saling bergantung satu sama lain, mengandalkan orang lain untuk memperoleh kesejahteraan, dan mendapat hubungan timbal balik yang saling menguntungkan.
Refrensi
Cicognani, E. (2014). Social Well - Being. In Encyclopedia of Quality of Life and Well - BeingResearch (pp. 6193– 6197). https://doi.org/10.1007/978 -94 - 007 - 0753 - 5_2797
Kelly, Y., Zilanawala, A., Booker, C., & Sacker, A. (2018). Social Media Use and Adolescent Mental Health: Findings From the UK Millennium Cohort Study. EClinicalMedicine,6,59–68
Notifications