Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Menurut Anda, siapa yang paling bertanggung jawab atas pertumbuhan pengetahuan (learning) seorang anggota dalam organisasi?

ES esbatuu 6 months ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
31

Ketika berbicara tentang pertumbuhan pengetahuan dalam organisasi, pertanyaannya sering diarahkan ke satu pihak: atasan, HR, atau bahkan sistem pelatihan. Seolah-olah ada satu “penanggung jawab utama” yang menentukan apakah seseorang berkembang atau tidak.

Tapi dalam pengalaman melihat dinamika tim, jawabannya jarang sesederhana itu. Karena learning bukan sesuatu yang bisa “diberikan” sepenuhnya dari luar, tapi juga tidak sepenuhnya bisa dibiarkan berjalan sendiri.

Individu: Titik Awal yang Tidak Bisa Digantikan

Pada akhirnya, tidak ada yang bisa belajar menggantikan orang lain. Rasa ingin tahu, inisiatif untuk mencari tahu, dan kemauan untuk mencoba adalah hal yang hanya bisa datang dari individu itu sendiri.

Tanpa ini, sebaik apa pun sistem yang disediakan organisasi, pembelajaran akan berhenti di permukaan.

Carol Dweck dalam Mindset menjelaskan bagaimana growth mindset—keyakinan bahwa kemampuan bisa berkembang—menjadi fondasi penting dalam proses belajar. Tanpa pola pikir ini, kesempatan belajar sering tidak dimanfaatkan.

Organisasi: Menciptakan Lingkungan yang Memungkinkan

Di sisi lain, individu tidak belajar dalam ruang hampa. Lingkungan sangat menentukan apakah proses belajar itu bisa terjadi atau justru terhambat.

Organisasi berperan dalam menyediakan akses, waktu, dan ruang untuk berkembang. Apakah ada kesempatan untuk mencoba hal baru? Apakah kesalahan diperlakukan sebagai bagian dari proses, atau langsung dihukum?

Amy Edmondson dalam The Fearless Organization menekankan pentingnya psychological safety, di mana orang merasa aman untuk bertanya, mencoba, dan bahkan gagal tanpa takut disalahkan.

Tanpa kondisi ini, banyak potensi belajar yang tidak pernah muncul, bukan karena tidak ada kemampuan, tapi karena tidak ada rasa aman.

Atasan: Jembatan Antara Potensi dan Realitas

Peran atasan sering kali berada di tengah—menghubungkan individu dengan sistem organisasi.

Seorang atasan bisa mempercepat atau justru menghambat proses belajar. Bukan hanya lewat arahan, tapi juga lewat cara memberi feedback, memberi tantangan, dan membuka ruang diskusi.

Dalam Multipliers, Liz Wiseman membedakan pemimpin yang mampu “mengalikan” kapasitas tim dengan yang tanpa sadar justru membatasi. Perbedaannya sering bukan pada niat, tapi pada bagaimana mereka melibatkan orang lain dalam proses berpikir.

Insight yang Jarang Disadari: Learning Itu Tanggung Jawab Bersama, Tapi Tidak Simetris

Menariknya, meskipun semua pihak berperan, tanggung jawab ini tidak simetris.

Individu bertanggung jawab untuk mau belajar.
Organisasi bertanggung jawab untuk memungkinkan belajar.
Atasan bertanggung jawab untuk mengarahkan dan mempercepat prosesnya.

Jika salah satu hilang, learning tetap bisa terjadi, tapi tidak optimal. Jika individu pasif, peluang terbuang. Jika organisasi tidak mendukung, usaha individu terhambat. Jika atasan tidak terlibat, arah menjadi kabur.

Ketika Semua Saling Menunggu

Masalah sering muncul ketika masing-masing pihak merasa bukan mereka yang paling bertanggung jawab.

Individu menunggu pelatihan.
Organisasi merasa sudah menyediakan fasilitas.
Atasan fokus pada target kerja.

Akhirnya, learning tidak benar-benar terjadi, bukan karena tidak mungkin, tapi karena tidak ada yang benar-benar mengambil peran.

Penutup: Bukan Siapa yang Paling Bertanggung Jawab, Tapi Siapa yang Mau Memulai

Jika harus memilih satu titik awal, jawabannya kembali ke individu. Karena di sanalah keputusan untuk belajar atau tidak pertama kali terjadi.

Tapi pertumbuhan yang konsisten tidak bisa bergantung pada individu saja. Ia butuh sistem yang mendukung dan kepemimpinan yang mengarahkan.

Jadi, bukan soal siapa yang paling bertanggung jawab, tapi bagaimana ketiganya—individu, atasan, dan organisasi—saling mengambil peran tanpa saling menunggu.

Karena learning dalam organisasi bukan hasil dari satu pihak, tapi hasil dari keterhubungan yang bekerja dengan baik.

Dalam diskursus mengenai pengembangan manusia di dalam organisasi, sering terjadi perdebatan mengenai siapa yang memegang kendali utama atas kurva pembelajaran seorang anggota. Secara fundamental, tanggung jawab atas pertumbuhan pengetahuan adalah sebuah kontrak kerja sama antara individu dan institusi. Namun, jika harus menunjuk akar paling hulu, maka individu itu sendiri adalah pemegang tanggung jawab tertinggi. Hal ini selaras dengan konsep self-directed learning yang menuntut agensi personal. Sebagaimana Viktor Frankl tekankan dalam Man’s Search for Meaning, kebebasan terakhir manusia adalah kemampuan untuk memilih sikap dan arah pertumbuhannya sendiri, bahkan dalam batasan lingkungan yang paling ketat sekalipun.

Meskipun individu adalah penggerak utamanya, pertumbuhan tersebut tidak akan terjadi di ruang hampa. Terdapat pembagian peran strategis yang menentukan keberhasilan pembelajaran:

* Individu (Subjek Pembelajar): Bertanggung jawab atas motivasi intrinsik dan keterbukaan mental (Growth Mindset). Tanpa kemauan untuk merasa "tidak tahu" dan bergelut dengan kesulitan kognitif, segala fasilitas organisasi akan sia-sia. Carol Dweck mengingatkan bahwa individu yang memandang kegagalan sebagai informasi untuk bertumbuh akan selalu melampaui mereka yang hanya mengandalkan bakat statis.
* Pemimpin Langsung (Enabler & Coach): Bertanggung jawab menciptakan Psychological Safety. Pemimpin adalah arsitek harian yang menentukan apakah seorang anggota berani bereksperimen atau justru memilih zona aman karena takut salah. Amy Edmondson menegaskan bahwa pembelajaran organisasi hanya terjadi jika pemimpin memberikan ruang bagi suara-suara kritis dan ide-ide mentah tanpa ancaman hukuman.
* Organisasi (Sistem & Budaya): Bertanggung jawab menyediakan infrastruktur dan akses terhadap sumber daya. Organisasi bertindak sebagai ekosistem yang menyediakan nutrisi intelektual. Tanpa sistem yang menghargai pengetahuan (knowledge management), pembelajaran individu hanya akan menjadi tumpukan pengalaman yang terfragmentasi dan tidak terlembagakan.

Neurobiologi Pertumbuhan: Peran Lingkungan dalam Membentuk Koneksi

Jika kita melihat dari perspektif Daniel Siegel dalam The Developing Mind, pertumbuhan pengetahuan sebenarnya adalah proses integrasi saraf yang dipengaruhi oleh interaksi interpersonal. Seorang anggota organisasi akan belajar lebih cepat ketika ia merasa "terhubung" (connected) dengan visi organisasi dan rekan kerjanya. Dalam konteks ini, pemimpin memiliki tanggung jawab neurobiologis untuk menjaga agar tim tidak berada dalam kondisi stres kronis yang dapat melumpuhkan prefrontal cortex—pusat pembelajaran dan pengambilan keputusan logis. Ketika organisasi memaksakan beban kognitif yang melampaui batas tanpa jeda refleksi, mereka sebenarnya sedang menyabotase pertumbuhan pengetahuan anggotanya sendiri.

Hal ini juga berkaitan dengan apa yang dibahas oleh Daniel Kahneman mengenai Sistem 1 dan Sistem 2. Organisasi sering kali menuntut efisiensi (Sistem 1), padahal pembelajaran sejati menuntut kerja keras Sistem 2 yang lambat dan melelahkan. Jika budaya organisasi hanya menghargai kecepatan hasil akhir tanpa menghargai proses penalaran, maka anggota akan cenderung melakukan jalan pintas intelektual daripada melakukan pembelajaran yang mendalam (Deep Work) sebagaimana disarankan oleh Cal Newport.

Sintesis: Kemitraan dalam Pembelajaran

Pada akhirnya, siapa yang paling bertanggung jawab? Individu adalah nakhodanya, tetapi organisasi adalah penyedia kompas dan arusnya. Seorang anggota yang sangat bersemangat belajar akan layu dalam organisasi yang toksik dan tertutup. Sebaliknya, organisasi dengan fasilitas tercanggih sekalipun tidak akan bisa menumbuhkan pengetahuan pada anggota yang memiliki fixed mindset dan resisten terhadap perubahan.

Penutup dari dialektika ini adalah pemahaman bahwa pertumbuhan pengetahuan adalah tanggung jawab etis bersama. Individu bertanggung jawab untuk tetap relevan dan kompeten demi martabat profesionalnya, sementara organisasi bertanggung jawab untuk memanusiakan anggotanya dengan memberikan ruang bagi aktualisasi diri. Ketika kedua belah pihak menyadari peran masing-masing, maka pembelajaran bukan lagi menjadi beban instruksional, melainkan sebuah gaya hidup organisasi yang dinamis, resilien, dan penuh makna.


Daftar Pustaka

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.

Edmondson, A. C. (2018). The Fearless Organization: Creating Psychological Safety in the Workplace for Learning, Innovation, and Growth. Wiley.

Frankl, V. E. (1946). Man’s Search for Meaning. Beacon Press.

Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.

Siegel, D. J. (1999). The Developing Mind: How Relationships and the Brain Interact to Shape Who We Are. Guilford Press.