Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa saja jenis informasi identifikasi risiko dan proses identifikasi risiko?

WI Wina Pujianri 9 years ago

Identifikasi Risiko|690x424

Identifikasi Risiko merupakan usaha untuk menemukan atau mengetahui risiko – risiko yang mungkin timbul dalam kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan atau perorangan. Apa saja jenis informasi dan proses dalam identifikasi risiko?

22

Identifikasi risiko memiliki jenis informasi dan proses, yaitu diantaranya:

Jenis Informasi Identifikasi Risiko

1. Informasi PLESTER (Politik, Lingkungan, Ekonomi, Sosial, Teknologi, dan Regulasi).

Berikut contoh informasi PLESTER:
Contoh plester|612x113

2. Informasi Keuangan

Laporan Keuangan dapat dijadikan rujukan untuk identifikasi risiko, misalnya dengan melakukan ALK dengan rasio-rasio keuangan.

3. Informasi Proses

Didasarkan atas aliran produk dari awal proses hingga akhir. Biasanya perusahaan memiliki diagram alur produksi.
Identifikasi risiko dimulai dari unit yang kecil hingga yang paling besar (perusahaan), misalnya risiko Unit Penjualan dan Unit Periklanan menjadi risiko Bagian Pemasaran, dst. Pertanyaannya apakah semua risiko harus kita identifikasi? Idealnya, ya. Namun, dalam kenyataannya, sulit untuk melakukannya. Risiko bisa muncul di mana saja dan kapan saja, tidak ada habis-habisnya. Proses identifikasi menyeluruh juga akan memakan biaya, energi, dan waktu. Tentu saja, ini menjadi tidak efektif.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut kita menerapkan Hukum Pareto. Ahli ekonomi Vilfredo Pareto (1848-1923) mengamati, pada umumnya, 80% kekayaan negara dikuasai oleh hanya 20% penduduk. Kalau kita terapkan ini dalam manajemen risiko, kita bisa mengatakan, “80% kerugian perusahaan disebabakan oleh hanya 20% risiko yang krusial”. Artinya, jika kita mampu menangani risiko yang krusial (20%) kita dapat menghindari 80% kerugian perusahaan.
Namun demikian, kita tetap perlu mengevaluasi juga titik-titik yang dianggap tidak krusial (tidak kritis) karena di dalam proses yang tidak kritis tersebut mungkin ada risiko yang cukup potensial, karena risiko yang bersifat dinamis.

4. Informasi Aliran Dokumen

Penyimpangan aliran dokumen atau tidak lengkapnya otorisasi , atau menyimpangnya pihak yang member otorisasi, menunjukkan adanya risiko.
Kita dapat melakukan survey terhadap aliran dokumen atau mengevaluasi proses aliran dokumen untuk melihat titik kritis dan mengidentifikasi risiko. Evaluasi proses aliran dokumen memang lebih mudah tetapi sebaiknya pastikan ada tidaknya risiko berdasarkan data historis maupun pendapat para ahli.

5. Informasi Kontrak

Misalnya: kontrak dengan karyawan, pemasok, konsumen, pemerintah, kontraktor, dsb. Risiko dapat timbul dari loop hole (celah) yang ada dalam kontrak yang dapat dimanfaatkan para pihak. Analisis kontrak sebaiknya melibatkan ahli hukum.

Proses Identifikasi Risiko

1. Menentukan unit risiko

Misalnya yang mau diidentifikasi adalah Unit Penjualan, maka risk ownernya adalah unit penjualan.

2. Memahami proses bisnis

Setiap unit memberikan layanan (atau menghasilkan produk) kepada unit yang lain atau kepada pelanggan. Dalam menghasilkan produk/jasa ini, setiap unit melakukan berbagai aktivitas. Dengan memahami proses bisnis, kita bisa mengetahui aktivitas-aktivitas yang ada pada suatu unit risiko. Pada umumnya, proses bisnis terdiri dari 2 kelompok aktivitas, yakni aktivitas utama dan aktivitas pendukung.

3. Menentukan aktivitas yang krusial.

Yang dikatakan “krusial” atau “kritis” adalah apabila unit risiko tidak dapat menghasilkan produk atau jasa oleh karena aktivitas yang bersangkutan terganggu atau tidak berjalannya aktivitas dengan semestinya. Aktivitas yang tidak krusial dapat ‘diabaikan’ karena pengaruhnya tidak signifikan pada produk atau jasa yang dihasilkan.

4. Menentukan barang dan orang yang ada pada aktivitas krusial tersebut.

Siapa saja orang-orangnya ?? apa barang-barangnya??

5. Menentukan bentuk kerugian yang dapat terjadi pada barang dan orang dari aktivitas krusial tersebut.

  • Bentuk kerugian pada orang à cedera, sakit, meninggal, hilang, demonstrasi, mogok kerja, berhenti bekerja, berhalangan, dll.
  • Bentuk kerugian pada barang à rusak, hilang, tidak sesuai, usang, terbakar, tidak berkualitas, dicuri, diselewengkan, tak tertagih, dll.

6. Menentukan penyebab terjadinya kerugian atau risiko

  • Risiko Keuangan: perubahan harga, nilai tukar, dan tingkat bunga.
  • Risiko Operasional
    o Manusia: kompetensi, moral, selera.
    o Teknologi: keuangan, kualitas, kesesuaian.
    o Alam: bencana alam, kondisi alam, makhluk selain manusia.

Mengetahui penyebab risiko sangat penting karena penanganan risiko yang sama akan berbeda jika penyebabnya berbeda. Misalnya, penanganan risiko kebakaran karena listrik berbeda dengan karena tabung gas yang meledak.

7. Membuat daftar risiko

Berisi dua hal penting, yakni Pernyataan Risiko dan Penyebab Risiko. Untuk mengetahui apakah itu sebuah risiko ingat kembali 3 karakteristik risiko:

  • (1) merupakan suatu kejadian;
  • (2) kejadian tsb mengandung kemungkinan; dan
  • (3) jika terjadi akan mengakibatkan kerugian.

Sumber:
https://ipqi.org/manajemen-risiko-identifikasi-risiko/