Menurutku upacara adat Rambu Solo yang dilakukan oleh masyarakat suku Toraja ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman bagi orang non-Toraja. Mungkin banyak dari kita yang menyangka bahwa upacara kematian Rambu Solo selalu mewajibkan setiap keluarganya untuk menyembelih puluhan hingga ratusan babi atau kerbau sehingga membutuhkan biaya yang fantastis bahkan hingga miliaran rupiah. Padahal, informasi itu tidak sepenuhnya benar.
Seorang tokoh masyarakat Toraja bernama Layuk Saroenggalo menjelaskan makna di balik upacara Rambu Solo, yaitu semua sisa hasil usaha orang Toraja dilakukan untuk penguburan. Mereka beranggapan bahwa harta harus dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk sosial, agar membiasakan anak-anak yang ditinggalkan tidak bergantung pada warisan.
Lebih lanjut lagi, ternyata upacara adat Rambu Solo di Toraja terbagi menjadi empat tingkatan yang sesuai dengan kedudukan atau strata sosial masyarakatnya, yaitu:
- Upacara Dissili', ritual pemakaman untuk strata paling rendah atau anak-anak yang belum mempunyai gigi. Upacara tingkat ini dibagi lagi menjadi 4 bentuk.
- Upacara Dipasangbongi untuk rakyat biasa yang hanya dilakukan dalam satu malam saja. Upacara tingkat ini juga memiliki 4 bentuk, yang masing-masingnya berbeda mulai dari mengorbankan 4 babi sampai 2 kerbau.
- Upacara Dibatang atau Digoya Tedong sebagai upacara untuk kalangan bangsawan menengah. Upacara ini dibagi menjadi 3 jenis, yang masing-masing dilakukan selama 3, 5, dan 7 hari. Jumlah kerbau dan babi yang dikorbankan juga bervariasi mulai dari 3-7 ekor.
- Upacara Rapasan yang dikhususkan bagi bangsawan tinggi. Jenis upacara ini dilakukan dua kali dalam rentang waktu setahun. Upacara pertama disebut Aluk Pia, sedangkan upacara kedua disebut Aluk rante. Dibagi menjadi 3 jenis, jumlah babi dan kerbau yang disembelih dalam upacara ini bervariasi mulai dari 9 ekor hingga di atas 100 ekor. Upacara inilah yang membutuhkan biaya termahal sebagaimana yang dikenal luas oleh orang-orang.
Berdasarkan informasi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa upacara kematian Rambu Solo di Toraja tidak selalu membutuhkan banyak hewan kurban dan biaya yang sangat mahal. Upacara yang sangat mahal itu hanya dilakukan oleh kalangan bangsawan tinggi yang pastinya mampu melaksanakannya. Dengan demikian, sudah seharusnya tradisi ini wajib dilestarikan.
[details="Sumber"]
Itsnaini, F. M. (2021, 5 Mei). Upacara Adat Rambu Solo: Makna di Balik Ritual Pemakaman Unik dari Toraja. Diakses pada 29 Juli 2021, dari https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5559494/upacara-adat-rambu-solo-makna-di-balik-ritual-pemakaman-unik-dari-toraja.
[/details]