34
Akan tetapi, mengapa yang mendapat kedudukan adalah orang yang tidak banyak berbuat jasa?"
Raja Wijaya menjadi tidak enak hatinya. Beliau merasa sedih karena tuduhan itu berasal dari orang yang disayanginya. Sementara itu, para peserta menjadi agak terbuka hatinya karena ucapan Ranggalawe itu merupakan sindiran yang ditujukan kepada Patih Nambi. Patih Nambi pun mengetahui bahwa sindiran Ranggalawe itu ditujukan pada dirinya. Beberapa saat Patih Nambi berdiam diri dan menahan hati yang sebenarnya marah, bergemuruh dadanya.
"Aduh, Ranggalawe. Aku jadi tidak enak. Apakah aku telah menelantarkanmu di Tuban?"
"Sebenarnya, kedudukan itu cocok untuk orang yang berjasa, bukan orang takut pada musuh pada saat peperangan. Tidak punya malu."
Patih Nambi tidak dapat menerima ejekan Ranggalawe. Ucapan Ranggalawe itu jelas jelas merendahkan dirinya di hadapan raja dan para hadirin. Ia segera menyahut,
"Ranggalawe, jaga sikap dan ucapanmu di hadapan Tuanku Raja. Bukankah ini titah seorang raja?"
"Tetapi, Paman Nambi tidak punya malu. Paman menerima sesuatu yang sebenarnya tidak pantas diterima."
Beberapa abdi utama merasa tidak enak mendengar pertengkaran itu. Namun, mereka tidak bisa berbuat banyak karena mereka mengetahui siapa Ranggalawe, yaitu seorang ksatria sejati dan tetah banyak berkorban demi Majapahit. Suasana sengit itu dicairkan oleh Raja Wijaya dengan cara melerai.
"Adinda Ranggalawe, terus terang saja. Saya sangat sayang kepada Adinda. Saya tidak menutup mata. Namun, perlu disadari bahwa semua abdiku telah membantuku. Mereka masing-masing telah mengabdikan dirinya kepada Raja. Demikian pula Adinda Ranggalawe dan Paman Nambi. Oleh karenanya, Adinda harus bersabar. Semua tinggal
menunggu waktu saja."
35
Semua hadirin mendengar penjelasan Raja Wijaya dengan penuh perhatian. Mereka setuju dengan pendapat rajanya sehingga mereka mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun, Ranggalawe masih panas hatinya. Ia masih belum puas dan masih mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas kepada Patih Nambi.
Kebo Anabrang, ternan dekat Patih Nambi dan ternan seperjuangan di zaman Kerajaan Singasari sebelum dihancurkan oleh Kerajaan Daha, panas hatinya. Ia tidak rela mendengarkan temannya dihina oleh Ranggalawe. Kebo Anabrang menganggap Ranggalawe sebagai anak kemarin sore yang tidak punya tata krama. Lalu ia menghardik Ranggalawe,
"Hei, Ranggalawe, jagalah mulutmu. Kamu anggap apa aku dan hadirin yang lainnya di sini? Janganlah kamu sombong dan merasa diri paling kuat. "
"Oh, Paman Anabrang. Rupanya paman mau turut gelanggang. Ranggalawe tidak takut mengahadapimu."
"Ranggalawe, jangan banyak bicara saja. Kalau kamu tidak puas, kutantang kamu. Pulanglah ke Tuban, ambillah senjata dan kerahkan prajuritmu. Aku akan menampung tantanganmu di medan laga."
Ranggalawe semakin panas hatinya ketika mendengar tantangan Kebo Anabrang. Ia segera berdiri lalu beranjak pergi tanpa memberi hormat kepada Raja Wijaya terlebih dahulu. Ketika meninggalkan ruang pertemuan, Ranggalawe masih mengeluarkan kata-kata yang penuh ancaman,
"Hei, Baginda Raja Wijaya telah membuatku malu saja. Dan juga tidak mau tahu akan jasa dan pengabdianku selama ini, serta memilih orang yang tidak cakap."
Raja Wijaya mendengar perkataan Ranggalawe dengan hati sedih. Sepeninggal Ranggalawe dari balai pertemuan, ruang sidang itu tampak sunyi senyap meskipun di dalamnya berkumpul seratusan orang. Raja Wijaya diam seribu bahasa. Tiada sepatah kata pun keluar. Beliau tetap duduk di kursi singgasananya, tetapi tampak berpikir keras. Patih Nambi, Lembu Sura, Pamandhana, Kebo Anabrang yang merupakan abdi utama raja tidak berani memulai bicara.
36
Ranggalawe semakin panas hatinya ketika mendengar tantangan Kebo Anabrang . Ia segera berdiri dan beranjak pergi tanpa memberi hormat keraja Raja Wijaya .
37
Namun, setelah beberapa lama diam, Raja Wijaya memanggil Lembu Sura dengan tiba tiba. Lembu Sura segera menyimak apa yang hendak disampaikan rajanya.
"Paman Sura, apakah yang diinginkan Ranggalawe itu harus kuturuti? Maksudku, Paman Nambi akan kuberhentikan saja dari jabatan dan kupenuhi keinginan Ranggalawe. Bagaimana pendapat Paman Lembu Sura?"
Lembu Sura mendengar ada beberapa hal penting yang dikatakan Raja Wijaya. Ia sangat menyadari bahwa saran yang hendak disampaikan itu menyangkut negara sehingga jawaban yang diberikan harus tepat dan penuh keadilan. Ia pun menjawab,
"Aduh, Gusti sesembahan hamba. Semoga Paduka tidak terpengaruh oleh keinginan Ranggalawe dan tidak menaruh prasangka kurang baik terhadap Patih Nambi. Selama masih ada hamba, Patih Nambi, Kebo Anabrang dan prajurit Majapahit yang tangguh lainnya, tidak ada alasan bagi Paduka untuk takut akan ancaman Rangalawe.
Ranggalawe adalah keponakan hamba dan ia adalah anak dari Arya Wiraraja , kakak hamba sendiri. Namun, ia sangat keras dan tidak tahu tata krama. Orang semacam itu
tidak pantas berada di lstana Majapahit. Ia hanya akan menjadi sandungan bagi negeri ini. Oleh karenanya, lebih baik dia disingkirkan saja ."
"Paman Sura, adakalanya saya ingin bertindak seperti itu. Namun, rasa sayangku pada Ranggalawe begitu besar. Seperti Paman Sura tahu bahwa menyingkirkan dia berarti akan meninggalkan kepedihan bagi sanak keluarganya . Orang tuanya sangat berjasa terhadap perjalanan hidupku. Menyingkirkan Ranggalawe akan membuat sengsara orang lain. Apa faedahnya?"
"Ampun Paduka, Ranggalawe telah bertindak bodoh dan merendahkan Paduka Raja. Menurut pendapat hamba, Ranggalawe harus diawasi. Lebih baik kita waspadai dia karena dia dapat berbuat apa saja dan dapat membahayakan kita semua," kata Patih Nambi memberi saran kepada Raja Wijaya .
38
Pendapat itu mendapat dukungan dari Kebo Anabrang,
"Ampun, Paduka Raja. Menurut pendapat hamba, apa yang dikatakan oleh Patih Nambi benar. Ranggalawe telah pergi begitu saja dari hadapan Paduka tanpa memberi hormat terlebih dahulu. Begitukah sikap seorang adipati? Begitukah sikap seorang pemimpin? Sekarang Ranggalawe telah pulang ke Tuban dengan hati kecewa. Oleh karena itu, selama ia pergi lebih baik kita mempersiapkan diri. Jangan sampai kita kecolongan. Apabila, ia akan mengerahkan prajuritnya ke Majapahit dengan sungguh-sungguh. Kita patut mewaspadainya. Jangan kita biarkan tentara Tuban memasuki Majapahit."
Pendapat Kebo Anabrang mendapat persetujuan dari semua yang hadir. Raja Wijaya menerima saran dari para abdinya, lalu beliau menutup sidang itu. Semua peserta sidang pergi meninggalkan balai pertemuan dengan pikiran masing-masing. Awan biru menyelimuti kota Majapahit, matahari bersinar cerah, tetapi keprihatinan merasuki hati
kawula Majapahit.
Sekarang mari kita ikuti perjalanan Ranggalawe setelah meninggalkan balai pertemuan di lstana Majapahit. Ranggalawe masih panas hatinya. Ia kecewa bahwa Raja Wijaya tidak memperhatikan dirinya. Dalam perjalanan keluar istana untuk kembali ke Tuban, Ranggalawe merusak apa saja yang ia temui. Beberapa tiang-tiang bangunan dirusaknya. Bahkan, ia juga merusak rumah Patih Nambi yang terletak tidak jauh dari balai pertemuan. Beberapa prajurit Majapahit berusaha mencegah Ranggalawe agar tidak melakukan perbuatan yang tidak terpuji, tetapi banyak di antara mereka yang tersungkur ke tanah akibat pukulan Ranggalawe. Seoarang prajurit jaga rumah Patih Nambi lari tergopohgopoh untuk memberi tahu tuannya. Kehadiran prajurit itu memancing perhatian dari hadirin yang baru saja selesai mengikuti pertemuan dengan Raja Wijaya. Lembu Sura yang berdiri tidak jauh dari Patih Nambi turut mendengar berita itu. Lembu Sura bergegas menuju ke arah Patih
39
Nambi sambil bergumam, "Uh, dasar Nambi. Mengapa ia tidak cepat turun tangan. Kenapa ia menjadi penakut seperti ini. Kalau begitu, biar aku yang menghadapi Ranggalawe. Akan aku hadapi dia meski harus mengorbankan jiwaku ."
Kebo Anabrang ingin turun tangan juga untuk menghadapi Ranggalawe. Ia semakin benci kepada Ranggalawe. Dengan tangan mengepal dan lengan baju disingsingkan, Kebo Anabrang bergegas menuju ke arah Ranggalawe. Namun , niat itu terlihat oleh Pamandhana. Pamandhana segera mencegah Kebo Ananbrang.
"Hei, Kebo Anabrang. Hatimu jangan cepat menjadi panas seperti Ranggalawe. Tindakanmu itu justru akan menjadikan masalah ini semakin rumit saja ," kata Pamandhana menyindir Kebo Anabrang yang dinilainya bertidak sangat berlebihan.
"Ranggalawe seperti lelaki sendiri, Pamandhana ."
"Kalau kamu ikut turut turun gelanggang berarti kamu juga seperti Ranggalawe, merasa seperti lelaki sendiri."
"Kata-katamu penuh sindir, Pamandhana."
"Bukan begitu maksudku! Kalau kamu ingin menguji raga dengan Ranggalawe tunggu waktu yang tepat, Anabrang."
"Kenapa harus nanti? Saya penasaran dengan kemampuannya."
"Sekali lagi, kusarankan padamu. Jangan bertindak bodoh. Kehadiranmu akan semakin membakar amarahnya.
Apabila terjadi, pastilah Baginda Raja Wijaya tidak akan berkenan dan marah kalau peperangan terjadi di dalam istana. Apa kamu lupa bahwa pengikut Ranggalawe tidak ada di sini? Ia memiliki prajurit dari Madura yang punya andil besar dalam mendirikan Negara Majapahit ini. Jika terjadi perang dan Rangalawe berhasil mengalahkan kita bagaimana? Banyak orang akan mati. Akibatnya banyak orang akan mengungsi. Bagaimana Anabrang? Apakah kamu lupa dengan kata-katamu di hadapan Baginda tadi?" kata Pamandhana membujuk Kebo Anabrang.
40
Kebo Anabrang mengurungkan niatnya dan dalam hatinya membenarkan pendapat Pamandhana.
"Sebaiknya, masalah ini diserahkan pada Paman Lembu Sura. Mintalah Paman Lembu Sura untuk membujuk Ranggalawe agar segera keluar istana. Janganlah membuka perang di dalam istana sendiri. Akan lebih mudah kita menghadapi Ranggalawe setelah keluar dari istana," kata Singa Sadurla, Wirabumi, dan Jaran Wahan.
Lembu Sura memahami bahwa semua pejabat kerajaan setuju jika dia yang harus turun tangan sendiri. Sambil bergegas menuju ke arah Ranggalawe, Lembu Sura masih sempat menyindir,
"Kalian hanya bisa bicara saja, tanpa turun tangan, dan tak cepat bertindak."
Ranggalawe masih terus mengamuk. Banyak pohon yang berdiri di sekitar istana roboh. Ia menghancurkan pohon-pohon itu dengan keris saktinya. Tidak puas dengan pohon pohon itu, lalu ia menghancurkan beberapa bangunan . Lembu Sura mengayunkan kakinya lebih cepat lagi dan tak lama kemudian kehadirannya dilihat oleh Rangalawe.
"Ah , Paman Lembu Sura. Rupanya hanya Paman yang berani menghadapiku. Mana Patih Majapahit itu? Kenapa masih sembunyi? Paman Lembu Sura, kalau ingin menyingkirkan saya, jangan dengan cara begini. Masak saya harus menghadapi pamanku sendiri."
Apa yang dikatakan oleh Rangalawe sangat menyentak hati Lembu Sura. Dalam hatinya ia menaruh iba kepada keponakannya yang sangat disayanginya. Kata-kata Ranggalawe telah meluluhlantakkan hatinya. Namun, dalam situasi yang panas itu ia harus bersikap penuh perhitungan .
"Ranggalawe, Anakku. Apa kamu masih mau mendengarkan nasihatku, Pamanmu . Aku pun memahami kekecewaan hatimu. Namun, sebaiknya kamu kendalikan dulu emosimu. Cobalah bersabar, Anakku. Apakah kerismu itu masih kamu perlukan lagi sehingga keris itu masih kamu pegang erat-erat?"
41
Ranggalawe mau mendengarkan kata-kata Lembu Sura sehingga ia langsung menyarungkan kerisnya ke dalam tempatnya. Ia menatap Lembu Sura dengan sorot mata tajam. Namun, ia terlihat lebih sabar daripada sebelumnya. Lembu Sura menyambung bicaranya,
"Ranggalawe, apa kamu lupa bahwa Baginda Raja Wijaya itu sangat sayang padamu. Cintanya begitu besar padamu sehingga beliau telah menganggapmu sebagai adik sendiri. Sampai kamu meninggalkan istana tadi, beliau masih menyayangi dirimu. Kamu telah dianggap sebagai orang kesayangan sehingga bisa keluar masuk istana dengan sesuka hatimu, tidak seperti orang yang lainnya."
"Paman tidak salah. Hal itulah yang menyebabkan hamba berbuat demikian. Paduka Raja Wijaya telah banyak memberiku pahala dan kesenangan. Oleh karenanya, hamba merasa rela jika harus mati di lantai istana, sebagai abdi yang siap berkorban demi junjungannya."
"Ranggalawe, kelihatannya tekadmu telah bulat. Agar tidak terjadi salah paham di kemudian hari dengan Kanda Adikara, pulanglah dahulu ke Tuban. Sampaikan kekecewaanmu ini pada Ayahandamu dan utarakan pula bahwa apa yang akan kautempuh itu telah kauyakini benar. Beginilah saranku, Anakku," kata Lembu Sura kelu.
"Baiklah, Paman. Saya akan pulang ke Tuban. Akan kuberi tahu Ayahanda tentang keputusanku. Barangkali ini memang sudah menjadi suratan takdir dari Sang Hyang Widi, nasibku akan seperti ini. Manusia hanya bisa menjalaninya. Kalau toh pada akhirnya saya mati dalam peperangan nanti, saya tidak akan pernah menyesalinya. Saya mau pulang, Paman. Paman tunggu aku di sini atau di medan laga," kata Ranggalawe dengan jiwa yang terluka, lalu pergi meninggalkan Lembu Sura.
Lembu Sura termenung beberapa saat. Ia mendengar semua keluh kesah keponakannya. Rasa kasihan, iba, dan bersalah bercampur. Ia mengakui bahwa Ranggalawe adalah ksatria jujur dan tanpa pilih tanding, serta pernah berjuang bersama menghadapi musuh.
42
Rasa bersalah muncul karena ia tidak dapat mengubah keputusan Ranggalawe
yang terlanjur diambil. Lembu Sura masih berdiri di tempatnya dan belum beranjak. Ia melihat Ranggalawe telah berada di atas kudanya. Beberara pengikut Ranggalawe yang selama ini ikut mengabdi di Majapahit memilih bergabung dengan Ranggalawe. Mereka berjumlah kurang lebih seratus orang dan diketuai Rakiyan Gagarang dan Rakiyan Tambakwisthi. Ranggalawe berada di depan dan diikuti oleh para pengikutnya. Ketika hendak meninggalkan istana, Ranggalawe masih sempat bertemu dengan Pangrupak dan Tanjeg Reneng yang ditugasi oleh Raja Wijaya untuk memata-matai sepak terjang Ranggalawe dan pengikutnya.
"Hei, Pangrupak dan Tanjeg Reneng, orang terkasih Baginda Raja Wijaya. Mengapa masih juga kamu memata-mataiku. Apa kamu ingin membunuhku di tengah Jalan?"
Kedua mata-mata itu tidak mampu berkata apa-apa. Mereka tampak sangat ketakutan dan gemetaran tubuhnya.
"Kenapa diam saja?"
"Ampun, Paman Ranggalawe. Saya hanya bisa memberi saran kepada Paman. Sebenarnya , Paman Ranggalawe adalah abdi terkasih Baginda Wijaya. Paman jangan salah paham, " kata Tanjeg Reneng penuh ketakutan.
Ranggalawe hanya menganggap biasa ucapan Tanjeg Reneng. Sambil terus berlalu, Ranggalawe masih mengumbar ancaman, "Hei, orang-orang Majapahit. Tunggulah saatnya tiba. Berhati-hatilah mulai sekarang . Kalian telah mengecewakanku. Siapkan jiwa dan ragamu. Asahlah pedang dan pisau, serta berlatih lebih giat."
43
5. KEMBALI KE TUBAN
Ranggalawe dan pengikutnya keluar istana menuju Tuban. Jarak antara Majapahit dengan Tuban kira-kira seratus pal. Untuk sampai Tuban, mereka akan melewati puluhan kampung. Sepanjang perjalanan , Ranggalawe memuntahkan rasa kesalnya dengan perbuatan yang menakutkan. Ranggalawe melewati Desa Kemlagi. Warga desa itu lari tunggang Janggang untuk menyelamatkan diri dari kejaran pengikut Ranggalawe. Para orang tua, perempuan, dan anak-anak dibiarkan pergi. Sementara itu, para pemuda dikumpulkan di halaman kepala desa. Rakiyan Gagarang dan Rakiyan Tambakwisthi memimpin kegiatan itu .
"Apakah hanya sejumlah ini wargamu, Ki Buyut Kemlagi?" ·
"Ampun , Tuan Ranggalawe. Hanya itulah wargaku. Tidak ada lagi yang lainnya ."
Kemudian, beberapa orang pengikut Ranggalawe menanyai warga Kemlagi secara bersamaan, dimulai dari Ki Buyut Kemlagi dan seterusnya . Warga Kemlagi diminta untuk menentukan sikap apakah mereka bersedia menjadi pengikut Ranggalawe atau tunduk kepada Raja Majapahit.
"Apakah kamu mau bergabung denganku, Ki Buyut Kemlagi?" tanya seorang pengikut Ranggalawe.
"Ampun , Tuanku. Terus terang saja hamba tidak tahu apa maksud Tuan. Apalagi hamba sudah tua begini. "
"Justru karena kamu orang yang dituakan di sini, kamu dapat mengajak wargamu. Bukan malah menghindar dan berputar-putar kata saja," kata prajurit itu.
44
"Ampun, Tuanku, hamba tidak mau. Selama ini hamba telah dilindungi oleh Baginda Raja Wijaya. Jadi, hamba tidak mau mengkhianatinya," jawab Ki Buyut Kemlagi mantap.
Jawaban Ki Buyut Kemlagi membuat kesal prajurit Ranggalawe. Ki Buyut Kemlagi dianggap melawan sehingga ia dihukum cambuk. Bagi warga yang bernyali kecil, mereka akan memilih bergabung dengan Ranggalawe untuk menghindari hukuman. Namun, bagi warga Desa Kemlagi yang memiliki nyali dan pendirian kuat, mereka akan menyatakan menolak meskipun harus menanggung akibatnya.
Prajurit Ranggalawe memisahkan antara yang mau bergabung dan yang menolak bergabung dengan Ranggalawe. Warga yang mau bergabung hanya sedikit jumlahnya dibandingkan dengan yang menolak. Hal itu membuat bertambah marahnya Ranggalawe.
Ranggalawe memuntahkan kemarahannya dengan mencambuk warga yang menolak. Ada beberapa warga Kemlagi yang berhasil melarikan diri. Mereka bersembunyi terlebih dahulu sebelum melaporkan kejadian itu kepada Raja Wijaya. Para pengikut baru itu diajak Ranggalawe menuju Tuban. Suasana desa menjadi riuh .
Selesai mencari pengikut di Desa Kemlagi, Ranggalawe meneruskan perjalanan ke Tuban. Mereka melewati Desa Mbantub. Di desa itu, Ranggalawe berusaha mencari tambahan pengikut seperti yang dilakukan di Desa Kemlagi. Selama di Desa Mbantub, para pengikut Ranggalawe terus mencari para pemuda untuk dijadikan prajurit Tuban. Namun, hasilnya sama dengan yang terjadi sebelumnya. Banyak warga Mbantub menolak bergabung dengan Ranggalawe.
"Tuanku Ranggalawe, dari Desa Mbantub ini kita hanya memperoleh tambahan dua puluh satu orang saja. Yang lainnya menolak bergabung."
Laporan Rakiyan Gagarang membuat gusar dan kesal Ranggalawe. Sebagai akibatnya, banyak rumah dan harta benda dirusak dan dibakar. Keadaan desa menjadi heboh.
45
Mereka sedapat mungkin melarikan diri dan melaporkan peristiwa itu ke Majapahit. Namun, bagi mereka yang berhasil ditangkap akan mengalami nasib naas. Setelah bermalam di Desa Mbantub, Ranggalawe dan pengikutnya meneruskan perjalanan lagi. Kabar pembakaran rumah di desa itu telah tersebar ke desa sekitarnya. Oleh sebab itu, ketika memasuki Desa Gimbang, rombongan Ranggalawe mendapat perlawanan dari warga desa. Sebagian besar warga Gimbang telah menyingkir ke luar desa sehingga yang terlihat hanyalah rumah-rumah yang hanya dihuni oleh pemuda-pemuda desa di bawah pimpinan Sidi, Klabang Curing, Tosan, dan Cicak Muringgang.
"Brak ... brak ...."
Beberapa prajurit mendobrak pintu rumah warga. Mereka tidak menemukan seorang warga pun . Hal itu menimbulkan kecurigaan Ranggalawe dan prajuritnya . Ranggalawe segera menyuruh prajuritnya untuk lebih waspada.
"Kedatangan kita telah diketahui oleh warga Gimbang . Hati-hati. Mereka pasti merencanakan sesuatu ."
Belum lama berselang, tiba-tiba dari balik semak-semak ada ratusan pemuda Gimbang menyerbu rombongan Ranggalawe. Mereka bersenjata golok, parang, tombak , dan panah. Beberapa anak panah melesat dan mengenai prajurit Ranggalawe. Beberapa prajurit Ranggalawe tersungkur oleh sabetan golok warga Gimbang.
"Bangsat, mereka telah menyerang dari belakang. Ayo, kita rangsek terus," teriak Rakiyan Gagarang memimpin prajurit Ranggalawe.
Pada mulanya prajurit Ranggalawe terdesak, tetapi lambat laun mereka dapat menguasai medan pertempuran. Ranggalawe sangat kesal sehingga ia turun tangan dan ikut merangsek para penyerangnya. Dalam sekejap beberapa penyerang roboh. Rakiyan Gagarang dan Rakiyan Tambakwisthi bertempur dengan segenap kemampuan. Sidi dan Tosan mengeroyok Rakiyan Gagarang. Sementara itu, Klabang Curing dan Cicak Muringgang mengeroyok Rakiyan Tambakwisthi.
46
"Ayo keluarkan semua kepandaianmu . Hadapilah aku," kata Gagarang mengejek kedua musuhnya.
''Tidak usah sombong, pemberontak," teriaknya tak kalah nyali.
·
Sementara itu, prajurit Ranggalawe terus menerjang warga Gimbang. Karban terus berjatuhan di pihak warga Gimbang. Sidi, Tosan, Cicak Muringgang, dan Klabang Curing mulai menyadari bahwa mereka mulai terdesak. Dengan suatu isyarat, keempat orang itu melarikan diri ketika musuhnya lengah. Rakiyan Gagarang dan Rakiyan Tambakwisthi kesal karena musuhnya lolos.
"Jangan dikejar, biarkan mereka lari dan menghadap tuannya," teriak Ranggalawe kepada kedua pembantu utamanya.
"Berhenti!"
Teriakan Ranggalawe itu terdengar sangat nyaring sehingga yang bertempur pun langsung berhenti.
"Hei, warga Gimbang. Apa kalian ingin binasa? Lihatlah pimpinan kalian telah melarikan diri," teriak Ranggalawe menyadarkan musuhnya. Warga Gimbang hanya tinggal 53 orang. Sementara itu, empat orang prajurit Ranggalawe tewas dan delapan orang luka-luka. Kemudian, mereka mengumpulkan para warga Gimbang yang tersisa untuk ditanyai sikapnya. Akhirnya, semua tawanan bersedia bergabung dengan Ranggalawe.
Saat mendekati Tuban, prajurit Ranggalawe semakin bertambah banyak. Tambahan prajurit berasal dari beberapa desa yang berada di sebelah selatan Tuban. Para pimpinan desa di wilayah selatan Tuban selama ini dilindungi ·oleh Adipati Tuban, Adikara. Adikara adalah nama lain dari Arya Wiraraja setelah dilantik Raja Wijaya menjadi Adipati Tuban bersama Ranggalawe. Oleh sebab itu, ketika rombongan Ranggalawe melewati desa Rengel, Barno, Sakdadi, Kabat, Plumpang, Matsekar, dan Merkurak disambut meriah.
47
Penduduk di daerah itu mendukung Ranggalawe. Dari desa-desa itu, Ranggalawe mendapat tambahan prajurit hingga mencapai sembilan ratus orang. Mereka dikumpulkan di alun-alun Tuban. Di Kabupaten Tuban, Adipati Adikara menyambut kehadiran putranya dengan suka cita. Tidak seperti biasanya, Adipati Adikara terlihat muram wajahnya, tetapi beliau berusaha menyembunyikan kegalauan hatinya itu kepada putra satu-satunya.
"Ranggalawe, anakku. Baru tujuh hari yang lalu anakku meninggalkan Tuban menuju Majapahit. Sekarang sudah kembali lagi ke Tuban. Juga, dengan ratusan orang menyertai anakku. Mengapa sebentar sekali anakku menghadap Raja Wijaya. Ada kejadian apa sebenarnya , anakku?"
"Ayahanda. Apa yang Ayahanda katakan itu benar. Anaknda hanya sekejap menghadap Baginda Raja Wijaya."
"Mengapa, anakku? Bukankah Baginda menyambutmu dengan senang hati dan menggembirakan hatimu, anakku?"
"Ayahanda. Mungkin ini memang sudah menjadi takdir. Takdir Anaknda untuk menempuh jalan seperti ini."
"Apa yang membuat kecewa, anakku?"
"Anaknda tahu bahwa Baginda Raja Wijaya selalu memberikan perhatian yang besar dan selalu baik pada Anaknda. Namun, hati Anaknda sangat kecewa ketika mengetahui bahwa Nambi telah dipilih menjadi patih. Hal itu membuat diri Anaknda sangat hina. Mengapa? Karena menurut Anaknda, Nambi tidak pantas menempati jabatan
itu, Ayahanda."
"Duh, Gusti Pangeran Yang Maha Agung. Ampunilah hamba-Mu ini. Ranggalawe, seharusnya engkau selalu ingat bahwa semua yang kita miliki merupakan kebaikan budi Gusti Raja Wijaya, junjungan kita. Kebaikannya merupakan berkah bagi kita semua dan patut selalu kita syukuri."
48
Sampai di Tuban , Ranggalawe mengadukan nasib dan kekecewaan hatinya atas pengangkatan Nambi menjadi Patih Majapahit kepada Ayahandanya, Adipatai Adikara .
49
Tetapi, siapakah Nambi. Kita semua tahu. Ia ksatria pengecut. Apa yang dilakukannya semasa melawan Daha. Dan apa pula jasanya ketika mengusir Tar Tar. Andilnya sangat kecil. Sementara itu, Ayahanda tahu akan andil Anaknda dalam mendirikan Majapahit."
"Di situlah letak permasalahannya, anakku. Engkau merasa sangat berjasa terhadap Majapahit. Sementara orang lain kauabaikan jasa-jasanya. Seharusnya engkau tidak boleh berpikir seperti itu."
'Tapi, Baginda Raja Wijaya telah mewisuda Nambi untuk jabatan Patih Majapahit."
"Ayahanda yakin, Baginda Raja Wijaya punya pemikiran lain. Anakku harus sabar!"
"Ayahanda, hal ini memang sudah takdir Anaknda. Barangkali, Anaknda adalah manusia yang tak tahu adat. Lebih baik Anaknda mati daripada menanggung malu dan menjadi tertawaan orang ."
"Duh, Anakku. Tolong redakan amarahmu. Kurangilah nafsu amarahmu. Jangan kauturuti perasaan iri hati itu. lri hati itu perbuatan tidak baik. Apabila anakku turuti sifat itu, Engkau akan berada di jalan yang salah. Akibatnya, anakku akan rugi sendiri. Hilangkan perasaan sepertf itu. Janganlah iri hati itu kaubawa hingga mati. Jika hal itu terjadi, kematianmu akah sia-sia dan hina."
Ranggalawe mendengar semua nasihat ayahnya. Namun, semua saran itu tidak dapat mengubah rasa sakit yang telah mengakar sampai lubuk hatinya. Ia tidak mau mengurungkan niatnya. Adipati Adikara tidak dapat berbuat banyak. Beliau sangat sedih. Kesedihan itu terlihat dari sikapnya yang terduduk lesu di kursi singgasana meskipun di depannya telah terkumpul puluhan orang abdinya yang berasal dari berbagai daerah Tuban. Hadirin tidak ada yang berani menyela. Di hadapan hadirin itu, Ranggalawe justru menyatakan perang terhadap Majapahit,
"Hei, orang-orang Wilatikta, bukalah matamu Iebar-Iebar, ayo hadapilah aku, Ranggalawe ksatria Tuban. Kerubutlah aku dari segala penjuru. Ranggalawe tidak akan gentar, tidak akan mundur setapak pun."
50
Selanjutnya, Ranggalawe mengangkat Rakiyan Gagarang dan Rakiyan Tambakwisthi sebagai panglima perang. Semua demang, lurah, petinggi dusun, dan penduduk pria, bersedia menyumbangkan jiwa dan raganya untuk membela Adipati Ranggalawe. Para petinggi yang hadir itu adalah Gelap Gambar, Demang Wirapramoda, Wiyogranggarit, Jagarupa, Tumenggita, Wirasastra, Napakbaya, Dhangdali, Sawung lndra, Sulam, Wiraprabara, Kamuruhan, Tumenggung Puspalaya, Langlag Buwana, Wulugrat, dan Baratkatiga.
"Hei, para mantri dan para wargaku. Mari kita hancur. kan Majapahit. Mereka telah menghinaku. Mari kita berjuang bersama-sama. Hidup seia dan mati sekata," seru Ranggalawe memberi semangat para mantri dan warganya.
"Hidup Adipati Adikara, hidup Adipati Ranggalawe, hidup Tuban ," sambut mantri dan warga serentak.
Alun-alun Tuban bergemuruh. Ribuan prajurit berkumpul dengan senjata masing-masing. Mereka siap berkorban untuk membela sakit hati junjungannya. Ranggalawe hatinya berbunga. Ia pun menyuruh semua prajuritnya untuk mempersiapkan diri. Untuk sementara kita alihkan cerita ini ke Majapahit. Pada saat yang bersamaan , seperti halnya di Tuban. Di lstana Majapahit sedang berlangsung pertemuan penting.
Raja Wijaya memanggil patih, para menteri utama, senapati, dan kerabat kerajaan. Sang Raja ingin membahas perkembangan yang tengah terjadi di Tuban. Untuk mengetahui perkembangan di Tuban, beliau meminta laporan dari Patih Nambi.
"Ampun, Baginda Raja Wijaya. Dalam dua hari terakhir, hamba menerima banyak pengaduan dari penduduk yang tinggal di sebelah utara Majapahit. Mereka banyak yang mengungsi karena rumah mereka dibakar oleh Ranggalawe dan banyak di antara pemuda desa di sana yang mengalami nasib naas karena menolak bergabung dengan Ranggalawe."
51
"Bagaimana dan seberapa kekuatan Ranggalawe?"
"Para pengungsi juga mengadukan bahwa Ranggalawe telah berhasil memaksa pemuda-pemuda dari daerah utara itu untuk bergabung dengannya. Hal ini berarti Ranggalawe sungguh-sungguh ingin memberontak Majapahit."
"Ampun , Baginda Raja. Menurut pikiran hamba, Ranggalawe sangat kecewa. Kalau tidak ditangani, ia akan sangat berbahaya. Ia telah berhasil menghimpun kekuatan. Sebaiknya Baginda Raja tidak salah mengutus orang untuk mengatasi Ranggalawe," kata Lembu Sura memberi saran.
"Ya , tentu Paman Sura. Kelihatannya kita akan berperang dengan musuh yang dulu adalah sahabat kita, bahkan, sudah kuanggap saudara sendiri. Oleh sebab itu, aku akan
mengirimkan prajurit dalam jumlah besar. Dan untuk menangani pemberontakan ini aku tunjuk Paman Nambi ke Tuban. Dengan begini, akan kita tunjukkan kepada semua orang bahwa Paman Nambi merupakan orang tepat untuk jabatan itu."
Patih Nambi memberi sembah kepada Baginda Raja Wijaya.
"Baginda Raja Wijaya, sabda Baginda adalah amanah. Hamba menerima dengan senang hati," jawab Patih Nambi berusaha meyakinkan hati rajanya.
"Paman Nambi, bawalah prajurit secukupnya dan yang pantas untuk menghadapi Tuban. Sekarang juga pilihlah prajurit dan peralatan perang yang memadai. Jangan menunda waktu lebih lama. Sebaiknya, kita berperang di jantung wilayah Tuban."
"Titah Baginda akan hamba junjung tinggi. lzinkan hamba meninggalkan pertemuan ini.".
Patih Nambi meninggalkan balai pertemuan diiringi oleh Pahan, Kuing Sawer, Tumasal, Mahisa Puthul, dan Gagak Biru. Para pengawal Patih Nambi itu merupakan prajurit andalan di masa Kerajaan Singasari. Mereka selalu setia terhadap Nambi.
52
Sementara Nambi menyiapkan pasukannya, Raja Wijaya terus melanjutkan sidangnya. Lembu Sura sebagai menteri utama diminta oleh Raja Wijaya untuk merangkap tugas-tugas yang selama ini ditangani oleh Nambi. Dalam sidang itu lebih banyak dibahas tentang segala kemungkinan yang dapat terjadi secara tiba-tiba. Karena Lembu Sura merupakan orang yang telah berpengalaman sebagai abdi di Kerajaan Singasari, ia dapat meyakinkan Raja Wijaya untuk sementara waktu.
Matahari bersinar terang dan cahaya tampak berada di atas kepala . Hal itu berarti hari memasuki tengah hari. Di halaman rumah Nambi telah berkumpul sembilan ratus orang prajurit. Mereka terdiri atas pasukan tombak, pasukan pedang, pasukan panah, pasukan berkuda, dan pasukan gajah. Patih Nambi duduk di punggung salah satu pasukan
gajah. Ia mengenakan pakaian kebesarannya sebagai panglima perang. Sementara itu, Pahan, Kuping Sawer, Tumasal, Mahisa Puthul, dan Gagak Biru duduk di atas punggung kudanya masing-masing. Beberapa saat kemudian , Patih Nambi memberi isyarat kepada pembantu utamanya untuk berangkat. Suara gamelan yang memekak telinga menandai keberangkatan pasukan Majapahit.
"Mahisa Puthul berilah tahu Pahan, Kuping Sawer, Tumasal, dan Gagak Biru untuk melewati Desa Gimbang, terus ke Kedung Pring ," kata Patih Nambi mengatur perjalanan pasukannya.
Mahisa Puthul segera memberi tahu keempat temannya untuk memimpin pasukan masing-masing. Penduduk Majapahit tumpah ruah di sepanjang jalan yang dilalui oleh rombongan Patih Nambi. Ada yang melambai-lambaikan tangannya, memberi isyarat selamat jalan kepada prajurit. Prajurit berasal dari masyarakat. Tentu saja lambaian tangan itu ditujukan untuk sanak keluarga mereka yang sekarang menjadi prajurit Majapahit.
53
Pemandangan itu sangat memilukan. Dalam hati mereka tentu berharap akan dapat bertemu lagi dengan orang-orang yang dicintainya. Matahari bersinar merah dari ufuk barat. Di sebelah selatan, sinar mentari tersapu awan biru. Pemandangan begitu mempesona . Pada saat itulah , pasukan Majapahit tengah memasuki Desa Kedung Pring.
"Tuan Patih, sebentar lagi kita akan memasuki Desa Kdung Pring," kata Mahisa Puthul meminta pendapat Patih Nambi.
"Sebaiknya kita berhenti dan bermalan di situ. Apakah tempat itu aman?"
"Penduduk desa itu sangat loyal kepada Raja Wijaya . Kita akan aman di desa itu, Tuan Patih."
Patih Nambi memerintahkan prajuritnya berhenti untuk bermalam. Kehadiran mereka disambut gembira oleh penduduk setempat. Hampir setiap keluarga memberi makanan dan minuman kepada semua prajurit Majapahit. Keesokan harinya, rombongan Patih Nambi melanjutkan perjalanan lagi menuju Kabat. Jarak Kedung Pring ke Kabat tidak terlalu jauh dan dapat ditempuh dalam waktu setengah hari. Saat memasuki Desa Kabat, rombongan Patih Nambi sangat heran karena keadaannya sangat berbeda dengan di Desa Kedung Pring. Penduduk Desa Kabat mengosongkan rumah masing-masing.
"Desa ini tampak sunyi sekali, Mahisa Puthul?"
"Benar Tuanku, Patih. Kita telah berada di daerah kekuasaan Adipati Tuban."
"Kehadiran kita tentu sudah diketahui oleh prajurit Tuban."
"Tentu. Kita harus tetap waspada sampai kita mendapat laporan dari mata-mata yang telah hamba kirim tadi," sela Pahan kepada Patih Nambi.
Tanpa menunggu waktu lama, Pahan mendapat laporan dari anak buahnya bahwa daerah ini sudah bersih dari jebakan musuh. Patih Nambi memerintahkan prajuritnya memasang tenda sebagai basis prajurit Majapahit.
54
"Kita jangan terlalu masuk wilayah Tuban, Mahisa Puthul. Beri tahu kawan-kawanmu, jangan kita salah perhitungan."
"Benar, Tuan Patih. Daerah ini berada di persimpangan jalan. Ranggalawe pasti akan datang ke sini," sela Kuping Sawer sambil melihat denah yang dibawanya.
Kehadiran prajurit Majapahit di Desa Kabat telah diketahui oleh prajurit Tuban. Suara dari bunyi gamelan ditabuh sahut-sahutan terdengar ke seantero Tuban. Prajurit Tuban yang berdekatan dengan Desa Kabat adalah prajurit yang dipimpin oleh Sawung lndra, Kanuruhan, Rangga Suranggana, dan Gerehkasapta. Keempat orang itu memimpin sekitar 160 prajurit. Barisan prajurit Tuban keluar masuk dusun dan bertemu dengan prajurit Majapahit yang secara kebetulan dipimpin oleh Patih Nambi. Kedua kubu itu bertemu di Dukuh Tambakberas.
Perang pertama antara Tuban dan Majapahit pun tidak dapat dihindarkan. Pertempuran terdengar riuh . Patih Nambi memimpin prajurit Majapahit berhadapan prajurit Tuban yang dipimpin Sawung lndra , Kanuruhan, Rangga Suranggana, dan Gerehkasapta . Patih Nambi dikeroyok Sawung lndra dan Kanuruha. Patih Nambi berusaha mengimbangi kedua musuhnya yang ternyata memiliki kemampuan yang hampir sepadan dengannya. Namun, keadaan itu dimanfaatkan oleh Rangga Suranggana dan Gerehkasapta menghancurkan prajurit yang seperti kehilangan induknya. Dalam sekejap Patih Nambi banyak kehilangan prajuritnya. Dengan sangat leluasa, prajurit Gerehkasapta dan Rangga Suranggana memperdayai musuh. Namun, di saat kritis itu, datanglah prajurit Majapahit di bawah pimpinan Mahisa Puthul dan Pahan datang membantu. Pertempuran yang semula berat sebelah mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Kini Rangga Suranggana, Gerehkasapta, Sawung lndra, dan Kanuruhan menjadi terdesak. Semakin lama pertempuran terlihat tidak seimbang .
55
Akhirnya, Patih Nambi dan prajuritnya dapat menumpas prajurit Tuhan yang dipimpin Kanuruhan, Rangga Suranggana, Gerehkasapta, dan Sawung lndra. Kemenangan Majapahit mendapat sambutan yang membahana sehingga semakin membangkitkan semangat mereka. Patih Nambi segera memerintahkan prajuritnya untuk menyeberang Sungai Tidu. Pasukan yang dipimpin Gagak Biru dan Tumasal diperintahkan maju ke depan terlebih dahulu untuk menghindari serangan tiba-tiba seperti yang dialami Patih Nambi di Dukuh Tambakberas.
56
6. RANGGALAWE DAN NAMBI
Ranggalawe sedang berkumpul dengan kedua istrinya. lstri yang pertama bernama Dewi Mertaraga dan istri yang kedua bernama Tirtawati. Kedua istri Ranggalawe itu samasama berparas cantik. Semenjak Ranggalawe pulang dari Majapahit kedua istrinya sangat sedih dan gundah hatinya. Mereka sangat mencintai dan menyayangi suaminya. Oleh sebab itu, mereka berusaha agar suaminya tidak pergi ke medan laga . Namun, Ranggalawe tak putus asa. Ia tetap berusaha melunakkan hati kedua istrinya . Berbagai hal telah dinasihatkan Ranggalawe kepada istrinya sehingga pada akhirnya kedua istrinya mengizinkannya pergi ke medan laga.
"Dinda Mertaraga dan Tirtawati, pengabdian istri kepada suami itu tidak hanya cinta dan setia saja. Mendukung perjuangan suami itu juga merupakan wujud kasih dan sayang ," kata Ranggalawe berusaha meyakinkan kedua istrinya.
Selanjutnya, Ranggalawe bergegas menuju alan-alun Tuban. Di tempat itu, ia mendengar kabar kematian Rangga Suranggana, Sawung lndra, Gerehkasapta, dan Kanuruhan .
Hati Ranggalawe mendidih seketika.
"Kurang ajar si Nambi. Jangan senang dahulu. Tunggu aku di medan laga, " kata Ranggalawe menyumpahi Nambi.
Kemudian, Ranggalawe memberi arahan strategi dalam menghadapi musuh. Ranggalawe mengatur pasukan Tuban agar dapat mengepung Nambi dari berbagai penjuru. Jaran Pikatan dan Wiyaganingrat ditugasi membantu Tambakwisthi sebagai pasukan pemukul. Dadali dan Sirah berada di sayap kanan untuk membantu Tumenggung Barat
57
Katiga. Tamenggati dan Wulungrat melapis Tumenggung Puspalaya di sayap kiri, sedangkan di bagian belakang diisi oleh Prabangsa, Gelap Ngampar, dan Sapujagat.
"Perhatikan tugas kalian! Apa masih ada yang belum paham dengan tugasnya masing-masing?"
"Jelas, Gusti Adipati," jawab para pimpinan prajurit serentak.
"Sekarang pergilah ke kelompok masing-masing dan berkumpullah seperti rencanaku tadi."
Semua prajurit meninggalkan tempat itu. Namun, langkah Ranggalawe terhenti seketika ketika melihat Ki Ageng Palandhongan berdiri di hadapannya. Ki Ageng Palandhongan adalah ayah mertuanya.
"Ayah. Ada apa kok tergesa-gesa?" tanya Ranggalawe berpura-pura.
"Anakku, Ranggalawe. Ayah mau memberi pendapat apakah hal ini sudah kaupikirkan masak-masak?"
'Tentu saja. Hal ini menyangkut harga diri saya, Ayah. Mereka harus menebus kesalahannya."
"Ranggalawe, bukankah perang masih dapat dihindari? Urungkanlah niatmu selagi masih dapat dihindari. Perang hanya menjawab dua pilihan, yaitu menang dan kalah. Yang menang akan berjaya dan yang kalah akan binasa."
"Hal ini sudah saya pikirkan, Ayah. Semua prajurit telah berkumpul. Mereka tidak boleh menunggu terlalu lama . Hal itu dapat mempengaruhi mental juang prajurit Tuban. Sekarang saya mau berangkat. Doakan saya selamat," kata Ranggalawe sambil memberikan hormat kepada ayah mertuanya.
Ki Ageng Palandhongan hanya bisa berdiri terpaku . Ranggalawe tidak mempan dibujuk. Dewi Mertaraga dan Tirtawati mengiringi kepergian suaminya meninggalkan lstana Tuban. Setelah memeluk kedua istrinya, Ranggalawe berjalan lurus dan tidak menoleh-noleh lagi. Kuda Ranggalawe terus melaju dan diiringi oleh para panglima dan prajurit.
58
Ranggalawe dan prajuritnya menuju Dukuh Plumpon. Tak lama setelah sampai di Plumpon, rombongan Ranggalawe berpapasan dengan Rombongan Patih Nambi. Merek
saling berhadap-hadapan.
"Hei, Nambi. Besar juga nyalimu."
"Hei, Ranggalawe. Tariklah pasukanmu sebelum kamu menyesali perbuatanmu."
"Bedebah, kau, Nambi. Suaramu lantang dan sambong . Selagi ada kesempatan, mari kita uji siapa yang unggul di antara kita," kata Ranggalawe sambil memberi isyarat kepada prajuritnya untuk maju.
Suara denting pedang tak putus-putus dan tak ada jaraknya, saling sahut yang diikuti pula oleh rintihan dan loIongan kesakitan. Dalam waktu sekejap kedua belah pihak telah saling merangsek. Prajurit Tuban bertemu prajurit Majapahit dan Patih Nambi berhadapan dengan Ranggalawe. Patih Nambi dan Ranggalawe mengadu otot, kecerdikan, dan kelincahan. Beberapa puluh pukulan telah berlalu . Namun , kedua orang itu masih bisa saling menghindar. Beberapa saat kemudian banyak senapati, mantri, dan pejabat tinggi Kerajaan Majapahit yang tewas. Lambat laun prajurit Majapahit terdesak.
"Ayo kerahkan semua kekuatanmu, Nambi. Aku siap menghadapimu," teriak Ranggalawe penuh ejek.
"Dasar sombong. Seperti lelaki sendiri saja, " jawab Patih Nambi sambil menyiramkan pasir ke arah muka Ranggalawe.
Ranggalawe menghindar beberapa langkah. Siraman pasir itu dapat dihindari sehingga ia tidak terpedaya oleh Patih Nambi. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Patih Nambi untuk melarikan diri. Ranggalawe tidak dapat mengejar Patih Nambi karena ada pasir halus yang masuk di matanya dan harus dibersihkan terlebih dahulu.
"Dasar pengecut. Beraninya dengan cara licik," guman Ranggalawe di antara pengawalnya.
59
"Sebaiknya, Gusti Adipati menyingkir ke tempat aman untuk menghilangkan debu yang masuk ke mata," kata Tambakwisthi berusaha melindungi junjungannya itu.
"Ya. Sekarang umumkan ke prajurit Majapahit bahwa panglimanya telah melarikan diri," perintah Ranggalawe kepada Tambakwisthi.
"Hei, prajurit Majapahit hentikan perlawanan kalian. Lihatlah junjunganmu, Nambi, telah lari terbirit-birit, hendak menyelamatkan diri sendiri, " teriak Tambakwisthi.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, pertempuran mereda. Banyak prajurit Majapahit memilih melarikan diri seperti Patih Nambi. Akan tetapi, adapula yang tetap bertempur hingga tetes darah penghabisan dan yang lainnya langsung menyerah. Ranggalawe memberi pengampunan kepada prajurit Majapahit yang menyerahkan diri. Dalam perang itu ratusan tentara Majapahit menjadi korban. Di pihak Rangga. lawe, jumlah korbannya tidak begitu banyak.
Di lstana Majapahit sedang berlangsung pertemuan dan dipimpin langsung oleh Raja Wijaya. Pertemuan itu merupakan pertemuan paripurna sehingga para pembesar kerajaan hadir tanpa terkecualikan. Lembu Sura duduk di barisan paling depan sejajar dengan Kebo Anabrang. Di barisan kedua ditempati oleh Pamandhana yang berhadapan dengan Mahisa Pawagal, dan barisan seterusnya duduk para abdi dalem sesuai dengan kedudukannya.
"Paman Sura, bagaimana kabar dari Patih Nambi?"
"Menurut laporan prajurit pengintai, Patih Nambi telah berhasil mengalahkan prajurit Tuban yang dipimpin Gerehkasapta, Rangga Suranggana , Sawung lndra, dan Kanuruhan di Dukuh Tambakberas. Setelah itu, Patih Nambi mengerahkan prajuritnya untuk menyeberangi sungai."
"Terus apa rencana selanjutnya?"
"Tampaknya Patih Nambi akan menggempur Tuban. Setelah itu, kami belum mendapat laporan lagi."
Raja Wijaya mengangguk-anggukan kepalanya. Beliau tampak gembira mendengar laporan Lembu Sura.
60
Belum sempat Raja Wijaya menanyakan perkembangan lebih lanjut, tiba-tiba ada seorang prajurit Majapahit ingin menghadap raja. Prajurit jaga memberi jalan setelah diperiksa terlebih dahulu.
"Siapakah, kamu?"
"Ampun seribu ampun Gusti Baginda Raja. Nama hamba Putut. Hamba ingin melaporkan berita dari medan laga di Tuban. Namun, hamba memohon beribu-ribu ampun karena telah mencari selamat dan hidup sendiri," kata Putut dengan tangan gemetaran tanda sangat ketakutan.
"Jangan berbelit, Putut," bentak Lembu Sura.
"Ya, ya ampun hamba. Hamba berhasil menyelamatkan diri dari kejaran prajurit Tuban. Hamba melarikan diri setelah mendengar Panglima Tuban menyerukan kepada prajurit Majapahit untuk menyerah karena Patih Nambi telah lari terbirit-birit," kata prajurit Putut lebih jelas.
"Kakanda Nambi melarikan diri?" tanya Kebo Anabrang terkesima.
"Ampun , Baginda Raja. Banyak prajurit Majapahit yang naas dan ditawan musuh. Hanya sebagian kecil berhasil meloloskan diri tak tentu arah. Demikian keadaannya, Gusti Raja Wijaya."
Mendengar laporan itu, hati Raja Wijaya gundah. Ranggalawe ternyata dapat mengalahkan Patih Nambi dan prajurit Majapahit juga ditaklukkan dengan mudah. Raja Wijaya sangat murka karena Patih Nambi telah mencari selamat sendiri, sedangkan prajuritnya dibiarkan bertempur sendiri. Raja Wijaya mulai merasakan penyesalan mengapa beliau mengirimkan Patih Nambi untuk menghadapi Ranggalawe. Dalam hatinya, beliau mulai membenarkan pendapat Ranggalawe yang menganggap Nambi tidak pantas mengemban tugas sebagai patih. Akhirnya, Raja Wijaya menyatakan diri untuk ikut turun tangan.
"Paman Sura, siapkan prajurit pengawal yang tangguh untuk mendampingiku."
61
Lembu Sura sotak hatinya setelah mendengar keinginan Raja Wijaya, "Gusti Baginda Raja Wijaya. Sebenarnya semua abdi Paduka sedang menunggu perintah Paduka. Hamba, Dinda Kebo Anabrang, Pamandhana, Mahisa Pawagal dan semua menteri telah siap siaga. Siap menumpas Tuban dan Ranggalawe," kata Lembu Sura menjelaskan.
Raja Wijaya menjadi senang kembali hatinya karena semua abdinya telah berdiri di belakangnya dan siap membela sampai titik darah penghabisan.
"Sekarang kumpulkan semua prajurit. "
Pamandhana dan Mahisa Pawagal segera meninggalkan ruang pertemuan. Mereka memanggil anak buahnya dan setelah memberi penjelasan kepada kepala kelompok, Pamandhana dan Mahisa Pawagal meminta agar semua prajurit dikumpulkan di alun-alun Majapahit. Di balai pertemuan , Raja Wijaya meneruskan diskusinya dengan Lembu Sura, Kebo Anabrang, Sindangdula, dan beberapa senapati yang lainnya. Mereka merencanakan strategi yang ampuh untuk mengalahkan Tuban .
"Gusti, sebaiknya kita atur siasat secermat mungkin agar dapat mematikan gerakan musuh sehingga kita tidak kakah dua kali, " kata Singasardula .
"Sebaiknya kita hindari perang di malam hari. Kita masih ingat peristiwa Brajadenta . Ia tewas ketika perang di malam hari," kata Pamandhana mengingatkan .
Raja Wijaya sangat setuju dengan saran-saran dari abdinya. Beliau lalu memerintahkan Setankobar, Kalangerak, dan Butangasag untuk berangkat terlebih dahulu ke perbatasan Tuban. Di daerah itu, ketiga orang itu diminta untuk mengumpulkan semua prajurit yang lari, mengungsi, atau menyelamatkan diri. Setelah itu , mereka diminta untuk mengamati posisi musuh, menghitung kekuatan persenjataan prajurit yang tersisa dan merancang strategi peperangan yang jitu .
62
"lngat, lakukan tugas itu dengan cermat dan penuh kerahasiaan," sabda Raja Wijaya kepada ketiga abdinya sebelum meninggalkan sidang.
"Baik, Gusti. Akan hamba emban tugas ini dengan sebaik mungkin," sahut ketiganya serentak.
Sidang masih terus berlangsung meski sinar mentari telah beranjak ke sebelah barat. Raja Wijaya masih ingin mengadakan diskusi dengan para abdinya. Berbagai hal telah dibahas dengan cermat, berbagai macam saran telah disampaikan oleh hadirin, tetapi ada pula kritik yang muncul sebagai tanggapan atas saran atau pendapat yang lainnya.
Diskusi berjalan alot, Raja Wijaya mendengarkan semua pendapat dari para abdinya.
"Saya merasa senang mendengarkan berbagai pendapat tadi. Hal itu berarti kita memiliki rasa kebersamaan. Lalu, mari kita pilih atau tentukan cara apa dan bagaimana yang paling baik untuk menghadapi kemelut ini?" sabda Raja Wijaya mengarahkan jalan diskusi.
"Gusti, seperti kita ketahui bersama bahwa kita yang berada di sini menyatakan kesediaan membela Majapahit. Hamba rela berkorban untuk Gusti Wijaya," kata Lembu Sura menegaskan dukungan terhadap Raja Wijaya.
"Ampun , Gusti. Hamba sudah tak sabar saja. Kalau Gusti berkenan, biarkan masalah Ranggalawe ini hamba yang menyelesaikan. Hamba sanggup menghadapi Ranggalawe yang tidak punya tata krama itu," sela kebo Anabrang untuk meyakinkan rajanya agar memilih dirinya sebagai panglima perang.
"Kelihatannya, Dinda Kebo Anabrang ingin mengemban tugas ini, Gusti. Menurut hamba, ia memang orang yang tepat," kata Lembu Sura menimpali keinginan Kebo Anabrang dengan sinis.
"Hamba juga setuju, Gusti," kata Pamandhana menambahkan.
"Kalau begitu, saya tetapkan Kebo Anabrang yang menangani masalah ini. Sekarang, sidang saya nyatakan ditutup.
63
Silakan kalian pulang ke rumah masing-masing guna mempersiapkan diri. Besok pagi kita berkumpul di alun-alun utara," kata Raja Wijaya memberi keputusan dan sekaligus
menutup sidang. Semua hadirin segera bubar. Raja Wijaya segera meningalkan balai pertemuan dan menuju tempat peristirahatannya. Beberapa saat kemudian, balai pertemuan tampak sepi. Namun, Lembu Sura dan Pamandhana tidak segera kembali ke rumah masing-masing.
"Kelihatannya Gusti Wijaya sangat masgul hatinya, Kanda Sura."
"Ya, benar. Tampaknya Kanjeng Gusti merasa sangat berat menghadapi masalah ini. Masalah ini tidak semata berdiri sendiri sebagai masalah Ranggalawe saja. Namun, karena Ranggalawe sebagai putra Kanda Arya Wiraraja, sehingga Raja Wijaya sedih hatinya."
"Memang begitulah keadaannya. lbaratnya, menyingkirkan Ranggalawe berarti mengiris daging sendiri. Ranggalawe punya andil bagi berdirinya negeri ini. Apalagi, jasa Kanda Arya Wiraraja. Bukankah begitu, Kanda Sura."
"Benar, Dinda Pamandhana. Aku sudah memperingatkan Ranggalawe, tetapi tid ak mempan dan ia lebih memilih cara begini."
"Saya juga merasa sayang kepada Ranggalawe. Apa masih perlu untuk dinasihati sekali lagi, Kanda Sura?"
"Siapa yang akan menemuinya, Pamandhana? Kapan? Kita sudah tak punya waktu lagi!"
"Saya akan menasihati. Saya akan ke perbatasan Tuban malam ini secara diam-diam. Akan saya pancing Ranggalawe keluar dari pengawalnya. Jika aku gagal menasihatinya, kita tidak akan merasa bersalah lagi."
Malam itu .pasukan Ranggalawe mendirikan barak di Desa Plumpon. Ratusan tenda didirikan di pinggiran Sungai Tidu yang membatasi Dukuh Plumpon dengan Dukuh Tambakberas. Setiap tenda diisi kurang lebih dua puluh lima orang.
64
Untuk menghemat tenaga, penghuni tenda mengatur jadwal tidurnya. Setiap tenda dijaga oleh tiga orang dan akan dilakukan pergantian setiap empat jam. Ranggalawe berada di sebuah tenda yang terletak di atas tanah gundukan. Posisi ini sangat strategis untuk melihat gerak pasukan musuh. Di tanah bergunduk itu juga berdiri dua tenda yang lebih besar yang ditempati oleh Rakiyan Gagarang dan dua puluh prajurit pengawal.
Malam itu bulan bersinar terang meskipun hanya tampak separuh. Cahaya bulan menerobos tepian sungai. Bintang-bintang pun tak mau ketinggalan. Benda-benda di angkasa itu tampak berkelap-kelip. Detik demi detik berjalan pasti, menit demi menit mengubah menjadi jam, dan jam demi jam telah berlalu. Malam terus berjalan dan hingga tak terasa telah memasuki fajar. Pada saat itu, di pinggir Sungai Tidu, ada seorang yang berpakaian serba hitam dan mukanya ditutupi dengan kain hitam pula. Ia terus berjalan mengendap-endap. Lalu, berhenti sesaat dan berjalan kembali.
Gerakannya sangat mencurigakan. Namun, gerakan orang itu tidak diketahui oleh penjaga. Semakin dekat tenda yang berdiri di atas tanah gundukan, orang itu pun berkelebat lalu menaburkan sesuatu ke sekitar tenda. Tak lama kemudian , para penjaga tenda terkantuk-kantuk. Rupanya para penjaga itu terkena ajian sirep megananda.
Setelah para penjaga tertidur pulas, orang itu berusaha mendekati tenda Ranggalawe. Sebelum masuk ke dalam tenda, tiba-tiba Ranggalawe muncul dari dalam tenda dan langsung menyerang orang yang berpakaian serba hitam itu.
"Kurang ajar, siapa dirimu tengah malam begini berusaha menyerangku," hardik Ranggalawe sambil menyerang orang itu. Rupanya serangan itu mampu dihindari oleh orang itu dengan lincahnya. Selanjutnya, orang itu melarikan diri. Ranggalawe mengejarnya. Sang penyusup ternyata bukan orang sembarangan.
65
Ia melarikan diri dengan gerak lari yang sangat lincah. Ranggalawe mulai sadar bahwa orang yang dihadapinya berilmu tinggi. Oleh karenanya, Ranggalawe pun mengeluarkan kesaktiannya, yaitu ilmu lari seperti angin, yang biasa disebut ajian saiti angin .
"Hei pengecut ... jangan main petak umpet seperti ini," teriak Ranggalawe.
Namun, orang itu tidak menggubris ucapan Ranggalawe. Ia terus berlari tanpa menolehkan kepalanya sekalipun. Tampaknya, orang itu hendak memancing Ranggalawe menjauhi tenda tempat bermalamnya. Ranggalawe mengikuti terus ke mana orang itu berlari. Ternyata orang itu berlari menuju Sungai Tidu dan Rangga. lawe pun terus mengikuti. Namun, orang itu mendadak berhenti di atas sebuah batu besar yang berada di tengah sungai. Suasana sepi mencekam.
"Rupanya kamu kecapaian juga. Sekarang kita telah berada di tengah sungai. Mari kita adu kesaktian di sini, " kata Ranggalawe menghardik orang itu.
"Rupanya, Dinda Ranggalawe sudah melupakan aku. Padahal, kita berpisah baru beberapa hari saja," sahut orang itu penuh sindir.
"Tentu saja aku tidak mau berbelit. Apa kamu takut ketahuan jati dirimu sehingga berpakaian seperti itu? Siapa kamu sebenarnya. Apalagi, menyebut namaku?" Orang itu membuka pakaian dan tutup kepalanya. Ranggalawe mulai mengenali orang itu .
"Rupanya Paman Pamandhana. Ada apa Paman? Apa maksudmu memancingku ke sini? Apa Paman mau membopongku di sini? Aku tidak takut," kata Ranggalawe penuh
waspada agar tidak terjebak musuh.
"Ranggalawe, aku sudah tahu bahwa kamu pasti tidak takut. Semua orang juga tahu bahwa kamu ksatria tanpa pilih tanding. Aku ke sini karena aku ingin kita bicara ."
66
"Paman Pamandhana hanya membuang waktu saja. Sebenarnya semua sudah jelas bahwa aku telah mengangkat senjata. Apalagi?"
"Justru itu masalahnya, Ranggalawe! Aku ke sini karena aku kenai dengan Arya Wiraraja, ayahmu. Ia adalah juga temanku semasa muda di Singasari. Aku sahabat ayahmu. Makanya aku ke sini menemuimu di tengah malam buta dan dingin menusuk tulang ini. Aku sebenarnya juga mengkasihanmu. Sarna dengan kasih sayangnya Gusti Wijaya dan Lembu Sura."
Ranggalawe mulai mengerti apa maksud kedatangan Pamandhana menemuinya. Ia yang semula berdiri garang dan seolah-olah tak ada kompromi mulai menurunkan perasaannya.
"Apakah Nambi memang pantas menjadi patih? Bagaimana menurut Paman?"
"ltulah masalahnya, Ranggalawe. Kamu tidak puas dengan pengangkatannya. Kalau begitu kamu jelas menentang titah raja. Padahal, Gusti Wijaya telah berlaku bijaksana. Seharusnya, kamu renungkan dalam-dalam sabda raja ketika menasihatimu agar kamu bersabar dahulu, dan semua itu hanya menunggu waktu saja ."
"Apa yang diperbuat Nambi. Ia lari tunggang langgang. Patih macam apa itu?"
"Saya tahu bahwa ia memang tidak setangguh kamu . Dan, barangkali apa yang ia lakukan selama ini tidak kamu anggap besar. Namun, tidak seperti itu pemikiran Gusti
Wijaya. Beliau pasti berpikir penuh pertimbangan."
"Sekarang apa keinginan Paman? Apa masih ada yang lain yang ingin Paman sampaikan lagi?"
"Jika kamu ingin mengakui kesalahan, masih ada waktu."
"Apa maksud Paman Pamandhana? Paman menyuruhku bertobat kepada raja? Tidak!"
"Aku hanya mengingatkanmu saja. Barangkali kamu masih bisa berubah pikiran. lngatlah, Raja Wijaya sangat mengasihimu. Sebenarnya, beliau tidak ingin kamu menempuh jalan seperti ini."
67
"Nasi telah menjadi bubur, Paman! Karena itu pulalah , aku lebih memilih siap mati."
Ranggalawe tidak bergeming. Ia tidak dapat dibujuk rayu agar mengurungkan niatnya. Sementara itu, Pamandhana merasa kelu. Ia menatap Ranggalawe dengan lesu. Angin malam menyapu Dukuh Plumpon dan desa-desa sekitarnya dengan kencang. Pamandhana telah memasang penutup kepalanya. Kain penutup kepala Pamandhana berkibar-kibar karena tiupan angin. Embun pagi menyelimuti kawasan Sungai Tidu .
"Ranggalawe, saya berharap pertemuan ini bukan pertemuan terakhir kita," kata Pamandhana sambil melangkah pergi meninggalkan Ranggalawe.
Dalam sekejap langkah-langkah Pamandhana tak terlihat ditelan malam. Ranggalawe masih berdiri di atas batu. Ia tidak segera kembali ke tendanya . Dalam kesendirian itu, jiwa dan pikirannya bergejolak dahsyat. Beberapa saat kemudian, ia mengayunkan langkahnya hendak kembali ke tendanya. Di tengah jalan ia berkata ,
"Semua sudah terjadi. Pantang bagiku untuk mundur!"