Adiksi Internet, Bagaimana Gejalanya?
Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
Menurut sumber yang saya temui, ada beberapa tanda atau gejala dari kecanduan internet (internet addiction). Beberapa gejala emosional yang ada pada orang dengan kecanduan internet diantaranya:
Selain beberapa gejala emosional yang sudah disebutkan, ada beberapa gejala fisik yang dapat ditemui pada mereka yang memiliki kecanduan internet, diantaranya:
Nah itu tadi beberapa gejala fisik dan emosional pada mereka yang mengalami kecanduan internet (internet addiction).
Ref:
Gregory, C. (2021). Internet Addiction Disorder. Diakses: https://www.psycom.net/iadcriteria.html. Diakses pada 5 Oktober 2021.
Menurut sumber yang saya kutip dari psycom.net, orang yang kecanduan terhadap internet ditandai oleh hal-hal berikut:
1. Penggunaan internet yang lebih lama dari biasanya, bisa sampai lebih dari 8 jam dalam satu hari.
2. Merasa tidak puas bila menggunakan internet hanya sebentar
3. Merasa gelisah, cemas, khawatir, jika tidak membuka internet dalam beberapa waktu
4. Beberapa kali gagal dalam upaya mengontrol dan mengurangi penggunaan internet
5. Kehilangan banyak momen langsung karena terlalu sibuk dengan internet
6. Performa kerja, pengerjaan tugas, dan kegiatan sehari-hari menurun
Aku pernah melewati masa di mana internet terasa seperti napas kedua. Setiap notifikasi, setiap scroll, memberi sensasi cepat yang bikin ketagihan. Pada awalnya, aku merasa itu normal—semua orang di sekitarku juga online sepanjang hari. Tapi lama-kelamaan, aku mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres: waktu terasa hilang, emosi jadi tergantung layar, dan interaksi nyata terasa hambar. Itu saat aku mulai memahami gejala adiksi internet.
Salah satu gejala paling jelas adalah sulit melepaskan diri dari perangkat digital. Aku ingat suatu malam, seharusnya tidur jam 11, tapi aku masih menelusuri feed Instagram, membaca berita, menonton video. Jam menunjukkan pukul 2 pagi, dan aku merasa gelisah saat mencoba menutup laptop. Ada rasa cemas yang aneh jika tidak tersambung, seperti kehilangan bagian dari diriku.
Gejala kedua adalah mengabaikan tanggung jawab atau kegiatan sehari-hari. Aku mulai melewatkan pertemuan dengan teman, menunda pekerjaan kuliah, bahkan melewatkan waktu makan. Semua demi “satu scroll lagi”, “satu video lagi”, atau “satu pesan lagi”. Energi fisik dan mental terkuras, tapi aku merasa tak bisa berhenti. Di situ aku sadar bahwa internet bukan lagi alat, tapi telah menjadi kebutuhan yang mengikat.
Kemudian ada gejala perubahan mood yang drastis. Kalau sedang offline atau tidak mendapat update, aku jadi mudah marah, gelisah, atau sedih. Sebaliknya, ketika online, ada sensasi lega sementara, bahkan euforia kecil saat melihat like atau komentar. Itu tanda bahwa kebahagiaan mulai tergantung pada dunia maya, bukan pada diri sendiri.
Aku juga mengalami gejala menyembunyikan kebiasaan online. Pernah suatu waktu, aku menutup layar laptop dengan cepat ketika orang tua masuk kamar, atau pura-pura sedang belajar padahal aku menonton video selama berjam-jam. Ada rasa malu tapi juga ketagihan, kombinasi yang bikin diri terasa terpecah.
Gejala terakhir, yang menurutku paling subtil tapi nyata, adalah terputusnya koneksi dengan dunia nyata. Aku jadi jarang berbicara dengan teman atau keluarga, lebih memilih teks singkat daripada percakapan tatap muka, dan kehilangan kenikmatan sederhana seperti membaca buku atau berjalan di luar. Aku merasa seperti hidupku sebagian besar ada di layar, bukan di ruang di sekitarku.
Pengalaman ini mengajarkanku bahwa adiksi internet bukan soal teknologi itu sendiri, tapi soal bagaimana kita memberi batas, sadar, dan menjaga hubungan dengan diri sendiri dan orang lain. Menyadari gejalanya adalah langkah pertama—seperti membuka jendela di ruang yang pengap, memberi udara segar untuk masuk perlahan.
Adiksi internet, pada akhirnya, mengingatkanku bahwa kebebasan bukan tentang menutup layar, tapi tentang menata hati dan pikiran agar tetap hadir di setiap detik kehidupan nyata.
Di era digital saat ini, internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari bekerja, belajar, berkomunikasi, hingga hiburan, hampir semua aspek kehidupan kita tersentuh oleh layar. Namun, kemudahan akses ini juga membawa risiko terselubung: adiksi internet, kondisi di mana seseorang kehilangan kontrol terhadap penggunaan internetnya sehingga menimbulkan dampak negatif pada kehidupan pribadi, sosial, maupun profesional. Psikolog Kimberly Young, pelopor penelitian internet addiction, menekankan bahwa adiksi ini mirip dengan kecanduan zat, di mana pola perilaku berulang memicu dopamin di otak sehingga sulit dihentikan.
Tidak semua penggunaan internet yang intens dapat dikategorikan sebagai adiksi. Kuncinya terletak pada kontrol, dampak negatif, dan ketergantungan emosional. Mereka yang adiktif mungkin merasa cemas, gelisah, atau frustrasi ketika tidak bisa mengakses internet. Gejala ini sering luput dari perhatian karena dianggap normal oleh masyarakat yang semakin tergantung pada teknologi.
Menurut buku Internet Addiction: A Handbook and Guide to Evaluation and Treatment oleh Kimberly Young dan Christopher N. Nabuco de Abreu, adiksi internet menampilkan gejala yang bisa dikategorikan dalam beberapa aspek:
Salah satu gejala paling mencolok adalah ketergantungan emosional terhadap dunia digital. Individu merasa puas, lega, atau bahagia hanya ketika berada online. Psikolog David Greenfield menekankan bahwa otak merespons interaksi digital dengan mekanisme mirip kecanduan: reward system dilepas melalui notifikasi, pesan, atau konten hiburan, menciptakan sensasi senang yang sulit dilepaskan.
Ketergantungan ini sering membuat individu:
Adiksi internet juga ditandai dengan ketidakmampuan mengontrol durasi dan intensitas penggunaan internet. Bahkan ketika sadar bahwa waktu online terlalu banyak, individu tetap sulit menghentikan perilaku ini. Buku Digital Minimalism oleh Cal Newport menjelaskan fenomena ini sebagai “behavioral lock-in,” di mana kebiasaan yang terbentuk secara terus-menerus menciptakan lingkaran sulit dihentikan.
Tanda kehilangan kontrol dapat terlihat dari:
Adiksi internet tidak hanya mempengaruhi diri sendiri, tetapi juga hubungan sosial dan produktivitas. Studi oleh American Psychological Association menunjukkan bahwa individu yang adiktif cenderung:
Penggunaan internet yang berlebihan juga menimbulkan gejala fisik dan psikologis, termasuk:
Buku The Distracted Mind oleh Adam Gazzaley dan Larry D. Rosen menjelaskan bahwa stimulasi konstan dari layar dapat mengubah neuroplasticity otak, membuat perhatian semakin mudah terdistraksi dan kemampuan mengatur emosi menurun.
Tidak ada satu penyebab tunggal; adiksi internet muncul dari kombinasi faktor psikologis, sosial, dan lingkungan.
Dr. Young menyebut bahwa perilaku adiktif ini diperkuat oleh reward system otak, sehingga setiap interaksi digital memberi “hadiah” yang memicu perilaku berulang.
Adiksi internet bukan sekadar kebiasaan buruk sementara. Jika tidak ditangani, dampak jangka panjangnya bisa serius:
Buku Hooked: How to Build Habit-Forming Products oleh Nir Eyal juga menunjukkan bahwa desain teknologi modern sengaja menciptakan mekanisme adiktif, sehingga individu tidak sadar telah terperangkap dalam lingkaran penggunaan berlebihan.
Mengatasi adiksi internet memerlukan kombinasi kesadaran diri, pengaturan perilaku, dan dukungan sosial.
Adiksi internet adalah fenomena kompleks yang mencerminkan ketergantungan manusia terhadap teknologi modern. Mengenali gejala sejak awal adalah langkah penting agar tidak larut dalam perilaku berlebihan yang merugikan kesehatan mental, hubungan sosial, dan produktivitas. Kesadaran, pengaturan perilaku, dan dukungan sosial menjadi pilar utama untuk keluar dari lingkaran adiksi.
Ada sebuah pemandangan yang sangat umum di dunia modern.
Seseorang duduk di sebuah kafe bersama teman-temannya. Namun percakapan di meja itu sering terputus oleh sesuatu yang kecil namun sangat kuat: layar ponsel.
Setiap beberapa menit, tangan seseorang bergerak hampir otomatis.
Membuka notifikasi.
Menggeser layar.
Melihat sesuatu yang baru.
Kadang bahkan tanpa benar-benar sadar mengapa ia melakukannya.
Menariknya, banyak orang mengatakan hal yang sama ketika ditanya tentang kebiasaan ini:
“Aku cuma sebentar kok.”
Namun “sebentar” itu bisa berubah menjadi satu jam, dua jam, atau bahkan lebih lama.
Fenomena ini sering disebut sebagai internet addiction atau adiksi internet. Istilah ini mulai banyak dibahas sejak akhir 1990-an, ketika dunia digital mulai menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Namun adiksi internet bukan sekadar tentang waktu yang dihabiskan di depan layar. Ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam: bagaimana teknologi memengaruhi perhatian, emosi, dan bahkan hubungan manusia dengan dirinya sendiri.
Adiksi internet sering tidak terasa seperti kecanduan—justru karena ia menyatu dengan kehidupan sehari-hari.
Internet sendiri tentu bukan sesuatu yang buruk. Ia membawa banyak manfaat: akses informasi, komunikasi yang cepat, kesempatan belajar, bahkan ruang untuk mengekspresikan diri.
Namun ada titik tertentu di mana penggunaan mulai berubah menjadi ketergantungan.
Kimberly Young, salah satu peneliti awal yang mempelajari adiksi internet, menggambarkan fenomena ini sebagai pola penggunaan internet yang berlebihan sehingga mulai mengganggu kehidupan nyata seseorang.
Bukan hanya soal durasi penggunaan, tetapi juga tentang kehilangan kendali.
Seseorang mungkin berniat membuka media sosial selama lima menit, tetapi tiba-tiba satu jam berlalu.
Atau seseorang mencoba berhenti bermain gim online, tetapi merasa sangat gelisah ketika tidak bisa mengaksesnya.
Adiksi sering dimulai ketika sesuatu yang awalnya memberi kesenangan mulai mengambil alih kendali.
Salah satu tanda paling awal dari adiksi internet adalah perubahan dalam persepsi waktu.
Banyak orang yang mengalami ini menggambarkan pengalaman yang sama: mereka merasa hanya sebentar menggunakan internet, tetapi ternyata waktu yang berlalu jauh lebih lama dari yang disadari.
Fenomena ini berkaitan dengan apa yang disebut dalam psikologi sebagai time distortion. Ketika seseorang sangat terlibat dalam aktivitas yang memberikan stimulasi tinggi—seperti scrolling media sosial atau bermain gim—otak menjadi begitu fokus sehingga kesadaran terhadap waktu melemah.
Hal ini mirip dengan keadaan ketika seseorang sangat tenggelam dalam sebuah film atau permainan.
Namun ketika kondisi ini terjadi berulang kali setiap hari, ia mulai memengaruhi pola hidup seseorang.
Tidur menjadi lebih larut.
Pekerjaan tertunda.
Aktivitas lain mulai terabaikan.
Ketika waktu terasa “hilang” berulang kali di depan layar, sering ada sesuatu yang sedang berubah dalam hubungan seseorang dengan internet.
Gejala lain yang sering muncul adalah dorongan yang kuat untuk terus kembali online.
Seseorang mungkin sedang makan, bekerja, atau berbicara dengan orang lain, tetapi pikirannya sesekali tertarik pada satu pertanyaan kecil: apakah ada notifikasi baru?
Dalam banyak aplikasi digital modern, sistem notifikasi memang dirancang untuk menarik perhatian manusia. Setiap notifikasi kecil bisa memicu pelepasan dopamin di otak—neurotransmitter yang berkaitan dengan motivasi dan rasa ingin tahu.
Penelitian dalam bidang behavioral addiction menunjukkan bahwa sistem penghargaan semacam ini dapat membuat seseorang terus kembali pada suatu aktivitas, bahkan ketika aktivitas tersebut tidak lagi memberikan kesenangan yang sama seperti di awal.
Kadang seseorang tidak lagi membuka internet karena ingin, tetapi karena merasa sulit untuk tidak melakukannya.
Salah satu perubahan yang lebih halus tetapi cukup penting adalah ketika dunia digital mulai terasa lebih menarik daripada dunia nyata.
Seseorang mungkin merasa lebih nyaman berinteraksi melalui layar daripada berbicara langsung dengan orang lain. Percakapan online terasa lebih mudah dikendalikan. Reaksi bisa dipikirkan terlebih dahulu sebelum dikirim.
Dalam beberapa kasus, internet menjadi ruang pelarian dari perasaan yang sulit dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Seseorang yang merasa kesepian mungkin menemukan kenyamanan dalam komunitas online.
Seseorang yang merasa tidak dihargai di lingkungan nyata mungkin menemukan validasi melalui likes dan komentar.
Hal-hal ini bisa memberikan rasa lega sementara.
Namun jika dunia digital mulai menggantikan hampir semua interaksi nyata, seseorang perlahan bisa merasa semakin terisolasi.
Internet bisa menjadi jendela yang menghubungkan manusia, tetapi juga bisa berubah menjadi dinding yang memisahkan mereka dari dunia nyata.
Gejala lain yang sering muncul dalam adiksi internet adalah perubahan emosi ketika seseorang tidak dapat mengakses internet.
Beberapa orang merasa gelisah ketika koneksi terputus.
Beberapa merasa bosan atau kosong ketika tidak memiliki akses ke layar.
Fenomena ini memiliki kemiripan dengan gejala withdrawal dalam berbagai bentuk kecanduan lainnya.
Otak yang terbiasa menerima stimulasi cepat dari internet tiba-tiba harus menghadapi keadaan yang lebih tenang—dan bagi sebagian orang, keadaan itu terasa tidak nyaman.
Penelitian dalam bidang neuropsikologi menunjukkan bahwa stimulasi digital yang intens dapat memengaruhi sistem dopamin dalam otak, membuat aktivitas yang lebih lambat terasa kurang menarik.
Akibatnya, hal-hal sederhana seperti membaca buku, berjalan santai, atau bahkan duduk dalam keheningan bisa terasa jauh lebih sulit dilakukan.
Ada satu pola yang cukup sering muncul dalam cerita banyak orang.
Seseorang mulai menggunakan internet lebih sering ketika sedang menghadapi periode hidup yang sulit.
Kesepian.
Stres pekerjaan.
Hubungan yang tidak berjalan baik.
Internet menawarkan sesuatu yang sangat menggoda: pelarian yang cepat dan mudah.
Beberapa klik saja sudah cukup untuk masuk ke dunia yang penuh hiburan, informasi, atau interaksi sosial.
Namun ketika internet menjadi satu-satunya cara untuk menghadapi emosi yang sulit, hubungan seseorang dengan teknologi bisa mulai berubah.
Kadang yang sebenarnya membuat seseorang terus online bukanlah internet itu sendiri, tetapi sesuatu yang ingin ia hindari dalam kehidupannya.
Adiksi internet sering tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia berkembang perlahan melalui kebiasaan kecil yang diulang setiap hari.
Awalnya hanya membuka ponsel sebelum tidur.
Lalu sedikit lebih lama.
Lalu menjadi rutinitas yang sulit dihentikan.
Kebiasaan-kebiasaan kecil ini perlahan membentuk cara seseorang mengisi waktu, mengatur emosi, dan bahkan memandang dunia.
Namun menariknya, hubungan manusia dengan internet sering juga mencerminkan sesuatu yang lebih dalam.
Bagi sebagian orang, internet adalah ruang belajar.
Bagi yang lain, ia menjadi ruang pelarian.
Bagi sebagian lagi, ia menjadi tempat mencari pengakuan.
Teknologi jarang benar-benar netral; ia sering memperkuat apa yang sudah ada dalam diri manusia.
Jika kita melihat fenomena adiksi internet dengan lebih tenang, ada satu ironi yang cukup menarik.
Internet diciptakan untuk membuat manusia lebih terhubung satu sama lain.
Namun dalam beberapa situasi, ia justru membuat seseorang merasa semakin jauh dari kehidupan yang nyata.
Manusia selalu mencari sesuatu yang memberi rasa keterhubungan, kesenangan, dan makna.
Internet menawarkan semua itu dalam bentuk yang sangat cepat dan mudah diakses.
Namun di balik kecepatan itu, ada pertanyaan yang kadang muncul dalam keheningan ketika layar akhirnya dimatikan.
Pertanyaan yang sederhana, tetapi sering terasa sangat jujur:
ketika dunia digital menjadi begitu menarik, apakah kita masih benar-benar hadir di dunia yang sedang kita jalani?
Referensi:
Young, K. S. (1998). Internet Addiction: The Emergence of a New Clinical Disorder. CyberPsychology & Behavior.
Kardefelt-Winther, D. (2014). A conceptual and methodological critique of internet addiction research. Computers in Human Behavior.
Alter, A. (2017). Irresistible: The Rise of Addictive Technology. Penguin Press.
Kuss, D., & Griffiths, M. (2012). Internet gaming addiction: A systematic review. International Journal of Mental Health and Addiction.
Ada sebuah fenomena yang semakin sering muncul dalam kehidupan modern, tetapi sering tidak disadari sampai dampaknya mulai terasa cukup dalam: seseorang yang perlahan kehilangan kendali atas hubungannya dengan internet.
Pada awalnya semuanya tampak biasa saja.
Seseorang membuka ponsel sebentar untuk melihat pesan.
Lalu berpindah ke media sosial.
Lalu menonton satu video pendek.
Lalu video berikutnya.
Tanpa terasa, satu jam berlalu.
Banyak orang pernah mengalami hal seperti ini, dan sebagian besar menganggapnya sebagai kebiasaan kecil yang tidak terlalu penting. Namun dalam beberapa situasi, hubungan seseorang dengan internet perlahan berubah dari sekadar kebiasaan menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Sesuatu yang mulai mengambil ruang dalam pikiran, emosi, bahkan kehidupan sehari-hari.
Fenomena ini sering disebut sebagai internet addiction atau adiksi internet.
Menariknya, dalam dunia kesehatan mental, topik ini masih terus dipelajari dan diperdebatkan. Namun banyak penelitian yang mulai menunjukkan bahwa pola penggunaan internet tertentu dapat memiliki karakteristik yang sangat mirip dengan bentuk adiksi lainnya.
Dalam buku Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry serta berbagai penelitian yang dirangkum dalam Internet Addiction: A Handbook and Guide to Evaluation and Treatment oleh Kimberly Young, dijelaskan bahwa adiksi internet memiliki pola neuropsikologis yang mirip dengan adiksi perilaku seperti perjudian.
Dan seperti banyak adiksi lainnya, gejalanya sering berkembang perlahan.
Internet pada dasarnya adalah alat.
Ia membantu manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, bahkan beristirahat sejenak dari kesibukan hidup.
Namun ada satu titik di mana hubungan seseorang dengan internet mulai berubah.
Internet tidak lagi sekadar alat yang digunakan ketika diperlukan.
Ia mulai menjadi sesuatu yang terus menarik perhatian, bahkan ketika seseorang sebenarnya ingin melakukan hal lain.
Salah satu tanda awal dari perubahan ini adalah munculnya dorongan yang sulit ditahan untuk terus memeriksa perangkat digital.
Beberapa orang mulai merasa tidak nyaman jika ponsel mereka tidak berada dalam jangkauan. Ada rasa gelisah yang muncul ketika koneksi internet terputus atau baterai hampir habis.
Perasaan ini tidak selalu ekstrem, tetapi cukup kuat untuk membuat seseorang terus kembali ke layar.
Ada satu kisah yang selalu teringat ketika membicarakan fenomena ini.
Saya pernah mengenal seseorang yang hidupnya terlihat sangat produktif dari luar. Ia bekerja dengan baik, memiliki banyak teman, dan tampak sangat aktif di berbagai kegiatan.
Namun suatu hari, dalam percakapan yang cukup panjang, ia mengatakan sesuatu yang cukup jujur.
Ia berkata bahwa beberapa tahun terakhir, ia mulai merasa sulit berhenti menggunakan internet.
Awalnya hanya untuk hiburan setelah bekerja.
Lalu menjadi kebiasaan sebelum tidur.
Lalu perlahan menjadi sesuatu yang dilakukan hampir setiap saat ketika ada waktu kosong.
Ia tidak langsung menyadari perubahan itu.
Tetapi suatu hari ia melihat statistik penggunaan ponselnya.
Waktu yang dihabiskan di layar mencapai lebih dari delapan jam sehari.
Saat itulah muncul perasaan yang cukup mengganggu: seolah sebagian besar hidupnya sedang berlangsung di dalam layar.
Pengalaman seperti ini sebenarnya cukup umum.
Banyak orang tidak menyadari perubahan perilaku mereka sampai suatu hari mereka melihat berapa banyak waktu yang telah dihabiskan secara online.
Untuk memahami mengapa internet bisa begitu menarik, kita perlu melihat cara kerja otak manusia.
Otak memiliki sistem penghargaan yang sangat sensitif terhadap hal-hal baru, kejutan, dan interaksi sosial.
Dalam literatur ilmu saraf yang dibahas dalam buku The Molecules of Emotion oleh Candace Pert dan berbagai penelitian tentang sistem dopamin, diketahui bahwa aktivitas yang memberikan kejutan kecil atau penghargaan tak terduga dapat memicu pelepasan dopamin.
Internet, terutama media sosial dan platform video, dirancang dengan mekanisme yang sangat efektif untuk memanfaatkan sistem ini.
Notifikasi baru.
Pesan masuk.
Like atau komentar.
Video yang terus berganti.
Setiap elemen ini menciptakan kemungkinan kecil bahwa sesuatu yang menarik akan muncul di layar.
Ketidakpastian inilah yang membuat otak terus kembali.
Dalam psikologi perilaku, pola ini disebut sebagai variable reward schedule, pola yang juga ditemukan dalam mesin slot perjudian.
Ketika penghargaan muncul secara tidak terduga, otak menjadi jauh lebih sulit melepaskan diri dari aktivitas tersebut.
Salah satu gejala paling umum dari adiksi internet adalah perubahan persepsi waktu.
Seseorang mungkin berniat membuka internet hanya selama beberapa menit.
Namun ketika ia melihat jam, satu atau dua jam telah berlalu.
Fenomena ini berkaitan dengan kondisi psikologis yang sering disebut attentional absorption—ketika perhatian seseorang sepenuhnya terserap oleh suatu aktivitas sehingga kesadaran terhadap waktu menjadi berkurang.
Masalahnya adalah ketika kondisi ini terjadi terlalu sering, waktu yang seharusnya digunakan untuk hal lain mulai berkurang.
Tidur menjadi lebih pendek.
Pekerjaan tertunda.
Interaksi dengan keluarga berkurang.
Namun karena aktivitas online sering terasa menyenangkan atau menenangkan, perubahan ini sering tidak terasa sebagai masalah pada awalnya.
Gejala lain yang sering muncul adalah perubahan dalam cara seseorang merespons dunia offline.
Beberapa orang mulai merasa lebih nyaman berinteraksi secara online daripada bertemu langsung dengan orang lain.
Komunikasi digital terasa lebih mudah dikendalikan.
Seseorang dapat memilih kapan menjawab pesan, bagaimana menampilkan dirinya, bahkan dapat menghapus kata-kata sebelum dikirim.
Sebaliknya, interaksi di dunia nyata sering terasa lebih rumit.
Ada ekspresi wajah yang harus dibaca.
Ada respons spontan yang tidak selalu mudah diatur.
Dalam beberapa kasus, seseorang mulai merasa bahwa dunia online memberikan rasa aman yang lebih besar dibandingkan dunia nyata.
Ketika ini terjadi, internet perlahan berubah dari alat komunikasi menjadi tempat pelarian emosional.
Dalam banyak pengalaman memahami perilaku manusia, salah satu fungsi terbesar dari adiksi—baik itu terhadap zat maupun perilaku—adalah sebagai cara untuk menghindari emosi yang tidak nyaman.
Stres.
Kesepian.
Kecemasan.
Perasaan tidak cukup baik.
Internet menawarkan pelarian yang sangat cepat dari semua itu.
Ketika seseorang merasa tidak nyaman, ia hanya perlu membuka layar.
Beberapa detik kemudian, pikirannya sudah berada di tempat lain.
Dalam penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Behavioral Addictions, ditemukan bahwa banyak individu dengan penggunaan internet yang berlebihan memiliki tingkat kecemasan atau depresi yang lebih tinggi.
Internet tidak selalu menjadi penyebab utama masalah tersebut.
Namun sering menjadi cara untuk menghindarinya.
Dan seperti banyak bentuk pelarian lainnya, efeknya sering bersifat sementara.
Salah satu tanda yang lebih serius dari adiksi internet adalah ketika aktivitas offline mulai kehilangan daya tarik.
Hobi yang dulu menyenangkan terasa membosankan.
Percakapan tatap muka terasa melelahkan.
Aktivitas fisik terasa tidak menarik.
Hal ini sering terjadi karena otak mulai terbiasa dengan stimulasi digital yang sangat cepat dan intens.
Video pendek.
Notifikasi instan.
Informasi yang terus berganti.
Dibandingkan dengan stimulasi ini, banyak aktivitas dunia nyata terasa lebih lambat.
Dalam penelitian yang dibahas dalam buku Irresistible karya Adam Alter, dijelaskan bahwa desain banyak platform digital memang bertujuan untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.
Akibatnya, seseorang dapat merasa bahwa dunia offline kehilangan intensitas yang biasa ia rasakan di dunia digital.
Jika kita melihat fenomena ini dengan lebih tenang, mungkin kita akan menyadari sesuatu yang cukup menarik tentang kehidupan modern.
Internet adalah salah satu alat paling luar biasa yang pernah diciptakan manusia.
Ia menghubungkan miliaran orang.
Ia membawa informasi dari seluruh dunia ke dalam genggaman tangan.
Namun alat yang sangat kuat sering memiliki sisi lain yang lebih sunyi.
Ia dapat menarik perhatian manusia begitu dalam hingga kadang membuat seseorang lupa pada dunia yang ada di sekitarnya.
Dan mungkin pertanyaan yang paling menarik bukanlah berapa lama seseorang menghabiskan waktu di internet.
Melainkan apa yang sebenarnya sedang dicari oleh seseorang ketika ia terus kembali ke layar, bahkan ketika dunia nyata sedang menunggunya di luar sana.
Notifications