Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Anak Suka Berkata Kasar, Apa Penyebabnya?

HA Hanif Mursyida 5 years ago Resolved

Saat ini tidak jarang kita temui anak-anak yang gemar mengutarakan kata-kata kasar, seperti hinaan atau umpatan. Padahal idealnya usia anak-anak adalah usia untuk menanamkan nilai-nilai baik, baik secara agama atau sosial. Lalu apa yang menyebabkan anak berkata kasar?

30

Ketika sebuah kata kasar meluncur dari bibir mungil seorang anak, semesta kecil di dalam rumah seolah berhenti berputar sejenak. Ada keterkejutan yang menyesakkan, rasa malu yang menyelinap, dan sering kali, dorongan impulsif dari orang dewasa untuk segera membungkam suara tersebut dengan otoritas. Namun, jika kita bersedia menunda kemarahan itu dan masuk ke dalam ruang observasi yang lebih tenang, kita akan menyadari bahwa kata kasar pada anak bukanlah sebuah tanda kerusakan moral yang permanen. Ia lebih sering berfungsi sebagai sinyal dari sistem batin yang sedang kewalahan, sebuah upaya primitif untuk berkomunikasi ketika kosa kata emosional mereka belum cukup untuk menampung kompleksitas perasaan yang membuncah. Kata-kata tersebut adalah gema dari apa yang mereka serap dari lingkungan, atau lebih dalam lagi, manifestasi dari kebutuhan yang tak terpenuhi.

Persoalan kata kasar pada anak menuntut kita untuk melakukan dekonstruksi terhadap cara kita memandang perilaku. Sebagaimana diperingatkan oleh Alice Miller dalam karyanya The Drama of the Gifted Child, anak-anak sering kali menjadi cermin yang paling jujur namun menyakitkan bagi orang dewasa di sekitarnya. Jika kita menanggapi kata kasar anak hanya dengan hukuman tanpa memahami akarnya, kita sebenarnya sedang mematikan keberanian mereka untuk mengekspresikan diri yang asli. Kita mungkin berhasil membungkam kata tersebut, namun kita gagal menyembuhkan luka atau kebingungan yang memicu lahirnya kata itu. Kata kasar sering kali muncul sebagai mekanisme pertahanan diri ketika seorang anak merasa tidak berdaya, tidak didengar, atau kehilangan kontrol atas dunianya.

Neurobiologi Amigdala: Saat Kata Menjadi Senjata Pertahanan

Mari kita amati sebuah fragmen kehidupan yang mendetail: seorang anak yang sedang asyik bermain namun tiba-tiba diminta berhenti untuk mandi atau belajar. Dalam hitungan detik, wajahnya memerah dan sebuah makian meluncur begitu saja. Di titik ini, kita tidak sedang menghadapi anak yang jahat, melainkan otak yang sedang mengalami "pembajakan" oleh amigdala. Hal ini mengingatkan pada apa yang ditulis oleh Daniel Siegel dan Mary Hartzell dalam Parenting from the Inside Out, bahwa ketika anak merasa terancam—meskipun ancaman itu hanya berupa kehilangan waktu bermain—otak bawah mereka mengambil alih. Dalam kondisi disintegrasi ini, korteks prefrontal yang bertanggung jawab atas logika dan pengendalian diri menjadi lumpuh. Kata kasar, dalam konteks neurobiologis ini, adalah peluru emosional yang ditembakkan sebagai respon dari rasa frustrasi yang meluap.

Bagi anak-anak yang sistem sarafnya masih dalam tahap perkembangan, kata kasar memberikan rasa "kekuatan" instan. Mereka menyadari bahwa kata tertentu memiliki daya ledak yang luar biasa; ia mampu membuat orang dewasa berhenti melakukan apa yang mereka lakukan, atau setidaknya, memberikan reaksi yang intens. Fenomena ini sering kali diperparah jika kita sebagai pengasuh memberikan respon yang terlalu dramatis. Reaksi emosional yang meledak-ledak dari kita justru memberikan afirmasi bawah sadar kepada anak bahwa kata tersebut "berhasil" mengalihkan perhatian dan memberikan mereka kendali atas situasi. Tanpa bimbingan untuk mengintegrasikan emosi mereka, anak-anak akan terus menggunakan kata-kata tajam ini sebagai alat bantu untuk menavigasi ketidaknyamanan batin mereka.

Eksperimentasi Linguistik dan Peniruan Sosial

Selain faktor emosional, kita tidak boleh mengabaikan peran lingkungan sebagai laboratorium linguistik anak. Anak-anak adalah "penghisap" informasi yang luar biasa jeli. Mereka mendengar kata kasar di sekolah, di media digital, atau bahkan dalam percakapan orang dewasa yang dianggap sepele. Sering kali, anak menggunakan kata kasar hanya sebagai bentuk eksperimen untuk menguji reaksi lingkungan. Mereka mungkin belum sepenuhnya memahami makna semantik di balik kata tersebut, namun mereka memahami kekuatan pragmatisnya. Dalam perspektif Gabor Maté dan Gordon Neufeld melalui Hold On to Your Kids, anak-anak cenderung meniru perilaku orang-orang yang memiliki pengaruh besar dalam hidup mereka atau kelompok sebaya yang membuat mereka merasa diterima.

Jika seorang anak melihat bahwa orang dewasa menggunakan kata kasar saat sedang stres atau marah, mereka menginternalisasi bahwa kata-kata tersebut adalah cara yang sah untuk mengekspresikan ketegangan. Peniruan ini bukan sekadar mengikuti gaya bicara, melainkan bentuk adaptasi sosial. Di sisi lain, paparan konten digital yang tidak tersaring memberikan anak kosa kata kasar yang mereka anggap sebagai tanda "kedewasaan" atau "ketangguhan". Ketika rumah tidak menyediakan narasi tandingan yang cukup kuat dan penuh empati, anak-anak akan mencari validasi identitas mereka melalui bahasa-bahasa jalanan yang kasar. Kita harus menyadari bahwa kata yang mereka ucapkan adalah hasil dari ribuan jam observasi terhadap realitas yang mereka lalui setiap hari.

Growth Mindset: Mengubah Makian Menjadi Pelajaran Karakter

Cara kita merespons kata kasar anak akan menentukan apakah perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan tetap atau sekadar fase pembelajaran. Carol Dweck melalui konsep Mindset-nya mengingatkan kita bahwa setiap perilaku negatif adalah peluang untuk bertumbuh jika ditangani dengan mentalitas yang tepat. Alih-alih melabeli anak sebagai "anak bermulut kotor", yang merupakan fixed mindset dan hanya akan memperkuat identitas negatif tersebut, kita harus memandang momen ini sebagai kesempatan untuk melatih otot karakter dan kecerdasan emosional mereka. Kita perlu mengalihkan fokus dari "kata yang salah" menuju "kebutuhan yang benar" yang sedang coba disampaikan.

Pendidikan karakter yang efektif dimulai saat kita tetap tenang di hadapan badai verbal anak. Dengan tetap tenang, kita sedang menunjukkan kekuatan pengendalian diri yang nyata. Kita bisa memberikan konsekuensi logis tanpa harus menjatuhkan martabat mereka. Misalnya, menjelaskan bahwa kata tersebut menyakiti hati orang lain dan membuat komunikasi terputus. Mengajarkan mereka cara lain untuk menyatakan kemarahan—seperti menggunakan kalimat "Aku merasa sangat marah karena..."—adalah bentuk nyata dari pemberian growth mindset. Kita memberikan mereka peralatan baru untuk sukses secara sosial dan emosional. Karakter yang kuat bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan memiliki kesadaran untuk memperbaiki diri dan bertanggung jawab atas setiap kata yang keluar dari bibirnya.

Penyembuhan dari Dalam: Rumah sebagai Ruang Aman Emosional

Akar yang paling dalam dari perilaku kasar anak sering kali bermuara pada kurangnya kehadiran emosional yang utuh di dalam rumah. Shefali Tsabary dalam The Conscious Parent menekankan bahwa perilaku buruk anak adalah panggilan mendesak bagi orang tua untuk bercermin. Apakah kita memberikan cukup waktu untuk mendengarkan tanpa menghakimi? Apakah anak merasa aman untuk mengungkapkan kekecewaannya secara terbuka? Sering kali, kata kasar adalah upaya terakhir anak untuk merobek keheningan atau ketidakhadiran emosional kita. Saat rumah menjadi tempat di mana emosi dipendam atau diabaikan, anak-anak akan mencari cara yang paling ekstrem untuk mengekspresikannya.

Mentransformasi perilaku anak berarti mentransformasi atmosfer rumah. Rumah harus menjadi laboratorium empati di mana setiap kata yang diucapkan memiliki bobot penghormatan. Ini bukan berarti kita membolehkan kata kasar, tetapi kita membangun kultur di mana kata kasar menjadi tidak relevan karena semua kebutuhan emosional telah terpenuhi melalui keterhubungan yang sehat. Pengasuhan yang sadar menuntut kita untuk hadir sepenuhnya, memberikan perhatian yang tulus, dan menjadi model hidup dari kebijakan berbahasa. Saat seorang anak merasa utuh, dicintai, dan dipahami, keinginan untuk menyakiti melalui kata-kata akan luruh dengan sendirinya. Mereka tidak lagi membutuhkan "senjata" verbal karena mereka sudah merasa aman di dalam pelukan kasih sayang yang stabil.

Refleksi Filosofis: Kekuatan Kata sebagai Cermin Jiwa

Pada akhirnya, fenomena anak yang berkata kasar mengajak kita untuk merenungkan kembali hakikat komunikasi dalam hubungan manusia. Kata-kata adalah jembatan, namun ia juga bisa menjadi tembok. Perjalanan mendidik anak untuk berbahasa dengan baik adalah perjalanan panjang dalam memahat kemanusiaan. Kita sedang mengajarkan mereka bahwa setiap kata yang mereka ucapkan membawa energi yang bisa membangun atau meruntuhkan. Keberhasilan kita sebagai pembimbing jiwa tidak diukur dari seberapa cepat kita bisa menghentikan kata kasar, melainkan dari seberapa dalam kita bisa menanamkan rasa hormat terhadap martabat diri sendiri dan orang lain di dalam hati mereka.

Realitas pengasuhan mengajarkan kita bahwa kesabaran adalah bentuk cinta yang paling tinggi di tengah provokasi verbal anak. Janganlah kita membalas kekasaran dengan kekasaran, karena itu hanya akan melegitimasi penggunaan kekerasan dalam komunikasi. Jadilah samudera yang mampu menampung riak-riak kemarahan anak tanpa kehilangan ketenangan kita sendiri. Dengan cara ini, kita memberikan mereka ruang untuk melihat keburukan perilakunya sendiri dalam cermin ketenangan kita, yang pada gilirannya akan melahirkan penyesalan yang tulus dan keinginan untuk berubah.

Marilah kita terus berkomitmen untuk membangun rumah yang dipenuhi oleh kata-kata yang menyembuhkan, menginspirasi, dan memberdayakan. Anak-anak kita adalah penulis masa depan, dan kosa kata yang kita berikan kepada mereka hari ini akan menentukan narasi dunia yang akan mereka bangun kelak. Biarkan mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa suara mereka berharga, dan bahwa keindahan sebuah bahasa tidak terletak pada kemampuannya untuk melukai, melainkan pada kemampuannya untuk menyatukan jiwa-jiwa yang terpisah. Di dalam setiap upaya kita untuk membimbing lisan anak, tersimpan harapan akan lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas berbicara, tetapi juga bijaksana dalam bertutur kata.


Daftar Pustaka

  • Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.
  • Maté, G., & Neufeld, G. (2004). Hold On to Your Kids: Why Parents Need to Matter More Than Peers. Ballantine Books.
  • Miller, A. (1979). The Drama of the Gifted Child: The Search for the True Self. Basic Books.
  • Siegel, D. J., & Hartzell, M. (2003). Parenting from the Inside Out: How a Deeper Self-Understanding Can Help You Raise Children Who Thrive. TarcherPerigee.
  • Tsabary, S. (2010). The Conscious Parent: Transforming Ourselves, Empowering Our Children. Namaste Publishing.

Bahasa adalah pakaian dari pikiran, namun bagi seorang anak, bahasa sering kali berfungsi sebagai perangkat eksperimen sosial yang mentah. Ketika kata-kata kasar meluncur dari bibir yang mungil, kita sebagai orang dewasa sering kali bereaksi dengan keterkejutan moral yang hebat, seolah-olah martabat pengasuhan kita baru saja runtuh dalam seketika. Namun, jika kita menanggalkan jubah penghakiman tersebut dan mengamati dengan ketajaman seorang peneliti jiwa, kita akan menyadari bahwa kata kasar pada anak bukanlah sebuah tanda kerusakan karakter yang permanen. Ia lebih menyerupai sinyal darurat dari sebuah mesin yang sedang mencoba memahami batas-batas kekuasaan, mencari validasi atas rasa sakit yang tak terucap, atau sekadar meniru pola frekuensi yang mereka tangkap dari lingkungan sekitarnya. Anak yang berkata kasar sebenarnya sedang berkomunikasi melampaui makna harafiah kata tersebut; mereka sedang mempertontonkan kondisi batin yang sedang kehilangan navigasi emosional.

Mari kita amati sebuah fragmen kehidupan yang mungkin terasa akrab: seorang anak di taman bermain yang tiba-tiba meneriakkan kata kotor kepada temannya karena mainannya direbut. Respons instan lingkungan biasanya adalah pembungkaman paksa atau ancaman hukuman yang mempermalukan. Alice Miller dalam karyanya The Drama of the Gifted Child mengingatkan kita bahwa setiap perilaku disruptif anak memiliki akar dalam kebutuhan untuk dipahami. Saat seorang anak menggunakan bahasa kasar, ia mungkin sedang mencoba mendapatkan kembali rasa kendali yang hilang. Di dalam dunia anak yang sering kali didominasi oleh aturan orang dewasa, kata-kata "terlarang" memberikan sensasi kekuasaan instan—sebuah daya ledak verbal yang mampu menghentikan dunia sejenak. Jika kita hanya menghukum katanya tanpa memahami motif di baliknya, kita sebenarnya sedang memaksa anak untuk menekan "Diri yang Asli" (True Self) mereka dan membangun topeng kepatuhan yang rapuh.

Gema Lingkungan dan Osmosis Sosial

Salah satu penyebab paling fundamental namun sering kali disangkal adalah peran lingkungan sebagai lumbung kosa kata anak. Anak-anak adalah mahluk mimetik; mereka menyerap realitas melalui osmosis sosial yang tanpa filter. Gabor Maté dan Gordon Neufeld dalam Hold On to Your Kids menjelaskan bahwa fenomena "orientasi teman sebaya" (peer orientation) membuat anak-anak modern lebih mudah menyerap budaya bahasa dari lingkungan luar daripada dari nilai-nilai keluarga. Namun, gema ini tidak hanya datang dari teman sebaya atau media digital. Sering kali, kata-kata kasar adalah produk sampingan dari ketegangan yang mereka rasakan di dalam rumah. Kita mungkin tidak berkata kasar langsung kepada mereka, namun cara kita berbicara dalam kemarahan kepada pasangan, atau umpatan yang kita lepaskan saat terjebak kemacetan, menjadi kurikulum tersembunyi yang mereka hafalkan dengan sempurna.

Anak tidak memiliki filter moralitas dewasa untuk membedakan konteks. Bagi mereka, kata kasar adalah alat yang "ampuh" karena mereka melihat orang dewasa menggunakannya saat berada dalam posisi yang sangat emosional. Ketika anak meniru hal ini, mereka sebenarnya sedang mencoba meniru kekuatan yang mereka persepsikan ada pada orang dewasa. Jika rumah adalah tempat di mana ekspresi kemarahan dilakukan dengan cara yang agresif, maka anak akan menganggap bahwa agresi verbal adalah mata uang yang sah dalam transaksi emosional. Kita tidak bisa mengharapkan anak memanen kehalusan tutur kata jika benih yang mereka lihat ditabur setiap hari adalah ketidaksantunan yang dibungkus dengan alasan "spontanitas".

Kecerdasan Emosional yang Terhambat dan Katarsis Verbal

Dalam perspektif psikologis yang lebih dalam, penggunaan kata kasar sering kali merupakan tanda dari kemiskinan literasi emosional. Seorang anak yang belum mampu mengidentifikasi rasa frustrasi, cemburu, atau perasaan terabaikan akan mencari jalan pintas untuk melepaskan tekanan tersebut. Alfie Kohn dalam Unconditional Parenting menekankan bahwa fokus pada kontrol perilaku lahiriah—seperti melarang kata kasar dengan hukuman—sering kali mengabaikan kebutuhan emosional yang menjadi pemicunya. Kata kasar dalam konteks ini berfungsi sebagai katarsis; sebuah ledakan untuk meredakan badai di dalam dada yang belum memiliki nama. Saat anak berkata, "Aku benci kalian," atau menggunakan istilah yang lebih kasar, mereka mungkin sebenarnya ingin mengatakan, "Aku merasa sangat tidak berdaya dan tidak ada yang mendengarkanku."

Jika kita merespons ledakan ini dengan kemarahan yang lebih besar, kita sebenarnya sedang mengonfirmasi ketakutan anak bahwa dunia adalah tempat yang keras dan tidak aman bagi emosi mereka. Ini menciptakan lingkaran setan di mana anak merasa semakin terasing, dan keterasingan tersebut melahirkan kemarahan yang lebih tajam. Tugas pengasuhan bukanlah menjadi "polisi bahasa", melainkan menjadi penerjemah emosi. Kita perlu membantu mereka membangun jembatan antara apa yang mereka rasakan dengan kosa kata yang lebih konstruktif. Mengajarkan anak untuk berkata, "Aku merasa marah karena mainanku diambil," membutuhkan waktu dan kesabaran yang jauh lebih besar daripada sekadar mencuci mulut mereka dengan sabun, namun hanya cara pertamalah yang membangun karakter jangka panjang.

Eksperimen Kekuasaan dan Batasan Otonomi

Pada tahapan perkembangan tertentu, anak-anak mulai menyadari bahwa kata-kata memiliki energi kinetik. Mereka menyadari bahwa satu kata tertentu bisa membuat orang dewasa yang tadinya tenang menjadi panik atau marah besar. Ini adalah eksperimen kekuasaan yang murni. Jessica Lahey dalam The Gift of Failure menyoroti pentingnya memberikan otonomi dan ruang bagi anak untuk belajar dari konsekuensi sosial. Saat anak mencoba menggunakan kata kasar, mereka sebenarnya sedang melakukan tes stres terhadap batasan-batasan di sekitarnya. Mereka ingin tahu: "Seberapa jauh aku bisa melangkah sebelum duniaku goyah?"

Jika reaksi kita terlalu berlebihan atau justru tertawa (karena dianggap lucu pada usia tertentu), kita memberikan penguatan yang salah. Reaksi yang berlebihan memberikan anak rasa kekuasaan yang semu, sementara tawa memberikan izin terselubung. Cara yang paling efektif namun paling sulit adalah memberikan respons yang tenang namun tegas. Konsistensi dalam menetapkan batasan tanpa harus melukai martabat anak adalah kunci. Kita perlu menunjukkan bahwa kata tersebut tidak memiliki daya magis untuk mengendalikan kita, namun kata tersebut memiliki konsekuensi sosial berupa terputusnya kenyamanan komunikasi. Melalui proses ini, anak belajar bahwa otonomi sejati bukan berarti bebas menyakiti orang lain dengan kata-kata, melainkan kemampuan untuk menguasai diri sendiri demi keharmonisan bersama.

Proyeksi Ego dan Refleksi Pengasuhan

Mengapa kita begitu terusik saat anak berkata kasar? Dr. Shefali Tsabary dalam The Conscious Parent menantang kita untuk melihat ke dalam diri sendiri. Sering kali, kemarahan kita terhadap kata kasar anak bukan karena kita peduli pada moralitas mereka, melainkan karena kita takut akan penilaian orang lain terhadap kualitas pengasuhan kita. Anak menjadi cermin yang merefleksikan kecemasan kita. Saat mereka berkata kasar di depan umum, ego kita merasa terancam. Kita merasa gagal. Akibatnya, kita mendisiplinkan anak bukan untuk kebaikan mereka, tetapi untuk menyelamatkan muka kita sendiri.

Kesadaran pengasuhan menuntut kita untuk memisahkan antara identitas kita dengan perilaku anak. Jika kita bisa tetap stabil dan tidak merasa terhina oleh kata-kata anak, kita bisa memberikan bimbingan yang jauh lebih objektif. Kita bisa melihat bahwa kata kasar tersebut adalah sebuah "seruan minta tolong" atau sebuah "kesalahan teknis" dalam proses belajar sosial, bukan sebuah serangan pribadi terhadap otoritas kita. Ketenangan orang dewasa di tengah badai verbal anak adalah bentuk otoritas tertinggi. Ia menunjukkan bahwa nilai-nilai kita tidak mudah goyah hanya oleh satu atau dua kata yang salah tempat. Di dalam ruang tenang itulah, pendidikan karakter yang sesungguhnya terjadi.

Navigasi Solutif: Memulihkan Dialog yang Bermartabat

Langkah pertama dalam mengatasi fenomena ini bukanlah pembungkaman, melainkan pemulihan koneksi. Kita perlu mencari tahu di mana anak menyerap kata-kata tersebut tanpa harus melakukan interogasi yang mengintimidasi. Apakah dari tontonan yang tidak terfilter? Apakah dari lingkungan bermain? Atau apakah mereka sedang meniru kita dalam momen terburuk kita? Kejujuran radikal dalam mengevaluasi ekosistem rumah adalah fondasi utama. Jika sumbernya adalah faktor eksternal, kita perlu membangun literasi media dan sosial bagi mereka, menjelaskan mengapa kata-kata tertentu memiliki daya rusak dan mengapa kita memilih untuk tidak menggunakannya di dalam keluarga kita.

Selanjutnya, kita harus memperkaya kosa kata emosional mereka. Berikan mereka alternatif kata untuk mengekspresikan kekecewaan, kejengkelan, dan kemarahan. Kita bisa menggunakan teknik bermain peran atau mendiskusikan perasaan tokoh dalam buku cerita. Saat anak berhasil mengekspresikan kemarahannya dengan cara yang santun, berikan apresiasi yang tulus terhadap pengendalian diri mereka. Kita ingin mereka bangga akan kemampuan mereka menguasai emosi, bukan hanya sekadar takut pada hukuman. Perubahan perilaku yang langgeng selalu datang dari dalam, dari kesadaran bahwa bahasa yang baik adalah jembatan menuju hubungan yang lebih indah dengan orang lain.

Epilog Filosofis: Menata Ulang Arsitektur Komunikasi

Pada akhirnya, fenomena anak yang berkata kasar adalah sebuah undangan bagi kita semua untuk meninjau kembali arsitektur komunikasi di dalam rumah. Kita diingatkan bahwa kata-kata bukanlah sekadar bunyi, melainkan energi yang bisa membangun atau meruntuhkan. Anak yang berkata kasar hanyalah seorang pengelana yang tersesat dalam belantara bahasa, mencoba menemukan jalannya menuju pengakuan dan rasa aman. Dengan tetap menjadi mercusuar yang tenang, yang memandu mereka kembali ke tutur kata yang bermartabat, kita sedang memberikan pelajaran hidup yang jauh lebih besar dari sekadar etika bicara.

Kesuksesan pengasuhan tidak diukur dari ketidakhadiran kesalahan, melainkan dari cara kita memulihkan diri dari kesalahan tersebut. Jika kita mampu merespons kekasaran dengan kelembutan yang tegas, kita sedang menanamkan benih resiliensi dan empati yang akan mereka bawa hingga dewasa. Biarlah setiap kata kasar yang muncul menjadi pengingat bagi kita untuk lebih sering mendengarkan daripada berbicara, lebih sering memahami daripada menghakimi. Karakter seorang anak tumbuh di ruang-ruang antara kesalahan mereka dan respons bijaksana kita.

Masa kanak-kanak akan berlalu, kosa kata akan terus bertambah, namun rasa aman dan dihargai yang kita berikan saat mereka sedang berada di titik terendahnya akan tetap abadi dalam sanubari mereka. Kita tidak hanya sedang mendidik mereka untuk berbicara dengan sopan; kita sedang membentuk jiwa yang tahu bagaimana menghormati martabat manusia, dimulai dari martabat kata-kata mereka sendiri. Di dalam keheningan yang penuh pemahaman, kata-kata kasar akan kehilangan kekuatannya dan digantikan oleh dialog yang jujur, hangat, dan membebaskan.

Daftar Pustaka

Kohn, A. (2005). Unconditional Parenting: Moving from Rewards and Punishments to Love and Reason. New York: Atria Books.

Lahey, J. (2015). The Gift of Failure: How the Best Parents Learn to Let Go So Their Children Can Succeed. New York: HarperCollins.

Maté, G., & Neufeld, G. (2004). Hold On to Your Kids: Why Parents Need to Matter More Than Peers. New York: Ballantine Books.

Miller, A. (1979). The Drama of the Gifted Child: The Search for the True Self. New York: Basic Books.

Tsabary, S. (2010). The Conscious Parent: Transforming Ourselves, Empowering Our Children. Vancouver: Namaste Publishing.

Ada satu momen yang sering membuat orang tua terdiam: ketika seorang anak tiba-tiba mengucapkan kata yang kasar, tajam, bahkan menyakitkan.

Bukan hanya karena kata itu tidak pantas.
Tetapi karena muncul pertanyaan yang lebih dalam:

“Dari mana dia belajar ini?”
“Apakah ada yang salah dengan cara saya mendidik?”

Dan di balik semua itu, ada kekhawatiran yang lebih sunyi:
“Apakah ini tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya?”

Pertanyaan-pertanyaan itu wajar. Namun sering kali, jawaban yang kita bayangkan terlalu sederhana—seolah-olah anak berkata kasar hanya karena “nakal” atau “kurang diajarkan sopan santun”.

Padahal, jika dilihat lebih dalam, kata-kata kasar pada anak bukan sekadar masalah bahasa, tetapi sering kali merupakan ekspresi dari sesuatu yang lebih kompleks di dalam dirinya.


### Kata kasar adalah “bahasa”, bukan sekadar perilaku

Salah satu hal yang penting untuk dipahami adalah ini:

Anak menggunakan kata-kata sebagai alat untuk mengekspresikan apa yang belum mampu ia pahami sepenuhnya.

Ketika seorang anak berkata kasar, sering kali itu bukan tentang kata itu sendiri, tetapi tentang:

  • Emosi yang tidak terkelola
  • Frustrasi yang tidak tersalurkan
  • Kebutuhan yang tidak terpenuhi
  • Atau bahkan kebingungan internal yang tidak ia mengerti

Dalam perkembangan otak, terutama pada usia anak-anak, sistem limbik (pusat emosi) berkembang lebih cepat dibandingkan korteks prefrontal (yang mengatur kontrol diri dan bahasa yang tepat).

Artinya, anak bisa merasakan sesuatu dengan sangat kuat, tetapi belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikannya dengan cara yang “sosialnya diterima”.

Di titik ini, kata kasar menjadi jalan pintas.


### Meniru lingkungan: apa yang didengar akan diucapkan

Ini adalah penyebab yang paling umum, tetapi sering kali diremehkan.

Anak adalah peniru yang luar biasa.

Apa yang ia dengar:

  • Dari orang tua
  • Dari lingkungan sekitar
  • Dari teman
  • Dari media

Akan dengan mudah masuk dan menjadi bagian dari bahasanya.

Saya pernah mengenal seorang anak yang tiba-tiba sering mengucapkan kata-kata kasar. Orang tuanya sangat kaget karena merasa tidak pernah mengajarkan hal itu.

Setelah diperhatikan, ternyata anak tersebut sering bermain dengan lingkungan yang menggunakan bahasa seperti itu setiap hari.

Ia tidak memahami makna sepenuhnya.
Ia hanya meniru pola yang ia lihat.

Bagi anak, bahasa adalah kebiasaan, bukan nilai.

Nilai baru terbentuk kemudian, setelah ada pemahaman dan pengalaman yang cukup.


### Ekspresi dari emosi yang tidak tertampung

Ada satu hal yang lebih dalam dari sekadar meniru: kata kasar bisa menjadi bentuk pelepasan emosi.

Ketika anak:

  • Marah
  • Kecewa
  • Merasa tidak dipahami
  • Merasa tidak didengar

Tetapi tidak memiliki cara lain untuk mengekspresikannya, maka kata-kata kasar bisa muncul sebagai bentuk “ledakan”.

Dari sisi neurobiologi, ini berkaitan dengan kondisi di mana sistem saraf berada dalam keadaan aktif (fight response). Dalam kondisi ini, bagian otak yang bertanggung jawab untuk berpikir rasional menjadi kurang dominan.

Anak tidak sedang memilih kata terbaik. Ia sedang berusaha melepaskan tekanan.

Saya pernah berbincang dengan seseorang yang sejak kecil sering diminta untuk diam ketika marah. Ia tidak pernah diajarkan bagaimana mengekspresikan emosi dengan sehat.

Ketika dewasa, setiap kali emosinya memuncak, kata-kata yang keluar dari mulutnya menjadi sangat tajam dan menyakitkan.

Bukan karena ia ingin menyakiti, tetapi karena itu satu-satunya cara yang pernah ia pelajari.


### Respons terhadap tekanan atau stres

Tidak semua anak yang berkata kasar berasal dari lingkungan yang “kasar”.

Kadang, kata-kata itu muncul sebagai tanda bahwa ada tekanan yang tidak terlihat.

  • Perubahan di rumah
  • Konflik orang tua
  • Tekanan di sekolah
  • Perasaan tidak aman
  • Atau bahkan kelelahan mental

Semua ini bisa membuat sistem saraf anak berada dalam kondisi tegang.

Dalam kondisi seperti itu, ambang toleransi terhadap frustrasi menjadi lebih rendah. Anak lebih mudah bereaksi, lebih cepat tersulut, dan lebih sulit mengendalikan ucapan.

Perilaku yang terlihat di luar sering kali hanyalah puncak dari sesuatu yang terjadi di dalam.


### Mencari perhatian, tetapi dengan cara yang keliru

Ada juga situasi di mana anak menggunakan kata kasar sebagai cara untuk mendapatkan perhatian.

Bukan karena ia ingin dikenal sebagai “anak nakal”, tetapi karena:

  • Ia merasa diabaikan
  • Ia merasa tidak cukup diperhatikan
  • Atau ia belajar bahwa perilaku negatif lebih cepat mendapat respons

Jika setiap kali ia berkata kasar langsung mendapat perhatian (meskipun berupa marah atau teguran keras), maka secara tidak sadar perilaku itu diperkuat.

Bagi anak, perhatian—bahkan yang negatif—sering kali lebih baik daripada tidak ada perhatian sama sekali.


### Kurangnya kemampuan bahasa emosional

Ini adalah aspek yang sering terlewat.

Anak yang memiliki kosakata emosional yang terbatas cenderung:

  • Sulit menjelaskan perasaannya
  • Sulit meminta bantuan
  • Sulit mengungkapkan kebutuhan

Akibatnya, ia menggunakan kata-kata yang lebih “kasar” atau ekstrem untuk menggantikan apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan.

Misalnya:

  • “Aku benci kamu!” bisa berarti “aku kecewa”
  • “Pergi sana!” bisa berarti “aku butuh ruang”

Kata kasar sering kali adalah versi sederhana dari emosi yang kompleks.


### Pengaruh perkembangan otak

Pada anak, kemampuan mengontrol impuls belum berkembang sempurna.

Korteks prefrontal—bagian otak yang berperan dalam:

  • Pengendalian diri
  • Pengambilan keputusan
  • Pengaturan emosi

Masih dalam proses pematangan hingga usia dewasa awal.

Artinya, anak memang secara biologis lebih:

  • Impulsif
  • Reaktif
  • Kurang mempertimbangkan konsekuensi

Dalam kondisi ini, penggunaan kata kasar bisa muncul tanpa banyak “filter”.

Ini bukan berarti perilaku tersebut harus dibiarkan, tetapi membantu memahami bahwa tidak semua perilaku adalah hasil dari niat buruk.


### Ketika kata kasar menjadi pola yang menetap

Ada perbedaan antara:

  • Anak yang sesekali berkata kasar
  • Anak yang menjadikan kata kasar sebagai pola komunikasi utama

Jika perilaku ini terus berulang, semakin intens, dan disertai dengan:

  • Ledakan emosi
  • Kesulitan mengontrol diri
  • Hubungan sosial yang terganggu

Maka ini bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang lebih dalam yang perlu diperhatikan.

Bukan untuk memberi label, tetapi untuk memahami.

Karena dalam banyak kasus, perilaku yang menetap adalah cara tubuh dan pikiran mengatakan bahwa ada sesuatu yang belum selesai di dalam.


### Apa yang sering keliru dilakukan

Dalam menghadapi anak yang berkata kasar, reaksi yang paling umum adalah:

  • Memarahi
  • Menghukum
  • Memaksa anak meminta maaf

Ini mungkin menghentikan perilaku untuk sementara.

Tetapi sering kali tidak menyentuh akar masalah.

Jika anak tidak memahami:

  • Apa yang ia rasakan
  • Mengapa ia bereaksi seperti itu
  • Bagaimana cara mengekspresikan emosi dengan lebih sehat

Maka perilaku tersebut bisa muncul kembali dalam bentuk lain.

Menghentikan kata-kata tanpa memahami emosi di baliknya hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.


### Referensi

  • Siegel, D. J. (2012). The Developing Mind
  • Perry, B. D., & Szalavitz, M. (2006). The Boy Who Was Raised as a Dog
  • Shonkoff, J. P., & Phillips, D. A. (2000). From Neurons to Neighborhoods
  • Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence
  • McEwen, B. S. (2007). The End of Stress as We Know It
  • Denham, S. A. (1998). Emotional Development in Young Children

Pada akhirnya, ketika seorang anak berkata kasar, yang terlihat hanyalah kata-kata.

Namun di balik kata-kata itu, sering kali ada sesuatu yang jauh lebih sunyi:
emosi yang belum dimengerti, kebutuhan yang belum terpenuhi, atau pengalaman yang belum sempat diproses.

Dan mungkin, pertanyaan yang paling penting bukanlah
“bagaimana menghentikan anak berkata kasar?”

tetapi

apa yang sebenarnya sedang ia coba sampaikan, dengan cara yang belum ia tahu bagaimana memperbaikinya.

Kata-Kata Kasar Itu Bukan Masalah Utama

Ketika seorang anak mulai berkata kasar, perhatian orang dewasa biasanya langsung tertuju pada kata itu sendiri.

“Kok ngomongnya begitu?”
“Siapa yang ngajarin?”
“Itu tidak boleh diucapkan!”

Fokusnya ada pada permukaan: kata-kata yang terdengar tidak pantas.

Padahal, jika dilihat lebih dalam, kata kasar sering kali bukan masalah utama—melainkan gejala.

Ia seperti asap.
Yang terlihat memang asapnya, tapi yang perlu dipahami adalah:
apa yang sedang terbakar di dalam?

Karena seorang anak tidak tiba-tiba menjadi kasar tanpa sebab.
Ada sesuatu yang ia pelajari, ia rasakan, atau ia butuhkan—tapi belum punya cara lain untuk mengungkapkannya.


Anak Belajar dari Apa yang Ia Dengar

Salah satu sumber paling umum dari kata-kata kasar adalah lingkungan.

Anak adalah peniru yang sangat jujur. Ia tidak memilih mana yang pantas ditiru dan mana yang tidak. Ia hanya menyerap.

Jika di sekitarnya ia sering mendengar:

  • orang dewasa berbicara dengan nada tinggi
  • kata-kata kasar dilontarkan saat marah
  • hinaan dianggap sebagai hal biasa

maka kata-kata itu perlahan menjadi bagian dari “kamus” yang ia miliki.

Albert Bandura melalui teori social learning menjelaskan bahwa anak belajar melalui observasi dan imitasi. Bahkan tanpa diajarkan secara langsung, perilaku yang sering dilihat akan cenderung ditiru.

Saya pernah mendengar seorang anak kecil mengucapkan kata yang cukup keras kepada temannya. Ketika ditelusuri, kata itu bukan ia pelajari dari sekolah, melainkan dari percakapan orang dewasa di rumah yang sering ia dengar tanpa disadari.

Yang menarik, ketika ia mengucapkannya, wajahnya tidak menunjukkan rasa bersalah.
Bagi dia, itu bukan sesuatu yang salah. Itu hanya bahasa yang familiar.

Anak tidak selalu tahu bahwa kata itu kasar. Ia hanya tahu bahwa kata itu “ada”.


Bahasa sebagai Pelampiasan Emosi

Ada juga anak yang mulai berkata kasar bukan karena meniru, tapi karena ia tidak tahu bagaimana mengekspresikan emosinya.

Bayangkan seorang anak yang sedang sangat marah, kecewa, atau frustrasi. Ia belum memiliki kosakata yang cukup untuk mengatakan:

“Aku kesal karena tidak didengarkan.”
“Aku kecewa karena gagal.”

Yang ia miliki hanyalah ledakan emosi—dan kata kasar sering menjadi jalan tercepat untuk meluapkannya.

Dalam perkembangan emosi, kemampuan untuk mengenali dan menamai perasaan (emotional labeling) berkembang secara bertahap. Daniel Goleman menyebut ini sebagai bagian dari emotional intelligence.

Jika kemampuan ini belum matang, emosi akan mencari jalan lain.

Dan sering kali, jalan itu adalah perilaku yang dianggap “kasar”.

Bukan karena anak ingin menyakiti, tapi karena ia tidak tahu cara lain untuk mengatakan “aku sedang tidak baik-baik saja.”


Mencari Perhatian: Cara yang Tidak Selalu Disadari

Ada satu pola yang cukup sering terjadi, meskipun tidak selalu disadari.

Seorang anak berkata dengan sopan—tidak terlalu diperhatikan.
Ia mulai berbicara lebih keras—responnya sedikit meningkat.
Ia akhirnya berkata kasar—dan tiba-tiba semua perhatian tertuju padanya.

Dalam logika sederhana anak, ia belajar sesuatu:

“Kalau aku ngomong seperti ini, aku diperhatikan.”

Perhatian, baik itu positif maupun negatif, tetaplah perhatian.

B.F. Skinner melalui teori operant conditioning menjelaskan bahwa perilaku yang mendapatkan respon cenderung akan diulang.

Dan tanpa disadari, reaksi orang dewasa bisa memperkuat perilaku tersebut.

Saya pernah melihat seorang anak yang mulai sering berkata kasar setiap kali orang tuanya sibuk. Bukan karena ia ingin menjadi “nakal”, tapi karena itu satu-satunya cara yang berhasil membuat orang tuanya berhenti dan melihatnya.

Kadang, di balik kata yang kasar, ada kebutuhan yang sederhana: ingin dilihat, ingin didengar.


Lingkungan Sosial: Pengaruh Teman dan Media

Seiring bertambahnya usia, lingkungan anak semakin luas.

Ia mulai terpapar:

  • teman sebaya
  • tontonan
  • media sosial
  • permainan digital

Di banyak tempat, kata kasar justru dianggap:

  • lucu
  • keren
  • tanda keberanian
  • atau bentuk keakraban

Anak yang sedang mencari identitas akan mencoba menyesuaikan diri.

Jika dalam kelompoknya kata kasar dianggap “normal”, maka ia akan cenderung mengikutinya agar tidak merasa berbeda.

Lev Vygotsky menekankan bahwa perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial. Apa yang dianggap wajar dalam lingkungan akan membentuk perilaku individu.

Anak tidak hanya belajar bahasa dari keluarga, tapi juga dari dunia yang ia masuki.


Kurangnya Batasan yang Jelas

Ada juga kondisi di mana anak berkata kasar karena tidak ada batasan yang konsisten.

Hari ini dilarang, besok dibiarkan.
Kadang ditegur, kadang dianggap lucu.

Dalam kondisi seperti ini, anak tidak mendapatkan pesan yang jelas.

Ia tidak benar-benar memahami bahwa perilaku itu tidak diterima, karena respon dari orang dewasa berubah-ubah.

Lawrence Kohlberg menjelaskan bahwa pada tahap awal perkembangan moral, anak sangat bergantung pada aturan yang konsisten untuk memahami benar dan salah.

Jika batasan tidak jelas, maka standar perilaku juga menjadi kabur.

Bukan karena anak tidak mau belajar, tapi karena aturan di sekitarnya tidak cukup stabil untuk dipahami.


Ketegangan Emosional di Rumah

Ada kondisi yang lebih dalam, yang sering kali tidak langsung terlihat.

Ketika anak hidup dalam lingkungan yang penuh ketegangan—pertengkaran, tekanan, atau suasana emosional yang berat—ia bisa menyerap itu tanpa mampu memahaminya sepenuhnya.

Dan kadang, yang keluar adalah:

  • kata-kata kasar
  • nada bicara yang keras
  • perilaku yang terlihat “melawan”

Padahal, itu bukan sekadar perilaku. Itu adalah ekspresi dari sesuatu yang tidak terucapkan.

Saya pernah melihat seorang anak yang tiba-tiba berubah menjadi kasar setelah beberapa waktu. Ketika dilihat lebih jauh, ternyata di rumah sedang terjadi konflik yang cukup intens, meskipun tidak selalu terlihat di depan anak.

Anak itu tidak mengerti situasinya, tapi ia merasakan suasananya.

Dan ia mengekspresikannya dengan cara yang ia bisa.

Anak sering kali tidak berkata “aku sedang tidak aman.”
Ia menunjukkannya melalui perilaku.


Kebutuhan Akan Kendali

Ada juga anak yang menggunakan kata kasar sebagai cara untuk merasa memiliki kendali.

Dalam situasi di mana ia sering merasa:

  • tidak didengar
  • tidak punya pilihan
  • selalu diatur

kata-kata kasar bisa menjadi bentuk perlawanan.

Bukan karena ia ingin menjadi “buruk”, tapi karena itu satu-satunya cara yang ia rasakan untuk mengatakan:

“Aku ada.”
“Aku punya suara.”

Erik Erikson dalam tahap perkembangan awal menyebut adanya konflik antara autonomy vs shame and doubt. Anak membutuhkan ruang untuk merasa memiliki kendali atas dirinya.

Jika kebutuhan ini terlalu ditekan, ia bisa muncul dalam bentuk perlawanan yang tidak sehat.

Kata kasar kadang bukan sekadar pelanggaran, tapi bentuk pencarian identitas dan kendali.


Ketika Orang Dewasa Terlalu Fokus pada Kata, Bukan Makna

Reaksi yang paling umum ketika anak berkata kasar adalah langsung menegur atau menghukum.

Dan memang, batasan tetap penting.

Namun jika hanya berhenti di situ, ada satu hal yang terlewat: memahami makna di baliknya.

  • Apakah ini hasil peniruan?
  • Apakah ini ekspresi emosi?
  • Apakah ini bentuk mencari perhatian?
  • Atau ada sesuatu yang lebih dalam?

Karena jika hanya memotong kata tanpa memahami akar, perilaku itu mungkin akan berhenti sementara—tapi muncul lagi dalam bentuk lain.


Melihat Lebih Dalam dari Sekadar Permukaan

Pada akhirnya, anak yang berkata kasar bukanlah anak yang “rusak” atau “tidak berkarakter”.

Ia adalah anak yang:

  • sedang belajar bahasa
  • sedang belajar emosi
  • sedang mencoba memahami dunia
  • dan kadang, sedang berusaha didengar dengan cara yang belum tepat

Kata-kata kasar hanyalah salah satu cara.

Dan sering kali, bukan cara yang ia pilih dengan sadar, tapi cara yang ia temukan karena itu yang tersedia baginya.


Referensi

  1. Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Prentice Hall.
  2. Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence. Bantam Books.
  3. Skinner, B. F. (1953). Science and Human Behavior. Free Press.
  4. Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society. Harvard University Press.
  5. Kohlberg, L. (1981). The Philosophy of Moral Development. Harper & Row.
  6. Erikson, E. H. (1963). Childhood and Society. W. W. Norton & Company.
  7. Siegel, D. J., & Bryson, T. P. (2011). The Whole-Brain Child. Delacorte Press.

Mungkin yang sering terlewat bukan bagaimana membuat anak berhenti berkata kasar,
melainkan bagaimana memahami apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan di balik kata-kata itu.

Karena bisa jadi, di balik satu kata yang terdengar keras,
ada perasaan yang belum pernah benar-benar didengar.

Perilaku kasar pada anak bisa disebabkan oleh berbagai faktor yang kompleks dan bervariasi. Beberapa penyebab umum melibatkan lingkungan, pengaruh orang dewasa, dan masalah emosional. Mari kita bahas beberapa faktor yang mungkin memengaruhi perilaku kasar anak.

  1. Lingkungan Keluarga:
    • Model Perilaku: Anak cenderung meniru perilaku yang mereka lihat di lingkungan sekitarnya. Jika ada anggota keluarga atau orang dewasa yang menggunakan bahasa kasar, anak dapat menirunya.
    • Ketidakstabilan Keluarga: Kondisi keluarga yang tidak stabil, termasuk konflik antara orang tua, dapat memengaruhi perilaku anak. Anak mungkin mencari cara untuk mengekspresikan ketidakpastian atau frustrasi mereka melalui kata-kata kasar.
  2. Ekspresi Emosi:
    • Ketidakmampuan Mengelola Emosi: Anak-anak mungkin belum sepenuhnya mengembangkan keterampilan untuk mengelola emosi mereka. Perasaan frustasi, kemarahan, atau kekecewaan dapat diungkapkan melalui kata-kata kasar sebagai bentuk ekspresi.
  3. Pengaruh Lingkungan Sekolah dan Teman:
    • Bullying: Jika anak mengalami pelecehan atau tekanan dari teman sebaya di sekolah, mereka mungkin menggunakan bahasa kasar sebagai mekanisme bertahan atau melindungi diri.
    • Pengaruh Teman Sebaya: Anak-anak dapat terpengaruh oleh teman-teman sebaya yang memiliki perilaku kasar atau menggunakan bahasa kasar secara teratur.
  4. Kurangnya Keterlibatan Orang Tua:
    • Ketidaktersediaan Orang Tua: Anak-anak yang merasa diabaikan atau kurang mendapatkan perhatian dari orang tua mereka mungkin mencari cara untuk menarik perhatian melalui perilaku kasar.
  5. Kondisi Kesehatan Mental:
    • Gangguan Perilaku atau Emosional: Beberapa anak mungkin mengalami gangguan perilaku atau emosional yang dapat mempengaruhi cara mereka berkomunikasi dan bereaksi terhadap situasi.
  6. Pengaruh Media:
    • Konten Agresif: Paparan terhadap konten media yang agresif atau berisi bahasa kasar dapat memengaruhi cara anak berbicara.
  7. Kurangnya Pendidikan Norma Sosial:
    • Kurangnya Pendidikan Nilai Sosial: Anak-anak perlu dipandu untuk memahami norma-norma sosial dan bagaimana berkomunikasi dengan cara yang sesuai.
  8. Pendekatan Pengasuhan:
    • Ketidakjelasan Aturan dan Konsekuensi: Anak-anak perlu tahu aturan dan konsekuensi yang jelas terkait dengan perilaku kasar. Kurangnya struktur dapat menyebabkan perilaku yang tidak terkendali.

Untuk mengatasi perilaku kasar anak, penting untuk melibatkan diri dalam komunikasi terbuka, mendukung perkembangan emosional mereka, memberikan contoh perilaku positif, dan mencari bantuan profesional jika diperlukan. Pemahaman mendalam tentang faktor yang mungkin memengaruhi anak adalah langkah awal untuk membantu mereka tumbuh dan berkembang secara positif.

Anak kecil biasanya mengatakan kata-kata kasar karena mereka  mengulangi apa yang telah didengar.
Anak- anak berbicara kasar bisa karena film ataupun melihat orang lain juga mengatakan hal yang kasar sehingga ia meniru perilaku tersebut.

Karena anak belajar menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, mereka meniru kata-kata yang ia dengar, untuk melihat bagaimana respon orang-orang di sekitarnya. Melalui respons ini, anak-anak memahami apa arti kata-kata tersebut.

Mengutip dari RaisingChildren.net.au, ketika ketika anak-anak bicara kasar di usia sekolah, hal ini biasanya untuk mengungkapkan perasaan negatif.

Anak bicara kasar bisa jadi merupakan pemberian respons terhadap sesuatu yang menurutnya menyakitkan, menjengkelkan, atau membuat ia frustrasi.

Referensi:

https://www.orami.co.id/magazine/anak-bicara-kasar-ketahui-penyebab-dan-cara-mengatasinya/

Ketika anak-anak usia sekolah dan pra-remaja berkata kasar, itu biasanya untuk mengekspresikan perasaan negatif. Ini sering merupakan respons terhadap sesuatu yang menyakitkan, menjengkelkan, atau membuat frustrasi. Anak-anak mungkin juga berkata kasar untuk menyesuaikan diri secara sosial. Mereka mungkin mencoba menjadi bagian dari kelompok, atau menonjol dengan menjadi lucu atau menambahkan nilai pada pembicaraan mereka.