Berbeda dengan ’mendengar’, ’mendengarkan’ adalah hasil konsentrasi, yang menuntut kerja keras secara fisik maupun psikologis.
Secara operasional, ”mendengarkan dapat diberi definisi sebagai proses lima tahapan yang meliputi sensasi (sensing), penafsiran (interpreting), evaluasi (evaluating), ingatan (remembering), dan tanggapan (responding) terhadap pesan-pesan yang diucapkan. (Steil et al, 1983).
Penjelasan kelima tahapan dalam proses mendengarkan di bawah ini mengacu pada buku Lyman K. Steil et al. (1983) yang berjudul Effective Listening: Key to Your Success.
1) Sensasi: Secara fisik mendengar dan memperhatikan suara pesan. Penerimaan secara fisik dapat terganggu oleh berbagai faktor, seperti kebisingan, gangguan alat pendengaran, atau tiada perhatian. Sensasi mengabaikan gangguan dan fokus pada ’pencatatan’ pesan-pesan suara di lingkungan;
2) Penafsiran: Mengurai pesan dan meresapi apa yang didengar. Saat mendengarkan kita memberikan nilai pada ucapan kata-kata berdasar nilai, kepercyaan, ide, pengharapan, dan pengalaman. Kerangka acuan pembicara mungkin jauh berbeda dengan kerangka acuan kita. Maka kita bertanggung jawab untuk menentukan apa yang dimaksud oleh pembicara. Dengan memperhatikan tanda-tanda nirkata, kita dapat meningkatkan ketepatan penafsiran pesan-pesan;
3) Evaluasi: Membentuk opini tentang pesan. Memilih dan memilah berbagai ucapan, memisahkan fakta dari opini, mengevaluasi kualitas bukti-bukti, terutama bila pokok pesan merupakan masalah yang rumit atau bermuatan emosional. Kita cenderung mengabaikan ide-ide dari orang-orang yang tidak terkenal dan bergegas memeluk ideide dari tokoh-tokoh kharismatis;
4) Mengingat: Menyimpan pesan dalam memori agar dapat digunakan untuk kesempatan lain. Menyimpan garis besar pemikiran yang disampaikan pembicara. Seorang pembicara yang baik membantu pendengar dengan menekankan ide pokok, mengkaitkan dengan ide-ide lain dalam perkembangan, dan merangkum kembali ide-ide pokok dan hikmah dari hubungan ide-ide tersebut;
5) Menanggapi: Mengakui penerimaan pesan dengan menyampaikan tanggapan kepada pembicara. Dalam situasi interpersonal atau kelompok, tanggapan itu mungkin berupa ucapan verbal. Namun bila di tengah orang banyak atau dalam situasi publik, tanggapan awal itu berbentuk tepuk tangan, tertawa, atau bahkan terdiam. Baru kemudian kita memutuskan untuk bertindak sesuatu atas pesan-pesan yang sudah kita dengarkan.
Penjelasan singkat di atas menunjukkan bahwa proses mendengarkan membutuhkan tekad, upaya keras yang kosisten, dan pengorbanan waktu, sebab pada setiap tahapan kegiatan dapat terhenti oleh berbagai kendala.
Carl Rogers, dalam artikel klasik ”Barriers and Gateways to Communication,” menyatakan bahwa hambatan terbesar untuk mendengarkan orang lain adalah
”kecenderungan kita untuk menghakimi, menilai, menyetujui, atau tidak menyetujui pernyataan orang lain. ... Kecenderungan ini meningkat tajam bila situasi melibatkan perasaan dan emosi yang mendalam.” (Rogers dan Roethlisberger, 1991).