Saya melihat kebiasaan memotret makanan sebelum makan sebagai sesuatu yang sudah menjadi bagian dari budaya digital saat ini, terutama ketika kita makan bersama orang lain. Di satu sisi, ini terasa wajar karena makanan sekarang bukan hanya soal rasa, tapi juga pengalaman yang ingin dibagikan.
Sebagai seseorang yang sering berada di lingkungan sosial dan juga terbiasa dengan dunia digital, saya cenderung bersikap fleksibel. Saya tidak mempermasalahkan jika seseorang ingin memotret makanannya, selama dilakukan dengan cepat dan tidak mengganggu momen kebersamaan.
Namun, saya juga cukup peka terhadap konteks. Jika suasana makan bersama sedang hangat, misalnya diskusi penting atau pertemuan keluarga, saya merasa terlalu lama fokus pada foto bisa sedikit mengganggu alur interaksi. Di titik itu, menurut saya prioritasnya tetap ada pada manusia yang hadir, bukan hanya dokumentasi visualnya.
Menurut pengalaman saya, hal kecil seperti ini sebenarnya mencerminkan keseimbangan antara “menikmati momen” dan “mendokumentasikan momen”. Tidak ada yang salah, selama tidak berlebihan dan tetap menghargai orang-orang di sekitar kita.
Pada akhirnya, saya memilih untuk tidak terlalu kaku. Jika orang lain memotret makanan, saya menghargainya. Dan jika saya sendiri ingin melakukannya, saya pastikan itu tidak mengurangi esensi kebersamaan di meja makan.