Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana cara menilai skill dan kompetensi sebagai seorang founder startup, apakah mencukupi atau tidak?

NO noelll7106 5 months ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
42

Banyak profesi memiliki ukuran yang relatif jelas. Seorang programmer bisa dinilai dari kode yang dibuat. Seorang desainer dari portofolio. Seorang akuntan dari ketelitian laporan. Tetapi founder startup berada di wilayah yang lebih kabur. Ia harus bisa menjual, memimpin, merekrut, membaca pasar, mengambil keputusan, menahan tekanan, dan belajar hal baru dengan cepat. Karena perannya campuran, banyak founder bertanya diam-diam: apakah skill saya sebenarnya cukup, atau saya hanya sedang nekat?

Pertanyaan ini sangat wajar. Bahkan founder yang sudah berjalan beberapa tahun pun sering masih memikirkannya. Masalahnya, banyak orang menilai kapasitas founder dari hal yang salah: seberapa pintar bicara, seberapa keren pitch deck, seberapa luas networking, atau seberapa sering memakai istilah startup. Padahal indikator itu sering hanya kosmetik.

Menilai kompetensi founder sebaiknya tidak dilakukan lewat citra, tetapi lewat kemampuan menghasilkan progres di tengah ketidakpastian. Itulah medan asli startup.

Bukan Bertanya “Saya Hebat atau Tidak?”, Tapi “Masalah Apa yang Bisa Saya Selesaikan?”

Salah satu jebakan founder pemula adalah menilai diri secara abstrak. Mereka bertanya, “Apakah saya cocok jadi founder?” Pertanyaan seperti ini terlalu besar dan terlalu samar. Jawabannya mudah dipengaruhi emosi harian.

Lebih akurat jika pertanyaannya diganti menjadi: masalah konkret apa yang saat ini bisa saya pecahkan?

Misalnya, apakah bisa mendapatkan 10 pelanggan pertama? Apakah bisa meyakinkan satu orang hebat bergabung? Apakah bisa membuat produk sederhana lalu mengujinya ke pasar? Apakah bisa bertahan tenang saat strategi awal gagal?

Peter Drucker pernah menekankan bahwa efektivitas lebih penting daripada sekadar kecerdasan. Dalam konteks founder, orang yang bisa menyelesaikan masalah nyata biasanya lebih berharga daripada orang yang terlihat pintar tetapi tidak mengeksekusi apa-apa.

Ukur dari Traksi, Bukan Rasa Percaya Diri

Banyak founder merasa cukup kompeten karena percaya diri tinggi. Sebaliknya, ada yang sebenarnya bagus tetapi merasa kurang terus. Jadi rasa percaya diri bukan ukuran akurat.

Lihat traksi. Bukan harus revenue miliaran, tetapi bukti bahwa tindakan menghasilkan respons nyata. Ada pengguna yang kembali memakai produk. Ada orang yang mau membayar. Ada tim yang mau ikut. Ada investor atau mentor yang tertarik serius. Ada pertumbuhan kecil namun konsisten.

Startup hidup dari validasi eksternal. Dunia tidak menilai seberapa yakin seseorang, tetapi apakah pasar merespons.

Eric Ries dalam The Lean Startup menyebut pentingnya pembelajaran tervalidasi. Artinya, progres bukan sekadar kerja keras, tetapi hasil yang menunjukkan asumsi mulai terbukti.

Lihat Cara Bereaksi Saat Kondisi Buruk

Banyak orang terlihat kompeten saat situasi lancar. Founder sejati justru terlihat ketika keadaan buruk. Saat cashflow menipis, produk ditolak, tim mulai goyah, atau kompetitor bergerak cepat—bagaimana responsnya?

Apakah panik dan menyalahkan orang lain? Apakah menghindar dari keputusan sulit? Atau tetap tenang, mengurai masalah, lalu bergerak?

Daniel Goleman dalam pembahasan tentang kecerdasan emosional menjelaskan bahwa kemampuan mengelola emosi sangat menentukan kualitas kepemimpinan. Dalam startup, ini lebih penting daripada sekadar IQ tinggi.

Jika mampu tetap berpikir jernih di tengah tekanan, itu tanda kompetensi yang sering diremehkan.

Apakah Bisa Belajar Cepat dari Kenyataan?

Founder tidak harus tahu semuanya. Bahkan hampir mustahil. Yang lebih penting adalah kecepatan belajar.

Pasar berubah. Strategi lama usang. Produk perlu diubah. Channel marketing jenuh. Founder yang merasa harus sudah ahli sejak awal akan cepat patah. Founder yang rendah hati dan cepat belajar biasanya lebih tahan lama.

Carol Dweck melalui konsep growth mindset menunjukkan bahwa kemampuan berkembang sering lebih menentukan daripada bakat awal. Di startup, ini sangat terasa. Karena medan bisnis lebih menghargai adaptasi daripada kesempurnaan.

Tanya diri sendiri: ketika salah, apakah defensif atau penasaran? Ketika gagal, apakah malu atau mengevaluasi? Jawaban atas itu sering lebih penting daripada CV.

Bisakah Membuat Orang Lain Mau Bergerak?

Founder bukan pekerja solo biasa. Pada titik tertentu ia membutuhkan orang lain. Karena itu kompetensi founder juga terlihat dari kemampuan memengaruhi tanpa memaksa.

Apakah orang lain percaya pada visinya? Apakah tim merasa berkembang bersamanya? Apakah orang mau membantu walau sumber daya terbatas?

Jim Collins dalam Good to Great menekankan pentingnya menempatkan orang tepat di kursi yang tepat. Namun sebelum itu, founder harus mampu menarik orang-orang baik masuk ke kendaraan yang sama.

Jika sulit membuat siapa pun percaya atau bertahan, bisa jadi masalahnya bukan ide semata, tetapi kapasitas kepemimpinan yang perlu dibangun.

Bandingkan dengan Tahap Bisnis, Bukan dengan Founder Lain

Kesalahan umum lain adalah membandingkan diri dengan founder yang sudah jauh lebih senior. Melihat orang lain yang jago fundraising, piawai bicara media, memimpin ratusan orang, lalu merasa diri tidak cukup.

Itu seperti membandingkan mahasiswa semester awal dengan dosen senior.

Kompetensi founder harus dinilai sesuai tahap perusahaan. Founder tahap awal butuh kemampuan mencari masalah bernilai dan mendapatkan pelanggan pertama. Founder tahap growth butuh kemampuan membangun sistem dan manajemen. Founder tahap scale butuh kepemimpinan organisasi besar.

Jadi jangan menilai diri kurang hanya karena belum punya skill yang memang belum dibutuhkan sekarang.

Tanda Skill Belum Cukup Bukan Berarti Harus Mundur

Ada kalanya jawabannya memang jujur: skill saat ini belum cukup. Itu bukan tragedi. Itu diagnosis.

Banyak founder mengira jika belum siap berarti tidak layak. Padahal kebanyakan founder belajar sambil berjalan. Yang berbahaya bukan kurang skill, tetapi tidak sadar kekurangan skill.

Jika lemah di sales, belajar menjual. Jika buruk di finance, cari mentor atau partner kuat di sana. Jika lemah memimpin, bangun sistem feedback dan belajar manajemen.

Founder yang berhasil sering bukan yang paling lengkap sejak awal, tetapi yang paling sadar celah dirinya dan paling disiplin menutupnya.

Cara Praktis Menilai Diri Sendiri

Coba lihat enam bulan terakhir. Apakah ada progres nyata? Apakah keputusan semakin matang? Apakah jaringan semakin kuat? Apakah tim lebih solid? Apakah pemahaman pasar makin tajam? Apakah kesalahan lama berkurang?

Jika jawabannya ya, berarti kompetensi sedang tumbuh. Jika stagnan dan pola kesalahan sama terus berulang, berarti perlu intervensi serius.

Kompetensi founder bukan status tetap. Ia bergerak seperti otot: bisa dilatih, bisa lemah jika diabaikan.

Penutup

Menilai skill dan kompetensi founder startup bukan soal merasa pintar atau tidak. Bukan soal seberapa keren terlihat di LinkedIn, seberapa lancar presentasi, atau seberapa banyak jargon yang dikuasai.

Ukuran terbaik adalah: apakah mampu menciptakan progres nyata di tengah situasi yang tidak pasti.

Jika bisa belajar cepat, tetap tenang saat sulit, membuat orang lain mau bergerak, dan menghasilkan respons pasar sedikit demi sedikit, maka skill itu sedang cukup untuk tahap saat ini.

Dan jika belum cukup, itu bukan alasan berhenti. Itu hanya peta tentang apa yang perlu dibangun berikutnya.

Pada akhirnya, founder bukan dilahirkan lengkap. Founder dibentuk oleh masalah yang berani dihadapi terus-menerus.

Daftar Pustaka

Collins, Jim. Good to Great. New York: HarperBusiness, 2001.

Drucker, Peter F. The Effective Executive. New York: Harper & Row, 1967.

Dweck, Carol S. Mindset: The New Psychology of Success. New York: Random House, 2006.

Goleman, Daniel. Emotional Intelligence. New York: Bantam Books, 1995.

Ries, Eric. The Lean Startup. New York: Crown Business, 2011.

Menilai kompetensi diri sendiri sering kali terasa seperti mencoba melihat warna mata kita tanpa bantuan cermin; kita bisa merasakan keberadaannya, namun bentuk dan ketajamannya selalu bersifat spekulatif. Dalam dunia rintisan yang serba cepat, seorang pendiri sering kali terjebak dalam paradoks antara kepercayaan diri yang meluap dan keraguan yang melumpuhkan. Masalahnya bukan terletak pada kurangnya keahlian teknis, melainkan pada ketidakmampuan kita untuk membedakan antara kemahiran operasional dan kapasitas psikologis untuk memimpin. Menilai apakah skill kita mencukupi atau tidak memerlukan keberanian untuk melakukan dekonstruksi terhadap narasi "heroik" yang sering kita lekatkan pada peran pendiri. Kita perlu menyadari bahwa kompetensi bukanlah sebuah garis finis yang statis, melainkan sebuah ekosistem yang terus berevolusi seiring dengan kompleksitas masalah yang dihadapi.

Observasi mendalam terhadap dinamika manusia menunjukkan bahwa kegagalan terbesar dalam penilaian diri bermula dari apa yang disebut sebagai bias kognitif. Hal ini mengingatkan pada apa yang ditulis oleh Daniel Kahneman dalam karyanya, Thinking, Fast and Slow, mengenai efek Dunning-Kruger dan ilusi validitas. Sering kali, saat seseorang baru memulai sebuah perjalanan, keterbatasan pengetahuan justru menciptakan rasa percaya diri yang palsu karena ia tidak menyadari betapa luasnya spektrum yang belum ia kuasai. Sebaliknya, mereka yang sudah memiliki keahlian mendalam justru sering merasa tidak cukup karena mereka sadar akan kerumitan yang ada di depan mata. Oleh karena itu, langkah pertama dalam menilai kecukupan skill bukanlah dengan menghitung berapa banyak sertifikat atau gelar yang dimiliki, melainkan dengan mengukur seberapa presisi kita dalam memetakan ketidaktahuan kita sendiri.

Mari kita bayangkan sebuah fragmen kehidupan di mana seorang pendiri startup sedang menghadapi krisis pendanaan pertama. Di titik ini, skill teknis dalam membangun produk mungkin sudah sangat mencukupi, namun kompetensi yang dibutuhkan telah bergeser menjadi diplomasi, regulasi emosi, dan ketahanan terhadap penolakan. Jika ia tetap bersikeras menilai dirinya hanya berdasarkan kemampuannya menulis kode atau merancang strategi pemasaran, ia akan merasa gagal. Padahal, yang terjadi sebenarnya hanyalah ketidaksesuaian antara instrumen yang ia miliki dengan simfoni yang harus ia mainkan. Penilaian kompetensi yang komprehensif harus melibatkan kemampuan untuk melakukan audit terhadap fleksibilitas kognitif kita dalam menghadapi tuntutan peran yang terus bermutasi.

Mindsight dan Integrasi Kapasitas Internal

Kemampuan untuk menilai diri secara akurat sangat bergantung pada apa yang disebut oleh Daniel Siegel dalam bukunya, Mindsight, sebagai kemampuan untuk memandang pikiran kita sendiri. Mindsight memungkinkan kita untuk mengamati arus emosi dan pikiran tanpa terhanyut di dalamnya. Seorang pendiri yang memiliki kapasitas mindsight yang kuat akan mampu melihat saat egonya mulai mengambil alih penilaian objektif. Ia bisa merasakan kapan ia merasa "tidak cukup" karena alasan neurobiologis—seperti kelelahan atau ancaman terhadap harga diri—dan kapan perasaan itu muncul karena memang ada kesenjangan nyata dalam kompetensi strategis yang perlu segera ditambal.

Dalam proses penilaian ini, kita harus berhati-hati terhadap suara interior yang terlalu kritis atau justru terlalu memuja. Kita sering kali menjadi narator yang tidak jujur bagi hidup kita sendiri. Saat menilai kompetensi, kita perlu melihat bagaimana sistem saraf kita merespons tantangan. Apakah kita bereaksi dengan keterbukaan atau dengan defensifitas? Kompetensi seorang pendiri yang "mencukupi" tidak berarti ia mahir dalam segala hal, melainkan ia memiliki integrasi otak yang memungkinkan ia untuk tetap tenang dan berpikir jernih saat ia menyadari bahwa ia tidak memiliki jawaban atas suatu masalah. Kapasitas untuk tetap hadir (presence) di tengah ketidakpastian adalah kompetensi tingkat tinggi yang jarang masuk dalam daftar resume, namun menjadi penentu utama keberhasilan jangka panjang.

Integrasi ini juga mencakup kemampuan untuk menyelaraskan visi jangka panjang dengan eksekusi harian. Kita sering melihat pendiri yang sangat kompeten secara visi namun gagap dalam operasional, atau sebaliknya. Menilai kecukupan di sini berarti meninjau sejauh mana kita mampu menjembatani kedua kutub tersebut. Jika kita menemukan bahwa kita terus-menerus terperangkap di salah satu kutub, itu adalah sinyal ilmiah bahwa kompetensi kepemimpinan kita memerlukan suplemen, entah itu melalui pengembangan diri atau dengan merekrut rekan pendiri yang memiliki atribut komplementer. Penilaian yang jujur adalah sebuah pengakuan akan keterbatasan manusiawi yang justru menjadi fondasi bagi kekuatan organisasi.

Pertumbuhan Melalui Dialektika Kegagalan

Menilai skill juga berarti melihat bagaimana kita berinteraksi dengan kegagalan-kegagalan kecil yang terjadi setiap hari. Hal ini berkaitan erat dengan konsep Growth Mindset yang ditawarkan oleh Carol Dweck. Jika kita menilai kompetensi kita sebagai sesuatu yang tetap dan tidak bisa diubah, maka setiap kesalahan akan terasa seperti vonis bahwa kita "tidak mencukupi". Namun, jika kita melihat kompetensi sebagai otot yang tumbuh melalui beban, maka penilaian kita akan bergeser dari "apakah saya mampu?" menjadi "seberapa cepat saya bisa belajar?". Kecukupan skill seorang pendiri startup sebenarnya diukur dari kecepatannya dalam melakukan kalibrasi ulang terhadap metode kerjanya setelah mendapati kenyataan yang tidak sesuai harapan.

Fragmen lain yang sering kita temui adalah pendiri yang merasa sangat kompeten karena ia selalu bekerja paling keras dan paling lama. Namun, dalam psikologi klinis, kerja keras yang obsesif sering kali merupakan mekanisme kompensasi atas rasa tidak aman (insecurity). Menilai kompetensi melalui jumlah jam kerja adalah sebuah kekeliruan fatal. Kompetensi yang sejati sering kali terlihat pada kemampuan untuk tidak melakukan apa-apa, untuk berpikir secara strategis, dan untuk mendelegasikan tugas kepada mereka yang lebih ahli. Jika kita tidak mampu melepaskan kontrol, itu adalah indikasi bahwa kompetensi manajerial kita belum mencukupi untuk skala yang lebih besar, meskipun skill teknis kita mungkin luar biasa.

Selain itu, kita perlu mempertimbangkan apa yang disebut oleh Nassim Nicholas Taleb sebagai sifat Antifragile. Apakah skill yang kita miliki hanya berguna saat kondisi pasar sedang stabil, atau apakah kompetensi kita justru terasah saat badai datang? Seorang pendiri yang kompeten adalah mereka yang sistem berpikirnya menjadi lebih tajam di bawah tekanan. Menilai diri sebagai "mencukupi" berarti memiliki keyakinan bahwa kegagalan ide tidak akan menghancurkan identitas diri, melainkan justru memberikan informasi baru untuk membangun struktur yang lebih kuat. Ini adalah bentuk resiliensi yang bukan hanya tentang bertahan, tapi tentang memanfaatkan kekacauan untuk evolusi kompetensi.

Keberanian Menjadi Rentan dan Otoritas Intelektual

Ada dimensi lain dalam penilaian kompetensi yang sering diabaikan: yaitu kapasitas emosional untuk menjadi rentan. Brené Brown dalam karyanya, Daring Greatly, menekankan bahwa tidak ada inovasi tanpa kerentanan. Menilai apakah kita cukup kompeten sebagai pendiri berarti bertanya pada diri sendiri: "Apakah saya cukup berani untuk terlihat tidak tahu di depan tim saya?". Banyak pendiri merasa kompetensi mereka menurun jika mereka mengakui kesalahan atau ketidaktahuan. Padahal, dalam psikologi organisasi modern, otoritas intelektual yang paling kuat justru lahir dari transparansi dan kejujuran tentang batas-batas kemampuan kita.

Ketika kita mampu mengakui bahwa "skill komunikasi saya saat ini belum mencukupi untuk menangani konflik tim ini", kita sebenarnya sedang menunjukkan kompetensi metakognitif yang luar biasa. Pengakuan ini memungkinkan kita untuk mencari solusi yang tepat, alih-alih terus menggunakan cara-cara lama yang tidak efektif. Jadi, cara terbaik untuk menilai kecukupan skill adalah dengan melihat seberapa besar jarak antara apa yang kita katakan sanggup kita lakukan dan apa yang sebenarnya kita lakukan. Jika jarak itu terlalu lebar, maka integritas pribadi kita sedang terancam, dan itu adalah kegagalan kompetensi yang paling mendasar.

Kompetensi juga harus dinilai dari perspektif relasional. Kita tidak memimpin dalam ruang hampa. Kecukupan skill kita tercermin dari pertumbuhan orang-orang di sekitar kita. Jika tim kita tidak berkembang, jika mereka merasa tertekan atau tidak berdaya, maka sesungguhnya kompetensi kepemimpinan kita sedang dipertanyakan, berapapun besarnya angka pertumbuhan bisnis yang tercapai. Psikologi mengajarkan bahwa keberhasilan seorang pemimpin adalah bayangan dari keseimbangan internalnya. Oleh karena itu, audit terhadap kesehatan mental, pola relasi, dan kemampuan empati harus menjadi bagian integral dari penilaian kompetensi seorang founder.

Ego, Kerendahan Hati, dan Navigasi Realitas

Sering kali, penghalang terbesar dalam penilaian kompetensi yang akurat adalah ego yang merasa perlu selalu benar. Ryan Holiday dalam Ego is the Enemy memberikan pengingat tajam bahwa ego akan mengaburkan realitas dan membuat kita merasa sudah mencapai puncak, padahal kita baru saja mulai mendaki. Seorang pendiri yang merasa skill-nya sudah "sangat mencukupi" sering kali berada dalam posisi yang paling berbahaya; ia menjadi tertutup terhadap umpan balik dan mulai mengabaikan sinyal-sinyal peringatan dari pasar atau timnya. Penilaian kompetensi yang sehat selalu mengandung unsur kerendahan hati intelektual (intellectual humility).

Kerendahan hati ini bukan berarti merendahkan diri sendiri, melainkan memiliki kesadaran yang akurat tentang posisi kita dalam lanskap pengetahuan yang luas. Kita menilai diri kita mencukupi bukan karena kita tahu segalanya, tapi karena kita tahu bagaimana cara menemukan jawaban, bagaimana cara bertanya, dan bagaimana cara mendengarkan. Dialektika antara kepercayaan diri untuk melangkah dan kerendahan hati untuk belajar adalah ritme jantung dari kompetensi seorang pendiri yang berkelanjutan. Kita harus belajar untuk merasa nyaman dalam ketidaknyamanan saat menyadari bahwa standar yang dibutuhkan oleh startup kita selalu satu langkah di depan kemampuan kita saat ini.

Dalam konteks ini, kita bisa melihat bahwa penilaian kompetensi adalah sebuah proses navigasi yang terus menerus. Kita seperti pelaut yang menggunakan bintang-bintang di langit sebagai panduan, namun tetap waspada terhadap arah angin dan arus air di bawah kapal. Bintang-bintang itu adalah visi dan nilai-nilai kita, sementara angin dan arus adalah dinamika eksternal dan keterbatasan internal kita. Jika kita merasa navigasi kita mulai goyah, itu bukan berarti kita adalah pelaut yang buruk; itu hanya berarti kita perlu menyesuaikan layar atau belajar membaca peta dengan lebih teliti.

Makna di Balik Angka dan Pencapaian

Pada akhirnya, pencarian untuk mengetahui apakah skill kita mencukupi atau tidak harus bermuara pada pertanyaan tentang makna. Viktor Frankl dalam Man's Search for Meaning mengingatkan bahwa manusia membutuhkan tantangan yang bermakna untuk tetap sehat secara psikologis. Menilai kompetensi bukan hanya tentang efisiensi atau profitabilitas, melainkan tentang apakah kita menggunakan kapasitas kita untuk sesuatu yang benar-benar bernilai. Seorang pendiri mungkin memiliki skill yang luar biasa dalam memanipulasi pasar, namun jika ia kehilangan makna dan integritasnya, maka secara psikologis, kompetensinya sebagai manusia yang utuh telah gagal.

Kecukupan skill harus diukur dari dampak yang kita ciptakan, bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi untuk ekosistem yang lebih luas. Kita harus bertanya: "Apakah keberadaan saya sebagai pendiri membuat dunia ini menjadi sedikit lebih teratur, atau justru menambah kekacauan?". Penilaian ini membawa kita pada dimensi etika kompetensi. Kompetensi tanpa etika adalah kekuatan yang destruktif. Oleh karena itu, kecukupan seorang pendiri juga mencakup kematangan moral dan tanggung jawab sosial. Ini adalah standar tertinggi dalam menilai apakah seseorang layak memegang kemudi sebuah perubahan.

Saat kita merenung di penghujung hari, penilaian akhir tentang kompetensi kita tidak akan datang dari dashboard data atau laporan investor. Ia akan datang dari rasa damai di dalam diri yang tahu bahwa kita telah memberikan yang terbaik dengan kapasitas yang kita miliki, sambil tetap membuka diri untuk tumbuh. Kita menyadari bahwa menjadi "cukup" adalah sebuah status yang fana; yang ada hanyalah proses menjadi yang tidak pernah usai. Kita merangkul fakta bahwa kita akan selalu memiliki sisi-sisi yang belum terasah, dan justru di sanalah letak keindahan dari perjalanan seorang manusia yang berani bermimpi dan membangun sesuatu dari ketiadaan.

Penilaian kompetensi yang tuntas adalah sebuah tindakan kasih sayang terhadap diri sendiri. Ia adalah pengakuan bahwa kita adalah makhluk yang terbatas namun memiliki potensi yang tak terbatas. Dengan menerima keterbatasan itu tanpa rasa malu, kita justru membebaskan energi kita untuk fokus pada apa yang benar-benar bisa kita pelajari dan kita perbaiki. Kita berhenti berperang dengan bayangan diri yang kita anggap kurang, dan mulai bekerja dengan realitas diri yang apa adanya. Inilah esensi dari kematangan psikologis seorang pendiri: kemampuan untuk memimpin dari tempat yang utuh, yang mengakui keretakan namun tetap mampu memantulkan cahaya kebijaksanaan bagi dunia di sekelilingnya.


Daftar Pustaka

Brown, B. (2012). Daring Greatly: How the Courage to Be Vulnerable Transforms the Way We Live, Love, Parent, and Lead. New York: Gotham Books.

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. New York: Random House.

Frankl, V. E. (1946). Man's Search for Meaning. Vienna: Verlag für Jugend und Volk.

Holiday, R. (2016). Ego is the Enemy. New York: Portfolio/Penguin.

Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. New York: Farrar, Straus and Giroux.

Siegel, D. J. (2010). Mindsight: The New Science of Personal Transformation. New York: Bantam Books.

Taleb, N. N. (2012). Antifragile: Things That Gain from Disorder. New York: Random House.