Lean manufacuring bertujuan untuk mengurus dan mengatur sebuah organisasi dalam memperbaiki produktifitas, efisiensi, dan kualitas dari produk maupun jasa yang dihasilkannya (ITC, 2004)
Menurut Vincent gaspersz (2007), konsep lean adalah konsep perampingan atau efisiensi. Konsep ini dapat diterapkan pada perusahaan manufaktur maupun jasa, karena pada dasarnya konsep efisiensi akan selalu menjadi suatu target yang ingin dicapai oleh perusahaan. Lean sepenuhnya berbicara tentang eliminasi “muda”/ *waste*, oleh karena itu penting bagi kita untuk mengetahui benar konsepnya.
Waste dapat didefinisikan sebagai segala aktivitas kerja yang tidak bernilai tambah dalam proses transformasi input menjadi output sepanjang value stream.*
Lebih dalam lagi The Association for Operation Management (2005) menyebutkan bahwa Lean adalah sebuah filosofi binis yang berlandaskan pada minimasi penggunaan sumber-sumber daya produksi dalam berbabagi aktivitas perusahaan, melalui upaya perbaikan dan peningkatan terus-menerus, yang berfokus pada identifikasi dan eliminasi aktivitas-aktivitas (activities) dalam bidang design, manufaktur, jasa, maupun supply chain management yang berkaitan langsung dengan pelanggan.
Lean manufacturing merupakan metode yang pada awalnya diadaptasi dari sistem produksi perusahaan otomotif Jepang yang sangat sukses yaitu Toyota. Konsep ini kemudian diperkenalkan kepada dunia internasional melalui sebuah buku yang di buat oleh James Womack dan Dan Jones yang berjudul “The
Machine That Changed The World ” pada tahun 1990. Dalam bukunya mereka menyebutkan bahwa dalam menerapkan lean diperlukan 5 prinsip utama yaitu:
-
Define value precisely
Menentukan apa yang menjadi value dari sudut pandang pelanggan
-
Identify the entire value stream
Mengidentifikasi semua tahapan yang diperlukan untuk men- design, order dan produksi barang ke dalam seluruh aliran nilai ( value stream ) untuk mencari non-value adding activity.
-
Value-creating steps flow
Membuat value flow, yaitu semua aktivitas yang memberikan nilai tambah disusun kedalam suatu aliran yang tidak terputus (continuous).
-
Design and provide what the customer wants only when customer wants it (pull)
Mengetahui aktivitas-aktivitas penting yang digunakan untuk membuat apa yang diinginkan oleh customer .
-
Pursue perfection
Perbaikan yang dilakukan secara terus-menerus sehingga waste yang terjadi dapat dihilangkan secara total dari proses yang ada.
Gambar Perbandingan Sebelum & Sesudah Lean
Waste (Pemborosan)
Tujuan utama dari sistem lean adalah mengurangi waste. Waste atau muda dalam bahasa jepang adalah segala sesuatu yang tidak bernilai atau tidak bernilai tambah. Waste adalah sesuatu yang pelanggan tidak mau membayarnya. Ditegaskan kembali oleh Hines dan Taylor (2000) bahwa waste berarti non-value- adding activities , dalam susdut pandang pelanggan. Terdapat dua jenis utama waste (pemborosan), yaitu Type one waste dan Type two waste (Vincent Gaspersz, 2007).
-
Type One Waste adalah segala aktivitas yang tidak bernilai tambah dalam proses transformasi input menjadi output sepanjang value stream , tetapi aktivitas itu pada saat sekarang tidak dapat dihindarkan karena berbagai alasan. contoh, aktivitas inspeksi dan penyortiran dalam sudut pandang lean merupakan aktivitas yang tidak bernilai tambah sehingga merupakan waste, namun aktivitas tersebut tidak dapat terhindari. Demikian pula pengawasan terhadap orang,misalnya yang merupakan aktivitas yang tidak bernilai tambah, namun pada saat sekarang kita masih harus melakukannya, karena orang tersebut baru saja direkrut oleh perusahaan sehingga belum berpengalman. Dalam konteks ini aktivitas inspeksi, penyortiran, dan pengawasan dikategorikan sebagai Type One Waste.
Dalam jangka panjang Type One Waste harus dapt dihilangkan atau dikurangi. Type One Waste ini sering disebut sebagai Incidental Activity atau Incidental Work yang termasuk dalam aktivitas yang tidak bernilai tambah (non valueadding work or activity).
-
Type Two Waste merupakan aktivitas yang tidak menciptkan nilai tambah dan dapat dihilangkan segera. Misalnya, menghasilkan produk cacat (defect) atau melakukan kesalahan ( error ) yang harus dapat dihilangkan dengan segera. Type Two Waste ini sering disebut sebagai Waste saja, karena merupakan benar-benar pemborosan yang harus dapat diidentifikasi dan dihilangkan dengan segera.
Terdapat tujuh jenis pemborosan yang di definisikan oleh Shigeo Shingo (1981, 1988), diantaranya adalah sebagai berikut :
-
Overproduction- memproduksi terlalu banyak melebihi kebutuhan pelanggan atau memproduksi lebih cepat daripada waktu kebutuhan pelanggan yang menyebabkan kelebihan inventory.
-
Defects- yang tergolong defects contohnya bisa berupa kesalahan dokumentasi, permasalahan kualitas produk yang dihasilkan, atau delivery performance yang buruk.
-
Unnecessary Inventory- kelebihan penyimpanan dan delay material maupun produk sehingga mengakibatkan peningkatan biaya dan peningkatan biaya dan penurunan kualitas pelayanan terhadap pelanggan.
-
Inappropriate processing- seperti kesalahan dalam mempergunakan tools saat bekerja sehingga terjadinya kesalahan dalam proses produksi.
-
Excessive transportation- dapat berupa waktu, tenaga, dan biaya akibat pergerakan yang berlebihan dari pekerja, aliran informasi, dan atau material.produk.
-
Waiting- tidak beraktifitasnya (menunggu) pekerja, informasi dan atau barang dalam waktu yang lama yang berdampak terhadap buruknya aliran proses dan bertambahnya lead times.
-
Unnecessary motions- segala pergerakan dari orang atau mesin yang tidak menambah nilai terhadap barang dan jasa yang akan diserahkan kepada pelanggan tetapi hanya menambah biaya dan waktu saja. Atau keadaan tempat kerja yang kurang (tidak ergonomis) yang menyebabkan pekerja melakukan gerkan yang tidak perlu.
Gambar Seven Wastes Shigeo Shingo
Value Stream Mapping (VSM)
VSM merupakan salah satu tool dari lean manufacturing yang pada awalnya berasal dari Toyota production system (TPS) yang dikenal dengan istilah “material and information flow mapping” (WPI, 2007).
Russell dan Shook (1999) mendefinisikan VSM sebagai sebuah powerful tool yang tidak hanya dapat mengidentifikasi inefisiensi proses tetapi juga dapat menjadi panduan dalam melakukan perbaikan.
Lebih jauh lagi Jones dan Womack (2000) menyebutkan bahwa VSM merupakan proses pemetaan secara visual aliran informasi dan material yang bertujuan untuk menyaiapkan metode dan performance yang lebih baik dalam sebuah usulan future state map.
Dari tool ini, informasi tentang aliran informasi dan fisik dalam sistem dapat diperoleh. Selain itu kondisi sistem produksi seperti lead time yang dibutuhkan juga dapat digambarkan dari masing- masing karakteristik proses yang terjadi. Pada gambar di bawah ini, dijelaskan simbol-simbol visual standar yang digunakan dalam pembuatan Value stream Mapping.
Gambar Simbol-simbol yang digunakan dalam Value stream Mapping (VSM)
Terdapat 7 macam detail mapping tools yang paling umum digunakan, yaitu:
Merupakan pendekatan teknis yang biasa dipergunakan pada aktivitas-aktivitas di lantai produksi. Walaupun demikian, perluasan dari tool ini dapat digunakan untuk mengidentifikasikan lead time dan produktivitas baik aliran produk fisik maupun aliran informasi, tidak hanya dalam ruang lingkup perusahaan namun juga pada area lain dalam supply chain.
Konsep dasar dari tool ini adalah memetakan setiap tahap aktivitas yang terjadi mulai dari operasi, transportasi, inspeksi, delay , dan storage , kemudian mengelompokkannya ke dalam tipe-tipe aktivitas yang ada mulai dari value adding activities, necessary non value adding activities, dan non value adding activities.
Tujuan dari pemetaan ini adalah untuk membantu memahami aliran proses, mengidentifikasikan adanya pemborosan, mengidentifikasikan apakah suatu proses dapat diatur kembali menjadi lebih efisien, mengidentifikasikan perbaikan aliran penambahan nilai.
- Supply Chain Response Matrix
Merupakan grafik yang menggambarkan hubungan antara inventory dengan lead time pada jalur distribusi, sehingga dapat diketahui adanya peningkatan maupun penurunan tingkat persediaan dan waktu distribusi pada tiap area dalam supply chain . Dari fungsi yang diberikan, selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan manajemen untuk menaksir kebutuhan stock apabila dikaitkan pencapaian lead time yang pendek. Tujuannya untuk memperbaiki dan mempertahankan tingkat pelayanan pada setiap jalur distribusi dengan biaya rendah.
- Production Variety Funnel
Merupakan teknik pemetaan visual yang mencoba memetakan jumlah variasi produk di tiap tahapan proses manufaktur. Tools ini dapat digunakan untuk mengidentifikasikan titik dimana sebuah produk generic diproses menjadi beberapa produk yang spesifik. Selain itu, tools ini juga dapat diguanakn untuk menunjukkan area bottleneck pada desain proses. Dengan fungsi-fungsi tersebut, selanjutnya dapat digunakan untuk merencanakan perbaikan kebijakan inventory (apakah dalam bentuk bahan baku, produk setengah jadi atau produk jadi).
Merupakan tool yang digunakan untuk mengidentifikasikan letak permasalahan cacat kualitas pada rantai suplai yang ada. Evaluasi hilangnya kualitas yang sering terjadi dilakukan untuk pengembangan jangka pendek. Tools ini mampu menggambarkan tiga tipe cacat kualitas yang berbeda, yaitu sebagai berikut:
-
Product defect
Cacat fisik produk yang lolos ke customer karena tidak berhasil diseleksi pada saat proses inspeksi.
- Scrap defect
Sering disebut juga sebagai internal defect , dimana cacat ini masih berada dalam internal perusahaan dan berhasil diseleksi pada saat proses Inspeksi.
-
Service defect
Permasalahan yang dirasakan customer berkaitan dengan cacat kualitas pelayanan. Hal yang paling utama berkaitan dengan cacat kualitas pelayanan adalah ketidaktepatan waktu pengiriman (terlambat atau terlalu cepat). Selain itu dapat disebabkan karena permasalahan dokumentasi, kesalahan proses packing maupun labeling , kesalahan jumlah (quantity) , dan permasalahan faktur.
-
Demand Amplification Mapping
Peta yang digunakan untuk memvisualisasikan perubahan demand di sepanjang rantai suplai. Fenomena ini menganut law of industrial dynamics , dimana demand yang ditransmisikan disepanjang rantai supplai melalui rangkaian kebijakan order dan inventory akan mengalami variasi yang semakin meningkat dalam setiap pergerakannya mulai dari downstream sampai dengan upstream . Dari informasi tersebut dapat digunakan dalam pengambilan keputusan dan analisa lebih lanjut baik untuk mengantisipasi adanya perubahan permintaan, me- manage fluktuasi, serta evaluasi kebijakan inventory .
Menunjukkan berbagai option sistem produksi yang berbeda, dengan trade off antara lead time masing-masing option dengan tingkat inventory yang diperlukan untuk meng- cover selama proses lead time .
Merupakan sebuah tools yang digunakan untuk memahami kondisi rantai suplai di level produksi. Hal ini diperlukan untuk memahami kondisi industri itu, bagaimana operasinya, dan dalam mengarahkan perhatian pada area yang mungkin belum mendapatkan perhatian yang cukup untuk pengembangan.
Pemakaian dari 7 tool diatas didasarkan pada pemilihan yang tepat berdasarkan kondisi perusahaan itu sendiri. Agar lebih mudah maka dapat dilakukan berdasarkan sistem bobot, seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut ini,
Tabel Matrik Seleksi Untuk Tujuh VALSAT
Catatan:
- H (high correlation and usefulness) faktor pengali = 9
- M (Medium correlation and usefulness) faktor pengali = 3
- L (Low correlation and usefulness) faktor pengali = 1
Sedangkan untuk mendapatkan tool mana yang tepat dalam proses mapping digunakan metode dapat dilihat pada tabel berikut ini,
Tabel Matrik Seleksi Untuk Pemilihan VALSAT
(Sumber: Peter Hines and Nick Rich, 2008)
Kolom A berisi tujuh pemborosan yang biasanya terdapat dalam perusahaan. Kolom B merupakan tools pada value stream mapping. Kolom C adalah korelasi antara kolom A dan B dimana nilai korelasi antar keduanya ada 3 macam yaitu high correlation yang memiliki bobot 9 , medium correlation yang memiliki bobot 3, low correlation yang memiliki bobot 1. Kemudian masing-masing bobot dikalikan dengan bobot yang ada pada kolom D setelah didapatkan hasilnya maka dijumlahkan dan diletakkan pada kolom E dan nilai yang tertinggi adalah yang terpilih. Pemilihan lebih dari satu tool akan lebih berguna dalam mereduksi waste yang ada di perusahaan
Cycle time, Normal time, Standard time
Cycle time adalah waktu rata-rata yang diperoleh dari data waktu pekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya (Chase dkk, 2007). Sedangkan Normal time adalah waktu kerja yang dibutuhkan oleh seorang pekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya pada kecepatan kerja normal (Niebel,B & Freivalds,A, 2003).
Perhitungan waktu siklus dan waktu normal ditujukan untuk menghitung waktu bahu tiap operator dalam tiap proses kerja. Standard time merupakan waktu yang dibutuhkan oleh seorang pekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan tingkat kemampuan rata-rata yang mana telah meliputi kelonggaran waktu yang diberikan dengan memperhatikan situasi dan kondisi pekerjaan yang harus diselesaikan tersebut (Niebel,B & Freivalds,A, 2003).
Kegunaan dari perhitungan standard time adalah untuk perencanaan kebutuhan tenaga kerja, untuk perkiraan biaya-biaya dalam penentuan upah karyawan, untuk penjadwalan produksi, dan untuk menunjukkan keluaran (output) yang mampu dihasilkan oleh seorang pekerja dalam sehari.
Hubungan antar waste
Semua waste saling bergantung satu dengan yang lainnya dan saling dipengaruhi dan mempengaruhi (Kobayashi, 1995). Wu (2003) melaporkan bahwa over-production memaksa perusahaan untuk menambah tenaga kerjanya sehingga membuat standarisasi menjadi sulit dan hal ini menyebabkan masalah kualitas.
Hubungan antar waste memang sangat kompleks, hal ini disebabkan pengaruh dari tiap waste dapat muncul secara lansung maupun tidak langsung. Hubungan antar waste yang satu dengan yang lain dapat disimbolkan dengan menggunakan huruf pertama pada tiap waste (Rawbdeh, 2005)
- O untuk overproduction
- I untuk inventory
- D untuk defect
- M untuk motion
- P untuk process
- T untuk transportation
- W untuk waiting
Tiap hubungan ditandai dengan symbol garis bawah “_”, contohnya, O_I yang berarti bahwa efek secara lansung dari overproduction terhadap inventory.
Hubungan antar jenis waste memiliki bobot yang berbeda. Oleh sebab itu di butuhkan penilaian untuk mengetahui bobot dari tiap pola hubungan yang erjadi diantara waste tersebut.
Waste Realtionship Matrix
Analisa pengukuran kriteria hubungan antar pemborosan di lakukan dengan menggunakan WRM. WRM merupakan matrix yang terdiri dari baris dan kolom. Setiap baris menunjukkan pengaruh tiap waste terhadap keenam tipe waste lainnya. Sedangkan setiap kolom menunjukkan waste yang dipengaruhi oleh waste lainnya. Diagonal matriks menunjukkan nilai hubungan yang tertinggi seperti yang ditunjukkan pada Tabel dibawah. Hal tersebut mengindikasikan bahwa setiap waste memiliki hubungan yang besar dengan dirinya sendiri (Rawbdeh, 2005).
Tabel Matriks Waste Realtionship Matrix
Tabel Range Division Derajat Kekuatan Hubungan Antar Waste
|Range|Jenis Hubungan|Symbol|
| --- | --- | --- |
|17-20|Absolutely necessary|A|
|13-16|Especially important|E|
|9-12|Important|I|
|5-8|Ordinary Closeness|O|
|1-4|Unimportant|U|
Waste Assessment Questionnaire
Waste assessment questionare dibuat untuk mengidentifikasi dan mengalokasikan waste yang terjadi pada lini produksi (Rawbdeh, 2005). Assessment questionnaire terdiri dari 68 pertanyaan yang berbeda, pertanyaan- pertanyaan tersebut mewakili aktifitas, kondisi maupun tingkah laku dalam lantai produksi yang secara spesifik dapat menghasilkan pemborosan. Beberapa pertanyaan di kelompokkan dalam jenis “ From ” yang berarti bahwa pertanyaan tersebut merujuk terhadap segala jenis pemborosan yang terjadi yang dapat memicu ataupun menghasilkan jenis pemborosan (waste) yang berbeda. Sedangkan pertanyaan yang lainnya mewakili jenis “To ” yang berarti segala jenis waste yang ditimbulkan oleh waste yang lainnya.
Setiap pertanyaan pada waste assessment questionnaire terdiri dari tiga buah jawaban dengan bobot masing-masing : 1, 0.5 dan 0. Pertanyaan dikategorikan ke dalam 4 kelompok yaitu man, machine, material dan method . Tiap pertanyaan tersebut dikelompokkan menjadi beberapa tipe dengan derajat yang sama berdasarkan jawabannya untuk mengembangkan model kuesoner penilaian waste. Nilai akhir dari waste bergantung pada kombinasi jawaban.
Langkah-langkah untuk menganalisa hasil waste assessment questionnaire dengan persamaan algorithm waste assessment :
-
Menghitung jumlah pertanyaan “From” dan “To” dari tipe waste yang sama.
-
Membagi tiap bobot dengan jumlah dari masing-masing tipe pertanyaan (Ni). persamaan dibawah digunakan untuk menghitung score dari waste , di mana W merupakan bobot dari hubungan, Sj merupakan score dari waste dan j merupakan tipe waste dari tiap pertanyaan di nomor k.
Sj = ∑ (Wj.k / Ni) waste j
-
Menghilangkan efek dari jawaban yang nol dengan mencari Fj . Fj merupakan ferukensi dari cells yang berisi bobot yang tidak nol untuk tiap jenis dari waste j .
-
Menganalisa jawaban waste assessment questionnaire . Baris pada tiap tipe waste dikalikan dengan bobot dari tiap jawaban. Hasilnya diberi simbol Xk. Nilai dari tiap kolom di bawah tiap tipe waste dijumlahkan untuk mendapatkan score yang baru (sj) dengan menggunakan persamaan :
untuk tiap tipe waste j
- Jumlah dari cells yang bukan berisi angka nol dihitung untuk mendapatkan frekuensi (fj) . Hal ini dilakukan karena terkadang jawaban dari kuesioner akan memiliki nilai yang sama dengan nol dan kadang-kadang ada pertanyaan yang tidak dapat mengindikasikan faktor dari tiap tipe waste . Berdasarkan jawaban kuesioner, faktor indikasi untuk tiap tipe waste (Yj) dihitung dengan persamaan :
untuk tiap tipe waste j
-
Menghitung nilai persentase “From” dan “To” pada nilai waste matrix dikalikan untuk menganalisa bagaimana tiap tipe waste dipengaruhi waste lainnya. Persentase “From” dan “ To” pada nilai waste matrix dikalikan untuk mendapatkan probabilitas kejadian masing-masing waste (Pj).
-
Menghitung faktor final waste (Yjfinal) dengan persamaan di bawah ini:
Yfinal = Yj x Pj