Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Zoom Fatigue, Apa Penyebabnya?

HA Hanif Mursyida 5 years ago Resolved

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
14

Zoom fatigue adalah keadaan dimana individu kelelahan selama bahkan setelah melakukan zoom meeting. Berikut ini penyebab zoom fatigue:

  1. Otak harus bekerja lebih keras
    Anda harus bekerja lebih keras untuk membaca ekspresi wajah orang dan mendengarkan suara melalui layar komputer. Meskipun itu bukan sesuatu yang Anda sadari, dibutuhkan lebih banyak upaya untuk melakukan percakapan melalui Zoom daripada di kehidupan nyata.
  2. Kita diharapkan untuk 'aktif'. Ada beberapa harapan yang sangat aneh yang datang bersamaan dengan bekerja dari rumah, terlepas dari kekhawatiran pandemi. Beberapa perusahaan mengharuskan karyawannya berpakaian seolah-olah mereka datang untuk bekerja. Yang lain melarang karyawan menerima panggilan di kamar mereka (tidak ideal jika Anda tinggal di studio kecil atau memiliki teman sekamar).
  3. Dan kemudian ada panggilan acak yang terkadang muncul, tanpa pemberitahuan. Berjalan-jalan ke ruang konferensi adalah satu hal ketika Anda sudah berada di kantor, tetapi tiba-tiba harus mempersiapkan diri dan rumah Anda untuk pertemuan tim yang tidak terduga benar-benar berbeda.

referensi

https://www.nationalgeographic.com/science/article/coronavirus-zoom-fatigue-is-taxing-the-brain-here-is-why-that-happens

Ada satu pengalaman yang mulai terasa sangat akrab sejak dunia semakin banyak berpindah ke layar.

Seseorang duduk di depan laptop.
Rapat dimulai.
Wajah-wajah muncul dalam kotak-kotak kecil di layar.

Awalnya terasa biasa saja. Bahkan kadang menyenangkan. Bisa bekerja dari rumah, tidak perlu menghadapi macet, tidak perlu berpindah ruangan.

Namun setelah beberapa jam, sesuatu yang aneh mulai muncul.

Kepala terasa berat.
Mata terasa lelah.
Energi seperti terkuras tanpa alasan yang jelas.

Padahal secara fisik tidak banyak bergerak. Tidak mengangkat barang berat. Tidak berjalan jauh.

Namun tubuh terasa seperti baru melewati hari yang sangat panjang.

Fenomena ini kemudian dikenal dengan istilah Zoom fatigue—kelelahan mental yang muncul setelah terlalu lama berinteraksi melalui video call.

Menariknya, kelelahan ini bukan sekadar perasaan subjektif. Banyak penelitian mulai mencoba memahami mengapa interaksi melalui layar bisa terasa jauh lebih melelahkan dibandingkan percakapan tatap muka biasa.

Dan ternyata jawabannya cukup kompleks.


Ketika Otak Bekerja Lebih Keras Tanpa Kita Sadari

Dalam percakapan normal, manusia memproses banyak informasi sosial secara otomatis.

Ekspresi wajah.
Gerakan tangan.
Postur tubuh.
Nada suara.

Semua ini diproses oleh otak hampir tanpa usaha sadar.

Namun ketika percakapan terjadi melalui layar, banyak sinyal sosial ini menjadi terdistorsi atau hilang.

Resolusi kamera tidak selalu menangkap ekspresi dengan jelas.
Gerakan tubuh sering terpotong oleh frame kamera.
Kontak mata menjadi aneh karena seseorang harus melihat kamera, bukan wajah orang lain di layar.

Akibatnya, otak harus bekerja lebih keras untuk menafsirkan informasi sosial yang tidak lengkap.

Jeremy Bailenson dari Stanford University menjelaskan bahwa video conference menciptakan situasi komunikasi yang tidak alami bagi otak manusia. Dalam penelitiannya tentang Zoom fatigue, ia menunjukkan bahwa otak dipaksa terus menerus menebak sinyal sosial yang biasanya mudah dipahami dalam interaksi langsung.

Dan aktivitas kognitif semacam ini, jika berlangsung terus-menerus, dapat sangat melelahkan.


Wajah Sendiri yang Tidak Pernah Pergi

Ada satu hal yang cukup unik dalam video call.

Saat berbicara dengan orang lain, seseorang juga melihat wajahnya sendiri di layar.

Dalam percakapan normal, manusia tidak melihat dirinya sendiri saat berbicara.

Namun dalam video conference, wajah sendiri menjadi bagian dari layar yang terus terlihat.

Sekilas hal ini tampak sepele.

Namun penelitian dalam psikologi menunjukkan bahwa self-monitoring yang terus menerus dapat meningkatkan kelelahan mental.

Ketika seseorang melihat wajahnya sendiri selama percakapan, otak secara tidak sadar mulai melakukan evaluasi diri.

Apakah ekspresi wajah terlihat aneh?
Apakah posisi duduk terlihat rapi?
Apakah pencahayaan membuat wajah terlihat lelah?

Semua pertanyaan kecil ini berjalan di latar belakang pikiran.

Dan semakin lama percakapan berlangsung, semakin besar energi mental yang terpakai untuk memonitor diri sendiri.

Jeremy Bailenson menyebut fenomena ini sebagai “mirror anxiety”, yaitu stres yang muncul karena seseorang terus-menerus melihat refleksi dirinya sendiri selama komunikasi.


Jarak Fisik yang Tidak Masuk Akal

Ada aspek lain yang sering tidak disadari.

Dalam video call, wajah orang lain sering muncul sangat dekat di layar.

Dalam kehidupan nyata, jarak wajah sedekat itu biasanya hanya terjadi dalam situasi yang sangat intim—misalnya dengan pasangan atau anggota keluarga dekat.

Namun dalam rapat online, wajah rekan kerja bisa muncul sebesar layar laptop.

Bagi otak manusia, ini menciptakan situasi sosial yang agak membingungkan.

Penelitian dalam bidang proxemics—ilmu tentang jarak sosial dalam komunikasi—menunjukkan bahwa manusia memiliki zona jarak yang berbeda untuk berbagai jenis hubungan.

Zona intim
Zona personal
Zona sosial
Zona publik

Video call sering secara tidak sadar menempatkan orang lain dalam zona intim, padahal hubungan sebenarnya bersifat profesional.

Otak harus terus menyesuaikan diri dengan ketidaksesuaian ini.

Dan proses adaptasi ini menghabiskan energi mental.


Beban Kognitif yang Tidak Terlihat

Ada satu aspek lain dari Zoom fatigue yang sering terabaikan.

Dalam percakapan online, jeda kecil dalam audio bisa terasa sangat canggung.

Akibatnya, orang cenderung lebih berhati-hati sebelum berbicara.

Mereka menunggu giliran.
Mereka memastikan tidak memotong pembicaraan.
Mereka memantau apakah suara mereka terdengar jelas.

Semua ini menciptakan cognitive load yang lebih besar dibandingkan percakapan langsung.

John Sweller, yang mengembangkan teori Cognitive Load Theory, menjelaskan bahwa ketika otak harus memproses terlalu banyak informasi sekaligus, kelelahan mental akan meningkat.

Dalam video conference, seseorang tidak hanya mendengarkan percakapan.

Ia juga:

memantau koneksi internet,
memastikan mikrofon tidak bermasalah,
memperhatikan ekspresi wajah di layar,
menunggu giliran bicara,
memastikan dirinya terlihat profesional.

Semua proses ini berjalan bersamaan.

Dan lama-kelamaan, energi mental terkuras.


Kurangnya Mikro-Jeda Sosial

Dalam percakapan tatap muka, ada banyak jeda kecil yang hampir tidak disadari.

Seseorang berjalan ke ruang rapat.
Seseorang menuang kopi.
Seseorang bercanda ringan sebelum diskusi dimulai.

Interaksi kecil ini sebenarnya memberi waktu bagi otak untuk beristirahat.

Namun dalam video meeting, percakapan sering terasa lebih padat.

Satu rapat selesai.
Beberapa menit kemudian rapat berikutnya dimulai.

Tidak ada transisi ruang.
Tidak ada perpindahan fisik.

Tubuh tetap duduk di tempat yang sama.

Akibatnya, otak tidak mendapatkan jeda yang biasanya muncul secara alami dalam interaksi sosial.


Layar yang Menghapus Banyak Hal Manusiawi

Ada satu hal yang sering terasa aneh setelah berjam-jam rapat online.

Percakapan terasa efisien, tetapi juga terasa datar.

Dalam interaksi tatap muka, banyak elemen kecil yang membuat komunikasi terasa hidup.

Nada suara berubah.
Orang tertawa bersama.
Ada gerakan tubuh yang spontan.

Namun dalam video call, banyak elemen ini hilang atau tereduksi.

Kualitas audio membatasi dinamika suara.
Kamera sering hanya menampilkan wajah.
Gerakan tubuh hampir tidak terlihat.

Akibatnya komunikasi terasa lebih “mekanis”.

Dan ketika interaksi sosial kehilangan banyak unsur emosionalnya, percakapan bisa terasa lebih melelahkan daripada menyenangkan.


Mengapa Zoom Fatigue Bisa Sangat Menguras Energi

Jika semua faktor ini digabungkan, gambaran besar mulai terlihat.

Zoom fatigue bukan sekadar kelelahan mata.

Ia adalah kombinasi dari berbagai tekanan kognitif dan sosial.

Otak bekerja lebih keras untuk membaca sinyal sosial.
Otak terus memonitor penampilan diri sendiri.
Otak menghadapi jarak sosial yang tidak alami.
Otak memproses informasi digital tanpa jeda.

Dan semua ini terjadi dalam waktu yang cukup lama.

Tidak heran jika setelah beberapa jam rapat online, seseorang merasa sangat lelah meskipun tubuh hampir tidak bergerak.

Tubuh mungkin diam, tetapi otak bekerja tanpa henti.


Sebuah Renungan

Teknologi sering diciptakan untuk membuat hidup manusia lebih efisien.

Video conference memungkinkan orang berbicara lintas kota, bahkan lintas benua, tanpa harus bepergian.

Namun di balik kemudahan itu, ada satu hal yang sering terlupakan.

Manusia tidak hanya berkomunikasi dengan kata-kata.

Manusia berkomunikasi dengan tatapan mata, dengan bahasa tubuh, dengan jarak, dengan jeda, dengan kehadiran fisik yang tidak selalu bisa diterjemahkan oleh layar.

Ketika semua itu dipadatkan menjadi kotak-kotak kecil di monitor, sesuatu dari pengalaman manusia perlahan berubah.

Dan mungkin itulah sebabnya, setelah menutup laptop di akhir hari, seseorang sering merasa lelah dengan cara yang sulit dijelaskan.

Bukan karena percakapannya terlalu banyak.

Tetapi karena cara manusia terhubung dengan manusia lain melalui layar ternyata jauh lebih rumit bagi otak daripada yang selama ini kita bayangkan.


Referensi

Bailenson, J. N. (2021). Nonverbal Overload: A Theoretical Argument for the Causes of Zoom Fatigue. Technology, Mind, and Behavior.

Sweller, J. (1988). Cognitive Load During Problem Solving: Effects on Learning. Cognitive Science.

Hall, E. T. (1966). The Hidden Dimension. Anchor Books.

Goffman, E. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life. Doubleday.

Beberapa tahun terakhir, ada satu keluhan yang semakin sering terdengar dalam percakapan sehari-hari. Keluhan itu terdengar sederhana, bahkan sedikit aneh pada awalnya.

“Kenapa ya, habis rapat online rasanya capek sekali?”

Padahal jika dipikir-pikir, orang itu hanya duduk di depan layar. Tidak berjalan jauh. Tidak melakukan aktivitas fisik berat. Bahkan kadang ia masih berada di kursi yang sama selama berjam-jam.

Namun setelah beberapa pertemuan daring—melalui Zoom, Google Meet, atau platform lain—banyak orang merasa kelelahan yang aneh. Kepala terasa berat. Konsentrasi menurun. Energi seolah habis, padahal hari belum terlalu sore.

Fenomena ini kemudian dikenal dengan istilah Zoom fatigue.

Istilah ini mulai banyak dibahas sejak masa pandemi ketika sebagian besar interaksi sosial, pekerjaan, bahkan pendidikan berpindah ke ruang digital. Namun yang menarik, fenomena ini tidak hanya dirasakan oleh orang yang tidak terbiasa dengan teknologi.

Bahkan orang yang sangat terbiasa dengan pertemuan daring pun sering mengeluhkan hal yang sama.

Pertanyaannya sederhana tetapi menarik: mengapa berbicara melalui layar bisa terasa jauh lebih melelahkan daripada berbicara secara langsung?

Jawabannya ternyata cukup kompleks, karena melibatkan cara kerja otak, sistem saraf, perhatian manusia, dan bahkan mekanisme biologis yang sangat mendasar dalam interaksi sosial.


Otak Manusia Tidak Dirancang untuk Percakapan Digital

Ada satu kisah kecil yang pernah diceritakan seseorang ketika bekerja dari rumah selama masa pandemi.

Ia mengatakan bahwa sebelum pandemi, ia bisa menghadiri beberapa rapat dalam sehari tanpa merasa terlalu lelah.

Ia berjalan ke ruang rapat.
Berbicara dengan rekan kerja.
Kadang bercanda sebentar sebelum rapat dimulai.

Namun ketika semua rapat berpindah ke ruang virtual, sesuatu terasa berbeda.

Setelah dua atau tiga pertemuan daring berturut-turut, ia merasa pikirannya seperti “penuh”.

Padahal secara logika, ia hanya duduk di depan laptop.

Fenomena ini sebenarnya dapat dijelaskan melalui cara kerja otak manusia dalam memproses komunikasi sosial.

Dalam percakapan tatap muka, otak kita menerima banyak sekali informasi secara simultan.

Ekspresi wajah.
Gerakan tangan.
Bahasa tubuh.
Perubahan nada suara.

Semua sinyal ini diproses secara otomatis oleh berbagai bagian otak, termasuk superior temporal sulcus, amygdala, dan prefrontal cortex.

Informasi sosial ini membantu otak memahami maksud lawan bicara dengan relatif mudah.

Namun ketika percakapan terjadi melalui layar, sebagian besar sinyal sosial tersebut menjadi tidak lengkap atau terdistorsi.

Resolusi video mungkin tidak sempurna.
Gerakan tubuh tidak sepenuhnya terlihat.
Kontak mata terasa aneh karena posisi kamera.

Akibatnya, otak harus bekerja lebih keras untuk menafsirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Interaksi yang biasanya terasa alami berubah menjadi proses kognitif yang jauh lebih berat.


Beban Kognitif yang Tidak Terlihat

Dalam ilmu psikologi kognitif, ada konsep yang disebut cognitive load.

Ini merujuk pada jumlah usaha mental yang dibutuhkan otak untuk memproses informasi.

Pertemuan daring secara tidak langsung meningkatkan beban kognitif ini.

Salah satu penelitian terkenal tentang Zoom fatigue dilakukan oleh Jeremy Bailenson dari Stanford Virtual Human Interaction Lab.

Ia menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang membuat pertemuan virtual jauh lebih melelahkan dibanding interaksi tatap muka.

Salah satunya adalah kontak mata yang berlebihan.

Dalam percakapan normal, seseorang tidak menatap mata orang lain secara terus-menerus.

Ada jeda alami ketika seseorang melihat ke samping, melihat catatan, atau mengalihkan pandangan.

Namun dalam rapat daring, layar sering menampilkan wajah orang lain dalam ukuran besar yang tampak seperti sedang menatap langsung.

Bagi otak manusia, kontak mata yang intens biasanya diasosiasikan dengan situasi yang sangat penting—atau bahkan konfrontatif.

Akibatnya, sistem saraf menjadi lebih waspada daripada biasanya.

Tanpa disadari, tubuh berada dalam keadaan siaga sosial yang terus-menerus.

Dan kondisi siaga yang berkepanjangan sangat melelahkan.


Fenomena Melihat Diri Sendiri

Ada aspek lain dari pertemuan daring yang jarang disadari, tetapi memiliki dampak psikologis yang cukup besar.

Dalam sebagian besar platform video, seseorang dapat melihat wajahnya sendiri selama percakapan berlangsung.

Jika dipikirkan dengan jujur, ini adalah situasi yang sangat tidak biasa dalam kehidupan manusia.

Dalam percakapan sehari-hari, kita tidak berbicara sambil melihat wajah sendiri di cermin.

Namun dalam rapat daring, seseorang bisa melihat ekspresi wajahnya sendiri selama berjam-jam.

Penelitian menunjukkan bahwa self-monitoring yang berlebihan dapat meningkatkan stres dan kelelahan mental.

Otak secara tidak sadar terus mengevaluasi penampilan kita.

Apakah wajah terlihat lelah?
Apakah ekspresi kita terlihat aneh?
Apakah orang lain menilai kita?

Proses evaluasi diri ini mengaktifkan area otak yang terlibat dalam kesadaran diri dan kecemasan sosial, termasuk medial prefrontal cortex.

Akibatnya, energi mental yang biasanya digunakan untuk fokus pada percakapan justru terserap oleh proses pemantauan diri.


Ketika Tubuh Tidak Bergerak, Tetapi Otak Bekerja Keras

Ada paradoks lain dalam fenomena Zoom fatigue.

Ketika seseorang menghadiri rapat secara langsung, ia biasanya berpindah ruangan, berjalan, atau setidaknya mengubah posisi tubuh.

Gerakan kecil seperti ini sebenarnya memiliki fungsi biologis penting.

Gerakan fisik membantu sistem saraf mengatur ulang perhatian dan energi.

Namun dalam rapat daring, seseorang sering duduk dalam posisi yang sama selama waktu yang sangat lama.

Tubuh hampir tidak bergerak, tetapi otak bekerja tanpa henti.

Dalam buku Why Zebras Don’t Get Ulcers, Robert Sapolsky menjelaskan bahwa stres kronis dapat muncul ketika sistem stres tubuh aktif tanpa adanya pelepasan energi fisik.

Ini mirip seperti mesin mobil yang terus menyala tetapi tidak pernah berjalan.

Energi diproduksi, tetapi tidak digunakan.

Akibatnya, tubuh dan pikiran merasa terkuras.

Zoom fatigue sering kali bukan sekadar kelelahan mental, tetapi juga ketidakseimbangan antara aktivitas otak dan aktivitas tubuh.


Ketidakpastian Sosial yang Halus

Dalam percakapan tatap muka, manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk membaca sinyal sosial.

Kita bisa mengetahui kapan seseorang ingin berbicara.

Kita bisa merasakan suasana ruangan.

Kita bisa memahami jeda percakapan secara intuitif.

Namun dalam pertemuan daring, banyak sinyal sosial ini menjadi tidak jelas.

Kadang seseorang berbicara bersamaan dengan orang lain.

Kadang ada jeda aneh karena koneksi internet.

Kadang seseorang terlihat diam, tetapi sebenarnya hanya sedang berpikir.

Ketidakpastian kecil seperti ini mungkin tampak sepele, tetapi bagi otak manusia, ia menciptakan mikro-stres sosial yang terus berulang.

Otak harus terus-menerus memprediksi apa yang sedang terjadi.

Proses prediksi ini melibatkan jaringan otak yang kompleks, termasuk default mode network dan salience network.

Ketika jaringan ini bekerja terlalu keras, seseorang bisa merasa sangat lelah secara mental.


Isolasi Sosial yang Terselubung

Ada satu aspek lain dari Zoom fatigue yang sering terlewatkan.

Pertemuan daring memberikan ilusi interaksi sosial, tetapi sering kali tidak memberikan pengalaman emosional yang sama dengan pertemuan langsung.

Dalam interaksi tatap muka, manusia mengalami berbagai bentuk koneksi yang halus.

Sentuhan ringan.
Tertawa bersama.
Bahasa tubuh yang sinkron.

Semua ini memicu pelepasan hormon sosial seperti oksitosin, yang berperan dalam rasa keterhubungan dan kepercayaan.

Namun dalam percakapan digital, banyak elemen ini hilang.

Akibatnya, seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam dalam pertemuan daring tetapi tetap merasa kesepian secara emosional.

Dan kesepian adalah salah satu faktor yang sangat memengaruhi kesehatan mental manusia.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Affective Disorders menunjukkan bahwa isolasi sosial dapat meningkatkan risiko kelelahan mental dan depresi.


Ketika Teknologi Melampaui Ritme Manusia

Manusia berevolusi selama ratusan ribu tahun dalam lingkungan sosial yang sangat berbeda dari dunia digital saat ini.

Interaksi sosial terjadi dalam kelompok kecil.

Percakapan memiliki jeda alami.

Tubuh bergerak secara spontan.

Namun teknologi modern memungkinkan manusia berada dalam percakapan intens selama berjam-jam tanpa jeda yang cukup.

Otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk ritme komunikasi seperti ini.

Itulah sebabnya Zoom fatigue bukan sekadar masalah kebiasaan teknologi.

Ia adalah pertemuan antara otak manusia yang berevolusi dalam dunia fisik dan teknologi yang menciptakan bentuk interaksi sosial yang sangat baru.


Sebuah Refleksi

Fenomena Zoom fatigue mengingatkan kita pada sesuatu yang sering dilupakan dalam kehidupan modern.

Bahwa manusia bukan hanya makhluk yang berpikir.

Kita juga makhluk yang merasakan, bergerak, dan terhubung secara fisik dengan lingkungan sekitar.

Percakapan bukan hanya pertukaran kata.

Ia juga melibatkan bahasa tubuh, kehadiran, dan energi yang sulit dijelaskan tetapi sangat nyata.

Mungkin itulah sebabnya mengapa setelah seharian berbicara melalui layar, seseorang bisa merasa sangat lelah meskipun tubuhnya hampir tidak bergerak.

Karena jauh di dalam sistem saraf kita, ada bagian dari diri manusia yang masih merindukan sesuatu yang sangat sederhana.

Percakapan yang tidak terputus oleh sinyal internet.

Tawa yang terdengar langsung di ruangan yang sama.

Dan kehadiran manusia lain yang tidak hanya muncul sebagai gambar kecil di layar.


Referensi

Bailenson, J. (2021). Nonverbal Overload: A Theoretical Argument for the Causes of Zoom Fatigue. Technology, Mind, and Behavior.

Sapolsky, R. (2004). Why Zebras Don’t Get Ulcers. Holt Paperbacks.

Sadock, B., Sadock, V., & Ruiz, P. Kaplan and Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry.

Lieberman, M. (2013). Social: Why Our Brains Are Wired to Connect. Crown Publishing.

American Psychiatric Association. DSM-5-TR: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders.