Bila kita berpergian dalam daerah Minang akan kelihatanlah rumah-rumah gadang itu ada yang masih beratap ijukn dan ada yang sudah beratap seng kilau kemilau ditimpa cahaya matahari. Ada yang dua atap seng dan ada yang empat atapnya.
1. Atapnya melengkung bagaikan mamak yang bertiga
Dalam cerita-cerita klasik Minang disebutkan Rumah gedang Sembilan ruang, sepuluh dengan pendapuran, sebelas dengan anjung tinggi, panjang yang tidak panjang benar, selajang kuda berlari, sekuat kuaran terbang, lumbung tiga sejajaran yang satu dibayau-bayau, yang satu sitinjau laut yang sebuah lagi si anggak lerok, kapuk gedang sela menyela dan sebagainya. Inilah gambaran rumah gadang Putri Gondoriah di Tiku-Pariaman.
Tetapi sudah jelas bahwa panjang rumah gadang seperti yang dilukiskan itu hanya suatu kiasan saja. Tetapi memang disatu nagari di Minangkabau terdapat rumah-rumah gadang yang panjangnya lebih dari seratus meter. Rumah gadang itu terbagi atas puluhan petak dihuni oleh satu keluarga. Rumah gadang seperti ini kedapatan di Sulit Air. Kesamaan rumah gadang Sulit Air ini ialah dengan rumah larik di Sungai Penuh (Kerinci) hanya tipenya berbeda.
Sebagai sudah dikatakan bentuk atap rumah gadang itu dalam berbagai daerah agak berbeda, ada yang dambin, ada yang bagaikan elang akan terbang ada yang menancap kelangit, dan sebagainya. Tetapi dalam bahagian dalamnya hampir sama, dan ada yang beranjung dan ada yang tidak.
Malahan di Koto nan Empat, ada rumah gadang yang memakai tingkap peranginan dan kabarnya itu ialah rumah raja di zaman dahulu. Bentuk ini dapat dilihat dalam istana Seri Menanti di nagari Sembilan dan barangkali model inilah yang dibawa keturunan orang Minangkabau Nagari Sembilan.
Bagian yang sebelah keujung dinamai “ujung” dan kalau ditinggikan dinamakan “anjuang”. Dua petak sebelah kehalaman sama tinggi saja lantainya dan bagian yang ditengah ruangan yang memanjang dari ujung kepangkal dinamakan “labuh kuda”. Dibahagian dinding sebelah belakang yang ditinggikan terdapatlah beberapa buah bilik yang berderet-deret sejak dari ujung sampai kepangkal. Bahagian yang ditinggikan dinamakan “ bandul ”.
Kalau dalam rumah gadang itu ada beberapa orang gadis yang termuda akan mendapat tempat sebelah keujung. Tetapi perkawinan yang dilakukan dimulai dari bahagian yang diujung sekali dulu. Kalau yang adiknya sudah kawin lagi yang tinggal di sebelah ujung digeser kebilik sebelahnya.
Jika ada lagi maka yang digeser duluan digeser lagi sampai kepangkal dan yang di ujung menempati tempat yang disampingnya, demikian seterusnya. Dan orang tua kalau ada ruangan sebelah pangkal sekali disanalah mereka tidur. Dan kalau tidak ada mereka harus bermurah hati membuat tempat ketidurannya dibahagian dapur.
Bilik itu besarnya hanya cukup untuk memasang sebuah ranjang saja dan berhias atau urusan lain-lain diluar bilik itu. Ruangan tempat wanita-wanita itu tahu bagi saudara-saudara nya yang laki-laki. Jadi soal-soal hygenis (kebersihan) tidak diperhatikan dalam kamar-kamar yang berderet-deret itu sebab otomatis jendelanya tidak ada sehingga sering baunya pengap apalagi kalau kurang pemeliharaannya.
Dalam kontruksi rumah gadang modern sekarang hal-hal itu lah yang banyak dirombak. Kamarnya tidak lagi menurut cara lama itu. Labuh kuda sudah dijadikan ruangan-ruangan tempat perabotan yang lazim ditempatkan. Dan pada umumnya pula sebuah rumah gadang penuh dengan ukir-ukiran dan setiap ukiran itu ada namanya sendiri-sendiri, ada pucuk rebung, ada akar cina, ada bernaga-naga, dan lain-lain.
Lumbung sebagai sudah diterangkan bahwa sebuah rumah gadang, kurang lengkap kalau dimukanya tidak ada berdiri lumbung atau rangkiang. Dalam adat tiga rangkinang yang utama seperti sudah disebutkan juga. Tetapi lumbung atau rangkiang itu hanya tempat penyimpanan padi yang sudah dituai. Kalau padi disabit terus diirik ditengah sawah dan tempatnya bukan dalam lumbung, tempat yang sudah bernas namanya “kapuk”.
2. Budaya Gotong Royong
Membangun rumah, dalam membangun rumah gadang di Minangkabau pada zaman dahulu tidak sama dengan membangun sebuah rumah dalam masa ini. Jika orang sekarang bermaksud akan mendirikan rumah dan ia sudah ada simpanan uang ia boleh menghubungi seorang arsitek dan ditaksirlah berapa anggarannya sampai rumah itu selesai, atau ia sendiri yang membeli segala bahan bangunan dan kemudian mengupahkan pembangunannya dan semuanya harus diupahkan dan dibeli.
Tetapi membangun rumah gadang dahulu lebih banyak dihasilkan oleh tenaga gotong royong sebab mereka menyadari benar “bulat air oleh pembunuh, bulat kata oleh mupakat, tuah sekata celaka bersilang”.
Bila seorang mamak akan membangun rumah dibawalah mupakat ninik mamak, penghulu-penghulu yang patut dan lain-lainnya. Pekerjaan pertama ialah kehutan dalam ulayat penghulu itu atau ulayat kampong itu akan mencari tonggak. Tonggak itu diseret beramai-ramai kekampung dan direndam dahulu. Mereka itu tidak diupah hanya disediakan minum dan makan saja.
Setelah tiba masanya mengeluarkan rendaman pekayuan itu sesudah mupakat pekayuan dikeluarkan dan mulai memahat. Kepala tukang sudah membuat baris- baris pada tiang-tiang itu dan beramai-ramai lah mereka memahatnya. Dalam memilih tonggak itu tukang mempunyai pula tilikan dan keprcayaan sebab ada kayu-kayu itu yang tak baik dipergunakan.
Demikianlah sampai menegakkannya masih bergotong royong dan ketika menegakkan keluarga dekat akan membawa beras kain yang dinamakan “tukut tonggak” dan beberapa lembar atap. Sesudah itu barulah pekerjaan diangsur- angsur dengan diupahkan. Bukan main sukarnya membentuk lengkungan pada tulang bubungan itu dan pada satu upacaranya harus disembelih seekor ayam dan didarahi bagian itu.
Perempuan yang kuasa, bila rumah telah selesai, yang mendiaminya bukanlah mamak yang sudah berjirih payah mendirikannya melainkan saudaranya yang perempuan dengan anak-anak perempuannya. Tetapi yang berkuasa dirumah gadang itu tetap penghulu kaum, tungganai atau pendahulu andika.
Sebab tugas seorang mamak dalam rumah sebagai kata adat juga “hanyut dipintasi, hilang dicari, terapung dikait, terbenam diselami, usul dipermainkan, cabul dibuang, siang dilihat-lihat, malam didengar-dengarkan, kemenakan disembah batin, mamak disembah lahir, lupa diingatkan, tertidur dibangunkan, senteng akan dibilai, kurang akan ditambah, panjang dikerat, singkat diulas, jauh dikenangkan, dekat diulangi”.
Karena fungsinya itu tak pernah sebuah rumah gadang di Minangkabau dijual atau digadaikan. Maka kini wanita tertua dalam rumah gadang itulah yang berkuasa dalam rumah gadang itu. Ia mempunyai sebuah peti persimpanan yang istimewa yang dinamakan “ amban puruek”. Anak kuncinya selalu tergantung dipinggangnya. Begitu juga mengendalikan padi, ternak dan biaya-biaya dirumah gadang itu dialah yang menyelenggarakannya.