Sifat dan Keterbatasan Laporan Keuangan
a. Sifat Laporan Keuangan
Laporan keuangan disajikan oleh pihak manajemen perusahaan dengan maksud untuk memberikan gambaran atau informasi tentang posisi keuangan dan perubahan posisi keuangan pada satu periode akuntansi sebagai hasil dari kegiatan usaha yang telah dilaksanakan pada periode yang bersangkutan.
Oleh karena itu, laporan keuangan mempunyai 2 (dua) sifat, yaitu:
1) bersifat historis, dan
2) bersifat menyeluruh.
Laporan keuangan dikatakan bersifat historis, karena laporan keuangan merupakan akumulasi dari seluruh transaksi yang telah terjadi dalam suatu perusahaan. Selanjutnya, laporan keuangan dikatakan bersifat menyeluruh karena merupakan akumulasi dari seluruh kegiatan usaha yang dapat diukur dan dinyatakan dalam satuan uang.
b. Keterbatasan Laporan Keuangan
Apabila kita membaca suatu laporan keuangan, secara spontan kita beranggapan bahwa fakta-fakta yang dinyatakan dalam angka-angka dan dalam satuan uang tersebut, merupakan pencerminan dari suatu keadaan atau kondisi per tanggal atau per periode laporan.
Pandangan tersebut tidak seluruhnya benar, mengingat adanya beberapa keterbatasan dari laporan keuangan, yaitu:
1) laporan keuangan dibuat dalam kurun waktu tertentu (interim report) sehingga sifatnya sementara dan bukan merupakan laporan keuangan yang final (akhir). Akibatnya laporan keuangan tersebut hanya menunjukkan posisi pada saat itu sesuai dengan nilai historis yang telah terjadi;
2) laporan keuangan ditunjukkan dengan angka dan dalam satuan uang sehingga dapat menimbulkan pengertian bahwa laporan keuangan bersifat pasti dan tepat. Akan tetapi pada dasarnya laporan keuangan dibuat berdasarkan estimasi-estimasi yang mungkin saja terjadi penyimpangan. Misalnya taksiran masa manfaat harta tetap, taksiran adanya piutang tak tertagih;
3) adanya pengaruh daya beli (purchasing power) uang yang berubah. Untuk menghitung perkembangan yang sebenarnya dicapai oleh perusahaan, harus diperhatikan perubahan daya beli dari uang;
4) laporan keuangan dinyatakan dalam satuan uang. Oleh karena laporan keuangan merupakan akumulasi dari kejadian atau transaksi-transaksi perusahaan yang dapat dinyatakan (dikuantifikasi) dengan satuan uang maka laporan keuangan tidak mencerminkan berbagai masalah yang tidak dapat dinyatakan dengan uang. Kejadian atau transaksi-transaksi yang tidak dapat dinyatakan dalam satuan uang, tidak akan terlihat dalam laporan keuangan. Akibatnya, pembaca laporan keuangan tidak akan dapat mengerti hal-hal yang tidak dapat dituangkan dalam laporan keuangan tersebut. Sebagai contoh:
* reputasi dan prestasi perusahaan yang meningkat atau menurun;
* adanya resources (sumber daya) tenaga kerja yang jelas merupakan assets, tetapi tidak dapat dinyatakan dalam laporan keuangan;
* adanya pesanan yang tidak dapat dipenuhi;
* kemampuan serta integritas manajer dan karyawan;
* dan lain-lain.
Mengingat keterbatasan-keterbatasan dari laporan keuangan tersebut, pembaca laporan keuangan atau sebelum seseorang yang berkepentingan terhadap laporan keuangan menganalisis atau menafsir suatu laporan keuangan, harus terlebih dahulu mempunyai pengertian yang mendalam tentang keterbatasan-keterbatasan dan asumsi-asumsi pokok dalam penyusunan laporan keuangan.