Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa yang dimaksud dengan berpikir secara logis dalam computational thinking?

Berpikir secara logis|690x300

Berpikir secara logis adalah suatu proses berpikir dengan menggunakan logika, rasional dan masuk akal. Secara etymologis logika berasal dari kata logos yang mempunyai dua arti 1) pemikiran 2) kata-kata.

Logika adalah ilmu yang mengkaji pemikiran.

Karena pemikiran selalu diekspresikan dalam kata-kata, maka logika juga berkaitan dengan “kata sebagai ekspresi dari pemikiran”. Dengan berpikir logis, kita akan mampu membedakan dan mengkritisi kejadian-kejadian yang terjadi pada kita saat ini apakah kejadian-kejadian itu masuk akal dan sesuai dengan ilmu pengetahuan atau tidak.

Apa yang dimaksud dengan berpikir secara logis dalam computational thinking ?

30

Kegiatan yang kita lakukan sehari - sehari seringkali kita lakukan tanpa berpikir terlebih dahulu. Agar kegiatan yang kita lakukan bisa lebih efisien dan lebih menghasilkan, bisa kita terapkan pola berpikir yang dinamakan dengan Computational thinking.Sebelum membahas tentang berpikir logis dengan menggunakan pendekatan computational thinking ada baiknya jika kita mengenal lebih dahulu apa itu computational thinking.

Computational Thinking

Computational Thinking memiliki artian yaitu pola pikir atau cara berpikir layaknya sebuah mesin komputer, yang memiliki makna bahwa manusia yang melakukan computational thinking itu mampu mencerna sebuah masalah kemudian membuat simulasi solusi atau pemecahan masalah secara efisien seperti yang dilakukan oleh komputer.

sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/a/a2/The_Computational_Thinking_Process.jpg

Sesuai gambar diatas, proses berpikir secara Computational Thinking memiliki 3 proses yaitu:
1. Abstraksi : merumuskan suatu masalah
2. Automasi : membuat solusi
3. Analisis : melaksanakan solusi dan evaluasi hasil

Sejarah berpikir seperti komputer atau computational thinking sudah ada semenjak 1950an dan pemakaian istilah tersebut pertama kali digunakan pada 1980 oleh Seymour Papert.
Jadi inti dari Computational Thinking adalah merumuskan masalah, membagi masalah tersebut menjadi masalah yang lebih detail dan kecil, kemudian memecahkan masalah tersebut satu persatu dan mengevaluasi hasilnya.

Setelah mengetahui apa itu Computational Thinking barulah kita bisa mengetahui bahwa berpikir logis menjadi salah satu aspek dan elemen penting pada computational thinking. Berpikir logis adalah proses berpikir yang melibatkan analisis berkelanjutan, yaitu selain menggunakan logika dan secara rasional, berpikir secara logis membutuhkan pertimbangan tingkat lanjut. Seperti memperhatikan semua opsi yang tersedia, menggunakan fakta,akal sehat, dan perhitungan, dan membuat keputusan sesuai keuntungan dan kerugiannya, serta tidak melibatkan perasaan dan emosi.

Untuk melatih kemampuan berpikir logis hal yang dapat kita lakukan adalah:
1. Munculkan kebiasaan untuk bertanya
Jangan pernah malu untuk bertanya di depan umum dan pada siapapun. Selain bertanya secara artian verbal, biasakan juga untuk mempertanyakan ilmu apapun yang kita dapat. Cari sumber yang terpercaya dan pertanyakan terus "apakah ilmu / informasi ini benar?" sampai mengetahui bahwa informasi itu 100% benar
2. Berpikir dari segala macam perspektif
Sebagai seorang manusia, kita harus mampu memahami bahwa setiap individu dengan individu lainnya mempunyai pola pikir yang berbeda. Jadilah seorang yang fleksibel dalam menghadapi suatu masalah, lihatlah masalah tersebut dari sudut pandang yang berbeda walaupun itu bertentangan dengan kepercayaan kita. Terima semua hal dengan pemikiran yang terbuka tanpa melibatkan perasaan.
3. Belajar menyatukan hal - hal diatas dengan efisien
Setelah kita mengetahui suatu masalah dan sudah mencari kebenarannya dan melihatnya dari segala perspektif, susun hal - hal tersebut dalam sebuah mindmap atau catatan untuk memudahkan, susun skala prioritas, dan buatlah keputusan yang menurut anda terbaik dari hasil berpikir itu.

Sumber:

  1. https://www.cleverism.com/skills-and-tools/logical-thinking/
  2. https://en.wikipedia.org/wiki/Computational_thinking

image|624x480


Computational thinking (CT) adalah proses penyelesaian masalah mencakup masalah karakteristik dan disposisi. CT sangat penting untuk pengembangan aplikasi komputer, namun juga dapat digunakan untuk mendukung pemecahan masalah di semua ilmu, termasuk matematika dan sains. Siswa yang belajar CT di seluruh kurikulum dapat mulai melihat hubungan antara mata pelajaran akademik, serta antara kehidupan di dalam dan di luar kelas.

Metode menyelesaikan masalah kompleks dengan menggunakan Computational Thinking

Masalah kompleks adalah masalah yang kita tidak tahu cara menyelesaikannya dengan mudah,
pemikiran komputasional melibatkan mengambil masalah yang kompleks dan memecahnya menjadi serangkaian masalah kecil dan lebih mudah diatur (Dekomposisi). Masing-masing masalah yang lebih kecil ini kemudian dapat dilihat secara terpisah, mengingat bagaimana masalah serupa telah dipecahkan sebelumnya (pengenalan pola) dan hanya berfokus pada rincian penting, sembari mengabaikan informasi yang tidak relevan (abstraksi). Selanjutnya, langkah-langkah sederhana atau aturan untuk menyelesaikan setiap masalah yang lebih kecil dapat dirancang (algoritma).

Setelah kita tahu apa itu Computational Thinking, ada satu hal penting lagi yaitu berpikir logis.Berpikir logis adalah suatu proses berpikir menggunakan logika, rasional, dan masuk akal. Pemikir logis akan mengamati dan menganalisis fenomena, reaksi, dan menarik kesimpulan berdasarkan fenomena tersebut. Mereka dapat mengambil keputusan berdasarkan fakta yang dikumpulkan.

Manfaat berpikir logis
1. Daya khayal semakin tinggi

  1. Logika dapat membuat kita berpikir jernih

  2. Menghindarkan diri dari kekeliruan karena informasi yang tidak benar.

  3. Dapat memperpanjang penalaran kita untuk menyelesaikan masalah-masalah kompleks

Sumber :
http://www.bbc.co.uk/education/guides/zp92mp3/revision
https://computationalthinkingcourse.withgoogle.com/unit

yaya|406x124

Computational thinking adalah berpikir secara computer, namun bukan berarti kita harus menjadi seperti computer. Computational thinking biasa digunakan dalam pengembangan software dan bidang ilmu komputer lainnya, tetapi computational thinking juga bisa digunakan dalam pemecahan masalah di semua disipiln ilmu. Kemampuan ini bukan artinya kita belajar komputer tapi mampu untuk berpikir secara logis dan effisien. Pola pikir ini memang biasanya digunakan untuk membuat algoritma dalam program komputer. Tapi kemampuan berpikir logis dan efisien ini tentunya akan sangat bermanfaat dalam segala bidang, bukan hanya bidang komputer. Karakteristik dari computational thinking adalah merumuskan masalah dengan menguraikan masalah tersebut ke segmen yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola. Strategi ini memungkinkan seseorang untuk mengubah masalah yang kompleks menjadi beberapa prosedur atau langkah yang tidak hanya lebih mudah untuk dilaksanakan, akan tetapi juga menyediakan cara yang efisien untuk berpikir kreatif.

Metode yang digunakan dalam computational thinking adalah sebagai berikut :
1. Decomposition : Kemampuan memecah data, proses atau masalah (kompleks) menjadi bagian-bagian yang lebih kecil atau menjadi tugas-tugas yang mudah dikelola.

  1. Pattern Recognition : Kemampuan untuk melihat persamaan atau bahkan perbedaan pola, tren dan keteraturan dalam data yang nantinya akan digunakan dalam membuat prediksi dan penyajian data.
  2. Abstraksi : Melakukan generalisasi dan mengidentifikasi prinsip-prinsip umum yang menghasilkan pola, tren dan keteraturan tersebut.
  3. Algorithm Design : Mengembangkan petunjuk pemecahan masalah yang sama secara step-by-step, langkah demi langkah, tahapan demi tahapan sehingga orang lain dapat menggunakan langkah/informasi tersebut untuk menyelesaikan permasalahan yang sama.

apaya|559x373

Salah satu elemen penting dalam computational thinking adalah berpikir logis. Berpikir secara logis adalah suatu proses berpikir dengan menggunakan logika, rasional dan masuk akal. Dalam berpikir membutuhkan ketrampilan untuk bisa mengerti fakta, memahami konsep, saling keterkaitan atau hubungan, sesuatu yang tersurat dan tersirat, alasan, dan menarik kesimpulan. Namun yang pertama kali harus dipelajari adalah menguji suatu jalan pikiran secara logis. Dengan berpikir logis, kita akan mampu membedakan dan mengkritisi kejadian-kejadian yang terjadi pada kita saat ini apakah kejadian-kejadian itu masuk akal dan sesuai dengan ilmu pengetahuan atau tidak. Tidak hanya itu, seseorang juga mampu berpikir kritis sehingga ia mampu mengolah fenomena-fenomena yang diterima oleh sistem indera hingga dapat memunculkan berbagai pertanyaan.

Manfaat berpikir secara logis :

  1. Melatih berfikir secara rasional, kritis, lurus, tertib, metodis dan koheren.

  2. Mampu berfikir abstrak, cermat dan objektif.

  3. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berfikir tajam dan mandiri.
  4. Meningkatkan kemampuan analisis terhadap suatu kejadian.
  5. Meningkatkan rasa cinta akan kebenaran.
  6. Menghindarkan diri dari kekeliruan karena informasi yang tidak benar.
  7. Meningkatkan Citra diri.

Sumber :
https://www.thebalance.com/logical-thinking-definition-with-examples-2059690
https://en.wikipedia.org/wiki/Logic
https://en.wikipedia.org/wiki/Computational_thinking
http://www.kompasiana.com/firmansthg2015/definisi-berpikir-dan-logika_569a393cc923bda6122116e9

Berpikir secara logis adalah suatu proses berpikir dengan menggunakan logika, rasional dan masuk akal. Secara etymologis logika berasal dari kata logos yang mempunyai dua arti 1) pemikiran 2) kata-kata.

Jadi logika adalah ilmu yang mengkaji pemikiran. Karena pemikiran selalu diekspresikan dalam kata-kata, maka logika juga berkaitan dengan “kata sebagai ekspresi dari pemikiran”. Dengan berpikir logis, kita akan mampu membedakan dan mengkritisi kejadian-kejadian yang terjadi pada kita saat ini apakah kejadian-kejadian itu masuk akal dan sesuai dengan ilmu pengetahuan atau tidak.

Logika yaitu menyelidiki aturan-aturan yang harus diperhatikan supaya cara berpikir kita sehat.Sehingga logika adalah studi tentang prinsip-prinsip yang dipakai untuk membedakan argumentyang masuk akal dan argument yang tidak masuk akal. Logika adalah sarana untuk berpikir sistematis, valid, dan dapat dipertanggung-jawabkan. Karena itu berpikir logis adalah berpikir sesuai dengan aturan-aturan berpikir. Logis dalam bahasa sehari-hari kita sebut masuk akal.

Contoh real-nya ketika seorang siswa atau peneliti melakukan metode ilmiah, maka pelaku ilmiah ini harus melakukan kegiatan ilmiah ini dengan berpikir secara logis, mulai dari saat pelaku ilmiah melakukan observasi/ pengamatan, merumuskan masalah, menyusun hipotesis, melaksanakan penelitian, mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis data, hingga menarik kesimpulan. Seluruh proses kerja ilmiah tersebut harus dikerjakan berdasarkan prinsip yang logis, rasional, dan masuk akal agar dapat dipertanggungjawabkan.

Cara berpikir logis yang biasa dikembangkan, dapat dibagi menjadi dua, yaitu berpikir secara deduktif dan berpikir secara induktif. Logika deduktif adalah penarikan kesimpulan yang diambil dari proposisi umum ke proposisi khusus. Sederhananya kata umum-khusus.
Adapun logika induktif kebalikan dari logika deduktif. Jenis logika ini harus mengikuti penalaran yang berdasarkan pengalaman atau kenyataan. Artinya, jika tidak ada bukti maka kesimpulannya belum tentu benar atau pasti. Dengan demikian, dia tidak akan mempercayai suatu kesimpulan yang tidak berdasarkan pengalaman atau kenyataan lewat tangkapan panca indranya.

Maka dari itu sangat penting jika kita belajar berpikir logis. Hal itu dapat membantu seseorang untuk berpikir lurus, tepat dan teratur. Dengan berpikir lurus, tepat dan teratur seseorang akan memperoleh kebenaran dan terhindar kesesatan. Semua bidang kehidupan manusiamembutuhkan keteraturan dalam tindakan-tindakannya yang berdasar atas kemampuan berpikirnya. Logika mengarahkan dan mendorong sesorang untuk berpikir sendiri, serta manusia pada umumnya berdasarkan tindakan-tindakannya atas pemikiran dan pertimbanganyang objektif

berpikir logis dalam computational thinking
berpikir logis memiliki arti yaitu proses berpikir dengan menggunakan logika yang rasional dan masuk akal, dan merupakan ilmu yang mengkaji tentang pemikira yang rasional . dengan berpikir logis kita mampu membedakan dan mengkritisi setiap pemikiran dengan pandangan secara rasioan kita dengan menganalisis apakah hal yang kita amati tersebut sudah cukup masuk akal bagi kita, ataupu malah sebaliknya.

Berpikir logis dalam Computational thinking berarti bagaimana pandangan logis kita terhadap CT, apakah sesuai dengan pemahan yang kita terima selama ini. dan bagaimana pemikiran rasional kita terhadap materi atau pola pikir mengenai CT terebut.
Computational Thinking itu sendiri juga merupakan sebuah pendekatan dalam proses pembelajaran yang berupa peran penting di setiap pengembangan aplikasi komputer, akan tetapi CT juga biasanya sering digunakan untuk mendukung pemecahan suatu permasalahan disemua ilmu, termasuk humaniora, matematika dan ilmu pengetahuan lainnya. Siswa yang belajar dimana CT diterapkan dalam proses pembelajaran, dan dapat dimulai dari melihat suatu hubungan antara mata pelajaran maupun antara kehidupan di dalam dan di luar kelas.
Dengan demikian memang perlu adanya pemikiran rasional atau logis dalam penerapan CT, karena dapat menammbah ingatan kita karena kita juga belajar untuk melogika suatu permasalahn tersbut. Dengan melogika tersebut kita juga lebih banyak belajar karena setiap kita berpikir logika, kita juga akan berpikir matang matang apakah logika tersebut sudah tepat, itu yang membuat kita lebih dapat meyerap suatu persoalan karena kita imbangi dengan cara pikir kita menyelesaikan masalah.
Refrensi :
https://www.kompasiana.com/fathur_rachim/computational-thinking-computer-science_55e06cc71593736c0a109023
https://adhychezz.wordpress.com/pemikiran/apa-itu-berpikir-logis-kritis-dan-kreatif/

Berfikir logis adalah suatu proses menalar tentang suatu objek dengan cara menghubungkan serangkaian pendapat untuk sampai pada sebuah kesimpulan menurut aturan-aturan logika.

Berfikir logis sama dengan berfikir konsisten sesuai dengan rambu-rambu atau tata cara berfikir yang benar. Berfikir yang demikian diyakini dapat diperoleh kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sedangkan berfikir kritis adalah proses menalar tentang suatu objek yang menghubungkan serangkaian pendapat ataupun konsep secara utuh dan lengkap, dengan cara melihat sisi positif maupun negatif, sisi untung dan rugi, sisi baik dan buruk, sisi peluang dan tantang. Dengan kata lain berfikir kritis sama dengan berfikir lengkap dan utuh. Adapun berfikir reflektif adalah suatu proses menalar tentang suatu objek dengan cara menghubungkan aneka pendapat secara utuh, lengkap, dan mendalam. Dengan kata lain berfikir reflektif adalah proses menalar secara mendalam sedalam-dalamnya.

Komponen Berfikir Logis


Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa berfikir logis adalah suatu proses menalar tentang suatu objek dengan cara menghubungkan serangkaian pendapat untuk sampai pada sebuah kesimpulan menurut aturan-aturan logika. Maka hasil atau buah dari berfikir logis adalah diperolehnya pemikiran logis. Aturan-aturan logika yang dipakai untuk mendapatkan pemikiran logis adalah aturan main atau tata cara yang harus dipenuhi oleh seseorang dalam berfikir lurus dan benar (correct). Untuk mewujudkan pemikiran logis, seseorang wajib memenuhi aturan main sebagai prasyarat dalam berfikir lurus dan benar, salah satunya adalah harus memenuhi komponen dasar berfikir.

Istilah komponen diartikan sebagai bagian atau unsur yang membentuk suatu sistem tertentu. Misalnya komponen mobil berarti bagian dari pembentuk mobil (bodi, rangka, mesin, ban, spion, interior, suspensi, bensin, dan stir). Begitu juga komponen pendidikan adalah bagian dari pembentuk terwujudnya kegiatan pendidikan (pendidik, anak didik, materi atau isi pendidikan, tujuan pendidikan, alat dan metode, dan lingkungan pendidikan) yang membentuk sesuatu menjadi disebut mobil. Maka dari itu komponen dalam logika adalah bagian atau unsur yang membentuk suatu proses berfikir atau menalar.

Keberadaan dan kelengkapan komponen dalam proses penalaran adalah sesuatu yang mutlak adanya. Bila terjadi keganjilan atau ketidaklengkapan salah satu dari komponen yang diperlukan, maka proses penalaran untuk berfikir lurus menjadi 'tidak sah'.

Pertanyaannya sekarang adalah: Ada berapakah yang termasuk ke dalam komponen Logika? Apa sajakah yang termasuk ke dalam komponen Logika tersebut?

Logika mempersyaratkan adanya 3 (tiga) hal sebagai komponen berfikir logis. Ketiga hal tersebut meliputi; (1) pengertian (concept), (2) keputusan (decision), dan (3) penalaran (reasoning). Ketiganya tersebut merupakan persyaratan (preconditions) yang harus ada dalam berfikir lurus yang merupakan satu kesatuan. Ketiganya memiliki keterkaitan struktural satu dengan lainnya dalam membentuk dan proses sahnya suatu penyimpulan pemikiran. Untuk itu, di bawah ini dibuatkan bagan ketiga komponen tersebut, yang selanjutnya akan dijelaskan satu per satu supaya lebih gamblang dan jelas.

1. Pengertian (Concept)

Pengertian adalah hasil penangkapan dari inti suatu obyek. Istilah mengerti berarti menangkap inti sesuatu, sedangkan memiliki pengertian berarti memiliki tangkapan terhadap inti sesuatu (obyek). Oleh karenanya, seseorang dikatakan telah mengerti, apabila ia telah menangkap inti obyek (sesuatu yang dimengerti). Inti sesuatu di sini disebut "hakekat".

Istilah lain dalam penyebutan pengertian adalah ide. Kata ‘ide’ berasal dari kata ‘idea' yang artinya sebenarnya adalah gambar. Hal-hal yang tergambar secara abstrak mengenai sesuatu benda atau bukan benda adalah ‘idea’. Orang yang telah memiliki ide sama dengan telah memiliki gambaran tentang sesuatu, sehingga dapat menjelaskan secara panjang lebar bila diminta menjelaskannya. Plato mengartikan ide atau idea dengan pengertian atau maksud. Penggunaan istilah ide pada abad pertengahan dipakai istilah universal, dan jamaknya adalah universalia yang artinya "umum". Dikarenakan pengertian ini sifatnya berlaku umum. Sebagaimana dikatakan di atas bahwa mengerti adalah menangkap inti atau hakekat sesuatu, sedangkan hakekat sesuatu ini dapat dibentuk oleh akal budi manusia dalam wujud ide yang memiliki kebenaran bersifat umum, maka istilah pengertian juga dapat disamakan dengan istilah ide atau idea dan universale.

Kata lain dari pengertian adalah konsep atau conceptus yang artinya menangkap. Orang yang memiliki konsep berarti telah memiliki tangkapan tentang identitas objek. Tangkapan atas identitas objek yang merupakan hasil abstraksi dari suatu obyek tersebut. Sehingga pengertian atau ide atau konsep adalah gambar dari hasil penangkapan terhadap suatu obyek. Contoh ide atau konsep adalah: gedung sekolah, buku, balpoin, pencil, penggaris, penghapus, tas, lapangan sepak bola, raket, guru, wali kelas, dan lain-lain adalah contoh ide atau konsep tentang hal-hal yang kasat mata di lingkungan sekolah. Sedangkan kurikulum, cerdas, prestasi akademik, kefahaman, keteladanan, kerajinan, ketekunan, sekolah unggul, evaluasi, dan lain-lain adalah contoh ide atau konsep tentang hal-hal yang abstrak. Ide atau konsep tersebut dapat dibuat rumusan pengertiannya. Rumusan dari pengertian atau ide atau konsep disebut "definisi".

Ide bukanlah realita yang kongkrit, melainkan abstrak. Cara manusia menangkap ide adalah dengan apa yang disebut "abstraksi". Yaitu, mencari aspek- aspek yang sama dan mengabaikan aspek yang berbeda.

Misalnya: untuk menangkap ide tentang manusia maka kita perlu menyingkirkan aspek-aspek yang berbeda dari banyak manusia yang ada yaitu bentuk tubuhnya, rambutnya, bentuk wajahnya, warna kulitnya, bentuk dan warna matanya, perawakannya, bahasanya, gaya hidupnya, dan sebagainya; yang akhirnya diketemukan kesamaannya antara lain mahluk ciptaan Tuhan, memiliki roh, pada akhirnya akan mati, bisa bermain-main, suka bekerja, suka berkumpul, wajib dididik yang disebut dengan istilah kata manusia. Dari sini maka muncul ide atau pengertian tentang zoon politicon (mahluk berkumpul), homo ludens (mahluk bermain), homo faber (mahluk bekerja), homo homini lopus (mahluk pemangsa sesama), homo educandum (mahluk yang wajib dididik).

2. Keputusan (Decision)

Keputusan dalam logika diartikan sebagai aksi manusia dalam dan dengan manaa ia mengakui atau memungkiri suatu hal tentang hal lain. Keputusan merupakan kegiatan rohani yang menyebabkan akal budi manusia menyatakan sesuatu tentang sesuatu yang lain. Dapat juga dikatakan bahwa keputusan adalah tindakan budi manusia yang mengakui atau mengingkari sesuatu terhadap sesuatu yang lain. Keputusan yang merupakan hasil tindakan akal budi manusia dalam mengakui atau mengingkari sesuatu terhadap sesuatu dapat dirumuskan dalam sebuah pernyataan kalimat terdiri dari unsure subjek dan predikat.

Misalnya: Semua manusia akan mati, gunung itu tinggi, pohon kelapa lebih tinggi dari pohon mangga, sebagian mahasiswa adalah laki-laki.

Pada contoh-contoh keputusan tersebut, akal budi manusia mengakui sesuatu terhadap sesuatu yang lain: manusia terhadap mati, gunung terhadap tinggi, pohon kelapa terhadap pohon mangga, dan lain-lain. Pengakuan akal budi tentang manusia terhadap kematian tersebut sesungguhnya menggambarkan adanya pengakuan yang dapat dinyatakan dengan bahasa akan berbunyi "semua manusia akan mati". Pengakuan akal budi tentang gunung terhadap tinggi yang digambarkan bahwa pengakuan tersebut bila dinyatakan dengan bahasa akan berbunyi "gunung itu tinggi". Adapun pengakuan akal budi manusia tentang pohon kelapa terhadap pohon mangga, yang digambarkan bahwa pengakuan tersebut bila dinyatakan dalam bahasa berbunyi "pohon kelapa lebih tinggi dari pohon mangga".

3. Penalaran (Reasoning)

Yang dimaksud dengan penalaran adalah suatu proses rangkaian kegiatan budi manusia untuk sampai pada suatu kesimpulan (pendapat baru) dari satu atau lebih pendapat yang telah diketahui. Hal-hal yang merupakan pendapat yang telah diketahui itu disebut: data, sedangkan hal-hal yang belum diketahui merupakan pendapat baru sebagai kesimpulan.

Dalam dunia ilmu pengetahuan, proses penalaran yang berpijak pada beberapa data untuk selanjutnya ditarik suatu kesimpulan umum tersebut disebut “metode ilmiah". Data merupakan informasi empirik yang diketahui manusia. Sedangkan data ini bisa menjadi fakta kalau data tersebut diyakini kebenarannya.

Kaitan Antar Komponen Berfikir Logis

Dalam Logika, ketiga komponen sebagaimana disebutkan di atas, harus saling terkait terutama dalam proses berfikir atau penyimpulan. Sebab dalam proses penyimpulan tersebut antara lain harus ada pendapat yang diasumsikan diakui kebenarannya atau sudah diketahui karena sudah terbukti. Pendapat yang sudah diketahui inilah yang merupakan dasar suatu penyimpulan terhadap pendapat baru yang belum diketahui. Pendapat ini dalam proses penyimpulandisebut dengan "premis". Ada "premis mayor" dan ada "premis minor".

Pendapat atau selanjutnya disebut premis ini tersusun atas hubungan antara dua konsep atau lebih yang menggambarkan suatu fenomena atau hal. Misalnya konsep "manusia" dan konsep "mati", yang tersusun dalam sebuah premis yang berbunyi "semua manusia akan mati". Hubungan antara konsep "manusia" dengan konsep "mati" inilah yang merupakan premis. Konsep atau ide, tentang "manusia" dan "mati"sebagaimana disebutkan tadi, dalam proses penyimpulan disebut "term".

Contoh lain term misalnya: Guru, anak, dosen, mahasiswa, laki-laki, perempuan, batu, merah, mawar, senang, pintar, bodoh, masyarakat, dan lain-lain. Selain itu terdapat pula yang disebut "term tengah". Term tengah adalah term yang tercantum pada premis mayor dan minor. Term ini berada di dalam premis-premis yang ada, yang menandai bahwa dua premis mayor dan minor tersebut ada keterhubungannya. Sehingga satu premis paling sedikit tersusun atas dua term. Dan proses penalaran pasti melibatkan banyak term.

Sampai disini dapat dimengerti bahwa suatu penyimpulan harus melibatkan komponen pertama yaitu konsep atau ide atau pengertian dan komponen kedua yaitu keputusan atau pendapat. Dalam penyimpulan disamping kedua komponen tersebut harus ada, juga ada komponen ketiga yaitu penalaran atau kegiatan penyimpulan itu sendiri. penalaran merupakan proses kegiatan fikir manusia dengan cara mengkait- kaitkan antar pendapat-pendapat atau disebut premis-premis tadi untuk Sampai pada suatu konklusi atau kesimpulan yang benar. Jadi tanpa mengkaitkan secara logis antar premis yang ada tersebut, maka mustahil suatu proses penyimpulan berlangsung.

Dari uraian di atas akhirnya dapat dimengerti dan dipahami bahwa ketiga komponen logika, yaitu (1) pengertian atau ide atau konsep, (2) keputusan atau pendapat, serta (3) penalaran harus saling kait mengkait satu sama lain, khususnya dalam proses melakukan penyimpulan untuk memperoleh konklusi yang benar.

Prinsip-Prinsip Dasar Berfikir Logis

Prinsip adalah pernyataan yang mengandung kebenaran universal. Kebenaran universal adalah kebenaran yang berlaku umum, dimana pun dan kapan pun ia seluruhnya benar dan tidak terbantahkan, Sedangkan kebenaran parsial (khusus) adalah kebenaran yang hanya berlaku bagi beberapa hal saja.

Suatu prinsip dikatakan sebagai "prinsip dasar" apabila prinsip tersebut tidak memerlukan bukti dari yang lain karena sudah terbukti dengan sendirinya. Oleh karenanya, prinsip dasar merupakan pernyataan yang mengandung kebenaran universal yang kebenarannya sudah terbukti dengan sendirinya. Artinya, kebenaran universal tersebut sudah tidak membutuhkan lagi hal-hal lain untuk membuktikan kebenarannya. Bahkan prinsip dasar tersebut merupakan dasar dari semua pembuktian.

Istilah lain dari prinsip dasar adalah Azas pemikiran. Azas adalah sesuatu yang mendahului atau sesuatu yang menjadi pedoman. Sebagai sesuatu yang mendahului, maka azas berfungsi sebagai landasan atau melandasi atas sesuatu yang lain. Sedangkan sebagai pedoman, maka azas berfungsi sebagai penuntun dan pengarah dalam setiap nafas proses berlangsungnya sesuatu. Adapun azas pemikiran adalah pengetahuan dari mana pengetahuan-pengetahuan lain tergantung dan dimengerti.

1. Pembagian Prinsip Dasar

Ada beberapa prinsip dasar yang dikenal dalam Logika. Beberapa prinsip dasar tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: (a) Primer, dan (b) Sekunder.

  • Prinsip Primer

Prinsip dasar ini mendahului prinsip-prinsip lainnya. Prinsip ini tidak tergantung pada yang lain dan berlaku untuk segala sesuatu yang ada. Di bawah ini dipaparkan prinsip dasar berfikir logis primer sebagaimana diuraikan oleh Achmad Dardiri (1986), sebagai berikut.

1)  _Principium Idenititatis (The Principle of identity)._

    Prinsip ini merupakan prinsip kesamaan, yang berbunyi: “Suatu benda adalah benda itu sendiri dan bukan yang lain". Dalam Logika pernyataan itu berarti apabila sesuatu diakui semua, maka kesimpulan yang lain yang ditarik dari pengakuan itu juga harus diakui. Apabila sesuatu diakui, lalu kesimpialan yarig ditark dari padanya dipungkiri, maka pengakuan seperti ini harus dibatalkan. Kalau dalam Ilmu Hukum, pengingkaran sebagaimana diungkapkan tersebut harus dinyatakan "Batal demi hukum''. Oleh karena itu, poin penting yang harus dipegang erat adalah bahwa tidaklah dapat sesuatu itu diakui serentak sekaligus juga dipungkiri.

2) Principium Contradictionis (The Principle of Contradiction).

    Prinsip ini merupakan prinsip pertentangan, yang berbunyi: “Sesuatu benda tidak dapat merupakan benda itu sendiri dan benda yang lain pada waktu yang sama". Prinsip ini ingin memberikan penegasan kepada kita bahwa segala sesuatu tidak mungkin mendua. Dengan pernyataan lain, prinsip ini dapat dinyatakan bahwa, ''Sesuatu itu tidak dapat positif dan negatif sekaligus".

3)  _Principium Tertii Exclusi (The Principle of Excluded Middle)._

     Prinsip ini merupakan prinsip jalan tengah, yang berbunyi: “Segala sesuatu harus positif atau negatif”. Atau dapat dikatakan, jikalau ada dua keputusan yang kontradiktoris., pastilah salah satu diantaranya salah, sebab keputusan yang satu merobohkan keputusan yang lain. Tidak mungkin keduanya sama-sama benar atau sama-sama salah.

4)  _Principium Rationis Sufficientis (The Principle of sufficient reason)._

    Prinsip ini merupakan prinsip cukup alasan, yang berbunyi: “Adanya sesuatu pastilah mempunyai alasan cukup yang menyebabkan sesuatu itu ada". Prinsip tersebut mempunyai maksu bahwa adanya segala sesuatu itu pastilah mempunyai sebab, tidaklah mungkin sesuatu itu tiba-tiba ada tanpa sebab yang mendahuluinya. Adanya suatu kesimpulan pastilah ada pendapat-pendapat yang mendahuluinya. Tak mungkin menarik kesimpulan tanpa ada alasan-alasan yang cukup.
  • Prinsip Sekunder

Selain prinsip dasar berfikir logis yang primer, juga ada prinsip dasar berfikir logis yang sekunder. Prinsip ini merupakan hasil turunan dari prinsip dasar berfikir logis primer di atas. Prinsip dasar berfikir logis yang sekunder ini meliputi beberapa prinsip, diantaranya adalah:

1) Prinsip Komprehensi, prinsip yang melihat sudut isinya, dibedakan:

    * _Prinsip kesesuaian (Principium Convenientiae)_

       Yaitu suatu prinsip yang menyatakan bahwa, “Bila ada dua hal yang sama, dimana salah satu diantaranya sama dengan hal yang ketiga, maka yang lain juga sama dengan hal yang ketiga”.

       Misalnya: Jika S=M, dan M=P maka S=P

    * _Prinsip ketidaksesuaian (Principium Inconvenientiae)_

       Yaitu suatu prinsip yang menyatakan bahwa, “Bila ada dua hal yang sama, dimana salah satu diantaranya berbeda dengan hal yang ketiga, maka yang lain juga berbeda dengan hal yang ketiga.

      Misalnya: Jika S=M, dan M≠P maka S≠P

  2) _Prinsip Ekstensi, prinsip yang melihat sudut luasnya, dibedakan:_

     * _Prinsip penerimaan (Principium Dictum de Omni)_

        Yaitu suatu prinsip yang menyatakan bahwa, “Apa yang secara universal berlaku bagi seluruhnya, juga berlaku bagi sebagiannya”.

     * _Prinsip penolakan (Principium Dictum de Nullo)_

        Yaitu suatu prinsip yang menyatakan bahwa, Apa yang secara universal tidak berlaku bagi seluruhnya, juga tidak berlaku bagi sebagiannya”.

Sumber : Arif Rohman dkk., Epistemologi dan Logika Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta

Berpikir logis adalah mengenal berbagai perbedaan, klasifikasi, pola, berinisiatif, berencana, dan mengenal sebab akibat yang terjabar dalam kompetensi dasar mengenal benda-benda disekitarnya (nama, warna, bentuk, ukuran, pola, sifat, suara, tekstur, fungsi, dan ciri-ciri lainnya) dan menyampaikan tentang apa dan bagaimana benda-benda disekitar yang dikenalnya (nama, warna, bentuk, ukuran, pola, sifat, suara, tekstur, fungsi dan ciri-ciri lainnya) melalui berbagai hasil karya.

Menurut Albrecht mendefinisikan berfikir logis dengan mengatakan “Logical Thinking is the process in which one uses reasoning consistently to come to a conclusion.” Berfikir logis merupakan sebuah proses yang menggunakan ketetapan dalam memberikan alasan untuk mendatangkan sebuah kesimpulan. Lebih jauh lagi dijelaskan bahwa masalah atau situasi yang terkait dengan berfikir logis disebut sebagai struktur atau sistem, untuk hubungan antara fakta dan untuk serangkaian alasan dalam membuat pengertian.

Lebih lanjut Albrecht juga menegaskan bahwa berfikir logis itu bukan merupakan sebuah proses yang gaib. Dalam bukunya yang berjudul "Brain Bulding” Albrecht menjelaskan dasar dari berfikir logis adalah contoh gagasan atau ide. Proses ini terkait dalam mengambil ide-ide penting, fakta-fakta dan kesimpulan-kesimpulan yang telah berkaitan dalam sebuah masalah dan mengaturnya dalam sebuah rangkaian seperti deret geometri.

Strydom mendefinisikan Logical Thinking dengan menyatakan bahwa berfikir logis merupakan pemikiran yang berhubungan dengan sebab dan akibat, yang di dalamnya terdapat perubahan makna dimana hal itu merupakan bagian dari pemikiran. Logical Thinking berarti mengikuti rentetan ide atau gagasan.