Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Struktur bangunan bawah air di jepang?

Pada 1995, seorang penyelam Jepang memutuskan untuk menginvestigasi area laut, beberapa mil di barat daya pantai Negeri Sakura di pesisir Pulau Yonaguni, Jepang.

Ia berharap bisa menemukan kehidupan laut yang menarik. Namun, yang ia jumpai justru rangkaian struktur buatan manusia yang diduga berusia 10 ribu tahun: sebuah kota yang hilang ditelan lautan. Mirip Atlantis. Apakah di daerah sana dulu ada peradaban yang musnah?

20

Setelah ia mempublikasikan temuannya itu, para arkeolog datang dari penjuru Bumi untuk menyelidikinya.

image|640x360

Di lokasi temuan, para ahli menyaksikan labirin yang terdiri dari tembok, lengkungan, bangunan mirip kuil juga tangga batu. Banyak yang meyakini, itu adalah bukti keberadaan kota yang hilang.

Puing-puing kota tersebut diduga diukir dengan hati-hati di sisi pegunungan bawah laut.

Temuan tersebut dianggap tak mengherankan, sebab, wilayah di mana ia ditemukan kerap dilanda gempa dan tsunami dahsyat.

Kota kuno tersebut diduga milik peradaban kuno yang relatif maju, yang disebut Jomon.Formasi persegi panjang raksasa itu memiliki sudut 90 derajat yang sempurna. Ada bagian dinding yang lurus, bentuk mirip tangga, juga kolom.

Lalu, muncul lah perdebatan sengit: apakah situs tersebut terbentuk secara alami, batuan alami yang telah dimodifikasi, atau struktur buatan manusia seutuhnya.

Sejumlah ahli mengunjungi situs tersebut, mencoba menemukan petunjuk. Namun, hingga hari ini misteri itu belum terkuak.

Awalnya sejumlah orang berpendapat, Monumen Yonaguni dibangun di area di atas laut sekitar 10 ribu tahun lalu. Lalu wilayah itu tenggelam ditelan lautan.

Jadi, apakah benar situs berjuluk 'Japan's Atlantis' itu adalah peninggalan peradaban pra-glasial yang akhirnya karam?

Sebagian orang lainnya menduga, struktur tersebut adalah akibat dari gempa dahsyat yang terjadi 2.000 sampai 3000 tahun lalu?

Masaaki Kimura, ahli geologi kelautan dari University of the Ryukyus sudah menyelami lokasi Yonaguni selama lebih dari 100 kali dalam kurun waktu 20 tahun untuk memetakannya.

Ia dan timnya menemukan formasi lengkungan besar, sejumlah bangunan yang diduga kuil, pahatan, paving jalan, dan struktur mirip piramida yang panjangnya mencapai 76 meter.

Kimura yakin, itu adalah sisa-sisa sebuah kota yang tenggelam akibat gempa.

Sejauh ini, ia telah mengidentifikasi 10 struktur Yonaguni dan 5 struktur lain yang terkait di pulau Okinawa -- yang mencakup area 300 meter x 150 meter.

"Menurut saya, sulit untuk mengatakan bahwa itu adalah struktur alami. Sebab, ada banyak bukti yang mengarah pada campur tangan manusia," kata Kimura, seperti Liputan6.com kutip dari News.com.au.

"Struktur terbesarnya terlihat rumit, monolitik, berupa piramida atau punden berundak yang menjulang 25 meter dari dasar laut."

Kimura menambahkan, ada temuan karakter dan monumen yang menggambarkan binatang. "Yang mengarah pada dugaan kebudayaan yang ada di sana berasal dari daratan Asia. Misalnya, sphinx bawah air yang menyerupai raja China atau Okinawa."

Namun, para ahli tak sepakat dengan itu.