Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa yang dimaksud dengan Teori Kognitif Sosial ?

BI Bima Satria 8 years ago

Teori Kognitif Sosial|690x267

Teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory) merupakan penamaan baru dari Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory) yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Penamaan baru dengan nama Teori Kognitif Sosial ini dilakukan pada tahun 1970-an dan 1980-an. Ide pokok dari pemikiran Bandura merupakan pengembangan dari ide Miller dan Dollard tentang belajar meniru (imitative learning).

Apa yang dimaksud dengan Teori Kognitif Sosial ?

27

Teori Kognitif Sosial atau Social Cognitive Theory yang dikemukakan oleh Albert Bandura, yang biasa dikenal dengan Social Learning Theory. Teori kognitif sosial menurut Bandura menyoroti pertemuan yang kebetulan (chance encounters) dan kejadian tak terduga (fortuitous events) meskipun pertemuan dan peristiwa tersebut tidak serta merta mengubah jalan hidup manusia. Cara manusia bereaksi terhadap pertemuan atau kejadian itulah yang biasanya berperan lebih kuat dibanding peristiwa itu sendiri (Feist & Feist, 2008).

Beberapa asumsi awal dan mendasar dari teori kognitif sosial Bandura adalah Learning Theory (teori pembelajaran) yang berasumsi bahwa manusia cukup fleksibel dan sanggup mempelajari beragam kecakapan bersikap maupun berperilaku, dan bahwa titik pembelajaran terbaik dari itu semua adalah adanya pengalaman-pengalaman tak terduga (vicarious experiences).

Teori kognitif sosial Bandura juga mengambil sudut pandang manusia sebagai ‘agen’ terhadap dirinya sendiri, artinya bahwa manusia memiliki kapasitas untuk melatih kendali atas hidupnya (Feist & Feist, 2008).

Bandura (2001) yakin bahwa manusia (human agency) adalah makhluk yang sanggup mengatur dirinya, proaktif, reflektif dan mengorganisasikan dirinya. Selain itu, mereka juga memiliki kekuatan untuk mempengaruhi tindakan mereka sendiri demi menghasilkan konsekuensi yang diinginkan (dalam Feist & Feist, 2008).

Dalam publikasi Social Foundations of Thought and Action: A Social Cognitive Theory, Bandura mengembangkan pandangan human functioning. Dia menyerasikan peran sentra kognitif, seolah mengalami sendiri (vicarious), pengaturan diri, dan proses reflektif diri dalam adaptasi dan perubahan manusia.

Orang dipandang sebagai sosok sistem pengorganisasi diri, proaktif, reflektif diri, dan penga turan diri daripada sebagai organisme reaktif yang dibentuk dan dilindungi oleh kekuatan lingkungan atau didorong oleh impuls-impuls paling dalam yang tersembunyi.

Dalam perspektif kognitif sosial, individu dipandang berkemampuan proaktif dan mengatur diri daripada sebatas mampu berperilaku reaktif dan dikontrol oleh kekuatan biologis atau lingkungan. Selain itu, individu juga dipahami memiliki self-beliefs yang memungkinkan mereka berlatih mengukur pengendalian atas pikiran, perasaan, dan tindakan mereka.

Bandura (1977) memperlihatkan bahwa individu membuat dan mengembang kan persepsi diri atas kemampuan yang menjadi instrumen pada tujuan yang mereka kejar dan pada kontrol yang mereka latih atas lingkungannya.

Adapun fondasi persepsi Bandura terhadap reciprocal determinism, memandang bahwa: faktor personal dalam bentuk kognisi, afektif, dan peristiwa biologis, tingkah laku, pengaruh lingkungan membuat interaksi yang menjadi hasil dalam triadic reciprocality. Sifat timbal balik penentu pada fungsi manusia ini dalam teori kognitif sosial memung-kinkan untuk menjadi terapi dan usaha konseling yang diarahkan pada personal, lingkungan, dan faktor perilaku.

Teori kognitif sosial berakar pada pandangan tentang human agency bahwa individu merupakan agen yang secara proaktif mengikutsertakan dalam lingkungan mereka sendiri dan dapat membuat sesuatu terjadi dengan tindakan mereka.

Adapun kunci pengertian agency adalah kenyataan bahwa di antara faktor personal yang lain, individu memiliki self-beliefs yang memungkinkan mereka melatih mengontrol atas pikiran, perasaan, dan tindakan mereka, bahwa “apa yang dipikirkan, dipercaya, dan dirasakan orang mem pengaruhi bagaimana mereka bertindak”.

Teori sosial kognitif ( social cognitive theory = teori kognitif sosial) adalah salah satu teori belajar yang menjelaskan pola-pola perilaku. Teori yang dikembangkan oleh Albert Bandura sejak tahun 1960an ini menitikberatkan pada bagaimana dan mengapa orang cenderung untuk meniru atau meneladani apa yang mereka lihat melalui media atau orang lain. Teori sosial kognitif merupakan pengembangan dari teori belajar sosial yang menyediakan kerangka kerja untuk memahami, memprediksi, dan merubah perilaku manusia.

Teori sosial kognitif menekankan pada kapasitas kita untuk belajar tanpa melalui pengalaman langsung. Teori sosial kognitif yang disebut juga dengan teori belajar observasional bergantung pada sejumlah hal termasuk kemampuan subyek untuk memahami dan mengingat apa yang ia lihat, melakukan identifikasi dengan cara memediasi karakter, dan keadaan atau situasi yang mempengaruhi peniruan perilaku.

Sebagai salah satu teori belajar, teori sosial kognitif kerapkali digunakan untuk mempelajari media dan komunikasi massa, komunikasi kesehatan, dan komunikasi antar pribadi atau komunikasi interpersonal. Tujuan teori sosial kognitif adalah untuk menjelaskan bagaimana orang mengatur perilakunya melalui kontrol dan peneguhan atau penguatan untuk mencapai perilaku yang diarahkan pada tujuan yang dapat dipertahankan sepanjang waktu.

Teori belajar pendekatan kognitif adalah bagian terpenting dari sains kognitif yang telah memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam perkembangan psikologi pendidikan. Dalam psikologi kognitif, manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungannya sebagaimana anggapan behaviorisme, akan tetapi ia dianggap sebagai makhluk yang berusaha memahami lingkungannya, makhluk yang selalu berpikir/homo sapiens (Yusuf, 1990 : 42). Pendekatan psikologi kognitif lebih menekankan arti penting proses internal, mental manusia. Dalam pandangan ahli kognitif, tingkah laku manusia yang tampak tak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental, seperti motivasi, kesengajaan, keyakinan, dan sebagainya. Dalam perspektif ini, belajar pada asasnya adalah peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral yang bersifat jasmaniah, meskipun hal-hal yang bersifat behavioral tampak lebih nyata dalam hampir setiap peristiwa belajar siswa.

Istilah kognitif berasal dari kata Latin cognoscere yang artinya mengetahui (to know). Aspek kognitif ini banyak mempermasalahkan bagaimana orang memperoleh suatu pemahaman akan dirinya serta lingkungannya, dan bagaimana dengan kesadarannya, ia bertindak terhadap lingkungannya tersebut. Dalam hal ini pusat perilaku kesadarannya adalah ide di dalam otak, yang tampak pada perilaku berpikir.

Dalam belajar, orang juga menggunakan berpikir, berpikir untuk menggapai sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Jadi, proses belajar dalam kognitivisme ini tidak lagi dipandang sebagai pembentukan prilaku yang diperoleh dari pengulangan hubungan S-R (stimulus-respons) secara kaku, dan adanya penguatan-penguatan, tetapi mencakup fungsi pengalaman perseptual dan proses kognitif yang meliputi ingatan, lupa, pengolahan informasi dan sebagainya. Karena manusia merupakan makhluk yang selalu berusaha memahami lingkungannya dengan cara berpikir, maka stimulus-stimulus yang datang dari luar diaturnya, diolah kemudian disesuaikan dengan struktur kognitif yang dimilikinya sehingga prosesnya menjadi kompleks, dan kemudian terjadilah perubahan perilaku.

Jika menurut behaviorisme belajar itu terjadi sebagai akibat lancarnya hubungan S-R yang tampak membiasa dalam proses yang bersifat mekanis-otomatis, tanpa menghiraukan fungsi otak, pada kognitivisme justru belajar itu dari otak. Belajar terjadi secara internal di dalam otak manusia, yang meliputi persepsi, motivasi, ingatan, lupa dan sebagainya (Syah, 2002 : 111).

Banyak teori yang menerangkan tentang teori belajar, selain Piaget yang menjelaskan belajar merupakan perkembangan genetik, Bruner menerangkan lebih lengkap lagi. Menurutnya belajar kognitif merupakan suatu proses yang sejalan dengan perkembangan tiga tahap, yang meliputi enactive, iconic, dan symbolic. Tahap enaktif menunjukkan seorang anak secara aktif melakukan kegiatan dalam usahanya memahami lingkungannya. Tahapan kognitif ikonik, menunjukkan bahwa anak pada masa ini banyak dikuasai oleh simbol-simbol visual, namun belum mampu menerangkan konsepnya. Sedangkan terakhir, simbolik, menunjukkan seorang anak mulai menggunakan simbol-simbol lebih banyak dari sebelumnya. Pada tahap ini anak telah memiliki daya imajinasi yang tinggi, mampu menampak simbol abstrak.