Bintang.com, Belanja memang bagi sebagian orang sangat menyenangkan. Muncul sensasi yang unik setiap kali mendapatkan apa yang mereka inginkan. Hingga akhirnya mereka tidak bisa mengontrol keinginannya lagi. Dorongan untuk berbelanja dalam diri mereka sangat besar. Meskipun uang sudah habis, kartu kredit akan berubah fungsi menjadi ladang uang. Akhirnya, tagihan yang datang pun tidak sanggup mereka bayar.
Menurut Kent Monroe, profesor pemasaran dan seorang peneliti dari University of Illinois mengatakan, kecanduan belanja bisa menyakiti dirinya sendiri. Bahkan bisa menghancurkan hubungannya dengan keluarga, pasangan, dan para sahabat.
Tapi, sebenarnya, apa sih, yang membuat mereka jadi kecanduan belanja?
Ada rasa bahagia ketika mereka berbelanja.
Ketika berbelanja, otak mereka memproduksi endorfin dan dopamin, yang membuat mereka merasa senang dan bahagia. Karena muncul perasaan baik itu, lama-lama mereka menjadi 'ketagihan' untuk berbelanja.
Tidak mampu mengatasi perasaan negatif.
Perasaan negatif ini antara lain rasa kesepian, sedih, sakit hati, depresi, ketakutan, dan amarah. Karenanya berbelanja menjadi tempat pelarian. Ketika mereka merasa kacau, kemudian membeli barang yang mereka inginkan, muncul rasa bahagia yang bisa menyisihkan perasaan negatif tersebut.
Ada kekosongan dalam hati mereka.
Menurut Monroe, orang-orag yang hatinya kosong cenderung mengisinya dengan hal-hal yang bisa membuat mereka bahagia dalam sekejap. Salah satunya dengan belanja. Ketika mendapatkan barang yang mereka inginkan, kekosongan ini seakan terganti untuk sementara. Dan ketika rasa itu timbul kembali, mereka akan kembali berbelanja. Hal ini akan terus terulang sebelum mereka sadar kalau kekosongan itu hanya terisi untuk sementara.
Sensasi unik muncul.
Sebagian orang tidak merasa sangat bahagia setelah mendapatkan barang yang mereka beli, berapa pun harganya. Tapi mereka menikmati sensasi yang muncul saat mereka mencari barang yang pas untuk mereka beli. Untuk itu, sebagain besar kaum perempuan menghabiskan waktu berjam-jam untuk 'cuci mata.' Sering kali mereka menyesal karena telah membeli barang yang tidak berguna saat sampai di rumah.
Kurangnya keinginan yang terpenuhi saat masih kecil.
Ingat, kan, ketika kamu masih kecil, pasti ada keinginan untuk memiliki mainan yang kamu lihat di TV. Atau ingin punya barang yang sama dengan teman-temanmu. Nah, ada sebagain anak-anak yang rasa keinginannya itu tidak terpenuhi. Bisa karena orangtuanya tidak sanggup membelikan, atau mereka mencoba mendidik anak-anak mereka untuk tidak boros.
Tapi, mereka lupa untuk memberikan pengertian kenapa tidak boleh membeli semua yang mereka inginkan. Akhirnya, saat si anak sudah beranjak dewasa dan memiliki penghasilan sendiri, mereka seperti 'membalas dendam' dengan membeli apa saja yang mereka inginkan.
Gaya hidup.
Sadar atau tidak, kamu bergaul dengan orang-orang yang pikirannya sama. Termasuk gaya hidupnya. Artinya, ketika kamu ingin bergaul dengan orang-orang kaya, kamu tidak akan berhasil jika gaya hidupmu tidak sama dengan mereka. Sebagian perempuan ingin meningkatkan derajat atau posisi yang berkaitan dengan jabatan suaminya atau hanya sekedar status sosialnya. Untuk meningkatkan derajat dan status sosial, mereka juga harus menyamakan gaya hidup mereka dengan kalangan tersebut. Akhirnya muncul dorongan untuk membeli pakaian, mobil, makanan, hingga sepatu mewah.