Kohn (dalam Faizah, 2010), menyatakan bahwa aspek-aspek pola asuh otoriter sebagai berikut:
1. Pemberian Disiplin
Pemberian disiplin pada pola asuh otoriter menganut konsep yang negatife, yaitu pengendalian dengan kekuasaan luar, biasanya diterapkan dengan cara yang tidak tepat, berbentuk pengekangan dengan menggunakan cara yang tidak disenangi dan menyakitkan.
2. Komunikasi
orang tua yang otoriter cenderung memberikan batasan dan kontrol yang tegas, serta hanya sedikit melakukan komunikasi secara verbal terhadap remaja.
3. Pemenuhan Kebutuhan
Pemenuhan kebutuhan pada pola asuh otoriter cenderung sangat jarang terpenuhi, terutama bila menyangkut pemenuhan secara mental. Orang tua sering kali menunjukkan sikap yang menekan kebutuhan mental remaja dengan memberikan batasan-batatan dalam bertingkah laku.
4. Pandangan terhadap Remaja
Orang tua cenderung memandang remaja sebagai anak yang harus diatur agar menjadi anak yang baik serta harus patuh pada aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh orang tuanya.
Menurut Surniani (2008), menyatakan aspek-aspek pola asuh otoriter sebagi berikut:
- Orang tua memberikan batasan kepada anak dan memaksa anak untuk mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan.
- Orang tua cenderung berorentasi pada hukuman dan mengontrol anak.
- Orang tua jarang memberikan pujian kepada anak
Frazier (2012), mengungkapkan bahwa aspek-aspek pola asuh otoriter antara lain:
1. Pedoman Perilaku
Orang tua cenderung mengatur anak-anak sehingga tidak ada ruang untuk berdiskusi dan penjelasan. Sistem yang digunakan untuk menegakkan pedoman tersebut cenderung bersifat dictator. Orang tua sering kali mengunakan hukuman yang berat.
2. Kualitas Hubungan Emosional Antar Orang Tua dan Anak
Pola asuh otoriter dapat membuat kedekatan antara orang tua dan anak mengalami hambatan. Anak-anak dengan pola asuh otoriter sering kali merasa cemas dan memiliki tingkat depresi yang tinggi, serta memiliki masalah perilaku dan pengendalian dorongan, terutama saat tidak berhadapan dengan orang tua.
3. Perilaku yang Mendukung
Perilaku yang mendukung pada pola asuh ini disebut “menghambatan” perilaku, yang memiliki tujuan untuk mengontrol anak dari pada mendukung proses berpikir anak.
4. Tingkat Konflik Antara Orang Tua dan Anak
kontrol yang lebih tanpa ada kedekatan sejati dan rasa saling menghormati dapat mengakibatkan pemberontakan, dengan kata lain, pola asuh otoriter dapat mengakibatkan konflik antara orang tua dan anak.