Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Toxic productivity adalah keinginan yang tidak sehat untuk menjadi produktif setiap saat dengan segala cara. Ini adalah kebutuhan untuk bekerja lebih keras bahkan ketika tugas telah selesai. Ada perasaan bersalah karena merasa kurang maksimal dalam mengerjakan tugas, padahal nyatanya usaha kita sudah maksimal.

Konsep toxic productivity bukanlah hal baru, Quazi telah menyebutkan adanya jebakan "hustle culture" modern, yaitu persaingan tak terucapkan tentang siapa yang bisa berbuat lebih banyak dan lebih sedikit istirahat. Hal ini menimbulkan kecemasan ketika kita  mengetahui jika kita memilih beristirahat, maka akan selalu ada seseorang di luar sana yang masih bekerja lebih keras.

Salah satu masalah yang terus berlanjut dengan toxic productivity adalah kenyataan bahwa seseorang tidak dapat bekerja dan beristirahat secara seimbang. Setiap jam yang seharusnya digunakan untuk istirahat atau refreshing justru digunakan untuk terus bekerja tanpa henti. Toxic productivity ini semakin diperparah dengan adanya pandemi Covid-19. Dengan ruang bergerak yang terbatas karena adanya pemberlakukan karantina wilayah, maka akan semakin banyak waktu yang dihabiskan individu untuk bekerja. Jika terus terjadi toxic productivity akan berdampak buruk bagi tubuh, baik secara fisik maupun mental seperti kelelahan, kurang tidur, cemas, hingga depresi.

Referensi:

Seaver, M. (2021, June 17). The Dangerous Trap of Toxic Productivity—and How to Break the Cycle. Real Simple. https://www.realsimple.com/health/mind-mood/stress/toxic-productivity

Wong, B. (2021, April 5). What Is Toxic Productivity? Here’s How To Spot The Damaging Behavior. HuffPost. https://www.huffpost.com/entry/toxic-productivity-work_l_606655e7c5b6aa24bc60a566

Salah satu sumber kenapa bisa terjadi toxic productivity adalah tekanan menjadi produktif dari media sosial kita. Sebab, dari sana, kita seakan-akan bersaing dengan orang lain  untuk berlomba-lomba membagikan kegiatan atau hal produktif yang baru dikerjakan maupun dicapai.

Dari sana juga, terkadang menyebabkan rasa bersalah pada diri sendiri karena merasa kurang dari orang lain, ingin memperbaiki diri, sampai-sampai hilang fokus pada tujuan yang sebenarnya ingin dicapai. Selalu ingin menjadi diri yang ‘sempurna’, penuh skill, pintar, berpengalaman, dan bisa di semua hal. Akhirnya, tanpa sadar hal tersebut akan menjadi tekanan tersendiri bagi kita untuk memaksa diri terus berkembang dan mengukur kelayakan diri berdasarkan produktivitas.

Toxic productivity menjadi tidak baik karena bisa mengakibatkan tingginya ekspektasi dan merasa tidak puas dan bersalah jika tidak melakukan hal yang produktif. Toxic productivity juga menyebabkan kita kerja berlebihan, komitmen untuk pekerjaan memanglah patut diacungi jempol, tapi kalau berlebihan sampai bekerja terlalu keras dan mengabaikan hal lain seperti istirahat dan tidur. Hal ini tidak hanya berpengaruh ke diri sendiri tetapi juga akan berpengaruh ke orang sekitar kamu terutama keluarga yang menganggap kamu terlalu sibuk. Sebab kamu seakan mengabaikan mereka akibat terlalu keras bekerja.

Menurut saya, sebuah kegiatan dapat menjadi toxic jika kita melakukan kegiatan tersebut karena untuk memenuhi tuntutan, bisa jadi dari diri sendiri ataupun pengaruh luar, sedangkan diri sendiri tidak mendapatkan makna atau value dari kegiatan yang sudah dikerjakan karena kita hanya melakukannya untuk memenuhi tuntutan tersebut.

Aku pernah terjebak di fase yang orang sekarang suka sebut toxic productivity. Awalnya, aku pikir aku sedang jadi versi terbaik diriku. Bangun pagi, bikin to-do list yang panjang, menjejalkan waktu dengan kursus online, baca buku, kerja, side hustle, bahkan olahraga pun harus ada di jam tertentu. Dari luar kelihatan keren — “wah, produktif banget ya hidupmu.” Tapi di dalam, aku justru merasa hampa.

Ada satu momen yang masih membekas. Malam itu, aku pulang dari kantor sudah hampir jam 10 malam. Tubuh rasanya lelah sekali, tapi aku tetap membuka laptop karena ada “proyek pribadi” yang ingin aku selesaikan. Aku duduk dengan mata berat, mengetik sambil menahan kantuk, lalu tiba-tiba aku berhenti. Di layar, barisan kalimat yang kutulis tak masuk akal. Tanganku gemetar, dan untuk pertama kalinya aku bertanya ke diri sendiri: “Aku ini sebenarnya sedang hidup… atau cuma sedang mengejar agar terlihat hidup?”

Itu titik ketika aku sadar: produktivitas bisa jadi candu. Kita terbuai dengan checklist, merasa berharga hanya ketika ada sesuatu yang dicoret dari daftar. Padahal, manusia bukan mesin yang diciptakan untuk beroperasi tanpa henti. Ada ruang kosong yang seharusnya kita biarkan hening, bukan selalu kita isi dengan “pencapaian kecil”.

Aku belajar dengan cara yang agak menyakitkan: tubuhku protes. Beberapa kali sakit tanpa sebab jelas, sering pusing, gampang marah. Hubungan dengan orang-orang dekat juga terasa hambar karena aku selalu “sibuk”. Bahkan ketika duduk makan bersama keluarga, pikiranku masih melayang ke pekerjaan yang belum selesai. Aku hadir, tapi sebenarnya tidak benar-benar ada di sana.

Yang lebih menakutkan, toxic productivity membuatku kehilangan kemampuan untuk merasakan hidup. Aku lupa bagaimana rasanya duduk menikmati hujan tanpa merasa “buang waktu”. Aku lupa bagaimana nikmatnya tidur siang singkat. Aku lupa menulis diary hanya untuk diri sendiri, bukan untuk diposting di media sosial.

Butuh waktu lama untuk pelan-pelan keluar dari jerat itu. Aku mulai berlatih menerima bahwa beristirahat juga produktif. Aku belajar mengatakan “cukup” meski masih ada banyak hal yang ingin aku kerjakan. Aku mencoba mengembalikan lagi makna sederhana: makan dengan tenang, berjalan kaki tanpa earphone, membiarkan pikiran melayang tanpa arah.

Produktivitas yang sehat, kurasa, bukan tentang berapa banyak hal yang bisa kita capai, tapi tentang seberapa utuh kita hadir dalam apa yang sedang kita lakukan. Kadang justru di saat kita berhenti sejenak, di situlah kita benar-benar tumbuh.

Sekarang, kalau aku merasa bersalah karena tidak melakukan apa-apa, aku mencoba bertanya: “Kalau hari ini aku hanya bernapas, tersenyum sedikit, dan mendengarkan musik pelan… apakah itu tidak cukup?” Dan aku menemukan jawabannya: cukup sekali.

Karena pada akhirnya, kita bukanlah daftar tugas. Kita adalah manusia yang punya batas, rasa, dan keheningan yang juga perlu dipeluk.


“Produktivitas yang sejati bukanlah menumpuk hasil, melainkan merawat jiwa agar tetap utuh. Sebab hidup bukan sekadar derap langkah tanpa henti, tapi juga diam yang memberi arti.”

Apakah kamu juga pernah merasa sibuk, tapi sebenarnya kosong?

Produktif yang Menyehatkan vs. Produktif yang Merusak

Produktivitas selalu dipuji sebagai sesuatu yang positif. Dalam dunia kerja modern, orang yang produktif dipandang lebih berhasil, lebih disiplin, dan lebih layak dijadikan teladan. Namun, ada sisi lain dari produktivitas yang jarang dibicarakan: ketika dorongan untuk terus produktif berubah menjadi paksaan yang justru merusak kesehatan mental dan fisik. Fenomena ini dikenal sebagai toxic productivity.

Toxic productivity tidak sekadar “rajin bekerja”. Ia adalah kondisi di mana seseorang terus merasa bersalah ketika tidak melakukan sesuatu yang dianggap “bermanfaat”. Istirahat dipandang sebagai pemborosan waktu, bersantai terasa seperti kelemahan, dan bahkan momen bahagia pun bisa ternodai oleh rasa bersalah karena “seharusnya aku bisa bekerja lebih banyak”.

Fenomena ini semakin relevan di era digital saat standar produktivitas ditampilkan setiap hari melalui media sosial, di mana orang saling pamer pencapaian dan “hustle culture” menjadi gaya hidup. Banyak orang akhirnya masuk ke dalam lingkaran setan: merasa harus selalu melakukan sesuatu, lalu ketika gagal, dihantui rasa tidak berguna.

Dari Mana Munculnya Toxic Productivity?

Secara psikologis, toxic productivity tidak muncul begitu saja. Ada beberapa akar yang membuatnya tumbuh.

Pertama, ada faktor budaya kerja modern yang menjunjung tinggi “kesibukan”. Psikolog klinis Madeleine Dore dalam bukunya I Didn’t Do the Thing Today menyoroti bagaimana masyarakat modern memandang kesibukan sebagai simbol kesuksesan. Seseorang merasa lebih berharga jika punya banyak jadwal, banyak target, dan sedikit waktu kosong.

Kedua, ada pengaruh perbandingan sosial. Teori social comparison yang dikembangkan oleh Leon Festinger (1954) menjelaskan bahwa manusia cenderung menilai dirinya berdasarkan perbandingan dengan orang lain. Ketika orang lain terlihat produktif—misalnya memamerkan rutinitas kerja keras, olahraga rutin, belajar skill baru, dan membaca buku tiap minggu—maka muncul perasaan tertinggal. Inilah salah satu bahan bakar toxic productivity.

Ketiga, ada faktor psikologis internal, yaitu kebutuhan untuk mendapatkan validasi. Psikolog Andrew Hill menekankan dalam studinya tentang perfeksionisme bahwa orang dengan kecenderungan perfeksionis lebih rentan terhadap toxic productivity. Mereka menganggap nilai diri ditentukan oleh seberapa banyak yang bisa mereka hasilkan. Ketika target tidak tercapai, mereka merasa gagal secara personal.

Hubungan dengan Kesehatan Mental

Toxic productivity terlihat seperti semangat positif di permukaan, tetapi pada dasarnya bisa sangat merusak. Psikolog klinis Sheryl Ziegler dalam bukunya Mommy Burnout menulis bahwa tekanan untuk terus produktif menyebabkan banyak orang masuk ke dalam keadaan chronic stress. Tubuh terus berada dalam mode siaga, sehingga hormon stres seperti kortisol diproduksi berlebihan.

Akibatnya, muncul berbagai masalah kesehatan: sulit tidur, mudah lelah, hingga gangguan kecemasan. Bahkan ada penelitian dari Journal of Occupational Health Psychology yang menunjukkan bahwa individu yang terus menerus bekerja tanpa jeda mengalami peningkatan risiko depresi dan burnout.

Lebih parahnya lagi, toxic productivity juga bisa merusak hubungan sosial. Waktu untuk keluarga dan teman jadi dianggap sebagai “penghalang produktivitas”. Akhirnya, seseorang bisa kehilangan jaringan dukungan sosial yang justru penting untuk kesehatan mental.

Ilusi Kendali dan Rasa Bersalah

Salah satu ciri khas toxic productivity adalah perasaan bersalah saat beristirahat. Bahkan ketika semua target harian sudah tercapai, seseorang tetap merasa ada yang kurang. Hal ini berhubungan dengan konsep illusion of control yang dikemukakan oleh Ellen Langer, seorang profesor psikologi di Harvard.

Menurut Langer, manusia cenderung melebih-lebihkan kontrol mereka atas hasil yang sebenarnya dipengaruhi banyak faktor eksternal. Dalam konteks toxic productivity, orang percaya bahwa semakin mereka bekerja tanpa henti, semakin besar kendali atas masa depan. Padahal, tidak semua hal bisa dikendalikan. Akhirnya, ketika kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi, rasa bersalah dan kegagalan pun muncul.

Dampak di Era Digital dan Hustle Culture

Media sosial berperan besar dalam memperkuat toxic productivity. Fenomena hustle culture—seperti slogan “sleep when you’re dead” atau “grind now, shine later”—mendorong orang untuk mengorbankan istirahat demi pencapaian.

Cal Newport dalam bukunya Deep Work memang menekankan pentingnya fokus dan kerja mendalam, tetapi ia juga mengingatkan bahwa pekerjaan produktif hanya mungkin dicapai jika seseorang mampu menyeimbangkan kerja dengan istirahat. Ironisnya, banyak orang hanya mengambil separuh pesan: kerja keras tanpa batas, tanpa mengindahkan pentingnya jeda.

Fenomena ini diperparah oleh algoritma media sosial yang mendorong orang untuk terus membandingkan hidup mereka dengan pencapaian orang lain. Akhirnya, standar produktivitas jadi semakin tinggi dan tidak realistis.

Mengapa Istirahat Itu Penting

Neurosains menunjukkan bahwa otak manusia tidak dirancang untuk terus aktif tanpa henti. Penelitian yang diterbitkan dalam Nature Reviews Neuroscience menemukan bahwa otak memiliki jaringan yang disebut default mode network (DMN), yang aktif saat kita sedang beristirahat. DMN justru berperan penting dalam konsolidasi memori, kreativitas, dan refleksi diri.

Dengan kata lain, beristirahat bukanlah kemalasan, melainkan bagian dari mekanisme otak untuk bekerja lebih optimal. Tanpa istirahat, produktivitas justru menurun drastis. Inilah yang sering diabaikan oleh mereka yang terjebak dalam toxic productivity.

Cara Mengenali Tanda-Tanda Toxic Productivity

Tidak semua semangat bekerja termasuk toxic productivity. Yang membedakannya adalah dampak terhadap diri sendiri. Beberapa tanda yang sering muncul antara lain:

  • Merasa bersalah saat beristirahat, bahkan hanya sebentar.
  • Menganggap nilai diri bergantung pada seberapa banyak yang dikerjakan.
  • Sulit menikmati aktivitas santai tanpa merasa “buang waktu”.
  • Kehilangan koneksi sosial karena semua waktu diarahkan untuk produktif.
  • Sering merasa cemas atau tidak puas meski sudah bekerja keras.

Psikolog klinis Amantha Imber menekankan bahwa mengenali tanda-tanda ini adalah langkah awal untuk keluar dari lingkaran toxic productivity.

Belajar dari Konsep “Good Enough”

Salah satu pendekatan yang ditawarkan oleh Donald Winnicott, seorang psikoanalis terkenal, adalah konsep “good enough”. Winnicott awalnya memperkenalkan istilah “good enough mother” untuk menggambarkan bahwa orang tua tidak harus sempurna, cukup “cukup baik” agar anak bisa berkembang sehat. Konsep ini bisa diterapkan juga pada produktivitas.

Kita tidak harus selalu mencapai target sempurna. Cukup melakukan hal-hal penting dengan kualitas yang baik sudah memadai. Dengan pola pikir ini, rasa bersalah karena “tidak melakukan cukup banyak” bisa berkurang.

Menemukan Keseimbangan

Produktivitas yang sehat berarti menyeimbangkan antara bekerja, istirahat, dan kehidupan sosial. Mihaly Csikszentmihalyi, psikolog yang terkenal dengan konsep flow, menekankan bahwa manusia mencapai kebahagiaan bukan saat terus sibuk tanpa jeda, melainkan ketika terlibat penuh dalam aktivitas yang bermakna, sambil tetap menjaga keseimbangan hidup.

Beberapa langkah sederhana bisa membantu menjaga keseimbangan:

  • Menetapkan batas kerja yang jelas, misalnya jam tertentu untuk berhenti.
  • Menghargai istirahat sebagai bagian dari proses produktif.
  • Mengukur pencapaian bukan hanya dari hasil kerja, tetapi juga dari kualitas hidup.
  • Menyadari bahwa nilai diri tidak hanya ditentukan oleh produktivitas.

Penutup

Produktivitas pada dasarnya adalah hal baik. Ia memberi makna, tujuan, dan pencapaian dalam hidup. Namun, ketika produktivitas berubah menjadi paksaan yang disertai rasa bersalah, ia menjadi racun yang menggerogoti kesehatan mental, fisik, dan relasi sosial.

Membebaskan diri dari toxic productivity bukan berarti menjadi malas, tetapi belajar mengenali batas, menghargai istirahat, dan menemukan makna di luar pencapaian kerja. Dengan begitu, produktivitas kembali ke esensinya: sarana untuk hidup lebih baik, bukan belenggu yang merampas kebahagiaan.