Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa yang dimaksud dengan Psikologi Lingkungan?

psikologi lingkungan|690x320

Ada tiga tradisi besar orientasi teori Psikologi dalam menjelaskan dan memprediksi perilaku manusia.

  1. Perilaku disebabkan faktor dari dalam (deterministik).
  2. Perilaku disebabkan faktor lingkungan atau proses belajar.
  3. Perilaku disebabkan interaksi manusia-lingkungan.

Psikologi Lingkungan merupakan ilmu perilaku yang berkaitan dengan lingkungan fisik, merupakan salah satu cabang Psikologi yang tergolong masih muda.

Bagaimana penjelasan secara detail terkait dengan psikologi lingkungan tersebut ?

21

image|690x240

Psikologi Lingkungan merupakan ilmu perilaku yang berkaitan dengan lingkungan fisik, merupakan salah satu cabang Psikologi yang tergolong masih muda. Teori-teori Psikologi Lingkungan dipengaruhi, baik oleh tradisi teori besar yang berkembang dalam disiplin Psikologi maupun diluar Psikologi.

Grand theories yang sering diaplikasikan dalam Psikologi Lingkungan seperti misalnya teori kognitif, behavioristik, dan teori medan.

Dikatakan oleh Vcitch & Arkelin (1995) bahwa belum ada grand theories psikologi tersendiri dalam Psikologi Lingkungan. Yang ada sekarang ini baru dalam tataran teori mini. Hal ini didasarkan pandangan, bahwa beberapa teori memang dibangun atas dasar data empiris tetapi sebagian yang lain kurang didukung oleh data empiris. Selain itu, metode penelitian yang digunakan belum konsisten.

Teori-teori yang berorientasi deterministik lebih banyak digunakan untuk menjelaskan fenomena kognisi ligkungan. Dalam hal ini, teori yang digunakan adalah teori Gestalt. Menurut teori Gestalt, proses persepsi dan kognisi manusia lebih penting daripada memepelajari perilaku tampak nya (overt behaviour). Bagi Gestalt, perilaku manusia lebih disebabkan oleh proses-proses persepsi. Dalam kaitannya dengan Psikologi Lingkungan, maka persepsi lingkungan merupakan salah satu aplikasi dari teori Gestalt.

Teori yang berorientasi lingkungan dalam Psikologi lebih banyak dikaji oleh behavioristik. Perilaku terbentuk karena pengaruh umpan balik (pengaruh positif dan negatif) dan pengaruh modelling.

Dilukiskan bahwa manusia sebagai black-box yaitu kotak hitam yang siap dibentuk menjadi apa saja. Dalam Psikologi Lingkungan, teori yang berorientasi lingkungan, salah satu aplikasinya adalah geographical determinant yaitu teori yang memandang perilaku manusia lebih ditentukan faktor lingkungan dimana manusia hidup yaitu apakah di pesisir, di pegunungan, ataukah di daratan. Adanya perbedaan lokasi di mana tinggal dan berkembang akan menghasilkan perilaku yang berbeda.

Kedua orientasi teori tersebut bertentangan dalam menjelaskan perilaku manusia. Orientasi ketiga merupakan upaya sintesa terhadap orientasi teori pertama dan kedua.

Premis dasar dari teori ini menyatakan bahwa perilaku manusia selain disebabkan faktor lingkungan, juga disebabkan faktor internal. Artinya, manusia dapat mempengaruhi lingkungan dan lingkungan dapat dipengaruhi oleh manusia.

Salah satu teori besar yang menekankan interaksi manusia-lingkungan dalam Psikologi adalah teori Medan dari Kurt Lewin dengan formula B = f (E,O). Perilaku merupakan fungsi dari lingkungan dan organisme.

Berdasarkan premis dasar tersebut, muncul beberapa teori mini dalam Psikologi Lingkungan, seperti :

PERBANDINGAN TEORI


Berdasarkan ke-5 teori mini tersebut, dapat disimpulkan bahwa :

  1. Ke-lima teori tersebut disusun atas dasar interaksi manusia-lingkungan. Selain teori ekologi, keempat teori memperlihatkan adanya kapasitas yang terbatas pada manusia dalam pemrosesan informasi, khususnya informasi yang berkaitan dengan stimulasi lingkungan fisik. Indikator yang spesifik tentang keterbatasan kemampuan pada manusia terlihat pada teori beban lingkungan dengan dasar-dasar kompetensi kognitif yaitu lebih khusus adalah kemampuan pemrosesan informasi.

    Demikian halnya dengan teori stres lingkungan, indikator dari stres lingkungan dapat dilihat pada level individu, terlihat pada respon stres yang tercermin dari penurunan kemampuan kognisi, perubahan perilaku, emosi, dan respon fisiologis. Indikator psikologis dari teori hambatan perilaku dan teori adaptasi tidak jelas, apakah komponen kognitif, afektif, ataukah perilaku.

  2. Teori ekologi lebih menekankan faktor lingkungan daripada faktor perbedaan individual. Penerapan dalam masalah-masalah psikologi perlu mendapatkan perhatian terutama jika level analisisnya adalah individu yang mendasarkan diri pada perbedaan individu.

  3. Indikator mengenai person environment fit model juga tidak jelas. Kesesuaian antara lingkungan dengan manusia masih bersifat subjektif, belum ada indikator yang pasti.

Seperti dalam teori beban lingkungan, yang dimaksud dengan beban yang optimal itu seberapa jauh? Dalam teori hambatan perilaku, sejauh mana ‘sesuatu’ dianggap sebagai penghambat perilaku? Dalam teori level adaptasi, sejauh mana stimulasi lingkungan itu dipersepsikan sebagai level adaptasi yang optimal? Dalam teori stres, transaksi manusia-lingkungan menghasilkan stres positif.

SINTES DAN IMPLIKASI

Hubungan manusia-lingkungan merupakan hubungan yang dinamis dan bukan bersifat langsung. Oleh karenanya upaya memahami perilaku manusia dalam konteks lingkungan, perlu kiranya dibuat model umum hubungan manusia-lingkungan.

Model umum hubungan manusia-lingkungan dapat disusun melalui kajian-kajian intensif dengan memperhatikan keanekaragaman lingkungan fisik dan karakteristik yang berbeda pada manusia.

Pengabaian terhadap keanekaragaman lingkungan dan karakteristik manusia merupakan suatu penyerdehanaan, yang sering kali dilakukan oleh peneliti. Hal ini tidak dapat dihindarkan, kemungkinan karena keterbatasan dalam memahami teori-teori psikologi lingkungan atau ketrbatasan dalam penguasaan metodologi peelitian.

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, teori mini yang telah dipaparkan dapat disintesakan seperti halnya model stres lingkungan dan berbagai macam metode penelitian terbuka untuk digunakan, baik secara mandiri maupun bentuk multi metode.

Berikut ini akan disajikan model umum hubungan perilaku-manusia yang disusun oleh Vitch & Arkkelin (1995) seperti dalam gambar berikut.

image|690x545
Gambar Model Interaksi Perilaku-Lingkungan (Veitch & Arkkelin, 1995)

Model tersebut memperlihatkan bahwa pengaruh lingkungan terhadap perilaku bukan secara langsung tetapi terdapat variabel moderator dan variabel mediator.

  • Variabel moderator adalah faktor-faktor baik situsi/sosial dan variabel individu, yang dapat meningkatkan atau menurunkan dampak dari setting, antara lain macam aktivitas, jenis tugas, kepribadian dsb.

  • Variabel mediator adalah proses internal, baik secara efektif, persepsual, maupun proses kognitif yang berpengaruh terhadap respon kondisi lingkungan. Arah panah ganda berarti saling mempengaruhi atau hubungan timbal balik.

  • Variabel evaluasi adalah hasil proses penilaian atas variabel mediator, apakah lingkungan dinilai sebagai menyenangkan atau tidak menyenangkan. Hal ini dilakukan dalam ragka mencapai keseimbangan. Jika keseimbangan tidak tercapai, akan menghasilkan stres yang berlanjut atau ketidakseimbangan yang berkepanjangan.

Hasil keseimbangan tersebut tercermin dalam indikator adanya keseimbangan dalam aspek fisiologis, psikologis, dan perilaku (Veitch & Arkkelin, 1995).

Model hubungan manusia-lingkungan dilakukan oleh Helmi (1995) dalam penelitian mengenai strategi adaptasi yang efektif dalam situasi kepadatan sosial. Model tersebut didasarkan atas model stres lingkungan yang disusun oleh Fisher dkk (1984) dan dilakukan modifikasi sesuai dengan tujuan penelitian.

Adapun model hubungan manusia-lingkungan, terlihat dalam bagan berikut.

image|690x611

Gambar Proses koping dan strategi adaptasi yang efektif sesuai dengan situasi sosial dan tingkat harga diri subjek (Helmi, 1995)

Pengaruh kepadatan sosial terhadap indikator strategi adaptasi yang efektif merupakan hubungan yang tidak langsung. Dengan meminjam istilah yang digunakan oleh Veitch & Arkkelin (1995) terhadap variabel moderator dan mediator.

  • Variabel moderator dalam penelitian tersebut adalah situasi sosial yang terdiri atas situasi yang kurang mengenal di antara subjek dan situasi kompetisi. Variabel moderator yang lain adalah karakteristik kepribadian subjek yaitu harga diri.

  • Variabel mediator dalam penelitian tersebut adalah tercermin dalam pemilihan subjek terhadap strategi koping.

  • Indikator strategi adaptasi yang efektif dalam penelitian tersebut adalah perasaan kesesakan rendah (crowding), konsentrasi tinggi, dan tekanan darah dalam kondisi normal.

Referensi :
* Fisher, A., Bell, P.A., & Baum, A., 1984. Environmental Psychology. New York: Holt, Rinehart, dan Wiston.
* Gifford, R. 1987. Environmental Psychology : Principle and Practice. Boston: Allyn and Bacon, Inc.
* Heimstra, N.W., & Mc Farling, L.H. 1982. Environmntal Psichology. California: Brooks/Cole Publishing Company.
* Helmi, A.F., 1994. Hidup di Kota Semakin Sulit. Bagaimana Strategi Adaptasi yang Efektif dalam Situasi Kepadatan Sosial? Buletin Psikologi, II (2) 1–5.
* Helmi, A.F., 1995. Strategi Adaptasi yang Efektif dalam Situasi Kepadatan Sosial. Tesis.
* (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Program Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada.
* Himmam, F., & Faturohman. 1995. Analisis Profil Wawasan Masyarakat terhadap Lingkungan di daerah Industri. Laporan Penelitian. (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi GM. Bantuan dana bank Dunia XXI.
* Holahan C.J. 1982. Environmental Psychology. New York: Random House.
* Veitch, R. & Arkkelin, D., 1995. Environmental Psychology: An Interdisciplinary Perspective. New Jersey: Prentices Hall.

Sumber :
Avin Fadilla Helmi, Beberapa Teori Psikologi Lingkungan*, Buletin Psikologi. Tahun VII, No. 2 Desember

Psikologi lingkungan adalah hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan fisiknya, baik yang buatan maupun yang alamiah.

Para ahli memiliki pandangannya masing-masing terhadap psikologi lingkungan. Emery dan Tryst (dalam Soesilo, 1989) mengemukakan bahwa hubungan antar manusia dengan lingkungannya merupakan suatu jalinan transactional interdependency atau terjadi ketergantungan satu sama lain. Hal yang serupa juga diungkapkan oleh Guilford, yaitu manusia mempengaruhi lingkungannya. Untuk selanjutnya lingkungan akan mempengaruhi manusia, demikian pula sebaliknya.

Veitch dan Arkkelin (1995) mendefinisikan psikologi lingkungan sebagai ilmu perilaku multidisplin yang memiliki orientasi dasar dan terapan, yang memfokuskan interrelasi anatar perilaku dan pengalaman manusia sabagai individu dengan lingkungan fisik dan sosial.

Karakteristik Psikologi Lingkungan adalah sebagi berikut :
* Dalam membahas hubungan manusia dengan lingkungan harus dilihat sebagai satu kesatuan. Hal ini dimaksudkan bahwa disiplin ilmu psikologi lainnya sering kali memisahkan antara stimulus, manusia dan respon atau tingkah lakunya.
* Psikologi lingkungan mempelajari hubungan interelasi antara tingkahlaku manusia dengan lingkungan. Dalam hal ini terjadi hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya.
* Psikologi lingkungan merupakan kajian yang bersifat interdisiplin.Dalam hal ini menganalisis interelasi antara tingkah laku manusia dan lingkungan, tidak dapat dikaji dari satu disiplin ilmu.
* Psikologi lingkungan ada pula yang khas, yaitu metode pemetaan tingkah laku.

Teori-Teori yang Terdapat Pada Psikologi Lingkungan


1. Teori Beban Lingkungan (Environtment-Load Theory)

Premis dasar teori ini adalah manusia mempunyai kapasitas yang terbatas dalam pemprosesan informasi. Menurut Cohen , ada 4 dasar dari teori ini yaitu:

  • Manusia mempunyai kapasitas terbatas dalam pemprosesan informasi.
  • Ketika stimulus lingkungan melebihi kapasitas proses informasi, proses perhatian tidak akan dilakukan secara optimal.
  • Ketika stimulus sedang berlangsung, dibutuhkan respon adaptif. Artinya, ketepatan stimulus akan dievaluasi melalui proses pemantauan dan keputusannya dibuat atas dasar respon pemecahan masalah. Jika stimulus yang masuk merupakan stimulus yang dapat diprediksi dan dapat dikontrol, stimulus tersebut semakin mempunyai makna untuk diproses lebih lanjut. Tetapi jika stimulus yang masuk merupakan stimulus yang tidak dapat diprediksi atau tidak dapat dikontrol, perhatian kecil atau mungkin pengabaian perhatian akan dilakukan. Akibatnya, pemrosesan informasi tidak akan berlangsung.
  • Jumlah perhatian yang diberikan seseorang tidak konstan sepanjang waktu, tetapi sesuai dengan kebutuhan.

2. Teori Hambatan Prilaku (Behaviour Constraints Theory)

Konsep dasar teori ini adalah stimulasi yang berlebih atau tidak diinginkan, akan mendorong terjadinya hambatan dalam kapasitas dalam proses informasi. Hal ini mengakibatkan orang merasa kehilangan kontrol terhadap situasi yang sedang berlangsung. Perasaan kehilangan kontrol merupakan langkah awal dari teori kendala perilaku. Istilah hambatan berarti terdapat sesuatu dari lingkungan yang membatasi (atau menginterferensi dengan sesuatu), apa yang manjadi harapan.

Hambatan dapat muncul, baik secara aktual dari lingkungan atau pun interpretasi kognitif. Dalam situasi yang diliputi perasaan bahwa ada sesuatu yang menghambat perilaku, orang merasa tidak nyaman. Pengatasan yang dilakukan adalah orang mencoba menegaskan kembali kontrol yang dimiliki dengan cara melakukan antisipasi faktor-faktor lingkungan yang membatasi kebebasan perilaku. Usaha tersebut dikatakan sebagai reaktansi psikologis. Jika usaha tersebut gagal, muncul ketidakberdayaan yang dipelajari atau learned helplessness (Veitch & Arkkelin, 1995).

Teori kendala perilaku ini banyak dikembangkan Altman. Salah satunya adalah bagaimana seseorang memperoleh kontrol melalui privasi agar kebebasan perilaku dapat diperoleh. Dinamika psikologis dari privasi merupakan proses sosial antara privasi, teritorial, dan ruang personal. Privasi yang optimal terjadi ketika privasi yang dibutuhkan sama dengan privasi yang dirasakan. Privasi yang terlalu besar menyebabkan orang merasa terasing, sebaliknya terlalu banyak orang lain yang tidak diharapkan, perasaan kesesakan (crowding) akan muncul sehingga orang merasa privasinya terganggu.

Selanjutnya dijelaskan oleh Altman bahwa privasi pada dasarnya merupakan konsep yang terdiri atas proses 3 dimensi.

  • Pertama, privasi merupakan proses mengontrol batasan-batasan. Artinya, pelanggaran terhadap batasan-batasan ini merupakan pelanggaran terhadap privasi seseorang.
  • Privasi dilakukan dalam upaya memperoleh optimalisasi. Seseorang menyendiri bukan berarti ia ingin menghindarkan diri dari kehadiran orang lain atau keramaian, tetapi lebih merupakan suatu kebutuhan untuk mencapai tujuan tertentu.
  • Privasi merupakan proses multi mekanisme. Artinya, ada banyak cara yang dilakukan orang untuk memperoleh privasi, baik melalui ruang personal, teritorial, komunikasi verbal, dan komunikasi non-verbal.

3. Teori Level Adaptasi (Adaptation Level Theory)

Teori ini pada dasarnya sama dengan teori beban lingkungan. Menurut teori ini, stimulasi level yang rendah maupun level tinggi mempunyai akibat negatif bagi perilaku. Level stimulasi yang optimal adalah yang mampu mencapai perilaku yang optimal pula. Dengan demikian dalam teori ini dikenal perbedaan individu dalam level adaptasi.

Adaptasi dilakukan ketika terjadi suatu disonansi dalam suatu sistem, artinya ketidakseimbangan antara interaksi manusia dengan lingkungan -tuntutan lingkungan yang berlebih atau kebutuhan yang tidak sesuai dengan situasi lingkungan. Dalam hal ini, adaptasi merupakan suatu proses modifikasi kehadiran stimulus yang berkelanjutan. Semakin sering stimulus hadir maka akan terjadi pembiasaan secara fisik yang disebut sebagai habituasi dan terjadi pembiasaan secara psikis yang disebut adaptasi.

Salah satu teori beban lingkungan adalah teori adaptasi stimulasi yang optimal oleh Wohwill menyatakan bahwa ada 3 dimensi hubungan perilaku lingkungan yaitu:

  • Intensitas. Terlalu banyak orang atau terlalu sedikit orang disekeliling kita, akan membuat gangguan psikologis. Terlalu banyak orang menyebabkan perasaan sesak dan terlalu sedikit menyebabkan orang merasa terasing.
  • Keanekaragaman. Kenekaragaman benda atau manusia berakibat terhadap pemrosesan informasi. Terlalu bereneka membuat perasaan overload dan kekurang anekaragaman membuat perasaan monoton.
  • Keterpolaan. Keterpolaan berkaitan dengan kemampuan memprediksi. Jika suatu setting dengan pola yang tidak jelas dan rumit menyebabkan beban dalam pemrosesan informasi sehingga stimulus sulit diprediksi, sedangkan pola-pola yang sangat jelas menyebabkan stimulus mudah diprediksi.

4. Teori Stres Lingkungan (Environtment Stress Theory)

Teori stres lingkungan pada dasarnya merupakan aplikasi teori stres dalam lingkungan. Berdasarkan model input-process-output, maka ada 3 pendekatan dalam stres yaitu stres sebagai stressor, stres sebagai respon dan stres sebagai proses. Oleh karenanya, stres terdiri atas 3 komponen yaitu stressor, proses, dan respon. Stressor merupakan sumber atau stimulus yang mengancam kesejahteraan seseorang, misalnya suara bising, panas, atau kepadatan tinggi.

Respon stres adalah reaksi yang melibatkan komponen emosional, fikiran, fisiologis, dan perilaku. Proses merupakan proses transaksi antara stressor dengan kapasitas diri. Oleh karenanya, istilah stres tidak hanya merujuk pada sumber stres, respon terhadap sumber stres saja, tetapi keterkaitan antara ketiganya. Artinya, ada transaksi antara sumber stres dengan kapasitas diri untuk menentukan reaksi stres.

Jika sumber stres lebih besar daripada kapasitas diri maka stres negatif akan muncul, sebaliknya jika sumber tekanan sama dengan atau kurang sedikit dari kapasitas diri maka stres positif akan muncul. Dalam kaitannya dengan stres lingkungan, ada transaksi antara karakteristik lingkungan dengan karakteristik individu yang menentukan apakah situasi yang menekan tersebut menimbulkan stres atau tidak.Udara panas bagi sebagian orang menurunkan kinerja, tetapi bagi orang lain yang terbiasa tinggal di daerah gurun, udara panas tidak menghambat kinerja.

5. Teori Ekologi (Ecological Theory)

Menurut Hawley adalah perilaku manusia merupakan bagian dari kompleksitas ekosistem, yang mempunyai beberapa pemahaman dasar sebagai berikut:

  • Perilaku manusia terkait dengan konteks lingkungan.
  • Interaksi timbal balik yang menguntungkan antara manusia terhadap lingkungan.
  • Interaksi manusia terhadap lingkungan bersifat dinamis.
  • Interaksi manusia terhadap lingkungan terjadi dalam berbagai level dan tergantung pada fungsi.

Salah satu teori yang didasarkan atas pandangan ekologis adalah teori perilaku yang dipelopori oleh Robert Barker dan Alan Wicker. Makna utama teori ini adalah organism environment fit model yaitu kesesuaian antara rancangan lingkungan dengan perilaku yang difasilitasi oleh lingkungan tersebut. Oleh karenanya, kemungkinan adanya pola-pola perilaku yang telah tersusun atau disebut dengan program yang dikaitkan dengan tempat.

Teori ini kurang memperhatikan proses psikologis dari perbedaan individual dan lebih menekankan uniformitas atau perilaku kolektif. Hubungan antara manusia-lingkungan lebih dijelaskan dari sisi sifat atau karakteriskik sosial seperti kebiasaan, aturan, aktivitas, dan karakterisktik fisik. Dengan mengetahui setting tempat maka dapat diprediksi perilaku aktivitas yang terjadi.

Beberapa Contoh Psikologi Lingkungan Terapan

  1. Perancangan (desain) lingkungan (arsitektur, prasarana, tata kota, [etabumi, dan lain-lain disesuaikan dengan psikologi orang-orang yan akan menghuni, bekerja atau memanfatkan ligkungan tersebut
  2. Pengendalian lalu lintas dikawasan jalan-jalan protocol di Jakarta melalui pengendalian perilaku pengguna jalan, yaitu hanya kendaraan berpenumpang tiga orang atau lebih yang dapat melintasi jalan-jalan protokol itu pada jam-jam sibuk
  3. Aspek psikologik dari bencana: bagaimana mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi bencana, baik lokal maupun yang berskala besar.
  4. Pemanfaatan psikologi lingkungan untuk peningkatan kesehatan masyarakat, seperti menghentikan kebiasaan merokok, menjegah AIDS, mengurangi kecemasan dan meningkatkan proonosis yang positif setelah pembedahan, dan memberikan alternative psikologi lingkungan terhadapproram-program kesehatan yang selama ini hanya mengandalkan pendekatan medis.
  5. Menciptakan keseimbangan yang optimal antara tujuan sekuriti dan tujuan pembinaan narapidana dengan hukuman berat. Periklaku petugas dapat mengurangi dmpak negtif dari lingkungan penjara dengan sekuriti tingkat tinggi terhadap perkembangan perilaku narapidana.

[details="Referensi"]
*

* http://psikologid.com/psikologi-lingkungan/
[/details]

Psikologi Lingkungan merupakan ilmu perilaku yang berkaitan dengan lingkungan fisik merupakan salah satu cabang Psikologi yang tergolong masih muda. Teori-teori Psikologi Lingkungan dipengaruhi, baik oleh tradisi teori besar yang berkembang dalam disiplin Psikologi maupun di luar Psikologi.

Grand theories yang sering diaplikasikan dalam Psikologi Lingkungan seperti misalnya teori kognitif, behavioristik, dan teori medan. Dikatakan oleh Veitch & Arkkelin (1995) bahwa belum ada grand theories psikologi tersendiri dalam Psikologi Lingkungan. Yang ada sekarang ini baru dalam tataran teori mini. Hal ini didasarkan pandangan, bahwa beberapa teori memang dibangun atas dasar data empiris tetapi sebagian yang lain kurang didukung oleh data empiris. Kedua, metode penelitian yang digunakan belum konsisten. Oleh karenanya dalam kesempatan ini, disajikan paparan secara garis besar aplikasi 3 tradisi besar orientasi teori dalam Psikologi dan selanjutnya akan dipaparkan lebih mendalam mengenai teori mini dalam Psikologi Lingkungan.

Teori yang berorientasi lingkungan dalam Psikologi lebih banyak dikaji oleh
behavioristik. Perilaku terbentuk karena pengaruh umpan balik (pengukuh positif dan negatif) dan pengaruh modelling. Dilukiskan bahwa manusia sebagai black-box yaitu kotak hitam yang siap dibentuk menjadi apa saja. Dalam Psikologi Lingkungan, teori yang berorientasi lingkungan, salah satu aplikasinya adalah geographical determinant yaitu teori yang memandang perilaku manusia lebih ditentukan faktor lingkungan dimana manusia hidup yaitu apakah di pesisir, di pegunungan, ataukah di daratan. Adanya perbedaan lokasi di mana tinggal dan berkembang akan menghasilkan perilaku yang berbeda.

Sumber : https://journal.ugm.ac.id/buletinpsikologi/article/viewFile/7404/5758

Psikologi Lingkungan merupakan ilmu perilaku yang berkaitan dengan lingkungan fisik, merupakan salah satu cabang Psikologi yang tergolong masih muda. Teori-teori Psikologi Lingkungan dipengaruhi, baik oleh tradisi teori besar yang berkembang dalam disiplin Psikologi maupun di luar Psikologi.

Grand theories yang sering diaplikasikan dalam Psikologi Lingkungan seperti misalnya teori kognitif, behavioristik, dan teori medan. Dikatakan oleh Veitch & Arkkelin (1995) bahwa belum ada grand theories psikologi tersendiri dalam Psikologi Lingkungan. Yang ada sekarang ini baru dalam tataran teori mini. Hal ini didasarkan pandangan, bahwa beberapa teori memang dibangun atas dasar data empiris tetapi sebagian yang lain kurang didukung oleh data empiris. Kedua, metode penelitian yang digunakan belum konsisten. Oleh karenanya dalam kesempatan ini, disajikan paparan secara garis besar aplikasi 3 tradisi besar orientasi teori dalam Psikologi dan selanjutnya akan dipaparkan lebih mendalam mengenai teori mini dalam Psikologi Lingkungan.

Teori-teori yang berorientasi deterministik lebih banyak digunakan untuk menjelaskan fenomena kognisi lingkungan. Dalam hal ini, teori yang digunakan adalah teori Gestalt. Menurut teori Gestalt, proses persepsi dan kognisi manusia lebih penting daripada mempelajari perilaku tampak nyata (overt behaviour). Bagi Gestalt, perilaku manusia lebih disebabkan oleh proses-proses persepsi. Objek, perseptor, dan setting merupakan satu kesatuan dalam proses persepsi. Dalam kaitannya dengan Psikologi Lingkungan, maka persepsi lingkungan merupakan salah satu aplikasi dari teori Gestalt.

Teori yang berorientasi lingkungan dalam Psikologi lebih banyak dikaji oleh behavioristik. Perilaku terbentuk karena pengaruh umpan balik (pengukuh positif dan negatif) dan pengaruh modelling. Dilukiskan bahwa manusia sebagai black-box yaitu kotak hitam yang siap dibentuk menjadi apa saja. Dalam Psikologi Lingkungan, teori yang berorientasi lingkungan, salah satu aplikasinya adalah geographical determinant yaitu teori yang memandang perilaku manusia lebih ditentukan faktor lingkungan dimana manusia hidup yaitu apakah di pesisir, di pegunungan, ataukah di daratan. Adanya perbedaan lokasi di mana tinggal dan berkembang akan menghasilkan perilaku yang berbeda.

Kedua orientasi teori tersebut saling bertentangan dalam menjelaskan perilaku manusia. Orientasi ke tiga merupakan upaya sintesa terhadap orientasi teori pertama dan ke dua. Premis dasar dari teori ini menyatakan bahwa perilaku manusia selain disebabkan faktor lingkungan, juga disebabkan faktor internal. Ada proses interaksi antara kapasitas diri dengan stimulasi lingkungan. Artinya, manusia dapat mempengaruhi lingkungan dan lingkungan dapat dipengaruhi oleh manusia. Salah satu teori besar yang menekankan interaksi manusia lingkungan dalam Psikologi adalah teori Medan dari Kurt Lewin dengan formula B = f (E,O).

[details="Referensi"]
Helmi, Avin F. 1999. Beberapa Teori Psikologi Lingkungan. Buletin Psikologi, Tahun VII, No. 2. https://journal.ugm.ac.id/buletinpsikologi/article/viewFile/7404/5758
[/details]

Psikologi lingkungan merupakan bidang penyelidikan yang berakar pada banyak disiplin ilmu. Berikut ini beberapa pengertian lainnya dari psikologi lingkungan, yaitu :
1. Ilmu perilaku yang mengkaji hubungan antara lingkungan fisik dan perilaku manusia

  1. Ilmu yang bersifat multidisiplin

  2. Secara basic & applied

  3. Dalam hubungan lingkungan fisik dan sosial dan perilaku manusia secara individual dan pengalaman.

Psikologi lingkungan adalah ilmu psikologi yang mempelajari perilaku manusia berdasarkan pengaruh dari lingkungan tempat tinggalnya, baik lingkungan sosial, lingkungan, lingkungan binaan ataupun lingkungan alam.

Menurut Heimstra dan Mc. Farling, psikologi lingkungan adalah disiplin yang memperhatikan dan mempelajari hubungan antara perilaku manusia dengan lingkungan fisik.

Sedangkan menurut Gifford, psikologi Lingkungan sebagai studi dari transaksi di antara individu dengan setting fisiknya. Sedangkan transaksi sendiri berarti individu mengubah lingkungan dan sebaliknya perilaku dan pengalaman individu diubah oleh lingkungan. Manusia mempengaruhi lingkungannya, Untuk selanjutnya lingkungan akan mempengaruhi manusia, demikian pula sebaliknya.

Menurut Emery & Tryst, psikologi lingkungan adalah hubungan antara manusia & lingkungan merupakan suatu jalinan transactional interdependency .

Menurut Veitch dan Arkkelin, Psikologi Lingkungan merupakan suatu area dari pencarian yang bercabang dari sejumlah disiplin seperti biologi, geologi, psikologi, hukum, geografi, ekonomi, sosiologi, kimia, fisika, sejarah, filsafat serta sub disiplin dan rekayasanya.

Ruang Lingkup Psikologi Lingkungan

Ruang lingkup Psikologi lingkungan tidak hanya memberi perhatian terhadap manusia, tempat serta perilaku dan pengalaman manusia dalam hubungannya dengan setting fisik namun juga membahas rancangan (desain), ataupun hal-hal yang lebih spesifik seperti ruang-ruang, bangunan-bangunan, ketetanggaan, rumah sakit dan ruang-ruangnya, perumahan, serta settingsetting pada lingkup yang bervariasi lainnya.

Jenis-Jenis Lingkungan

  1. Lingkungan alamiah, seperti: lautan, hutan dan sebagainya

  2. Lingkungan buatan/binaan, seperti: jalan raya, perumahan, taman, dan sebagainya

  3. Lingkungan sosial

  4. Lingkungan yang dimodifikasi

Psikologi lingkungan adalah cabang psikologi yang mempelajari interaksi antara aspek fisik lingkungan dan fungsi pikiran. Hal ini sering berkaitan dengan masalah seperti pemicu stres lingkungan; desain rumah, kantor, dan gedung; ergonomi; arsitektur dan tata kota; dan hubungannya dengan aspek alam lingkungan.

[details="Sumber"]
* The Cambridge Dictionary of Psychology (2009)
[/details]