Fobia merupakan peristiwa yang disadari oleh seseorang dalam keterbatasan, yakni ketidakmampuan diri untuk mengatasi ketakutan. Tindakan yang dilakukan ketika seseorang mengalami fobia mengalami proses dalam pikiran sebagai berikut :
-
Pertama, tindakan yang dilakukan sebagai reaksi terhadap ancaman pada bersifat spontan.
-
Kedua, tindakan itu memiliki dorongan yang sangat kuat yakni keberadaan ancaman.
-
Ketiga, tindakan yang menjadi reaksi ini hanya memusatkan pada takut atau cemas. Semua urutan tesebut menunjukkan kondisi me ntal seseorang yang berpengaruh terhadap fobia. Dan pengalaman fobia tersebut akan membentuk penentuan tindakan seseorang.
Penyebab Fobia
Penyebab fobia bisa diperoleh dari melalui pengalaman langsung yang traumatis, dimana keadaan bahaya atau sakitnya akan menghasilkan respon yang berlebihan. Ketakutan dan kecemasan manusia menjadi sumber utama yang mendorong kemunculan fobia dengan cenderungan teror dan perasaaan terancam akan dikaji lewat tinjauan filosofis.
Reaksi yang timbul dari dorongan kecemasan dan ketakutan kemudian memicu perilaku yang tidak wajar dan hal tersebut menjadi begitu penting sebagai bentuk ekspresi takut dan ikut menentukan seberapa fatal akibat dari dorongan fobia yang dialami.
Menurut Fathiah (2010) terdapat tiga bentuk kerentanan yang memberikan kontribusi pada penyebab berbagai gangguan kecemasan fobia:
-
Kerentanan biologis menyeluruh (generalized biological vulnerability).
Kecenderungan untuk gelisah atau tegang itu tampaknya diturunkan atau diwariskan. Tetapi, kerentanan biologis menyeluruh untuk mengalami kecemasan bukanlah kecemasan itu sendiri.
-
Kerentanan psikologis menyeluruh (generalized psychological vulnerability).
Artinya, berdasarkan pengalaman awal, mungkin tumbuh dewasa dengan disertai keyakinan bahwa dunia ini berbahaya dan diluar kontrol, dan tidak mampu mengatasi bila ada hal buruk yang menimpa.
-
Kerentanan psikologis spesifik (specific psychology vulnerability).
Dimana manusia belajar dari pengalaman awal, misalnya dari apa yang diajarkan oleh orang tua, bahwa situasi atau objek tertentu berbahaya (meskipun sebenarnya tidak). Contohnya apabila ayah takut anjing, maka anak juga akan takut pada anjing karena beranggapan bahwa anjing adalah sesuatu yang berbahaya.