Bijih logam merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui atau terbatas keberadaanya. Namun, seiring berjalannya waktu kebutuhan logam terus meningkat. Sedangkan, pasokan bijih logam di bumi begitu terbatas. Oleh karena itu, kita memerlukan metode alternatif untuk mengekstraksi logam dengan cara memanfaatkan organisme hidup. Salah satu metode alternatif tersebut yaitu phytomining (phytoextraction).
Phytomining adalah produksi 'tanaman' logam dengan menumbuhkan tanaman biomassa tinggi yang mengakumulasi konsentrasi logam tinggi (Mamdouh Eissa, 2016). Pada prosesnya, suatu tanaman ditanam di atas tanah dengan kandungan bijih logam berkadar rendah. Lalu, tumbuhan menyerap ion logam melalui akarnya dan memusatkan ion ini di dalam sel-selnya. Kemudian, tanaman dipanen dan dibakar. Sehingga, abu yang didapatkan mengandung senyawa logam.
Proses phytomining berjalan lambat. Namun, kelebihan proses ini dapat dipertimbangkan seperti mengurangi jumlah limbah batuan yang harus dibuang setelah penambangan tradisional. Seperti yang kita ketahui, proses penambangan tradisional mengakibatkan lubang besar di tanah. Proses tradisional ini menimbulkan kebisingan, debu, dan juga merusak habitat alam. Phytomining ini dapat dipertimbangkan untuk mengurangi kerusakan alam.
Referensi :
BBC. 2020. Material Resources. Diakses di : https://www.bbc.co.uk/bitesize/guides/zgb3h39/revision/5. Diakses pada : 29 Agustus 2020
Eissa, Mamdouh. (2016). Phytomining. Egypt : Assiut University.