PENGENALAN PENYAKIT
1. Gejala Klinis
Gejala klinis yang tampak pada kulit berupa alopecia (kebotakan), kemerahan, dan kulit mejadi berkerak. Pada tahap yang lebih lanjut, dapat terjadi demodecosis general disertai dengan peradangan dan infeksi sekunder oleh bakteri. Lapisan kulit yang terinfeksi terasa lebih berminyak saat disentuh.
Tungau sangat menyukai bagian tubuh yang kurang lebat bulunya, seperti moncong hidung dan mulut, sekitar mata, telinga, bagian bawah badan, pangkal ekor, leher sepanjang punggung dan kaki. Rasa gatal yang ditandai dengan hewan selalu mengaruk dan menggosokkan badannya pada benda lain atau menggigit bagian tubuh yang gatal, sehingga terjadi iritasi pada bagian yang gatal berupa luka/lecet, kemudian terjadi infeksi sekunder sehingga timbul abses, sering luka mengeluarkan cairan (eksudat) yang kemudian mengering dan menggumpal dan membentuk kerak pada permukaan kulit.
Ada 2 (dua) bentuk infeksi pada kulit akibat iritasi yaitu bentuk squamous (bersisik) dan bentuk pustular (benjolan). Bentuk squamous biasanya terdapat pada anjing, sedangkan bentuk pustular sering ditemukan pada sapi. Ukuran benjolan/nodule sangat bervariasi, mulai dari berukuran kecil sampai sekitar 2 cm, bahkan lebih besar. Lesi berawal pada daerah kepala, menjalar ke daerah leher dan kemudian dapat menutupi seluruh tubuh.
2. Patologi
Tidak ada tanda yang khas pada perubahan anatomi, selain adanya perubahan/lesi pada kulit seperti tersebut di atas.
3. Diagnosa
Diagnosa berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium untuk mengidentifi kasi adanya tungau Demodex sp.
Langkah diagnosis yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan deep skin scraping atau pengerokan kulit hingga berdarah. Scraping dilakukan dengan memegang dan menggosok daerah terinfeksi untuk mengeluarkan tungau dari folikel dengan menggunakan scalpel. Scraping dilakukan pada beberapa tempat. Setelah hasil scraping didapatkan, hasil tersebut kemudian diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 10X untuk menginterpretasikan hasil kerokan kulit tersebut.
4. Diagnosa Banding
a. Folikulitis/furunkulosis akibat bakteri, dermatophytosis, pemphigus kompleks, dermatitis kontak, dermatomiositis, dan lupus erytrematous kompleks.
b. Dermatitis yang disebabkan oleh jamur atau Scabies.
5. Pengambilan dan Pengiriman Spesimen
Spesimen berupa kerokan pada kulit yang terinfeksi tungau dimasukkan ke dalam cawan petri tanpa ditambah larutan apapun, atau ditambah larutan Glycerol 5-10 % untuk melihat tungau yang masih hidup dan melihat pergerakannya di bawah mikroskop. Identifi kasi tungau dapat dilakukan dengan menambahkan NaOH 10 % atau KOH 10 % secara mikroskopis.
Isi pustula yang diperoleh dengan jalan melakukan sayatan pada bagian kulit dari pustula/nodula dimasukkan ke dalam botol yang berisi formalin 5 % atau alkohol 70 % agar lebih tahan lama apabila spesimen tersebut akan dikirimkan/diperiksa ke tempat lain.
[details="Referensi"]
http://wiki.isikhnas.com/images/b/b9/Manual_Penyakit_Hewan_Mamalia.pdf
[/details]