Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana cara menghadapi orang yang tidak kita sukai di dunia kerja?


Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
30

Ada satu kenyataan yang hampir tidak pernah dibicarakan secara jujur ketika seseorang mulai bekerja: tidak semua orang di tempat kerja akan kita sukai.

Kita sering tumbuh dengan gagasan bahwa jika kita bersikap baik, profesional, dan bekerja dengan sungguh-sungguh, hubungan dengan orang lain akan berjalan lancar. Namun dunia kerja jarang sesederhana itu. Dalam satu ruangan, bisa berkumpul orang-orang dengan latar belakang, kepribadian, luka batin, cara berpikir, dan ambisi yang sangat berbeda.

Dalam situasi seperti itu, sangat wajar jika suatu saat kita bertemu seseorang yang entah mengapa membuat dada terasa sesak setiap kali berinteraksi dengannya.

Kadang orang itu tidak melakukan sesuatu yang jelas-jelas salah.
Namun cara bicaranya terasa merendahkan.
Nada suaranya selalu seperti menghakimi.
Atau mungkin sikapnya mengingatkan kita pada seseorang dari masa lalu yang pernah menyakiti kita.

Tubuh kita sering merespons orang tertentu bahkan sebelum pikiran sempat menjelaskan alasannya.

Dan respons itu bukan sekadar perasaan tidak nyaman biasa. Ada proses biologis yang sangat nyata di baliknya.


Mengapa Otak Kita Bereaksi Kuat terhadap Orang Tertentu

Dalam ilmu saraf, ada bagian otak yang disebut amygdala. Struktur kecil ini terletak jauh di dalam sistem limbik dan memiliki peran besar dalam mendeteksi ancaman.

Amygdala bekerja sangat cepat. Bahkan sering lebih cepat daripada pikiran rasional.

Ketika seseorang berbicara dengan nada agresif, menunjukkan ekspresi wajah yang mengancam, atau mengingatkan kita pada pengalaman buruk sebelumnya, amygdala dapat mengaktifkan respons stres hampir seketika.

Detak jantung meningkat.
Otot menegang.
Tubuh bersiap menghadapi ancaman.

Menariknya, ancaman itu tidak harus bersifat fisik.

Dalam buku Why Zebras Don’t Get Ulcers, Robert Sapolsky menjelaskan bahwa bagi manusia modern, ancaman sosial sering kali memicu respons stres yang sama kuatnya dengan ancaman fisik.

Sindiran dari rekan kerja.
Tatapan merendahkan dari atasan.
Komentar sinis dalam rapat.

Semua itu dapat memicu reaksi biologis yang sangat nyata dalam tubuh.

Karena itu, tidak heran jika beberapa orang di tempat kerja terasa sangat melelahkan untuk dihadapi.

Tubuh kita sebenarnya sedang bereaksi terhadap sesuatu yang dianggap berbahaya.


Konflik Sosial dan Beban Mental yang Tidak Terlihat

Ada satu kisah yang selalu teringat ketika membicarakan hal ini.

Saya pernah berbincang dengan seseorang yang bekerja di sebuah perusahaan besar. Dari luar hidupnya tampak sangat stabil. Pekerjaan mapan, karier berkembang, dan lingkungan kerja terlihat profesional.

Namun setiap hari ia pulang dengan kelelahan yang tidak bisa dijelaskan.

Awalnya ia mengira penyebabnya adalah beban pekerjaan.

Tetapi setelah percakapan yang lebih panjang, muncul satu pola yang menarik. Setiap kali ia menceritakan hari kerjanya, selalu ada satu nama yang muncul.

Seorang rekan kerja.

Orang itu tidak pernah secara terang-terangan menyerangnya. Namun ada komentar-komentar kecil yang selalu terasa meremehkan.

Candaan yang sedikit terlalu tajam.
Sikap yang sedikit terlalu dingin.
Kompetisi yang terasa tidak sehat.

Hal-hal kecil yang jika dilihat satu per satu mungkin tampak sepele.

Tetapi ketika terjadi setiap hari, mereka menjadi seperti tetesan air yang terus menerus mengenai batu.

Pelan, tetapi pasti mengikis energi mental seseorang.

Penelitian dalam bidang kesehatan kerja menunjukkan bahwa konflik interpersonal di tempat kerja merupakan salah satu penyebab stres kronis yang paling sering diabaikan.

Dalam buku The Handbook of Stress and Health yang diedit oleh Cary Cooper dan James Campbell Quick, disebutkan bahwa hubungan kerja yang penuh ketegangan dapat meningkatkan risiko kelelahan emosional, gangguan tidur, bahkan depresi.

Ini bukan sekadar masalah perasaan.

Ini juga masalah fisiologi.


Mengapa Kita Sulit Bersikap Netral

Banyak orang berpikir bahwa cara terbaik menghadapi orang yang tidak disukai adalah dengan bersikap profesional dan tidak melibatkan emosi.

Secara teori, itu benar.

Namun dalam praktiknya, tidak selalu mudah.

Manusia bukan makhluk yang sepenuhnya rasional. Emosi sosial memiliki pengaruh besar terhadap cara kita memandang orang lain.

Dalam buku The Neuroscience of Human Relationships, Louis Cozolino menjelaskan bahwa otak manusia secara alami membangun peta sosial.

Setiap orang yang kita temui secara tidak sadar dikategorikan oleh otak:

Apakah orang ini aman?
Apakah orang ini ancaman?
Apakah orang ini bisa dipercaya?

Kategori ini sering terbentuk jauh sebelum kita sempat memikirkannya secara sadar.

Karena itu, ketika seseorang sudah masuk ke kategori “tidak aman” dalam peta sosial otak kita, interaksi dengannya akan selalu terasa berat.

Tubuh bereaksi bahkan sebelum percakapan dimulai.


Batas Emosional yang Sehat

Salah satu kesalahan yang sering terjadi di dunia kerja adalah mencoba memaksakan hubungan yang sebenarnya tidak perlu.

Tidak semua orang harus menjadi teman.

Tidak semua hubungan kerja harus hangat secara emosional.

Kadang yang dibutuhkan hanyalah batas yang jelas.

Dalam psikologi hubungan, ada konsep yang disebut emotional boundaries.

Ini berarti seseorang mampu membedakan antara ruang emosinya sendiri dengan ruang emosional orang lain.

Ketika seseorang di tempat kerja bersikap dingin, kompetitif, atau bahkan menyebalkan, reaksi pertama yang muncul sering kali bersifat personal.

Kita merasa diserang.

Kita merasa tidak dihargai.

Namun sering kali perilaku orang tersebut lebih banyak berbicara tentang kondisi internal mereka sendiri daripada tentang kita.

Ada satu hal yang sering dilupakan:

Banyak orang membawa konflik batin mereka sendiri ke tempat kerja.

Tekanan keluarga.
Ketakutan kehilangan posisi.
Trauma masa lalu.
Rasa tidak aman terhadap kemampuan diri sendiri.

Semua itu bisa muncul dalam bentuk sikap yang sulit.


Ketika Ketidaksukaan Menjadi Beban Mental

Namun ada situasi ketika hubungan kerja yang buruk tidak lagi sekadar membuat tidak nyaman.

Ia mulai menggerogoti kesehatan mental.

Penelitian dalam jurnal Occupational and Environmental Medicine menunjukkan bahwa konflik interpersonal yang berkepanjangan di tempat kerja berkorelasi dengan peningkatan risiko gangguan kecemasan dan depresi.

Alasannya cukup sederhana.

Otak manusia tidak dirancang untuk berada dalam keadaan waspada sosial setiap hari.

Jika seseorang harus terus menerus berinteraksi dengan orang yang membuatnya merasa terancam atau direndahkan, sistem stres tubuh dapat tetap aktif dalam jangka panjang.

Kortisol meningkat.
Tidur terganggu.
Konsentrasi menurun.

Dan perlahan-lahan, pekerjaan yang dulu terasa biasa saja mulai terasa sangat berat.


Mengapa Beberapa Orang Memicu Reaksi yang Sangat Kuat

Kadang masalahnya bukan hanya pada perilaku orang tersebut.

Kadang ada sesuatu yang lebih dalam.

Dalam buku Attachment in Psychotherapy, David Wallin menjelaskan bahwa pengalaman hubungan masa lalu dapat mempengaruhi cara kita bereaksi terhadap orang tertentu.

Seseorang yang tumbuh dengan figur otoritas yang sangat kritis, misalnya, mungkin memiliki sensitivitas tinggi terhadap atasan yang berbicara dengan nada serupa.

Orang lain yang pernah mengalami pengkhianatan mungkin sangat sensitif terhadap rekan kerja yang terlihat manipulatif.

Dengan kata lain, beberapa konflik di tempat kerja sebenarnya adalah pertemuan antara dua sejarah hidup yang berbeda.

Dan ketika dua sejarah itu bertabrakan, emosi yang muncul bisa jauh lebih kuat daripada yang terlihat di permukaan.


Ketika Profesionalisme Menjadi Bentuk Perlindungan Diri

Ada satu kesalahpahaman yang sering muncul tentang profesionalisme.

Banyak orang menganggap profesionalisme berarti bersikap ramah kepada semua orang.

Padahal dalam banyak situasi, profesionalisme justru berarti menjaga jarak yang sehat.

Berinteraksi seperlunya.
Fokus pada tugas.
Tidak terlibat dalam permainan emosional yang tidak perlu.

Dalam buku Emotional Intelligence karya Daniel Goleman, dijelaskan bahwa kemampuan mengelola emosi dalam lingkungan sosial bukan berarti menekan emosi sepenuhnya.

Yang lebih penting adalah mengetahui kapan emosi perlu dilibatkan dan kapan tidak.

Di dunia kerja, tidak semua perasaan perlu direspons.

Beberapa cukup disadari lalu dilepaskan.


Sebuah Hal yang Jarang Disadari

Ada satu hal yang sering tidak disadari ketika seseorang menghadapi orang yang tidak disukainya di tempat kerja.

Sering kali, orang tersebut sebenarnya memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pikiran kita.

Kita memikirkan mereka dalam perjalanan pulang.
Mengingat kata-kata mereka berulang kali.
Membayangkan percakapan yang seharusnya kita ucapkan.

Tanpa sadar, mereka menempati ruang mental yang sangat besar dalam hidup kita.

Padahal dalam kenyataan, mereka mungkin hanya satu orang dari puluhan orang yang ada di tempat kerja.


Refleksi

Mungkin salah satu pelajaran paling aneh dalam kehidupan sosial adalah ini:

Kita tidak bisa memilih semua orang yang akan hadir dalam hidup kita.

Sebagian orang datang sebagai teman.

Sebagian sebagai rekan.

Sebagian lagi sebagai orang yang tidak pernah benar-benar kita pahami.

Namun setiap interaksi, bahkan yang paling tidak nyaman sekalipun, sering kali memperlihatkan sesuatu tentang diri kita sendiri.

Tentang batas yang kita miliki.
Tentang luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Tentang bagian dari diri kita yang masih bereaksi terhadap dunia dengan cara yang sangat manusiawi.

Dan kadang, orang yang paling tidak kita sukai di tempat kerja bukan hanya cermin dari siapa mereka sebenarnya.

Tetapi juga cermin yang diam-diam memperlihatkan sesuatu tentang diri kita yang selama ini belum sempat kita lihat dengan jujur.

Ada satu kenyataan yang hampir tidak bisa dihindari dalam dunia kerja: kita tidak selalu bekerja dengan orang yang kita sukai.

Kadang seseorang terlihat sangat menyenangkan di awal, tetapi setelah beberapa bulan bekerja bersama, kita mulai menyadari perbedaan yang cukup tajam. Cara berbicara mereka terasa merendahkan. Cara mereka mengambil keputusan terasa egois. Atau mungkin kepribadian mereka begitu berbeda dengan kita sehingga setiap interaksi terasa melelahkan.

Situasi seperti ini jauh lebih umum daripada yang sering dibicarakan. Banyak orang datang ke tempat kerja bukan hanya membawa keterampilan dan pengalaman, tetapi juga membawa kepribadian, kebiasaan, luka masa lalu, dan cara pandang yang berbeda tentang kehidupan.

Dan ketika semua itu bertemu dalam satu ruang kerja yang sama, konflik kecil hampir tidak bisa dihindari.

Namun yang menarik, masalah terbesar dalam situasi seperti ini sering bukan pada orang yang tidak kita sukai.

Sering kali masalah terbesar justru muncul dari bagaimana pikiran kita merespons keberadaan mereka.


Ketidaksukaan Adalah Reaksi yang Sangat Manusiawi

Pertama-tama, penting untuk memahami sesuatu yang sangat sederhana: tidak menyukai seseorang bukanlah sesuatu yang aneh.

Manusia secara alami memiliki kecenderungan untuk merasa lebih nyaman dengan orang yang memiliki nilai, cara berpikir, dan gaya komunikasi yang mirip dengan dirinya. Dalam psikologi sosial, fenomena ini dikenal sebagai similarity-attraction effect—kecenderungan manusia untuk merasa lebih tertarik kepada orang yang memiliki kesamaan dengan mereka (Byrne, 1971).

Ketika seseorang memiliki gaya yang sangat berbeda—cara berbicara yang keras, sikap yang terlalu kompetitif, atau bahkan humor yang terasa menyakitkan—pikiran kita secara otomatis menandai mereka sebagai “orang yang tidak nyaman”.

Masalahnya, dunia kerja tidak memberi kita kebebasan penuh untuk memilih dengan siapa kita bekerja.

Berbeda dengan pertemanan, hubungan kerja sering dibangun oleh struktur organisasi, bukan oleh pilihan emosional.

Dan di sinilah tantangan psikologisnya dimulai.


Ketika Ketidaksukaan Menjadi Beban Mental

Menariknya, seseorang yang tidak kita sukai sering bisa menempati ruang yang sangat besar dalam pikiran kita.

Mungkin hanya satu orang di kantor yang terasa sulit. Namun pikiran tentang orang itu bisa muncul berulang-ulang.

Apa yang mereka katakan kemarin.
Cara mereka menatap saat rapat.
Komentar kecil yang terasa meremehkan.

Pikiran manusia memiliki kecenderungan yang disebut negativity bias—kecenderungan untuk lebih mudah mengingat dan memikirkan pengalaman negatif dibandingkan pengalaman positif (Baumeister et al., 2001).

Akibatnya, satu interaksi yang tidak menyenangkan bisa terasa jauh lebih besar daripada sepuluh interaksi yang biasa saja.

Tanpa disadari, seseorang yang sebenarnya hanya bagian kecil dari lingkungan kerja bisa menjadi sumber stres yang sangat besar di dalam pikiran kita.

Kadang masalah terbesar bukan keberadaan orang itu, tetapi ruang yang kita berikan untuk mereka di dalam kepala kita.


Memahami Bahwa Setiap Orang Membawa Ceritanya Sendiri

Ada satu hal yang sering berubah ketika seseorang mulai melihat orang lain dengan lebih dalam: hampir setiap perilaku memiliki cerita di belakangnya.

Seseorang yang terlihat sangat defensif mungkin tumbuh dalam lingkungan yang selalu menuntut kesempurnaan.
Seseorang yang tampak sangat kompetitif mungkin pernah hidup dalam situasi di mana ia harus terus membuktikan dirinya.
Seseorang yang berbicara dengan nada keras mungkin bahkan tidak menyadari bahwa suaranya terdengar mengintimidasi.

Ini tidak berarti semua perilaku bisa dibenarkan.

Namun memahami bahwa setiap manusia membawa sejarahnya sendiri sering membuat emosi kita sedikit berubah.

Perasaan jengkel kadang berubah menjadi rasa penasaran.
Perasaan marah kadang berubah menjadi jarak emosional yang lebih tenang.

Penelitian dalam bidang perspective taking menunjukkan bahwa kemampuan untuk melihat situasi dari sudut pandang orang lain dapat mengurangi konflik interpersonal dan meningkatkan empati (Galinsky & Moskowitz, 2000).

Dan menariknya, empati dalam konteks ini tidak selalu berarti menyukai seseorang.

Kadang empati hanya berarti mampu melihat bahwa seseorang lebih kompleks daripada perilaku yang kita lihat di permukaan.


Batasan Emosional yang Sehat

Ada satu kesalahpahaman yang sering muncul ketika orang berbicara tentang hubungan di tempat kerja: seolah-olah semua orang harus saling menyukai.

Padahal dalam kenyataannya, hubungan profesional tidak selalu membutuhkan kedekatan emosional.

Yang dibutuhkan sering kali hanya satu hal: kemampuan untuk bekerja bersama secara fungsional.

Dalam psikologi hubungan, kemampuan ini sering disebut sebagai emotional boundary—batas emosional yang sehat antara diri sendiri dan orang lain.

Artinya, seseorang bisa tetap bekerja dengan profesional tanpa harus melibatkan emosi pribadi secara berlebihan.

Seseorang mungkin tidak menyukai rekan kerjanya.
Namun mereka masih bisa bekerja sama dalam proyek.
Masih bisa berdiskusi secara rasional.
Masih bisa menjaga komunikasi yang cukup.

Tidak semua hubungan harus menjadi hangat agar bisa berjalan dengan baik.


Mengelola Respons Diri Sendiri

Salah satu hal yang sering memberi rasa lega bagi banyak orang adalah menyadari bahwa kita tidak selalu bisa mengendalikan perilaku orang lain.

Namun kita hampir selalu memiliki ruang untuk mengendalikan respons kita sendiri.

Ini bukan konsep yang baru. Dalam psikologi kognitif, Aaron Beck menjelaskan bahwa emosi manusia sering kali dipengaruhi oleh cara kita menafsirkan suatu peristiwa (Beck, 1976).

Dua orang bisa mengalami situasi yang sama tetapi merespons dengan emosi yang sangat berbeda.

Misalnya, ketika seseorang berbicara dengan nada tajam dalam rapat.

Satu orang mungkin langsung merasa tersinggung.
Orang lain mungkin melihatnya sebagai gaya komunikasi yang kasar tetapi tidak terlalu memikirkannya setelah rapat selesai.

Perbedaan ini bukan tentang siapa yang benar atau salah.

Perbedaan ini sering muncul dari cara pikiran memberi makna pada suatu peristiwa.


Ketika Ketidaksukaan Mengajarkan Sesuatu

Ada satu sisi lain yang jarang dibicarakan tentang orang-orang yang sulit dalam hidup kita.

Mereka sering menjadi cermin yang tidak nyaman.

Kadang mereka memunculkan sisi diri kita yang jarang kita lihat: kesabaran yang terbatas, ego yang mudah tersinggung, atau kebutuhan untuk selalu dihargai.

Pertemuan dengan orang-orang yang sulit sering memaksa seseorang untuk melihat dirinya sendiri dengan lebih jujur.

Bukan dalam arti menyalahkan diri.

Tetapi dalam arti memahami bagaimana emosi kita bekerja.

Dan dalam beberapa kasus, orang-orang yang paling sulit dalam hidup kita justru menjadi guru yang tidak kita pilih.

Mereka mengajarkan tentang batasan.
Tentang kesabaran.
Tentang kemampuan untuk tetap tenang di tengah situasi yang tidak nyaman.


Sebuah Renungan

Dunia kerja mempertemukan begitu banyak manusia yang berbeda dalam satu ruang yang sama.

Setiap orang datang dengan cara berpikirnya sendiri, sejarah hidupnya sendiri, dan luka yang mungkin tidak pernah diceritakan kepada siapa pun.

Tidak semua pertemuan itu akan terasa nyaman.

Beberapa orang akan terasa hangat dan mudah dipahami.
Beberapa lainnya akan terasa sulit, bahkan melelahkan.

Namun mungkin di balik semua itu ada satu kenyataan sederhana tentang kehidupan manusia:

kita tidak selalu memiliki kendali atas siapa yang hadir dalam perjalanan kita.

Tetapi kita hampir selalu memiliki ruang kecil untuk memilih bagaimana kita membawa diri kita di tengah mereka.

Dan sering kali, kedewasaan emosional seseorang tidak terlihat dari seberapa baik ia bergaul dengan orang yang ia sukai—

melainkan dari bagaimana ia tetap menjaga dirinya ketika harus berdiri di samping orang yang tidak ia pilih untuk disukai.


Referensi

Baumeister, R. F., Bratslavsky, E., Finkenauer, C., & Vohs, K. (2001). Bad Is Stronger Than Good. Review of General Psychology.

Beck, A. T. (1976). Cognitive Therapy and the Emotional Disorders. International Universities Press.

Byrne, D. (1971). The Attraction Paradigm. Academic Press.

Galinsky, A. D., & Moskowitz, G. B. (2000). Perspective-Taking: Decreasing Stereotype Expression, Stereotype Accessibility, and In-Group Favoritism. Journal of Personality and Social Psychology.

Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence. Bantam Books.

Setiap orang pasti ada yang suka dan ada yang tidak suka. Untuk menghadapi orang yang tidak suka pada kita yaitu:

  1. Berusaha untuk bersabar dan tidak peduli terhadap orang yang tidak disukai
  2. Daripada kepikiran orang lain, lebih baik fokus pada diri sendiri
  3. Tak peduli seberapa keras usaha kita, beberapa orang memang tak pernah bisa untuk membaur dengan kita. Penting untuk kita ketahui bahwa daripada memikirkan betapa menyakitkannya perlakuan mereka pada kita, lebih baik kita fokus terhadap kekurangan diri sendiri. Apa saja yang harus diperbaiki sehingga kita tak akan membuat orang lain merasakan hal yang sama, menderita karena tidak menyukai kita.
  4. Tanggapi Secara Positif Apa Yang Mereka Ucapkan.
  5. Ekspresikan Perasaanmu Dengan Tenang
  6. Memberi jarak dengan orang yang tidak disukai. untuk menciptakan jarak dengan orang yang tak Anda sukai. Ucapkan permisi dan menghindarlah. Memang ada kalanya ada orang-orang yang harus dihindari. Dengan menghindar dan memberi jarak, mungkin nantinya Anda akan menjadi lebih nyaman untuk kembali dan berinteraksi lagi dengan orang tersebut.

Alasan seseorang untuk menjadi tidak suka kepada orang lain tentunya beragam. Namun, jangan sampai kita kalah oleh ego kita hanya karena tidak menyukai orang tersebut. Kita tidak pernah tahu apakah orang tersebut akan memberikan hal positif di masa depan atau tidak.

Bagaimana cara menghadapi orang yang tidak disukai dengan profesional?

Caranya adalah dengan mencoba mengontrol emosi dan mengelola perasaan kita. Apalagi jika alasan kamu tidak menyukainya merupakan alasan yang sepele. Jika ia pernah merugikanmu, buatlah prinsip bahwa kamu hanya bertemu dengannya untuk sementara. Keadaan ini tidak akan selamanya terjadi. Namun, jika orang yang tidak kamu sukai merupakan orang yang setiap hari bertemu denganmu dan kamu merasa tidak nyaman, mungkin suatu hari kamu dapat bertemu dengannya dan mencoba untuk membicarakannya.

Dalam hidup kita, ada beberapa orang yang tidak kita sukai, entah karena cara bicaranya, sikapnya, atau apapun dalam hidupnya. Berikut cara menghadapi orang yang tidak kita sukai, antara lain:

1. Menerima kenyataan bahwa kita tidak bisa menyukai setiap orang

Ketika kamu menerima kenyataan bahwa tak semua orang akan menyukai kamu dan kamu juga tak mungkin akan menyukai semua orang, kamu bisa menghadapi semua ini dengan lebih nyaman.

2. Mentoleransi orang yang tidak kita sukai

Jika kamu mampu menghadapi mereka dan mentoleransinya, kamu hebat. Ingat, kamu pun tidak sempurna dan juga butuh ditoleransi.

3. Memperlakukan orang yang tidak kita sukai dengan baik

Bagaimanapun perasaan kamu terhadap seseorang, apa yang kamu lakukan pada mereka akan berbalik pada kamu. Jadi, kamu harus tetap bersikap baik, adil, tenang, dan tidak memihak ketika berhadapan dengan orang yang tidak kamu sukai.

4. Memeriksa harapan kita sendiri

Cobalah untuk memikirkan apakah harapan yang kamu berikan kepadanya cukup realistis. Dengan cara ini, kamu tak akan mudah kecewa dengan perilaku orang lain yang mungkin tidak kamu sukai.

5. Fokus pada diri kita sendiri

Alih-alih fokus pada hal negatif dari orang tersebut, fokuslah pada alasan mengapa kamu bisa begitu tak sukanya dengan orang tersebut. Kadang apa yang tidak kita sukai dari orang lain sebenarnya adalah apa yang tak kita sukai dari diri sendiri.

6. Berhenti sejenak dan mengambil nafas dalam

Berhenti sejenak lalu hirup nafas dalam-dalam. Dengan demikian, kamu bisa mentralkan pikiran dan meneruskan percakapan dengan orang tersebut tanpa harus membuat penghakiman yang tak perlu.

7. Mengatakan kebutuhan kita kepada orang yang tidak kita sukai

Jika ada seseorang yang terus-terusan membuat kamu sebal, cobalah dengan lembut mengatakan padanya bahwa tindakan dan cara berkomunikasinya tidak cocok dengan kamu. Pilihlah kata-kata yang tidak kasar. Kemudian tunggulah reaksinya. Dari sini, kadang kamu akan tahu alasan mengapa mereka bisa bertindak begitu menyebalkan.

8. Memberi jarak dengan orang yang tak disukai

Memang ada kalanya ada orang-orang yang harus dihindari. Dengan menghindar dan memberi jarak, mungkin nantinya kamu akan menjadi lebih nyaman untuk kembali dan berinteraksi lagi dengan orang tersebut.