Pertanyaan tentang mana yang lebih baik—motivasi intrinsik atau motivasi ekstrinsik—sering terdengar seperti kita diminta memilih antara dua hal yang saling bertentangan. Seolah-olah yang satu “murni” dan yang lain “kurang tulus.” Padahal dalam kehidupan nyata, hubungan keduanya jauh lebih rumit, lebih manusiawi, dan sering kali tidak hitam-putih.
Ada orang yang bekerja karena memang mencintai pekerjaannya. Ia bisa tenggelam dalam proses, lupa waktu, bahkan tidak terlalu peduli apakah ada yang melihat atau tidak. Tapi ada juga orang yang bangun setiap pagi karena ada tanggung jawab: keluarga, kebutuhan hidup, target, atau bahkan sekadar rasa takut jika tidak bergerak.
Menariknya, keduanya sama-sama nyata, sama-sama valid, dan sama-sama bisa menjadi bahan bakar untuk bergerak. Tapi arah dan kualitas “gerakan” itu bisa sangat berbeda.
Dua sumber energi yang berbeda rasa
Motivasi intrinsik biasanya digambarkan sebagai dorongan dari dalam. Kita melakukan sesuatu karena memang ingin, karena ada rasa tertarik, rasa senang, atau rasa bermakna di dalamnya.
Sementara motivasi ekstrinsik datang dari luar: gaji, penghargaan, pengakuan, tekanan sosial, atau bahkan ancaman.
Kalau dianalogikan, motivasi intrinsik itu seperti api kecil yang menyala dari dalam—tidak selalu besar, tapi hangat dan stabil. Sedangkan motivasi ekstrinsik lebih seperti bahan bakar dari luar—bisa membuat kita melaju cepat, tapi sering kali bergantung pada pasokan yang terus datang.
Namun, kehidupan tidak selalu memberi kita kemewahan untuk hanya bergantung pada “api dari dalam.”
Ada seseorang yang dulu memilih pekerjaan bukan karena cinta, tetapi karena kebutuhan. Ia bangun pagi bukan karena semangat, tetapi karena harus. Hari-harinya terasa seperti kewajiban yang berulang. Tapi dari rutinitas itu, perlahan muncul sesuatu yang tidak disangka: keterampilan, kepercayaan diri, bahkan rasa bangga kecil ketika ia mulai merasa mampu.
Di situ terlihat bahwa motivasi ekstrinsik bisa menjadi pintu masuk menuju sesuatu yang lebih dalam.
Ketika “harus” perlahan berubah menjadi “ingin”
Dalam Self-Determination Theory (Deci & Ryan, 2000), motivasi tidak hanya dibagi menjadi intrinsik dan ekstrinsik secara kaku. Ada spektrum di antara keduanya.
Seseorang bisa mulai dari motivasi yang sepenuhnya eksternal—misalnya bekerja hanya untuk gaji. Tapi seiring waktu, ia bisa mulai menginternalisasi makna dari pekerjaannya.
Ia mulai merasa bahwa pekerjaannya penting. Ia mulai melihat kontribusinya. Ia mulai menemukan bagian dari dirinya di dalam pekerjaan itu.
Dan perlahan, “saya harus melakukan ini” berubah menjadi “saya ingin melakukan ini.”
Motivasi bukan sesuatu yang statis. Ia bisa tumbuh, bergeser, dan berubah seiring pengalaman seseorang dengan pekerjaannya.
Mengapa motivasi intrinsik sering dianggap “lebih baik”?
Banyak penelitian menunjukkan bahwa motivasi intrinsik berkaitan dengan kepuasan kerja yang lebih tinggi, kreativitas, dan ketahanan jangka panjang.
Ketika seseorang bekerja karena ia benar-benar tertarik, ia cenderung:
- Lebih menikmati proses
- Lebih tahan terhadap tekanan
- Lebih kreatif dalam mencari solusi
- Tidak mudah kehilangan arah ketika tidak ada penghargaan eksternal
Dalam penelitian klasik oleh Deci (1971), ditemukan bahwa pemberian reward eksternal dalam beberapa kasus justru menurunkan minat intrinsik seseorang terhadap suatu aktivitas. Ini dikenal sebagai overjustification effect.
Artinya, ketika seseorang yang awalnya melakukan sesuatu karena suka, lalu terlalu banyak diberi imbalan eksternal, fokusnya bisa bergeser. Dari yang tadinya “aku suka melakukan ini,” menjadi “aku melakukan ini karena ada imbalannya.”
Dan ketika imbalan itu hilang, motivasinya ikut melemah.
Di sinilah terlihat bahwa motivasi intrinsik memiliki sesuatu yang lebih tahan lama—karena ia tidak sepenuhnya bergantung pada dunia luar.
Tapi hidup tidak selalu memberi ruang untuk idealisme
Namun, mengatakan bahwa motivasi intrinsik selalu lebih baik juga terasa tidak adil.
Tidak semua orang punya kemewahan untuk memilih pekerjaan berdasarkan passion. Banyak orang bekerja untuk bertahan hidup, untuk keluarga, untuk tanggung jawab yang tidak bisa ditunda.
Ada seseorang yang bekerja di pekerjaan yang tidak ia cintai. Setiap hari terasa berat. Tapi ia tetap datang, tetap berusaha, tetap bertahan.
Dan di balik itu, ada sesuatu yang sering tidak terlihat:
ketahanan.
Motivasi ekstrinsik—meskipun sering dianggap “kurang murni”—sering kali justru menjadi penopang dalam situasi sulit.
Ia mungkin tidak membuat seseorang “bahagia” dalam arti penuh, tapi ia membuat seseorang tetap bergerak ketika tidak ada pilihan lain.
Dan itu bukan hal kecil.
Ketika motivasi ekstrinsik menjadi satu-satunya sumber
Masalah biasanya muncul ketika seseorang sepenuhnya bergantung pada motivasi ekstrinsik.
Ketika satu-satunya alasan bekerja adalah gaji, pujian, atau pengakuan, maka kondisi emosional seseorang menjadi sangat rentan terhadap faktor luar.
Jika gaji terasa kurang, semangat turun.
Jika tidak dihargai, motivasi hilang.
Jika tidak ada pengakuan, muncul perasaan hampa.
Dalam jangka panjang, ini bisa menimbulkan kelelahan yang lebih dalam—bukan hanya fisik, tetapi juga emosional.
Dalam Job Characteristics Model (Hackman & Oldham, 1976), disebutkan bahwa makna dalam pekerjaan menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi kepuasan dan motivasi internal.
Tanpa rasa makna, pekerjaan mudah terasa kosong—meskipun secara eksternal terlihat “berhasil.”
Perpaduan yang lebih realistis
Jika harus jujur, kehidupan jarang memberi kita pilihan untuk hanya memiliki satu jenis motivasi.
Sebagian besar orang hidup dalam perpaduan keduanya.
Ada hari di mana seseorang bekerja karena memang ingin.
Ada hari lain di mana ia bekerja hanya karena harus.
Dan itu tidak membuatnya gagal.
Justru di situlah realitas manusia terlihat: kita tidak selalu digerakkan oleh hal yang ideal, tetapi kita tetap bisa menemukan makna di dalamnya.
Ada orang yang awalnya bekerja hanya untuk gaji, tapi kemudian menemukan bahwa pekerjaannya membantu orang lain. Dari situ, muncul rasa bangga kecil. Lalu rasa itu tumbuh.
Ada juga yang awalnya sangat mencintai pekerjaannya, tapi kemudian tekanan, target, dan ekspektasi membuatnya kehilangan rasa itu. Yang tersisa hanya kewajiban.
Motivasi bisa naik dan turun. Bisa bergeser. Bisa bahkan hilang untuk sementara.
Dan mungkin, pertanyaan yang lebih penting bukan “mana yang lebih baik,” tetapi:
apa yang membuat seseorang tetap bertahan, tetap bergerak, dan tetap merasa hidup dalam pekerjaannya?
Tentang makna yang sering datang belakangan
Ada satu hal yang sering terlewat: makna tidak selalu datang di awal.
Banyak orang menunggu sampai mereka menemukan pekerjaan yang “benar-benar mereka cintai” sebelum merasa termotivasi. Tapi dalam banyak kasus, rasa cinta itu justru muncul setelah seseorang terlibat cukup lama.
Ketika ia mulai merasa kompeten.
Ketika ia mulai melihat dampak dari apa yang ia lakukan.
Ketika ia mulai merasa bahwa ia bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Dalam Flow Theory (Csikszentmihalyi, 1990), pengalaman optimal sering muncul ketika seseorang berada dalam kondisi di mana tantangan dan kemampuan seimbang.
Menariknya, kondisi ini tidak selalu datang dari sesuatu yang sejak awal “disukai,” tetapi dari sesuatu yang cukup lama dijalani hingga menjadi bermakna.
Kadang, kita tidak menemukan makna lalu bekerja. Tapi kita bekerja cukup lama… hingga makna itu muncul.
Ketika seseorang mulai lelah
Ada fase dalam hidup di mana seseorang merasa kehilangan motivasi—baik intrinsik maupun ekstrinsik.
Pekerjaan terasa datar. Tidak ada semangat. Tidak ada urgensi. Bahkan hal-hal yang dulu menyenangkan terasa biasa saja.
Dalam kondisi seperti ini, sering muncul pertanyaan: “apa yang salah?”
Padahal mungkin bukan karena motivasinya yang salah, tetapi karena ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang lelah.
Bisa jadi karena terlalu lama hanya bergerak karena “harus.”
Bisa jadi karena kehilangan koneksi dengan makna.
Bisa jadi karena tidak pernah benar-benar diberi ruang untuk berhenti dan merasakan.
Motivasi, pada akhirnya, bukan hanya soal dorongan—tetapi juga soal kondisi batin yang mampu menampung dorongan itu.
Jadi, mana yang lebih baik?
Jika harus menjawab secara sederhana: motivasi intrinsik cenderung lebih stabil dan lebih berkaitan dengan kesejahteraan jangka panjang.
Tapi dalam kehidupan nyata, motivasi ekstrinsik sering kali menjadi fondasi awal yang memungkinkan seseorang bertahan.
Keduanya bukan musuh. Keduanya bisa saling melengkapi.
Motivasi ekstrinsik bisa membuat seseorang mulai bergerak.
Motivasi intrinsik bisa membuatnya bertahan.
Dan di antara keduanya, ada perjalanan yang sangat manusiawi—tentang bagaimana seseorang mencoba menemukan makna, bahkan di tempat yang awalnya terasa asing.
Referensi
- Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). Self-Determination Theory and the Facilitation of Intrinsic Motivation.
- Deci, E. L. (1971). Effects of Externally Mediated Rewards on Intrinsic Motivation.
- Csikszentmihalyi, M. (1990). Flow: The Psychology of Optimal Experience.
- Hackman, J. R., & Oldham, G. R. (1976). Motivation through the Design of Work.
- Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2017). Self-Determination Theory: Basic Psychological Needs in Motivation.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan ini bukan tentang memilih satu dan menolak yang lain.
Tetapi tentang memahami:
di dalam semua alasan kita bekerja—entah karena ingin atau karena harus—apakah ada bagian kecil dari diri kita yang masih merasa terhubung dengan apa yang kita lakukan?
Dan jika tidak ada…
apakah yang sebenarnya hilang—pekerjaannya, atau hubungan kita dengan diri sendiri di dalam pekerjaan itu?