PENGENALAN PENYAKIT
1. Gejala Klinis
Kaskado yang disebabkan oleh Stephanofi laria dedoesi diketahui dari luka pada kulit yang tertutup oleh keropeng dan kelihatan tebal. Pada tahap awal, kelainan kulit berupa lepuh kecil, kemudian menjadi luka yang besar. Proses ini meluas ke perifer, dan pada keadaan lanjut dapat menjadi luka dengan garis tengah mencapai 25 cm. Luka tersebut sering terdapat pada bagian atas leher, daerah punuk, gelambir, bahu, sekitar mata dan kaki.
Stephanofi laria kaeli menyebabkan luka yang bersifat proliferasi di sekitar persendian tarsal dan karpal pada kaki, sendi kuku, puting susu dan kadang pada kulit telinga. Sedangkan Stephanofi lariasis pada sapi yang disebabkan oleh S. stilesi mengakibatkan lesi kulit pada bagian bawah tubuh (abdomen) dan kadang pada kulit telinga.
Di India Kaskado yang disebabkan oleh S. assamensis mengakibatkan lesi kulit pada daerah punuk sapi, kerbau, kambing, dan S. zaheeri mengakibatkan lesi kulit kerbau atau sapi. Di Jepang juga terdapat penyakit kaskado yang disebabkan oleh S. okinawaensis yang mengakibatkan lesi/ luka pada kulit di daerah mulut dan puting susu sapi.
Lesi dapat terjadi di berbagai bagian tubuh, khususnya skrotum, pelvis, leher, dan ambing. Penyakit ini diakui sebagai salah satu penyebab utama penyakit kulit ambing pada sapi. Akibat rasa sakit dan tidak nyaman oleh lesi mengakibatkan hewan stres, nafsu makan berkurang, dan berdampak pada penurunan produksi susu dan daging. Ukuran lesi umumnya proporsional sesuai dengan umur dan ukuran hewan. Hewan betina biasanya memiliki diameter lesi yang lebih besar daripada hewan jantan.
2. Patologi
Penyakit ini tidak menimbulkan kematian, dan perubahan pasca mati hanya terjadi pada kulit seperti nampak pada gejala klinis.
3. Diagnosa
Diagnosa berdasarkan pada gejala klinis dan diagnosa laboratorium yang dikonfi rmasi dengan menemukan cacing pada kerokan kulit yang mengalami lesi dari hewan penderita.
4. Diagnosa Banding
Penyakit myasis
5. Pengambilan dan Pengiriman Spesimen
Lesi atau luka pada kulit dikerok sampai sedikit mengeluarkan darah dan hasil kerokan tersebut selanjutnya diawetkan dalam campuran gliserin dan air, dengan perbandingan yang sama, atau diletakkan di dalam media tissue culture untuk selanjutnya diperiksa menggunakan mikroskop.
Pemeriksaan histopatologik diambil dari potongan kulit (biopsi) yang mengandung lesi dan diawetkan di dalam formalin 10 %. Apabila tidak mungkin diambil dari hewan yang masih hidup, maka dapat juga diambil dari irisan kulit hewan penderita yang baru dipotong.
[details="Referensi"]
http://wiki.isikhnas.com/images/b/b9/Manual_Penyakit_Hewan_Mamalia.pdf
[/details]