Multitasking, apakah hal yang tepat?
Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
Dalam banyak hal, multitasking sepertinya hal yang bagus dimana kita dapat mengerjakan lebih dari satu hal sekaligus, multitasker secara teoritis lebih produktif. Tetapi meskipun multitasker mungkin tampak lebih baik dalam pekerjaan mereka, beberapa penelitian menunjukkan bahwa multitasking sebenarnya merusak produktivitas. Salah satu studi terbaru menunjukkan bahwa terus-menerus memeriksa handphone saat melakukan pekerjaan lain membuat orang lebih linglung yang cenderung menghambat kinerja daripada membantu.
Mengapa demikian? semakin banyak hal yang dikerjakan bersamaan, semakin terpecah pula fokus seseorang pada masing-masing hal yang dikerjakan. Seseorang menjadi lebih mudah membuat kesalahan. Multitaskin gbukanlah hal yang buruk tetapi, individu harus memahami kemampuan dirinya juga. Multi tasking menjadi hal yang menguntungkan jika seimbang dengan kemampuan individu jangan sampai kinerja semakin buruk karena multi tasking.
referensi
Marty-Dugas, Jeremy & Ralph, Brandon & Oakman, Jonathan & Smilek, Daniel. (2018). The Relation Between Smartphone Use and Everyday Inattention. Psychology of Consciousness: Theory, Research, and Practice. 5. 10.1037/cns0000131.
Ada satu gambaran yang sering dianggap sebagai tanda “hebat” di zaman sekarang: seseorang yang bisa melakukan banyak hal sekaligus.
Membalas chat sambil bekerja.
Mendengarkan meeting sambil membuka tab lain.
Belajar sambil scrolling media sosial.
Dan diam-diam, banyak orang merasa bersalah kalau tidak bisa seperti itu. Seolah-olah fokus pada satu hal saja adalah bentuk keterbatasan.
Padahal, ada sesuatu yang jarang disadari:
yang terlihat seperti multitasking, sering kali sebenarnya adalah pikiran yang terus-menerus terpecah.
Ada keyakinan umum bahwa manusia bisa menjalankan beberapa tugas sekaligus dengan efisien. Tapi penelitian kognitif menunjukkan sesuatu yang berbeda.
dari Stanford pernah meneliti orang-orang yang terbiasa multitasking intens. Hasilnya cukup mengejutkan: mereka justru lebih mudah terdistraksi, lebih sulit menyaring informasi penting, dan memiliki kontrol perhatian yang lebih rendah dibandingkan mereka yang terbiasa fokus pada satu hal.
Ini bertentangan dengan intuisi.
Kita mengira semakin sering multitasking, semakin terlatih otak kita.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Dalam banyak kasus, otak tidak benar-benar melakukan dua hal sekaligus. Ia berpindah dengan sangat cepat dari satu tugas ke tugas lain—disebut sebagai task switching.
Dan setiap perpindahan itu memiliki “biaya”.
memperkenalkan konsep yang sangat menarik: attention residue.
Ketika kita berpindah dari satu tugas ke tugas lain, sebagian perhatian kita tetap tertinggal di tugas sebelumnya.
Jadi ketika kamu sedang mengerjakan sesuatu, lalu membuka chat, lalu kembali lagi ke pekerjaan, sebenarnya kamu tidak pernah kembali dengan fokus 100%.
Sebagian pikiranmu masih tertinggal di tempat sebelumnya.
Dan ketika ini terjadi berulang kali, kualitas perhatian kita perlahan menurun—tanpa kita sadari.
Kalau multitasking tidak efektif, kenapa banyak orang merasa nyaman melakukannya?
Jawabannya bukan karena produktivitas, tapi karena sensasi.
Setiap kali kita berpindah tugas—membuka notifikasi, mengecek sesuatu yang baru—otak mendapatkan sedikit dorongan dopamin.
Itu menciptakan rasa “sibuk”, “bergerak”, bahkan kadang “produktif”.
Padahal, sibuk tidak selalu berarti efektif.
Dalam Thinking, Fast and Slow, menjelaskan bahwa manusia cenderung memilih aktivitas yang terasa ringan dan cepat memberikan kepuasan.
Multitasking sering memberikan ilusi kemajuan, meskipun sebenarnya kita hanya berpindah-pindah tanpa benar-benar menyelesaikan sesuatu secara mendalam.
Ada sisi lain yang lebih sunyi.
Kadang, multitasking bukan hanya soal kebiasaan… tapi tentang menghindari sesuatu.
Ada seseorang yang selalu merasa harus membuka banyak hal sekaligus saat bekerja. Ia jarang benar-benar tenggelam dalam satu tugas.
Ketika ditelusuri lebih dalam, ternyata ada rasa tidak nyaman ketika harus benar-benar fokus.
Karena fokus berarti menghadapi satu hal secara utuh.
Dan di dalamnya, sering muncul hal-hal lain:
Multitasking menjadi semacam “pelarian halus”.
Dengan terus berpindah, kita tidak pernah benar-benar diam cukup lama untuk merasakan ketidaknyamanan itu.
Dan tanpa disadari, kita mengorbankan kedalaman demi menghindari perasaan.
Namun, tidak semua bentuk multitasking itu buruk.
Ada jenis aktivitas yang bisa dilakukan bersamaan tanpa banyak konflik—misalnya berjalan sambil mendengarkan musik, atau melakukan pekerjaan rutin sambil mendengarkan sesuatu yang ringan.
Ini karena salah satu tugas sudah menjadi otomatis, tidak lagi membutuhkan banyak perhatian sadar.
Dalam Working Memory Theory dari , dijelaskan bahwa manusia memiliki beberapa sistem pemrosesan yang bisa berjalan paralel—selama tidak saling bertabrakan.
Masalah muncul ketika dua tugas sama-sama membutuhkan perhatian tinggi, terutama jika keduanya melibatkan proses berpikir yang kompleks.
Dampak terbesar dari multitasking bukan hanya soal efisiensi.
Tapi soal kedalaman.
Ketika kita terus-menerus membagi perhatian, kita jarang masuk ke dalam kondisi deep work—istilah yang dipopulerkan oleh untuk menggambarkan keadaan fokus penuh tanpa gangguan.
Di dalam kondisi itu, seseorang bisa benar-benar memahami sesuatu, menghasilkan ide yang lebih tajam, dan merasa terhubung dengan apa yang ia lakukan.
Tapi kondisi itu membutuhkan satu hal yang semakin langka:
Kesediaan untuk tidak terganggu.
Dan multitasking, pada dasarnya, adalah kebiasaan untuk selalu membuka pintu gangguan.
Orang yang terbiasa multitasking sering merasa cepat lelah, meskipun secara fisik tidak melakukan banyak hal.
Ini bukan kebetulan.
Setiap kali otak berpindah tugas, ia menggunakan energi tambahan. Semakin sering berpindah, semakin besar beban kognitif yang harus ditanggung.
Dan karena proses ini terjadi secara terus-menerus, kelelahan itu terasa “aneh”—tidak jelas sumbernya, tapi nyata.
Seperti pikiran yang tidak pernah benar-benar selesai di satu tempat, tapi juga tidak pernah benar-benar sampai ke tempat lain.
Ada orang yang mencoba kembali fokus pada satu tugas saja.
Awalnya terasa aneh. Bahkan tidak nyaman.
Seperti kehilangan sesuatu.
Seperti dunia menjadi terlalu sunyi.
Padahal, yang hilang bukan produktivitas.
Yang hilang adalah stimulasi yang terus-menerus.
Dan di balik kesunyian itu, perlahan muncul sesuatu yang berbeda:
Pada akhirnya, pertanyaan tentang multitasking bukan hanya soal efektif atau tidak.
Tapi tentang bagaimana kita memilih untuk hadir.
Apakah kita ingin melakukan banyak hal sekaligus…
atau benar-benar mengalami satu hal secara utuh?
Karena sering kali, hidup tidak terasa berat karena terlalu banyak yang harus dilakukan.
Tapi karena perhatian kita tersebar ke terlalu banyak arah—tanpa pernah benar-benar pulang ke satu tempat.
Mungkin pada akhirnya, ini bukan tentang apakah multitasking itu benar atau salah.
Tapi tentang satu hal yang lebih sederhana dan lebih jujur:
di antara semua hal yang kamu lakukan secara bersamaan, berapa banyak yang benar-benar kamu alami dengan utuh?
Ada satu kisah yang selalu teringat ketika membicarakan tentang multitasking.
Saya pernah mengenal seseorang yang terlihat sangat produktif.
Di satu waktu, ia membuka beberapa tab sekaligus, menjawab pesan, menyusun laporan, sambil sesekali melihat notifikasi lain yang masuk.
Dari luar, ia tampak seperti seseorang yang mampu melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan.
Namun suatu hari, dalam percakapan yang lebih tenang, ia berkata,
“Saya capek… tapi anehnya, saya juga merasa tidak benar-benar menyelesaikan apa pun.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyentuh sesuatu yang sering tidak disadari:
kesibukan tidak selalu berarti produktivitas.
Banyak orang percaya bahwa multitasking adalah tanda kecerdasan atau efisiensi.
Mampu melakukan banyak hal sekaligus sering dianggap sebagai kelebihan.
Terutama di dunia yang bergerak cepat, di mana tuntutan datang dari berbagai arah dalam waktu yang bersamaan.
Namun jika dilihat dari cara kerja otak, kenyataannya sedikit berbeda.
Otak manusia tidak benar-benar melakukan banyak tugas kompleks secara bersamaan.
Yang terjadi sebenarnya adalah task switching—berpindah dengan cepat dari satu tugas ke tugas lain.
Setiap kali berpindah, otak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri kembali.
Meskipun jedanya sangat singkat, akumulasi dari perpindahan ini cukup besar.
Penelitian dari Rubinstein, Meyer, dan Evans (2001) menunjukkan bahwa perpindahan tugas dapat menurunkan efisiensi dan meningkatkan kesalahan.
Artinya, semakin sering kita merasa “multitasking,” semakin besar kemungkinan kita kehilangan kualitas dalam setiap pekerjaan.
Ada satu hal yang sering tidak terasa secara langsung: beban mental.
Ketika seseorang mencoba melakukan beberapa hal sekaligus, otaknya harus:
Semua ini membutuhkan energi kognitif yang tidak sedikit.
Saya pernah berbincang dengan seseorang yang berkata,
“Saya tidak berhenti bekerja… tapi kenapa rasanya seperti kehabisan tenaga?”
Jawabannya sering kali bukan pada jumlah pekerjaan,
tetapi pada cara pekerjaan itu dilakukan.
Multitasking membuat otak bekerja lebih keras, bukan lebih cerdas.
Ada sisi lain yang jarang dibahas: multitasking bisa terasa menyenangkan.
Setiap notifikasi, setiap pesan baru, setiap hal kecil yang diselesaikan,
memberikan dorongan dopamin—zat kimia di otak yang berkaitan dengan rasa puas.
Ini membuat seseorang merasa “aktif,” “bergerak,” dan “produktif.”
Namun ada jebakan di dalamnya.
Aktivitas kecil yang cepat memberikan kepuasan instan,
sementara tugas yang lebih besar membutuhkan waktu dan kesabaran.
Akhirnya, otak cenderung memilih hal-hal kecil yang memberikan reward cepat.
Saya pernah mengenal seseorang yang berkata,
“Saya selalu sibuk, tapi hal penting justru tidak selesai-selesai.”
Ini bukan kebetulan.
Multitasking sering menjadi cara halus untuk menghindari pekerjaan yang benar-benar membutuhkan fokus mendalam.
Ada satu hal yang perlahan hilang ketika seseorang terbiasa multitasking: kemampuan untuk hadir sepenuhnya.
Fokus menjadi terpecah.
Perhatian menjadi dangkal.
Dan pikiran jarang benar-benar tenggelam dalam satu hal.
Saya pernah berbincang dengan seseorang yang berkata,
“Saya merasa seperti selalu setengah hadir di mana-mana.”
Kalimat itu menggambarkan sesuatu yang lebih dari sekadar kebiasaan kerja.
Karena ketika perhatian terus terbagi,
bukan hanya pekerjaan yang terdampak,
tetapi juga cara seseorang mengalami hidupnya sendiri.
Kita mulai kehilangan kedalaman, baik dalam bekerja maupun dalam merasakan.
Kelelahan akibat multitasking memiliki karakter yang unik.
Bukan kelelahan karena terlalu banyak melakukan satu hal,
tetapi kelelahan karena terlalu sering berpindah.
Otak tidak pernah benar-benar “menyelesaikan” satu siklus fokus.
Ia terus berada dalam kondisi transisi.
Dan kondisi ini, jika berlangsung terus-menerus,
dapat meningkatkan stres dan menurunkan kemampuan konsentrasi dalam jangka panjang (Ophir, Nass, & Wagner, 2009).
Saya pernah mengenal seseorang yang berkata,
“Saya tidak bisa fokus lama lagi… padahal dulu saya bisa.”
Perubahan ini sering terjadi secara perlahan,
hingga akhirnya terasa seperti bagian dari diri.
Ada hubungan yang menarik antara multitasking dan kecemasan.
Ketika seseorang terus-menerus berpindah dari satu hal ke hal lain,
otaknya tetap berada dalam kondisi “siaga.”
Notifikasi, pesan, dan berbagai tuntutan kecil
membuat sistem saraf tidak benar-benar mendapatkan jeda.
Dalam jangka panjang, ini bisa membuat seseorang lebih mudah merasa gelisah, sulit tenang, dan sulit fokus.
Saya pernah berbincang dengan seseorang yang berkata,
“Kalau saya tidak sibuk, saya justru merasa tidak nyaman.”
Kalimat ini menunjukkan sesuatu yang lebih dalam.
Kesibukan bukan lagi pilihan,
tetapi menjadi cara untuk menghindari keheningan.
Tidak semua bentuk multitasking bermasalah.
Ada aktivitas tertentu yang bisa dilakukan bersamaan tanpa banyak konflik,
misalnya:
Namun untuk tugas yang membutuhkan:
multitasking justru menjadi penghambat.
Karena tugas-tugas seperti ini membutuhkan satu hal yang tidak bisa dibagi: perhatian penuh.
Saya pernah mengenal seseorang yang mencoba melakukan satu perubahan sederhana.
Ia mulai mengerjakan satu hal dalam satu waktu.
Awalnya terasa aneh.
Seperti terlalu lambat.
Seperti “tidak cukup produktif.”
Namun setelah beberapa waktu, ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda.
Pekerjaannya lebih selesai.
Pikirannya lebih tenang.
Dan yang paling menarik, ia merasa tidak terlalu lelah.
Karena fokus yang utuh sering kali lebih hemat energi daripada perhatian yang terpecah.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang multitasking bukan hanya soal cara bekerja.
Ia juga menyentuh cara seseorang menjalani hidupnya.
Apakah kita benar-benar hadir dalam apa yang kita lakukan?
Atau kita selalu terbagi, setengah di sini, setengah di tempat lain?
Saya pernah berbincang dengan seseorang yang berkata,
“Saya selalu merasa dikejar sesuatu… padahal saya tidak tahu apa.”
Kalimat itu diam sejenak, tetapi terasa penuh.
Karena di balik kebiasaan multitasking,
sering kali ada dorongan untuk terus bergerak, terus sibuk,
seolah-olah diam adalah sesuatu yang harus dihindari.
Multitasking mungkin membuat kita terlihat cepat.
Mungkin juga membuat kita merasa produktif.
Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang lebih sunyi,
yang jarang benar-benar kita tanyakan pada diri sendiri:
Apakah kita benar-benar melakukan banyak hal… atau kita hanya tidak pernah benar-benar hadir dalam satu hal pun?
Dan mungkin, di tengah semua kesibukan itu,
yang sebenarnya kita cari bukanlah lebih banyak waktu—
melainkan satu momen di mana kita benar-benar utuh,
tanpa harus terbagi ke mana-mana.
Notifications