Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Lebih baik mana “Motivasi Intrinsik” atau “Motivasi Ekstrinsik” dalam melakukan pekerjaan?

RE Regita Meidy Septias 5 years ago Resolved

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
24

Motivasi merupakan suatu dorongan bagi seseorang untuk dapat melakukan suatu hal baik itu pekerjaan atau hal-hal lainnya. Motivasi ibarat bahan bakar yang digunakan pada kendaraan agar kendaraan dapat bergerak. Motivasi terbagi menjadi dua berdasarkan sumbernya. Yaitu motivasi Instrinsik dan Motivasi Ekstrinsik.

Menurut saya pribadi, jika ditanya mana yang lebih baik diantara motivasi Instrinsik atau Ekstrinsik? Maka jawaban saya adalah tidak ada yang lebih baik. Keduanya sama-sama berperan penting dalam memotivasi seseorang. Terkadang motivasi Intrinsik berperan besar dalam pekerjaan seseorang, namun terkadang juga motivasi Ekstrinsik mengambil peranannya. Sebagai contoh, mahasiswa yang menunda mengerjakan tugas jika sendirian di rumah/kost, namun ketika mengerjakan bersama dengan temannya dia mampu untuk menyelesaikannya.

Menurut saya lebih baik atau tidaknya tergantung individu masing-masing. Ada orang yang lebih termotivasi ketika muncul dari diri sendiri, ada pula yang merasa bersemangat ketika muncul dukungan sosial atau hal-hal eksternal lainnya. Namun, menurut saya, motivasi ekstrinsik itu sifatnya tidak dapat diduga dan juga tidak dapat dijadikan acuan untuk melakukan suatu pekerjaan. Motivasi ekstrinsik juga dapat berubah-ubah sehingga kalau bisa, andalkan diri sendiri terlebih dahulu sebelum mencari motivasi dari luar diri.

Tergantung pafda jenis pekerjaan nya, jika pada kasus pekerjaan seorang karyawan yang memiliki atasan, tentu saja motivasi ekstrinsik yang biasanya berasal dari luar khususnya atasan seperti ditetapkan nya target, kenaikan pangkat atau gaji, bonus dll lebih ampuh untuk meningkatkan kinerja karyawan. Namun, jika seseorang menyelesaikan pekerjaan sebagai pengusaha yang tidak memiliki atasan, motivasi intrinsik dimana berasal dari diri sendiri dan berkuasa penuh atas apa yang dikerjakan dan dapat dengan bebas meningkatkan potensi diri lebih baik. Mengapa? karna semua pengasa berkuasa penuh atas apa yang ingin ia lakukan dmei kemajuan perusahaan atau usahanya. Motivasi dari dalam diri sangat penting untuk mengarahkan kemana jalan nya sebuah usaha.

Pertanyaan tentang mana yang lebih baik—motivasi intrinsik atau motivasi ekstrinsik—sering terdengar seperti kita diminta memilih antara dua hal yang saling bertentangan. Seolah-olah yang satu “murni” dan yang lain “kurang tulus.” Padahal dalam kehidupan nyata, hubungan keduanya jauh lebih rumit, lebih manusiawi, dan sering kali tidak hitam-putih.

Ada orang yang bekerja karena memang mencintai pekerjaannya. Ia bisa tenggelam dalam proses, lupa waktu, bahkan tidak terlalu peduli apakah ada yang melihat atau tidak. Tapi ada juga orang yang bangun setiap pagi karena ada tanggung jawab: keluarga, kebutuhan hidup, target, atau bahkan sekadar rasa takut jika tidak bergerak.

Menariknya, keduanya sama-sama nyata, sama-sama valid, dan sama-sama bisa menjadi bahan bakar untuk bergerak. Tapi arah dan kualitas “gerakan” itu bisa sangat berbeda.


Dua sumber energi yang berbeda rasa

Motivasi intrinsik biasanya digambarkan sebagai dorongan dari dalam. Kita melakukan sesuatu karena memang ingin, karena ada rasa tertarik, rasa senang, atau rasa bermakna di dalamnya.

Sementara motivasi ekstrinsik datang dari luar: gaji, penghargaan, pengakuan, tekanan sosial, atau bahkan ancaman.

Kalau dianalogikan, motivasi intrinsik itu seperti api kecil yang menyala dari dalam—tidak selalu besar, tapi hangat dan stabil. Sedangkan motivasi ekstrinsik lebih seperti bahan bakar dari luar—bisa membuat kita melaju cepat, tapi sering kali bergantung pada pasokan yang terus datang.

Namun, kehidupan tidak selalu memberi kita kemewahan untuk hanya bergantung pada “api dari dalam.”

Ada seseorang yang dulu memilih pekerjaan bukan karena cinta, tetapi karena kebutuhan. Ia bangun pagi bukan karena semangat, tetapi karena harus. Hari-harinya terasa seperti kewajiban yang berulang. Tapi dari rutinitas itu, perlahan muncul sesuatu yang tidak disangka: keterampilan, kepercayaan diri, bahkan rasa bangga kecil ketika ia mulai merasa mampu.

Di situ terlihat bahwa motivasi ekstrinsik bisa menjadi pintu masuk menuju sesuatu yang lebih dalam.


Ketika “harus” perlahan berubah menjadi “ingin”

Dalam Self-Determination Theory (Deci & Ryan, 2000), motivasi tidak hanya dibagi menjadi intrinsik dan ekstrinsik secara kaku. Ada spektrum di antara keduanya.

Seseorang bisa mulai dari motivasi yang sepenuhnya eksternal—misalnya bekerja hanya untuk gaji. Tapi seiring waktu, ia bisa mulai menginternalisasi makna dari pekerjaannya.

Ia mulai merasa bahwa pekerjaannya penting. Ia mulai melihat kontribusinya. Ia mulai menemukan bagian dari dirinya di dalam pekerjaan itu.

Dan perlahan, “saya harus melakukan ini” berubah menjadi “saya ingin melakukan ini.”

Motivasi bukan sesuatu yang statis. Ia bisa tumbuh, bergeser, dan berubah seiring pengalaman seseorang dengan pekerjaannya.


Mengapa motivasi intrinsik sering dianggap “lebih baik”?

Banyak penelitian menunjukkan bahwa motivasi intrinsik berkaitan dengan kepuasan kerja yang lebih tinggi, kreativitas, dan ketahanan jangka panjang.

Ketika seseorang bekerja karena ia benar-benar tertarik, ia cenderung:

  • Lebih menikmati proses
  • Lebih tahan terhadap tekanan
  • Lebih kreatif dalam mencari solusi
  • Tidak mudah kehilangan arah ketika tidak ada penghargaan eksternal

Dalam penelitian klasik oleh Deci (1971), ditemukan bahwa pemberian reward eksternal dalam beberapa kasus justru menurunkan minat intrinsik seseorang terhadap suatu aktivitas. Ini dikenal sebagai overjustification effect.

Artinya, ketika seseorang yang awalnya melakukan sesuatu karena suka, lalu terlalu banyak diberi imbalan eksternal, fokusnya bisa bergeser. Dari yang tadinya “aku suka melakukan ini,” menjadi “aku melakukan ini karena ada imbalannya.”

Dan ketika imbalan itu hilang, motivasinya ikut melemah.

Di sinilah terlihat bahwa motivasi intrinsik memiliki sesuatu yang lebih tahan lama—karena ia tidak sepenuhnya bergantung pada dunia luar.


Tapi hidup tidak selalu memberi ruang untuk idealisme

Namun, mengatakan bahwa motivasi intrinsik selalu lebih baik juga terasa tidak adil.

Tidak semua orang punya kemewahan untuk memilih pekerjaan berdasarkan passion. Banyak orang bekerja untuk bertahan hidup, untuk keluarga, untuk tanggung jawab yang tidak bisa ditunda.

Ada seseorang yang bekerja di pekerjaan yang tidak ia cintai. Setiap hari terasa berat. Tapi ia tetap datang, tetap berusaha, tetap bertahan.

Dan di balik itu, ada sesuatu yang sering tidak terlihat:

ketahanan.

Motivasi ekstrinsik—meskipun sering dianggap “kurang murni”—sering kali justru menjadi penopang dalam situasi sulit.

Ia mungkin tidak membuat seseorang “bahagia” dalam arti penuh, tapi ia membuat seseorang tetap bergerak ketika tidak ada pilihan lain.

Dan itu bukan hal kecil.


Ketika motivasi ekstrinsik menjadi satu-satunya sumber

Masalah biasanya muncul ketika seseorang sepenuhnya bergantung pada motivasi ekstrinsik.

Ketika satu-satunya alasan bekerja adalah gaji, pujian, atau pengakuan, maka kondisi emosional seseorang menjadi sangat rentan terhadap faktor luar.

Jika gaji terasa kurang, semangat turun.
Jika tidak dihargai, motivasi hilang.
Jika tidak ada pengakuan, muncul perasaan hampa.

Dalam jangka panjang, ini bisa menimbulkan kelelahan yang lebih dalam—bukan hanya fisik, tetapi juga emosional.

Dalam Job Characteristics Model (Hackman & Oldham, 1976), disebutkan bahwa makna dalam pekerjaan menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi kepuasan dan motivasi internal.

Tanpa rasa makna, pekerjaan mudah terasa kosong—meskipun secara eksternal terlihat “berhasil.”


Perpaduan yang lebih realistis

Jika harus jujur, kehidupan jarang memberi kita pilihan untuk hanya memiliki satu jenis motivasi.

Sebagian besar orang hidup dalam perpaduan keduanya.

Ada hari di mana seseorang bekerja karena memang ingin.
Ada hari lain di mana ia bekerja hanya karena harus.

Dan itu tidak membuatnya gagal.

Justru di situlah realitas manusia terlihat: kita tidak selalu digerakkan oleh hal yang ideal, tetapi kita tetap bisa menemukan makna di dalamnya.

Ada orang yang awalnya bekerja hanya untuk gaji, tapi kemudian menemukan bahwa pekerjaannya membantu orang lain. Dari situ, muncul rasa bangga kecil. Lalu rasa itu tumbuh.

Ada juga yang awalnya sangat mencintai pekerjaannya, tapi kemudian tekanan, target, dan ekspektasi membuatnya kehilangan rasa itu. Yang tersisa hanya kewajiban.

Motivasi bisa naik dan turun. Bisa bergeser. Bisa bahkan hilang untuk sementara.

Dan mungkin, pertanyaan yang lebih penting bukan “mana yang lebih baik,” tetapi:

apa yang membuat seseorang tetap bertahan, tetap bergerak, dan tetap merasa hidup dalam pekerjaannya?


Tentang makna yang sering datang belakangan

Ada satu hal yang sering terlewat: makna tidak selalu datang di awal.

Banyak orang menunggu sampai mereka menemukan pekerjaan yang “benar-benar mereka cintai” sebelum merasa termotivasi. Tapi dalam banyak kasus, rasa cinta itu justru muncul setelah seseorang terlibat cukup lama.

Ketika ia mulai merasa kompeten.
Ketika ia mulai melihat dampak dari apa yang ia lakukan.
Ketika ia mulai merasa bahwa ia bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Dalam Flow Theory (Csikszentmihalyi, 1990), pengalaman optimal sering muncul ketika seseorang berada dalam kondisi di mana tantangan dan kemampuan seimbang.

Menariknya, kondisi ini tidak selalu datang dari sesuatu yang sejak awal “disukai,” tetapi dari sesuatu yang cukup lama dijalani hingga menjadi bermakna.

Kadang, kita tidak menemukan makna lalu bekerja. Tapi kita bekerja cukup lama… hingga makna itu muncul.


Ketika seseorang mulai lelah

Ada fase dalam hidup di mana seseorang merasa kehilangan motivasi—baik intrinsik maupun ekstrinsik.

Pekerjaan terasa datar. Tidak ada semangat. Tidak ada urgensi. Bahkan hal-hal yang dulu menyenangkan terasa biasa saja.

Dalam kondisi seperti ini, sering muncul pertanyaan: “apa yang salah?”

Padahal mungkin bukan karena motivasinya yang salah, tetapi karena ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang lelah.

Bisa jadi karena terlalu lama hanya bergerak karena “harus.”
Bisa jadi karena kehilangan koneksi dengan makna.
Bisa jadi karena tidak pernah benar-benar diberi ruang untuk berhenti dan merasakan.

Motivasi, pada akhirnya, bukan hanya soal dorongan—tetapi juga soal kondisi batin yang mampu menampung dorongan itu.


Jadi, mana yang lebih baik?

Jika harus menjawab secara sederhana: motivasi intrinsik cenderung lebih stabil dan lebih berkaitan dengan kesejahteraan jangka panjang.

Tapi dalam kehidupan nyata, motivasi ekstrinsik sering kali menjadi fondasi awal yang memungkinkan seseorang bertahan.

Keduanya bukan musuh. Keduanya bisa saling melengkapi.

Motivasi ekstrinsik bisa membuat seseorang mulai bergerak.
Motivasi intrinsik bisa membuatnya bertahan.

Dan di antara keduanya, ada perjalanan yang sangat manusiawi—tentang bagaimana seseorang mencoba menemukan makna, bahkan di tempat yang awalnya terasa asing.


Referensi

  • Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). Self-Determination Theory and the Facilitation of Intrinsic Motivation.
  • Deci, E. L. (1971). Effects of Externally Mediated Rewards on Intrinsic Motivation.
  • Csikszentmihalyi, M. (1990). Flow: The Psychology of Optimal Experience.
  • Hackman, J. R., & Oldham, G. R. (1976). Motivation through the Design of Work.
  • Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2017). Self-Determination Theory: Basic Psychological Needs in Motivation.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan ini bukan tentang memilih satu dan menolak yang lain.

Tetapi tentang memahami:
di dalam semua alasan kita bekerja—entah karena ingin atau karena harus—apakah ada bagian kecil dari diri kita yang masih merasa terhubung dengan apa yang kita lakukan?

Dan jika tidak ada…
apakah yang sebenarnya hilang—pekerjaannya, atau hubungan kita dengan diri sendiri di dalam pekerjaan itu?

Ada satu kisah yang selalu teringat ketika membicarakan tentang motivasi dalam bekerja.

Saya pernah mengenal seseorang yang sangat disiplin. Ia bangun pagi, bekerja dengan target yang jelas, dan hampir tidak pernah melewatkan deadline. Dari luar, hidupnya terlihat terstruktur dan produktif.

Namun suatu hari, dalam percakapan yang lebih jujur, ia berkata pelan, “Saya sebenarnya tidak menikmati ini… tapi kalau saya berhenti, saya takut hidup saya tidak berarti.”

Di sisi lain, saya juga pernah mengenal seseorang yang bekerja dengan penuh semangat. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam mengerjakan sesuatu tanpa merasa lelah. Tapi ketika ditanya tentang penghasilan atau pencapaian, ia hanya tersenyum dan berkata, “Saya hanya suka melakukannya.”

Dua orang ini sama-sama bekerja keras.
Namun ada sesuatu yang sangat berbeda dalam cara mereka bergerak.

Dan dari situ, pertanyaan ini menjadi menarik:
Lebih baik mana, motivasi intrinsik atau ekstrinsik?

Jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu.


Memahami Dua Sumber Dorongan dalam Diri

Motivasi intrinsik adalah dorongan yang datang dari dalam diri—rasa ingin tahu, minat, kepuasan pribadi, atau makna yang dirasakan dalam suatu aktivitas.

Motivasi ekstrinsik adalah dorongan yang datang dari luar—uang, penghargaan, pengakuan, tekanan sosial, atau bahkan rasa takut akan konsekuensi.

Keduanya bukanlah hal yang saling meniadakan.

Dalam banyak kehidupan, keduanya berjalan berdampingan. Seseorang bisa bekerja karena ia membutuhkan penghasilan, sekaligus merasa bangga dengan apa yang ia lakukan.

Namun, yang sering menjadi masalah bukan keberadaan salah satu, melainkan ketidakseimbangan di antara keduanya.


Otak dan Cara Ia Merespons Motivasi

Dari sudut pandang biologis, motivasi berkaitan erat dengan sistem reward di otak, terutama jalur dopamin.

Ketika seseorang melakukan sesuatu yang memberikan kepuasan internal—seperti belajar hal baru atau menyelesaikan tantangan—otak akan mengaktifkan sistem reward secara alami (Schultz, 1997).

Namun ketika motivasi didorong oleh faktor eksternal, sistem ini juga tetap aktif, tetapi dengan dinamika yang berbeda.

Ada satu fenomena yang menarik, dikenal sebagai overjustification effect (Deci, Koestner, & Ryan, 1999):
ketika seseorang yang awalnya termotivasi secara intrinsik mulai diberi imbalan eksternal berlebihan, minat alaminya justru bisa menurun.

Saya pernah mengenal seseorang yang awalnya sangat menyukai menggambar. Ia bisa melakukannya berjam-jam tanpa merasa terbebani.

Namun setelah ia mulai menerima banyak pesanan dan tekanan dari klien, ia mulai merasa lelah.

Apa yang dulu menjadi sumber kebahagiaan, perlahan berubah menjadi kewajiban.

Ketika sesuatu yang kita cintai sepenuhnya diukur oleh hasil eksternal, maknanya bisa berubah.


Ketahanan Mental: Mana yang Lebih Bertahan Lama?

Dalam jangka panjang, motivasi intrinsik cenderung lebih stabil.

Penelitian dalam Self-Determination Theory menunjukkan bahwa ketika seseorang merasa memiliki otonomi, kompetensi, dan keterhubungan, ia akan lebih termotivasi secara alami (Deci & Ryan, 2000).

Motivasi ini tidak mudah runtuh hanya karena hasil yang tidak sesuai harapan.

Saya pernah berbincang dengan seseorang yang terus belajar meskipun sering gagal. Ketika ditanya mengapa ia tetap bertahan, ia berkata, “Saya memang suka prosesnya.”

Sebaliknya, motivasi ekstrinsik cenderung lebih fluktuatif.

Ketika reward hilang, motivasi bisa ikut menurun.
Ketika target tidak tercapai, semangat bisa langsung jatuh.

Namun bukan berarti motivasi ekstrinsik tidak penting.

Dalam banyak situasi, motivasi ekstrinsik justru menjadi titik awal.


Peran Motivasi Ekstrinsik dalam Kehidupan Nyata

Tidak semua hal dalam hidup bisa dilakukan hanya karena kita menyukainya.

Ada pekerjaan yang harus dilakukan karena tanggung jawab.
Ada kewajiban yang tidak selalu memberikan kepuasan langsung.

Dalam situasi seperti ini, motivasi ekstrinsik menjadi sangat penting.

Saya pernah mengenal seseorang yang bekerja keras bukan karena ia mencintai pekerjaannya, tetapi karena ia ingin memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.

Motivasi ini mungkin tidak berasal dari kesenangan, tetapi dari makna yang lebih besar.

Tidak semua motivasi ekstrinsik dangkal—beberapa justru sangat dalam dan penuh arti.


Ketika Motivasi Ekstrinsik Menjadi Beban

Masalah muncul ketika motivasi ekstrinsik menjadi satu-satunya sumber dorongan.

Seseorang mulai:

  • Terlalu bergantung pada validasi
  • Takut gagal secara berlebihan
  • Kehilangan koneksi dengan dirinya sendiri

Saya pernah berbincang dengan seseorang yang terus mengejar pencapaian demi pengakuan.

Setiap kali ia berhasil, ia merasa baik—tetapi hanya sementara.
Setelah itu, ia merasa harus mencapai sesuatu yang lebih besar lagi.

Siklus ini tidak pernah berhenti.

Ketika motivasi hanya berasal dari luar, kepuasan menjadi sesuatu yang sulit dipertahankan.


Integrasi: Ketika Keduanya Bisa Selaras

Dalam banyak kasus, yang paling sehat bukan memilih salah satu, tetapi mengintegrasikan keduanya.

Seseorang bisa bekerja karena:

  • Ia membutuhkan penghasilan (ekstrinsik)
  • Dan ia menemukan makna dalam pekerjaannya (intrinsik)

Dalam teori motivasi, ini disebut sebagai internalization—proses di mana motivasi eksternal perlahan menjadi bagian dari nilai internal seseorang (Ryan & Deci, 2000).

Saya pernah mengenal seseorang yang awalnya bekerja hanya karena kebutuhan finansial.

Namun seiring waktu, ia mulai menemukan makna dalam apa yang ia lakukan—membantu orang lain, mengembangkan diri, atau merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Perlahan, pekerjaannya tidak lagi hanya menjadi kewajiban, tetapi juga menjadi bagian dari identitasnya.


Peran Sistem Saraf dan Energi Mental

Ada satu hal lain yang sering terlewat: bagaimana tubuh merespons motivasi.

Motivasi intrinsik cenderung lebih “ringan” bagi sistem saraf. Ia tidak selalu membutuhkan tekanan tinggi untuk bergerak.

Sebaliknya, motivasi ekstrinsik—terutama yang berbasis tekanan atau rasa takut—sering mengaktifkan sistem stres.

Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menyebabkan kelelahan mental, bahkan burnout (Maslach & Leiter, 2016).

Saya pernah mengenal seseorang yang sangat produktif, tetapi selalu merasa lelah. Ia bekerja bukan karena ingin, tetapi karena merasa harus.

Tubuhnya terus bergerak, tetapi energinya perlahan terkuras.

Tidak semua produktivitas berasal dari tempat yang sehat.


Kapan Masing-Masing Dibutuhkan?

Ada momen di mana motivasi ekstrinsik sangat membantu:

  • Saat memulai sesuatu yang belum kita sukai
  • Saat menghadapi tanggung jawab
  • Saat membutuhkan struktur dan disiplin

Namun ada momen di mana motivasi intrinsik menjadi kunci:

  • Saat ingin bertahan dalam jangka panjang
  • Saat menghadapi kegagalan
  • Saat mencari makna dalam hidup

Saya pernah berbincang dengan seseorang yang berkata, “Awalnya saya dipaksa keadaan, tapi sekarang saya mulai memahami kenapa saya melakukan ini.”

Kalimat itu menggambarkan sebuah perjalanan—dari dorongan luar menuju pemahaman dalam.


Refleksi Akhir

Jadi, lebih baik mana—motivasi intrinsik atau ekstrinsik?

Mungkin pertanyaannya bukan tentang mana yang lebih baik, tetapi dari mana kita benar-benar hidup.

Apakah kita bergerak karena kita harus, atau karena kita memilih?
Apakah kita mengejar sesuatu karena dunia menginginkannya, atau karena kita merasa terhubung dengannya?

Dalam kehidupan yang nyata, keduanya akan selalu ada.

Namun mungkin yang membedakan bukan jenis motivasinya, melainkan apakah kita masih bisa mendengar suara diri sendiri di tengah semua tuntutan dari luar.

Dan mungkin, di antara semua target, pencapaian, dan tekanan yang kita jalani, ada satu pertanyaan yang layak untuk diam sejenak dan direnungkan:

Jika semua reward di luar itu hilang, apakah kita masih ingin melakukan apa yang sedang kita lakukan sekarang?


Referensi

  • Deci, E. L., Koestner, R., & Ryan, R. M. (1999). A meta-analytic review of experiments on intrinsic motivation. Psychological Bulletin.
  • Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Intrinsic and extrinsic motivations. American Psychologist.
  • Schultz, W. (1997). Dopamine neurons and reward. Journal of Neurophysiology.
  • Maslach, C., & Leiter, M. P. (2016). Burnout.
  • Csikszentmihalyi, M. (1990). Flow: The Psychology of Optimal Experience.