Babesiosis merupakan infeksi oleh parasit intraeritrosit yang disebabkan oleh Babesia sp. Penyakit ini sering ditemukan di daerah yang beriklim tropis, subtropis, dan beriklim sedang. Patogenitas dari spesies Babesia di seluruh dunia beragam seiring dengan vektor biologisnya yang tersebar secara luas.
Etiologi
Babesiosis disebabkan oleh protoza darah intraseluler dari Babesia sp. Nama Babesia sendiri diambil dari penemunya, yaitu Victor Babes yang mengidentifikasi organisme didalam sel darah merah pada tahun 1888. Selanjutnya, pada tahun 1893, Victor Babes kembali menemukan protozoa intra eritotrosit pada penderita sapi yang mengalami haemoglobinuria. Adapun kasus Babesiosis pada manusia pertama kali ditemukan pada peternak sapi di daerah Yugoslavia pada tahun 1957.
Berdasarkan taksonominya, Babesia sp. tergolong dalam Filum Apicomplexa, Sub-kelas Piroplasma, Ordo Piroplasmida, Famili Babesiidae dan Genus Babesia (Delfi et all, 2000). Babesiosis pada anjing disebabkan oleh B. canis dan B. gibsoni.B. canis adalah parasit protozoa darah yang menyerang eritrosit serta penularannya melalui gigitan caplak.
B. canis pertama kali diidentifikasi oleh Pinna dan Galli Valerio tahun 1895 di Italia (Ressang,1984). Secara morfologi parasit darah ini menyerupai B. bigemina yang menyerang sapi dengan vektor caplak Dermacentor marginatus dan Rhipicephalus sanguineus.
Patogenesis
Patogenitas parasit tidak membedakan umur hospes, baik itu anak anjing maupun dewasa. Parasitemia yang berlangsung selamna 3-4 hari, diikuti periode hilangnya parasit dari peredaran darah perifer selama lebih kurang 10 hari. Dalam waktu 2 minggu pascainfeksi akan terjadi parasitemia kedua, dengan jumlah parasit yang lebih banyak di sel darah merah, sebagai hasil perbanyakan secara pembelahan (Subronto, 2010).
Adanya infeksi babesia di peredaran darah khususnya pada eritrosit akan memacu respon imun dari hospes seperti peningkatan sitokin yang menimbulkan demam. Selain itu, sitokin yang berlebih dapat menyebabkan kerusakan sel dan eritrosit menjadi pecah. Perkembangan protozoa ini di eritrosit juga menyebabkan eitrosit menjadi pecah sehingga terjadi anemia (Irawan, 2015). Dua sindrom yang dapat terlihat pada infeksi Babesia sp. adalah ditandai dengan anemia hemolitik dan terjadinya beberapa disfungsi organ yang dapat menjelaskan sebagian dari tanda-tanda klinis yang diamati pada hewan yang terinfeksi babesiosis.
Menurut VSSF (2005) Protozoa Babesia sp. umumnya ditularkan oleh kutu dan mencapai aliran darah ketika kutu menghisap darah inang. Setelah masuk ke dalam tubuh inang, parasit menempel ke eritrosit, kemudian masuk kedalam eritrosis melalui proses endositosis, mengalami pematangan, dan kemudian mulai bereproduksi melalui reproduksi aseksual, yang menghasilkan merozoit. Eritrosit yang terinfeksi akhirnya pecah dan merozoit dirilis menyerang eritrosit lain.
Patogenesis utama yang terkait dengan Babesiosis adalah anemia hemolitik. Anemia hemolitik adalah hasil dari cedera eritrosit langsung yang disebabkan oleh parasit dan juga oleh mekanisme imun. Selain itu, sebagian besar anjing dengan Babesiosis memiliki trombositopenia. Gejala klinis yang timbul dari penyakit ini antara anak anjing umumnya lebih rentan terhadap Babesiosis dan dan memiliki risiko terbesar dari penyakit ini dan dapat menimbulkan kematian. Pada kasus anemia progresif dapat menyebabkan terjadinya hemoglobinemia, hemogloinuria, bilirubinemia dan icterus.
Gejala Klinis
Gejala klinis yang dapat timbul akibat penyakit ini antara lain demam, anoreksia, malaise, hemoglobinuria,splenomegali, dan hemolisis darah yang sering kali menyebabkan kematian (Arai, 1998).Kematian hewan yang terinfeksi dapat meningkat jika infeksi tersebut tidak dikendalikan khususnya pada anak anjing.
Pada kasus kronis kadang terjadi kondisi anemia dan haemoglobinuria. Dilaporkan bahwa kejadian babesia umumnya berlangsung subklinis.Penyakit ini dapat menyebabkan terjadinya anemia hemolitik, trombositopenia, dan splenomegali. Tanda lainya yang dapat menunjukkan adanya infeksi babesia adalah pucat gusi dan lidah, urin berwarna merah atau orange, penyakit kuning (semburat kuning pada kulit, gusi, putih mata, dll), pembesaran kelenjar getah bening, dan pembesaran limpa (Boozer & Macintire 2005).
Pada infeksi yang berat babesia dapat menyebabkan adanya anemia hemolitik yang berat.Selain itu, pada infeksi yang kronis anjing biasanya memperlihatkan anemia dan demam dengan hiperplasia limfoid dan 25 limfositosis.Anjing yang terinfeksi babesiosis dapat menghasilkan kekebalan yang bertahan seumur hidup terhadap penyakit ini (OIE 2010).
Diagnosis
Diagnosa pada babesiosis dapat dilakukan dengan melihat gejala klinis yang ada, seperti pada daerah yang endemic, anjing yang mengalami demam tinggi, anemia apalagi sampai ikterus perlu dicurigai menderita babesiosis. Parasit kadang-kadang tidak selalu ditemukan dalam preparat darah. Parasit dapat ditemukan dalam preparat darah yang dibuat dari tetes pertama dari kapiler di daun telinga anjing.
Selain itu, adanya splenomegali, meningkatnya waktu darah mengucur (bleeding time), kenaikan laju endapan darah dan meningkatnya bilirubin darah merupakan temuan penting dalam diagnosis babesiosis (Subronto, 2010). Mikroskopi merupakan tes diagnostik yang sederhana dan paling mudah untuk dokter hewan mengidentifikasi babesiosis dengan menggunakan pewarnaan giemsa.
Selain itu pemeriksaan pada babesiosis dapat menggunakan PCR dan ELISA. Meskipun PCR merupakan alat diagnosis yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinngi. Namun penggunaannya untuk mendiagnosa Babesiosis masih terbatas dan belum digunakan secara luas. Penggunaan PCR dilakukan di Australia untuk membedakan B. vogeli dan B. gibsoni. Sebagian besar negara eropa menggunakan PCR untuk membedakan antara spesies B. canis, B. gibsoni, dan B. vogeli (Birkenheuer, 2003).