
Konsep Adversity quotient (AQ) yang dikemukan oleh Stoltz ini member wacana baru mengenai kualitas pribadi yang diperlukan seseorang untuk meraih kesuksesan di segala aspek kehidupannya. Konsep ini merupakan hasil penelitian selama 19 tahun dan penerapannya selama 10 tahun serta melibatkan laporan dari 7500 orang yang pernah mengikuti seminarnya.
Melalui konsep AQ ini, Stoltz memberikan teknik yang menjamin individu menjadi seseorang yang lebih psroduktif, kreatif dan kompetitif sekaligus mampu mengurangi lingkungan yang terus berubah dan bergejolak, serta dapat mengatasi ancaman-ancaman dan kegagalan-kegagalan yang dialami.
Pengertian Adversity Quotient
Menurut Stolzt (2000), defenisi AQ dapat dilihat dalam tiga bentuk yaitu :
- Adversity quotient (AQ) adalah suatu konsep kerangka kerja guna memahami dan meningkatkan semua segi dari kesuksesan.
- Adversity quotient (AQ) adalah suatu pengukuran tentang bagaimana seseorang berespon terhadap kesulitan
- Adversity quotient (AQ) merupakan alat yang didasarkan pada pengetahuan sains untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam berespon terhadap kesulitan.
Adversity quotient (AQ) adalah suatu konsep mengenai ketahanan individu dalam menghadapi berbagai kesulitan di berbagai aspek kehidupannya.
Melalui Adversity quotient (AQ) dapat diketahui seberapa jauh individu tersebut mampu bertahan dalam menghadapi kesulitan yang dialami, sekaligus kemampuannya untuk mengatasi kesulitan tersebut. AQ dapat meramalkan siapa yang akan tampil sebagai pemenang dan siapa yang akan putus asa dalam ketidakberdayaan sebagai pecundang.
Selain itu, Adversity quotient (AQ) dapat pula meramalkan siapa yang akan menyerah dan siapa yang akan bertahan saat menghadapi suatu kesulitan. Dalam konsep Adversity quotient (AQ), hidup diumpamakan sebagai suatu pendakian. Kesuksesan adalah sejauh mana individu terus maju dan menanjak, terus berkembang sepanjang hidupnya meskipun berbagai kesulitan dan hambatan menjadi penghalang (Stolzt,2000).
Peran Adversity quotient (AQ) sangat penting dalam mencapai tujuan hidup atau memperhatankan visi seseorang, Adversity quotient (AQ) digunakan untuk membantu individu memperkuat kemapuan dan ketekunannya dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari, sambil tetap berkembang pada prinsip dan impian yang menjadi tujuan.
Teori Dasar Adversity Quotient
Adversity quotient (AQ) sebagai faktor utama yang menentukan kemampuan individu untuk tetap bertahan menghadapi berbagai kesulitan, dibentuk berdasarkan tiga bidang ilmu yang berbeda (The Three Building Block of AQ).
Ketiga bidang ilmu tersebut terdiri dari beberapa teori yang menyusunnya, yaitu Psikologi Kognitif, Psikoimunologi dan Neuropsikologi. Penjelasan ketiga teori tersbut dijelaskan sebagai berikut :
Balok Pembangunan Pertama : Psikologi kognitif
Pembangunan pertama ini berdasarkan pada beberapa penelitian yang berkaitan dengan kebutuhan manusia akan kendali (kontrol) atau penguasaan terhadap hidupnya. Psikologi Kognitif mencakup beberapa konsep penting untuk memahami motivasi, efektifitas dan kinerja manusia. Beberapa teori Psikologi Kognitif yang berhubungan dengan Adversity quotient (AQ) adalah sebagai berikut :
- Learned Helplessness
Learned Helplessness menjelaskan tentang hilangnya kontrol yang dipersepsikan terhadap kejadian yang menyulitkan. Teori ini menggambarkan tentang kekuatan kepercayaan bahwa apapun yang dilakukkan oleh seseorang tidak akan memiliki pengaruh terhadap hidupnya atau dengan kata lain, individu tersebut merasa ia tidak memiliki kendali atas kegagalan atau hambatan dalam kehidupannya.
Menurut American Psychological Associattion (APA), ketidakberdayaan yang dipelajari ini merupakan alasan banyaknya individu yang menyerah saat menghadapi tantangan hidup. Learned Helplessness akan melemahkan kinerja, produktifitas, motivasi, energi, balajar, peningkatan, pengambilan resiko, kreativitas, kesalahan, vitalitas, ketangguhan dan ketekunan (Stoltz,2000).
Sama halnya dengan rasa ketidakberdayaan yang dapat diperoleh dengan pembelajaran, Adversity quotient (AQ) pun adalah suatu aspek yang dapat dipelajari. Walaupun faktor hereditas dapat mempengaruhi intelegensi seseorang, termasuk _adversity intelligence_, namun faktor tersebut bukanlah faktor penentu yang mutlak.
Melalui pembelajaran dan pelatihan, ketangguhan seseorang dalam menghadapi tantangan dapat ditingkatkan.
- Gaya penjelasan, Atribusi dan Optimisme
Gaya penjelasan setiap individu terhadap kemalangan atau kesulitan yang dihadapinya berbeda-beda, tergantung pada bagaimana ia merespon situasi sulit tersebut. Berkaitan dengan teori atribusi, Weiner ( Bintari, dalam Lasmono,2001) memaparkan bahwa atribusi memiliki dimensi stabilitas, kuasalitas dan pengendali.
Mengenai optimisme dan pesimisme, penelitian yang dilakukkan oleh Dweck (dalam Stoltz, 2000) menunjukkan bahwa indvidu yang pesimis akan merespon kegagalannya sebagai sesuatu yang permanen dan bersifat personal. Sedangkan individu yang optimis akan merespon kegagalan yang dideritanya sebagai sesuatu yang temporal dan bersifat eksternal.
Optimisme dapat terbentuk melalui pengajaran yang didapat semasa kanak-kanak. Wanita pada umumnya akan cendrung merespon kesulitan sebagai sesuatu yang sulit dirubah karena kurangnya kemampuan yang mereka miliki, sedangkan pria cenderung meyakini bahwa mereka meyakini bahwa mereka akan dapat merubah segala sesuatu yang terjadi dalam hidup mereka dikarenakan semasa kanak-kanak lingkungan mengajarkan bahwa mereka adalah kaum pria yang memiliki kemampuan lebih dari wanita.
- Keteguhan dan Kemampuan Bertahan dalam Menghadapi Kesulitan
Kobasa (Sarafino, 1994 dalam Lasmono, 2001) menjelaskan bahwa dalam keadaan di bawah tekanan, individu yang lebih teguh akan lebih sehat daripada individu yang kurang teguh. Hal ini disebabkan oleh individu yang teguh bisa mengatasi tekanan lebih baik dan kurang memiliki kecenderungan untuk menjadi cemas dan terusik dengan tekanan itu. Oulette (dalam Stoltz, 2000) menemukan bahwa individu yang teguh relative lebih sedikit merasakan akibat yang negative dari kemalangannya ketimbang individu yang tidak teguh.
Keteguhannya (hardiness) merupakan predictor dari kesehatan fisik dan mental serta kualitas kehidupan secara menyeluruh. Individu yang terbiasa mengalami kesulitan dalam hidupnya, memiliki kemampuan finansial yang kurang serta sering mengalami pengalaman kegagalan dan kemampuan untuk kembali bangkit akan dapat merespon kesulitan tersebut lebih baik. Mereka dapat menghayati kesulitan yang mereka alami sebagai hal biasa yang akan segera berlalu sehingga kesulitan-kesulitan ini tidak mempengaruhi hal lain dalam hidup mereka
- Ketabahan atau Reseliensi (Resilience)
Resiliensi, stress resistence atau invulnerability adalah proses-proses yang terjadi saat individu menghadapi resiko sedemikinan rupa hingga ia memperoleh hasil yang sama baiknya atau bahkan lebih baik lagi dari saat tidak ada resiko.
Dalam defenisi ini, individu yang resilian adalah individu yang tidak begitu saja menghindari hasil yang paling negative berkaitan dengan resiko, akan tetapi justru menunjukkan adaptasi yang cukup atau bahkan lebih dari cukup dalam menghadapi situasi sulit atau kemalangan.
Resiko itu sendiri adalah hal-hal yang menyebabkan individu memperoleh hasil yang negative atau tidak diinginkan (Cowan,Hetherington & Blechman, 1996 dalam Lasmono, 2001).
- Self-efficacy dan Locus of Control
Bandura (1986) mengemukakan defenisi Self-efficacy sebagai penilaian individu mengenai kemampuannya untuk mengelola dan melakukan suatu performa yang spesifik. Kualitas ini tidak berkaitan dengan keterampilan melainkan berkaitan dengan penilaian mengenai apa yang dapat ia lakukan dengan keterampilan apa pun yang dimilikinya.
Self-efficacy memiliki berbagai perilaku, usaha yang dilakukan, ketekunan, pola-pola perilaku dan reaksi-reaksi emosional. Locus of Control internal akan membuat individu secara aktif akan mengejar atau menolak imbalan (rewards) dan hukuman (punishments) karena dia merasa dia sendirilah yang mengendalikan imbalan dan hukuman, sebaliknya, Locus of Control eksternal cenderung akan membuat individu bersikap pasif menerima hukuman maupun imbalan.
Dari kombinasi teori-teori tersebut, Stoltz (2000) mengemukakan Master Theory of Control, yaitu:
- Kesuksesan sangat dipengaruhi oleh kemampuan untuk mengendalikan atau menguasai kehidupan.
- Kesuksesan sangat dipengaruhi dan dapat diramalkan melalui bagaimana individu merespon terhadap kesulitan dan gayanya dalam menjelaskan situasi sulit tersebut.
- Dalam merespon kesulitan atau kemalangan, individu-individu menampilkan responnya dalam pola-pola yang khusus.
- Apabila tidak mendapat hambatan atau koreksi, maka pola-pola tersebut akan konsisten seumur hidup.
-
Pola-pola ini tidak sepenuhnya disadari karena bekerja di bawah sadar.
-
Dengan demikian, apabila individu dapat mengukur dan memperkuat caranya dalam berespon terhadap kesulitan maka dia akan dapat menikmati produktivitas, kinerja, vitalitas, ketabahan, proses belajar, peningkatan, motivasi dan kesuksesan yang lebih baik.
Balok Pembangunan kedua : Psychoneuroimmunologi
Berbagai penelitian di bidang psikoneuroimunologi telah membuktikan bahwa terdapat hubungan langsung antara apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh individu dengan proses yang terjadi dalam tubuhnya. Kesimpulan yang di peroleh dari penelitian-penelitian tersbut adalah:
- Terdapat hubungan langsung antara bagaimana individu berespon terhadap kesulitan dengan kondisi mental dan kesehatan fisik.
-
Kemampuan mengendalikan (kontrol) sangat penting bagi kesehatan dan umur panjang.
-
Bagaimana individu beresponterhadap kesulitan (AQ) akan mempengaruhi fungsi-fungsi kekebalan, pemulihan dari pembedahan dan kerentanan terhadap penyakit-penyakit yang berbahaya.
Balok Pembangunan Ketiga : Neurophisiology
Menurut Nuwer (dalam Stoltz, 2000) proses pembelajaran pada manusia dapat terjadi dalam otak. Kesimpulan dari berbagai penelitian di bidang neurofisiology adalah sebagai berikut:
- Otak secara ideal dipergunakan untuk membentuk kebiasaan
- Kebiasaan-kebiasaan menjadi semakin kuat di bagian bawah sadar
- Kebiasaan tak sadar (unconscious habits), seperti halnya Adversity quotient (AQ) dapat dengan cepat dihentikan, atau diubah untuk membentuk suatu kebiasaan baru yang semakin lama semakin kuat seiring dengan berjalannya waktu.