
Regulasi diri berkaitan dengan bagaimana individu mengaktualisasikan dirinya dengan menampilkan serangkaian tindakan yang ditujukan pada pencapaian target. Menurut bandura regulasi diri merupakan kemampuan mengatur tingkah laku dan menjalankan tingkah laku tersebut sebagai strategi yang berpengaruh terhadap performansi seseorang mencapai tujuan atau prestasi sebagai bukti peningkatan.
Galinsky mengungkapkan :
regulating one’s thinking, emotions, and behavior is critical for success in school, work, and life, yaitu dengan adanya regulasi diri, seseorang akan mampu untuk mengatur pikiran, emosinya dan perilaku seseorang untuk menuju kesuksesan di lingkungan sekolah, pekerjaan dan kehidupannya.
Pendapat Adler mengenai regulasi juga sangat berkaitan bahwa setiap orang memiliki kekuatan untuk bebas menciptakan gaya hidupnya sendiri-sendiri. Manusia itu sendiri yang bertanggung jawab tentang siapa dirinya dan bagaimana dia bertingkahlaku. Manusia mempunyai kekuatan kreatif untuk mengontrol kehidupan dirinya, bertanggung jawab terhadap, bertanggung jawab mengenai tujuan finalnya, menentukan cara memperjuangkan mencapai tujuan itu, dan menyumbang pengembangan minat sosial.
Kekuatan diri kreatif itu membuat manusia menjadi manusia bebas, bergerak menuju tujuan terarah.
Dari pendapat Adler tersebut dapat diketahui bahwa setiap individu memiliki keampuan dasar untuk mengontrol dirinya, sesuai dengan kemampuan yang ada pada dirinya untuk bertanggung jawab sesuai dengan tujuan hidupnya. Zimmerman mengungkapkan bahwa regulasi diri merujuk pada pikiran, perasaan dan tindakan yang terencana oleh diri dan terjadi secara berkesinambungan sesuai dengan upaya pencapaian tujuan.
Penelitian yang dilakukan Raffaeli dkk mengungkapkan ketidak mampuan seseorang untuk meregulasi diri menyebabkan seseorang menjadi kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang, membuat seseorang mengalami gangguan makan, tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan juga membuat anak-anak rentan terhadap berbagai resiko meskipun tidak berada dalam lingkungan yang beresiko memicu munculnya penyakit psikologis.
Bentuk-Bentuk Regulasi Diri.
Brown dan Ryan mengemukakan beberapa bentuk regulasi yang berdasarkan pada teori determinasi diri yaitu:
-
Amotivation regulation: keadaan pada saat individu merasakan tidak adanya hubungan antara tindakan dan hasil dari tindakan tersebut. Individu yang berada pada kondisi ini akan bertindak tanpa intensi dan memiliki keinginan untuk bertindak.
-
External regulation: ketika perilaku diregulasi oleh faktor eksternal seperti adanya hadiah dan batasan-batasan.
-
Introjected regulation: individu menjadikan motivasi diluar dirinya sebagai motivasi dirinya melalui proses tekanan internal seperti rasa cemas dan perasaan bersalah.
-
Identivied regulation: perilaku muncul sebagai pilihan pribadi bukan untuk kepuasan dan kesenangan tetapi untuk mencapai suatu tujuan. Individu merasakan dirinya diarahkan dan bertujuan.
-
Intrinsically motivated behavior: muncul secara sukarela tanpa ada keterkaitan dengan faktor eksternal.
Aspek-aspek Regulasi diri
Bandura menyebutkan tiga kebutuhan internal dalam proses melakukan regulasi diri yang terus menerus sebagai berikut:
-
Observasi Diri
Kita harus dapat memonitor performa kita walaupun perhatian yang kita berikan padanya belum tentu tuntas ataupun akurat. Kita harus memberikan perhatian secara selektif terhadap beberapa aspek dari perilaku kita dan melupakan yang lainnya dengan sepenuhnya. Apa yang kita observasi bergantung pada minat dan konsepsi diri lainnya yang sudah ada sebelumnya. (Memonitor diri, perhatian diri)
-
Proses Penilaian
Observasi diri sendiri tidak memberikan dasar yang cukup untuk dapat meregulasi perilaku. Proses kedua, proses penilaian, membantu kita meregulasi perilaku kita melalui proses mediasi kognitif. Kita tidak hanya mampu utuk menyadari diri kita secara reflektif, tetapi juga menilai seberapa berharga tindakan kita berdasarkan tujuan yang telah kita perbuat untuk diri kita. Lebih spesifiknya lagi, proses penilaian bergantung pada standar pribadi.
Performa rujukan, pemberian nilai pada kegiatan, dan atribusi performa (apabila kita percaya bahwa keberhasilan yang kita capai karena usaha kita sendiri, maka kita akan menjadi bangga dengan pencapaian kita dan cenderung akan bekerja lebih keras untuk mencapai tujuan kita. Kebalikannya , apabila kita percaya bahwa kita bertanggung jawab atas kegagalan atau performa yang tidak maksimal, maka kita akan lebih siap bekerja kearah regulasi diri daripada apabila kita meyakini bahwa kegagalan dan ketakutan kita diakibatkan oleh factor-faktor diluar kendali kita).
- Reaksi Diri
Manusia merespon secara positif dan negative terhadap perilaku mereka bergantung pada bagaimana perilaku tersebut memenuhi standar personal mereka. Manusia menciptakan insentif untuk tindakan mereka melalui penguatan diri atau hukuman diri. Sebagai contoh, seorang murid yang rajin yang telah menyelesaikan suatu tugas bacaan dapat memberikan penghargaan pada dirinya sendiri dengan menonton program televise favoritnya. (respon positif dan respon negatif).
Menurut Zimmerman regulasi diri merujuk pada pikiran, perasaan dan tindakan terencana dan secara siklis disesuaikan dengan upaya pencapaian tujuan pribadi. Menurutnya regulasi diri mencakup tiga aspek yang diaplikasikan dalam belajar, yaitu meta kognitif, motivasi dan perilaku.
-
Metakognisi
Menurut Zimmerman dan pons bahwa poin metakognitif bagi individu yang melakukan regulasi diri adalah individu yang merencanakan, mengorganisasi, mengukur diri, dan menginstruksikan diri sebagai kebutuhan selama proses perilakunya. Matlin menambahkan metakognisi adalah pemahaman dan kesadaran tentang proses kognitif-atau pikiran tentang berpikir. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa metakognisi merupakan suatu proses penting. Hal ini dikarenakan pengetahuan seseorang tentang kognisinya dapat membimbing dirinya mengatur atau menata peristiwa yang akan dihadapi dan memilih strategi yang sesuai agar dapat meningkatkan kinerja kognitifnya kedepan.
-
Motivasi
Devi dan Ryan mengemukakan bahwa motivasi adalah fungsi dari kebutuhan dasar untuk mengontrol dan berkaitan dengan kemampuan yang ada pada setiap diri individu. Ditambahkan juga oleh Zimmerman dan Pons bahwa keuntungan motivasi ini adalah individu memiliki motivasi intrinsik, otonomi, dan kepercayaan diri tinggi terhadap kemampuan dalam melakukan sesuatu.
Menurut Pintrich motivasi merupakan komponen yang paling penting dari pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Hal ini dianggap sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan.
- Perilaku
Perilaku menurut Zimmerman dan Schank merupakan upaya untuk mengatur diri, menyeleksi dan memanfaatkan lingkungan maupun menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas belajarnya