Berikut adalah definisi empati menurut beberapa ahli :
-
Empati berarti keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain (Budiono, 2005).
-
Empati adalah kemampuan untuk menempatkan diri sendiri dalam keadaan psikologis orang lain dan untuk melihat suatu situasi dari sudut pandang orang lain ( Hurlock, 1988).
-
Empati adalah suatu respons afektif dan kognitif yang kompleks terhadap penderitaan emosional orang lain. Baron, Bryne, & Branscome (2007)
-
Empati adalah “menyelaraskan diri” (peka) terhadap apa, bagaimana dan latar belakang perasaan dan pikiran orang lain sebagaimana orang tersebut merasakan dan memikirkannya. Stein
-
Empati berasal dari semacam peniruan secara fisik atas beban orang lain, yang kemudian menimbulkan perasaan yang serupa dalam diri seseorang. Titchener
-
Empati adalah kecenderungan untuk memahami kondisi atau keadaan pikiran orang lain. Seseorang yang berempati digambarkan sebagai seorang yang toleran, mampu mengendalikan diri, ramah, mempunyai pengaruh serta bersifat humanistik. Johnson
-
Empati sebagai suatu keadaan emosional yang dimiliki oleh seseorang yang sesuai dengan apa yang dirasakan oleh orang lain. Batson dan Coke
-
Empati berarti perasaan simpati dan perhatian kepada orang lain, khususnya pada orang yang menderita. Kesedihan personal menyebabkan kita cemas, prihatin ataupun kasihan, sedangkan empati menyebabkan kita merasa simpati dan sayang. Taylor dalam bukunya Psikologi Sosial (2009)
-
Empati diartikan sebagai perasaan simpati dan perhatian terhadap orang lain, khususnya untuk berbagi pengalaman atau secara tidak langsung merasakan penderitaan orang lain (Sears, 1991).
-
Empati adalah perilaku untuk sadar dan bereaksi secara mental dan emosional pada orang lain. Davis
-
Empati sebagai kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain sehingga orang lain seakan-akan menjadi bagian dalam diri. Leiden (1997)
-
Empati merupakan kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain. Baron dan Byrne (2005)
Aspek Empati
Aspek-aspek dari empati, sebagaimana pendapat Batson dan Coke yaitu :
1) Kehangatan
Kehangatan merupakan suatu perasaan yang dimiliki seseorang untuk bersikap hangat terhadap orang lain.
2) Kelembutan
Kelembutan merupakan suatu perasaan yang dimiliki seseorang untuk bersikap maupun bertutur kata lemah lembut terhadap orang lain.
3) Peduli
Peduli merupakan suatu sikap yang dimiliki seseorang untuk memberikan perhatian terhadap sesama maupun lingkungan sekitarnya.
4) Kasihan
Kasihan merupakan suatu perasaan yang dimiliki seseorang untuk bersikap iba atau belas asih terhadap orang lain.
Lockwood (2014) dalam penelitiannya menyebutkan lima dimensi dari empati. Perspective taking dan online simulation termasuk empati kognitif sedangkan emotion contagion, peripheral responsivity dan proximal responsivity termasuk empati afektif.
1) Perspective taking
Perspective taking atau pengambilan perspektif yaitu kemampuan individu memprediksi apa yang dirasaan oleh orang lain.
2) Online simulation
Memberikan simulasi atas apa yang dialami orang lain. Simulasi yang dimaksud yaitu menempatkan diri sendiri pada posisi orang lain dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang tersebut di posisi itu.
3) Emotion contagion
Emotion contagion yaitu perasaan bahwa emosi atau mood yang muncul pada diri sendiri sangat dipengaruhi oleh orang lain.
4) Peripheral responsivity
Kemampuan untuk merespon dan merasakan hal-hal yang ada di sekelilingya. Misalnya ikut menangis ketika menonton film dengan ending yang menyedihkan.
5) Proximal responsivity
Proximal responsivity yaitu kemampuan untuk memberikan respon atau merasakan emosi yang dirasakan orang terdekatnya.
Davis, menjabarkan komponen kognitif dari empati terdiri dari aspek perspective taking dan fantasy, sedangkan komponen afektifnya terdiri dari aspek emphatic concern dan personal distress.
1) Pengambilan perspektif (perspective taking) merupakan perilaku individu untuk mengambil alih secara spontan sudut pandang orang lain. Aspek ini akan mengukur sejauh mana individu memandang kejadian sehari-hari dari perspektif orang lain
2) Fantasi merupakan perilaku untuk mengubah pola diri secara imajinatif ke dalam pikiran, perasaan, dan tindakan dari karakter-karakter khayalan pada buku, film dan permainan. Aspek ini melihat perilaku individu menempatkan diri dan hanyut dalam perasaan dan tindakan orang lain.
3) Perhatian empatik (emphatic concern). Sears (1985) mengungkapkan empathic concern merupakan perasaan simpati dan perhatian terhadap orang lain, khususnya untuk berbagai pengalaman atau secara tidak langsung merasakan penderitaan orang lain.
4) Distres pribadi (Personal distress) yang didefinisikan oleh Sears, (1991) sebagai pengendalian reaksi pribadi terhadap penderitaan orang lain, yang meliputi perasaan terkejut, takut, cemas, prihatin, dan tidak berdaya (lebih terfokus pada diri sendiri).
Faktor-faktor Empati
Milller, Kozu & Davis sebagaimana dikutip oleh Baron (2009) menyebutkan adanya 3 faktor pendorong empati, yaitu:
1) Individu lebih mungkin berempati pada orang yang mirip dengan dirinya.
2) Individu cenderung berempati pada orang yang penderitaannya berasal dari faktor yang tidak bisa dikontrol atau tak terduga, seperti sakit,atau kecelakaan ketimbang karena faktor malas.
3) Empati dapat ditingkatkan dengan fokus pada perasaan seseorang yang membutuhkan bukan dari fakta objektif.
Faktor yang mempengaruhi empati disampaikan oleh Hoffman sebagaimana yang dikutip Bilgis (2007) adalah :
Sosialisasi
Sosialisasi dapat mempengaruhi empati melalui 5 cara:
1) Melalui sosialisasi seseorang mendapat peluang untuk mengalami sejumlah emosi orang lain karena ia telah mengalami emosi tersebut.
2) Sosialisasi dapat menempatkan seseorang pada pengalaman-pengalaman yang mengarahkan pada perhitungan untuk melihat keadaan internal orang lain sehingga ia menjadai lebih memperhatikan orang lain dan menjadi lebih empati.
3) Sosialisasi dapat membantu seseorang untuk lebih berpikir mengenai orang lain dan meningkatkan kemungkinan-kemungkinan untuk memberikan perhatian pada orang lain sehingga hal itu akan mempengaruhi kemampuan empati dirinya.
4) Membuat seseorang lebih terbuka untuk kebutuhan orang lain daripada kebutuha sendiri sehingga ia lebih empatik.
5) Melalui model atau peragaan yang diberikan pada seseorang, tidak hanya dapat menimbulkan respon prososial tetapi juga dapat mengembangkan perasaan simpati pada dirinya.
Perlakuan
Orang tua yang penuh perhatian, memberikan semangat, menunjukkan kepekaan terhadap perasaan, pikiran dan tingkah laku anaknya, serta memperlihatkan empati pada mereka cenderung mempunyai anak-anak yang kemungkinan besar akan memberikan reaksi pada kesedihan orang lain dengan cara-cara empati pula.
Perkembangan kognitif
Empati dapat berkembang seiring dengan perkembangan kognitif seseorang semakin meningkatnya kemampuan seseorang ke tahap yang lebih tinggi, maka kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain semakin meningkat. Hal ini akan mendorong individu untuk lebih banyak membantu orang lain dengan cara-cara yang lebih tepat.
Identifikasi dan modelling
Empati individu dipengaruhi pula dengan melihat dari cara seseorang beraksi terhadap kesusahan yang menimpa orang lain.
Mood dan feeling
Apabila seseorang dalam situasi perasaan yang baik maka dalam berinteraksi dan menghadapi orang lain akan lebih baik dan bisa menerima keadaan orang lain.
Situasi dan tempat
Pada situasi tertentu sesorang dapat berempati lebih baik dibandingkan dengan situasi yang lain.
Komunikasi dan bahasa
Empati sangat dipengaruhi oleh bahasa karena pengungkapkan empati dapat dilakukan dengan bahasa lisan disamping bahasa nonlisan.