Job Insecurity, Apa Penyebabnya?
Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
menurut pandangan pribadi saya, job insecurities ini disebabkan oleh banyak faktor :
jadi, tetaplah percaya diri dan fokus dengan kemampuan dirimu sendiri. menengok kanan kiri atas bawah sesekali boleh, tapi jangan sampai hal itu membuat diri kita tenggelam dalam stres dan cepat. Just it flow.. Semanngattt..
Greenhalgh dan Rosenblatt (dalam Ashford dkk, 1989) menjelaskan faktor penyebab job insecurity antara lain:
Itu adalah beberapa faktor penyebab dari timbulnya job insecurity.
Referensi:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/3645/08E00922.pdf?sequence=1&isAllowed=y
Robbins (dalam Setiawan, 2009) mengemukakan faktor-faktor penyebab job insecurity adalah karakteristik individu itu sendiri yang meliputi:
a. Umur
Bertambahnya umur seseorang individu maka akan semakin berkurang produktivitasnya dan akan menimbulkan job insecurity pada diri individu tersebut.
b. Status perkawinan
c. Kesesuaian antara kepribadian dan pekerjaan
Apabila karyawan merasa tidak sesuai atau merasa tidak cocok dengan pekerjaan yang dilakukannya maka karyawan akan merasa tidak aman atau mengalami job insecurity.
d. Tingkat job satisfaction
Setiap individu memiliki tingkat job satisfaction yang berbeda-beda sehingga apabila terdapat seorang individu yang sudah puas dengan hasil kerjanya maka belum tentu individu lainnya merasa puas, sehingga individu yang merasa tidak puas tersebut dapat mengalami job insecurity.
Manajemen baru, Bos atau lingkungan kerja yang toxic, PHK, Sebuah resesi, Rekan kerja yang lebih muda, Perubahan industri membutuhkan keterampilan baru, Otomatisasi/teknologi menggantikan pekerjaan.
Aku pernah berada di titik di mana setiap pagi berangkat kerja rasanya seperti menuju medan perang. Bukan karena pekerjaan itu sendiri, tapi karena bayang-bayang “apakah aku masih dibutuhkan?” selalu mengikuti. Mungkin ini yang banyak orang sebut sebagai job insecurity.
Aku masih ingat, dulu kantor tempatku bekerja sedang melakukan efisiensi. Desas-desus PHK terdengar di setiap sudut pantry, dalam obrolan makan siang, bahkan di chat grup kantor. Anehnya, meski aku berusaha fokus bekerja, tetap saja ada suara kecil dalam hati yang bertanya: “Bagaimana kalau namamu yang masuk daftar berikutnya?”
Penyebabnya ternyata tidak sesederhana “takut kehilangan pekerjaan.” Lebih dalam dari itu, job insecurity tumbuh dari kombinasi banyak hal:
Ada satu malam yang sangat kuingat. Aku duduk di ruang tamu sendirian setelah semua orang tidur. Di laptop, aku membuka portal lowongan kerja hanya untuk menenangkan hati, meski aku belum siap benar-benar melamar. Saat itu aku sadar, yang membuatku begitu cemas bukan sekadar takut kehilangan gaji bulanan, tapi takut kehilangan identitas. Karena entah bagaimana, pekerjaanku sudah menjadi cara aku memandang diriku sendiri.
Ironis, ya? Kita bekerja keras supaya hidup lebih stabil, tapi justru pekerjaan bisa menjadi sumber ketidakpastian paling besar.
Namun, setelah melewati itu, aku pelan-pelan belajar bahwa job insecurity bukan hanya soal perusahaan atau bos yang tidak bisa kita kontrol, tapi juga soal hubungan kita dengan diri sendiri. Aku mulai bertanya:
“Kalau besok benar-benar harus berhenti, apa aku masih punya nilai di luar jabatan ini? Apa aku masih bisa merasa cukup sebagai manusia, meski tanpa kartu identitas karyawan?”
Jawabannya tidak datang cepat, tapi perjalanan itu membuka ruang refleksi. Aku mulai melihat bahwa penyebab job insecurity seringkali bercampur: sebagian memang dari luar (situasi kantor, ekonomi), tapi sebagian lagi dari dalam—dari takut tidak dianggap, takut tidak berguna, takut tak punya pijakan selain pekerjaan.
Dan mungkin, di titik itu aku mulai berdamai. Job insecurity tetap bisa datang kapan saja, tapi setidaknya aku tidak lagi membiarkannya menghisap seluruh hidupku. Ada hal-hal yang bisa hilang, ada yang bisa berubah, tapi bukan berarti kita ikut hilang bersama perubahan itu.
Akhirnya, kalau kamu bertanya “apa penyebab job insecurity?”, mungkin jawabannya: ia lahir dari campuran dunia luar yang tak pasti dan dunia dalam yang rapuh. Kita tidak bisa mengendalikan dunia luar sepenuhnya, tapi kita bisa perlahan menumbuhkan keyakinan bahwa nilai diri tidak semata ditentukan oleh sebuah pekerjaan.
Dan mungkin, saat kita bisa melihatnya begitu, rasa takut itu tetap ada… tapi ia berhenti menjadi penjara.
✨ “Pekerjaan bisa pergi, gaji bisa berhenti, tapi nilai dirimu tak pernah ikut dipecat. Ia tetap tinggal di dalam dirimu, menunggu kau percaya lagi.”
Job insecurity, atau rasa tidak aman terhadap pekerjaan, adalah fenomena psikologis yang semakin sering muncul di era modern. Ia merujuk pada kondisi ketika seseorang merasa pekerjaannya berada dalam ancaman, baik dari segi keberlangsungan, posisi, maupun prospek karier jangka panjang. Rasa tidak aman ini bukan hanya soal ketakutan kehilangan pekerjaan secara nyata, tetapi juga mencakup kecemasan akan masa depan yang tidak pasti. Penelitian dari De Witte (1999) mendefinisikan job insecurity sebagai “ketidakmampuan karyawan untuk mempertahankan kesinambungan pekerjaan yang diinginkan.” Dengan kata lain, rasa tidak aman ini muncul dari interaksi antara kondisi objektif (misalnya restrukturisasi perusahaan) dengan persepsi subjektif individu.
Mereka yang mengalami job insecurity sering merasakan stres, penurunan motivasi, bahkan gangguan kesehatan mental. Karena itu, memahami penyebabnya menjadi langkah penting untuk melihat akar masalah, baik dari sisi organisasi maupun psikologi individu.
Salah satu pemicu utama job insecurity adalah faktor makroekonomi. Ketika kondisi ekonomi melemah, misalnya saat krisis finansial global 2008 atau pandemi COVID-19, banyak perusahaan melakukan pemangkasan biaya dengan cara memberhentikan karyawan. Situasi ini membuat rasa aman terhadap pekerjaan terguncang, bahkan bagi mereka yang sebenarnya tidak terdampak langsung.
Menurut Greenhalgh & Rosenblatt (1984), job insecurity dapat meningkat ketika pasar kerja menjadi kompetitif dan tingkat pengangguran tinggi. Hal ini menciptakan ketakutan kolektif: jika kehilangan pekerjaan, peluang mendapatkan yang baru menjadi semakin kecil. Di negara-negara dengan jaminan sosial lemah atau sistem perlindungan pekerja yang minim, kecemasan ini makin kuat.
Selain itu, perubahan tren global seperti otomatisasi, digitalisasi, dan artificial intelligence juga berperan besar. Banyak pekerjaan tradisional terancam digantikan teknologi. Richard Sennett dalam bukunya The Corrosion of Character (1998) menyoroti bagaimana fleksibilitas ekonomi modern menciptakan rasa ketidakpastian permanen bagi pekerja. Mereka tidak lagi bisa menggantungkan masa depan pada satu perusahaan atau karier yang stabil, melainkan harus terus beradaptasi agar relevan.
Di level organisasi, restrukturisasi adalah salah satu faktor paling sering memicu job insecurity. Perusahaan yang melakukan merger, akuisisi, atau reorganisasi biasanya membawa perubahan signifikan dalam struktur jabatan, jumlah karyawan, hingga budaya kerja.
Karyawan sering kali merasa kehilangan kontrol atas masa depan mereka. Menurut Ashford, Lee, & Bobko (1989), persepsi job insecurity meningkat drastis ketika perusahaan tidak transparan dalam menyampaikan arah perubahan. Bahkan rumor pemutusan hubungan kerja (PHK) tanpa konfirmasi resmi sudah cukup untuk menciptakan kecemasan kolektif di lingkungan kerja.
Selain restrukturisasi, pola kerja kontrak jangka pendek juga memperbesar rasa tidak aman. Karyawan kontrak atau pekerja lepas tidak memiliki jaminan keberlanjutan karier, sehingga ketidakpastian menjadi bagian inheren dari pekerjaan mereka. Di satu sisi, fleksibilitas ini menguntungkan perusahaan. Namun di sisi lain, ia menciptakan beban psikologis yang berat bagi pekerja.
Job insecurity tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga gaya kepemimpinan internal. Pemimpin yang otoriter, tertutup, dan tidak transparan dalam mengelola informasi dapat meningkatkan kecemasan karyawan. Ketidakjelasan mengenai masa depan organisasi, arah strategi, atau evaluasi kinerja membuat pekerja merasa posisi mereka mudah tergantikan.
Kondisi ini dijelaskan dalam teori psychological contract oleh Denise Rousseau (1989). Ketika karyawan merasa janji tidak tertulis antara dirinya dan perusahaan—seperti stabilitas kerja atau penghargaan atas loyalitas—dilanggar, maka rasa tidak aman terhadap pekerjaan akan muncul.
Sebaliknya, komunikasi yang jujur, kepemimpinan yang suportif, serta keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan dapat menekan rasa job insecurity. Penelitian Kinnunen & Nätti (1994) menunjukkan bahwa dukungan manajerial yang kuat mampu mengurangi dampak negatif job insecurity terhadap kesejahteraan mental karyawan.
Selain faktor eksternal, job insecurity juga dipengaruhi oleh faktor personal. Tidak semua orang merespons situasi ketidakpastian dengan cara yang sama. Individu dengan tingkat neuroticism tinggi, misalnya, lebih rentan merasa cemas terhadap ancaman kehilangan pekerjaan. Sebaliknya, mereka yang memiliki self-efficacy dan resilience lebih mampu mengelola ketidakpastian.
Menurut Lazarus & Folkman (1984), stres muncul bukan hanya karena ancaman itu sendiri, tetapi karena bagaimana individu menilainya (cognitive appraisal). Dua orang dengan kondisi kerja yang sama bisa merasakan tingkat job insecurity berbeda, tergantung cara mereka memaknai situasi tersebut.
Faktor lain yang berpengaruh adalah usia dan tahap karier. Penelitian Sverke, Hellgren, & Näswall (2002) menunjukkan bahwa pekerja muda sering kali lebih fleksibel menghadapi job insecurity karena mereka masih punya waktu panjang untuk beradaptasi. Sebaliknya, pekerja senior yang sudah lama berada dalam satu perusahaan cenderung lebih merasa terancam, terutama jika keterampilan mereka tidak lagi relevan dengan kebutuhan pasar.
Konteks budaya juga berperan dalam membentuk rasa aman terhadap pekerjaan. Di masyarakat yang sangat menekankan stabilitas kerja sebagai simbol status dan keamanan hidup, kehilangan pekerjaan dianggap sebagai ancaman besar terhadap identitas sosial. Misalnya di banyak budaya Asia, pekerjaan permanen di perusahaan ternama bukan hanya sumber penghasilan, tetapi juga penopang harga diri dan posisi dalam keluarga.
Hal ini berbeda dengan budaya Barat yang lebih individualis, di mana berpindah-pindah pekerjaan dianggap hal wajar dan bahkan tanda mobilitas karier. Meskipun demikian, job insecurity tetap bisa dirasakan di sana, hanya manifestasinya berbeda. Ia lebih terkait pada ketidakpastian arah karier daripada sekadar kehilangan pekerjaan.
Job insecurity bukan sekadar rasa khawatir biasa. Penelitian menunjukkan ia dapat berdampak serius pada kesehatan mental maupun fisik.
Menurut Dekker & Schaufeli (1995), job insecurity berhubungan erat dengan tingkat stres kronis, depresi, kecemasan, hingga penurunan kualitas tidur. Stres berkepanjangan juga bisa memengaruhi kesehatan fisik, misalnya meningkatkan risiko hipertensi dan gangguan sistem imun.
Lebih jauh, rasa tidak aman ini menurunkan keterlibatan kerja (work engagement) dan komitmen organisasi. Karyawan yang merasa pekerjaannya terancam cenderung mengurangi kontribusi, bahkan mencari peluang lain di luar. Hal ini menimbulkan siklus negatif: perusahaan kehilangan produktivitas, lalu makin memperbesar ketidakpastian di kalangan pekerja.
Tidak hanya berdampak pada individu, job insecurity juga merembes ke kehidupan sosial. Karyawan yang terus-menerus cemas tentang masa depan pekerjaan membawa pulang beban itu ke rumah. Hubungan keluarga bisa terganggu, muncul konflik domestik, hingga perasaan rendah diri.
Penelitian Probst (2005) menunjukkan bahwa job insecurity berhubungan dengan perilaku berisiko seperti penyalahgunaan alkohol dan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial. Dengan kata lain, ia bukan hanya masalah perusahaan, tetapi juga fenomena sosial yang memengaruhi kualitas hidup masyarakat secara luas.
Dari uraian di atas, jelas bahwa job insecurity adalah hasil interaksi kompleks antara faktor eksternal dan internal. Ia dipengaruhi kondisi ekonomi global, dinamika organisasi, gaya kepemimpinan, hingga karakter individu dan budaya sosial. Literatur psikologi organisasi dari De Witte, Greenhalgh & Rosenblatt, hingga Rousseau menegaskan bahwa rasa tidak aman ini bukan sekadar kecemasan pribadi, melainkan fenomena struktural yang melekat pada dunia kerja modern.
Ketidakpastian tampaknya akan selalu menjadi bagian dari kehidupan kerja. Namun, pemahaman yang lebih baik tentang penyebab job insecurity dapat membantu perusahaan, pemerintah, dan individu untuk mencari strategi mengelola dampaknya. Transparansi organisasi, pengembangan keterampilan berkelanjutan, serta dukungan sosial dan psikologis menjadi kunci untuk menciptakan rasa aman, meskipun berada di tengah dunia kerja yang penuh perubahan.
Notifications