Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apakah toxic productivity membuat saya sulit bersikap realistis terhadap target kerja?


Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
32

Jawaban singkatnya: ya, sangat mungkin. Tapi aku tidak ingin berhenti di situ. Aku ingin menjawabnya dengan cara yang lebih jujur—bukan sebagai orang yang sudah “sembuh”, melainkan sebagai seseorang yang pernah hidup lama dengan target-target yang tampak rasional di atas kertas, tapi terasa mustahil di dada.

Aku dulu mengira aku orang yang realistis. Aku membuat daftar kerja. Membagi waktu. Menghitung jam. Menyusun target harian, mingguan, bahkan bulanan. Semuanya terlihat masuk akal. Tidak ada yang berlebihan—setidaknya begitu pikirku. Tapi anehnya, aku hampir selalu gagal memenuhi target itu, dan setiap kegagalan kecil terasa seperti bukti bahwa aku kurang disiplin, kurang fokus, kurang keras pada diri sendiri.

Belakangan aku sadar, yang tidak realistis bukan targetnya—melainkan cara aku memperlakukan diriku sendiri di dalam target itu.

Toxic productivity bekerja dengan cara yang halus. Ia tidak datang sambil berteriak, “Kerjalah sampai mati.” Ia datang sambil berbisik, “Sedikit lagi bisa kok.” “Kalau kamu atur waktumu lebih baik, ini pasti selesai.” “Orang lain bisa, masa kamu tidak?” Dan tanpa sadar, realitas kita menyempit. Kita berhenti menghitung kelelahan sebagai variabel. Emosi dikeluarkan dari perencanaan. Tubuh diasumsikan selalu siap.

Aku ingat satu periode dalam hidupku ketika aku menetapkan target kerja harian yang—jujur saja—kalau kulihat sekarang, terdengar absurd. Tapi saat itu, aku benar-benar percaya aku “mampu”. Bangun pagi, kerja fokus delapan jam, lanjut proyek sampingan malam hari, tetap belajar, tetap responsif, tetap tenang. Tidak ada ruang untuk capek, apalagi lambat. Dan ketika aku gagal—karena tentu saja aku gagal—aku tidak mempertanyakan sistemnya. Aku mempertanyakan diriku.

Di situlah toxic productivity mencengkeram: ia membuat kita kehilangan jarak kritis terhadap target yang kita buat sendiri. Target menjadi semacam standar moral. Kalau tercapai, kita merasa pantas. Kalau tidak, kita merasa bersalah.

Padahal realitas hidup tidak pernah steril. Ada hari ketika pikiran keruh tanpa alasan. Ada hari ketika tubuh lambat meski tidur cukup. Ada hari ketika satu tugas sederhana terasa berat karena emosi kita sedang bocor di tempat lain. Tapi toxic productivity tidak mengakui itu sebagai “nyata”. Ia menganggapnya gangguan. Sesuatu yang harus diatasi, bukan dipertimbangkan.

Aku pernah menetapkan target yang, secara teknis, mungkin saja tercapai. Tapi aku lupa satu hal: aku bukan hanya pekerja—aku manusia yang sedang menjalani hidup. Ada relasi, ada luka lama yang belum sembuh, ada kecemasan yang diam-diam menggerogoti fokus. Semua itu tidak masuk ke spreadsheet. Tidak tertulis di to-do list. Tapi tetap ada. Tetap memakan energi.

Dan karena toxic productivity, aku tidak menghitung semua itu sebagai bagian dari realitas. Aku menganggapnya kelemahan pribadi.

Ada satu momen kecil yang membuatku berhenti sejenak. Aku sedang menatap daftar target mingguanku. Semua terlihat “wajar”. Tidak ada yang ekstrem. Tapi dadaku sesak. Bukan karena aku malas—melainkan karena tidak ada satu pun target yang mempertimbangkan bahwa aku juga perlu bernapas. Semuanya tentang output. Tidak ada ruang untuk jeda, kesalahan, atau hari yang biasa saja.

Di situ aku bertanya ke diriku sendiri, mungkin untuk pertama kalinya dengan jujur: “Realistis untuk siapa?”

Realistis menurut logika produktivitas, mungkin. Tapi tidak realistis untuk tubuh dan pikiranku yang sudah kelelahan. Toxic productivity sering membuat kita menyamakan ‘mungkin dilakukan’ dengan ‘seharusnya dilakukan’. Padahal keduanya sangat berbeda.

Aku juga menyadari satu pola yang menyakitkan: setiap kali aku berhasil mencapai target yang berat, alih-alih merasa lega, aku justru langsung menaikkan standarnya. Seolah keberhasilan hari ini adalah bukti bahwa aku bisa menuntut lebih besok. Target tidak pernah menjadi akhir—ia selalu menjadi pijakan untuk beban baru.

Itu bukan realisme. Itu pelarian yang dibungkus ambisi.

Karena kalau aku jujur, sering kali target-target itu bukan tentang kebutuhan kerja, tapi tentang kebutuhan untuk merasa cukup. Untuk merasa berharga. Untuk membuktikan sesuatu—entah pada atasan, lingkungan, atau diriku sendiri. Toxic productivity membuat target kerja bukan lagi alat bantu, melainkan cermin harga diri. Dan ketika harga diri dipertaruhkan, realisme sering kali menguap.

Aku ingat pernah menyelesaikan sebuah proyek besar. Deadline tercapai. Kualitas oke. Orang lain puas. Tapi alih-alih merasa bangga, pikiranku langsung berkata, “Kamu bisa lebih cepat.” “Harusnya kamu bisa sekalian menyelesaikan yang lain.” Saat itu aku sadar: aku tidak gagal bersikap realistis—aku tidak diizinkan merasa cukup.

Dan tanpa rasa cukup, target apa pun akan selalu terasa kurang realistis. Karena standar terus bergerak. Selalu naik. Selalu menjauh.

Toxic productivity juga membuat kita memandang waktu secara keliru. Kita menganggap setiap jam punya nilai yang sama, setiap hari punya kapasitas yang sama. Padahal tidak. Ada hari di mana satu jam fokus setara dengan tiga jam di hari lain. Ada minggu di mana bertahan saja sudah merupakan pencapaian. Tapi dalam logika toxic productivity, variasi manusiawi dianggap inkonsistensi.

Aku mulai menyadari betapa kerasnya aku pada diriku sendiri ketika aku mencoba melakukan satu hal sederhana: menurunkan target. Bukan menghapusnya—hanya menyesuaikan. Dan reaksi pertamaku bukan lega, tapi takut. Takut dianggap malas. Takut kehilangan momentum. Takut menjadi “kurang”.

Ketakutan itu bukan datang dari kenyataan. Ia datang dari identitas yang terlalu lama melekat pada performa.

Menghadapi ini tidak langsung mengubah caraku bekerja. Tapi perlahan, aku mulai mengubah caraku melihat target. Aku mulai bertanya bukan hanya “apakah ini bisa dilakukan?”, tapi “apa yang akan aku korbankan jika aku memaksakan ini?” Pertanyaan itu membuka mata. Karena sering kali jawabannya bukan hal kecil: tidur, kesehatan mental, relasi, atau rasa damai yang entah sejak kapan hilang.

Dan di situ aku sadar: target yang realistis bukan yang bisa dikejar dengan mengorbankan diri terus-menerus. Target yang realistis adalah yang masih menyisakan ruang untuk hidup setelahnya.

Aku masih membuat target sampai sekarang. Aku masih ingin berkembang. Tapi aku belajar satu hal penting: realisme tidak bisa lahir dari pikiran yang kelelahan dan hati yang terus ditekan. Selama kita mengukur diri hanya dari seberapa jauh kita bisa memaksa, target apa pun akan terasa masuk akal—sampai tubuh dan jiwa kita runtuh diam-diam.

Kalau kamu merasa sulit bersikap realistis terhadap target kerja, mungkin masalahnya bukan pada kemampuanmu mengatur waktu atau menyusun rencana. Mungkin masalahnya adalah kamu terlalu lama hidup dalam sistem yang tidak mengajarkan cara mendengar diri sendiri.

Dan mungkin, seperti aku, kamu juga sedang belajar bahwa menjadi realistis bukan berarti menurunkan standar hidup—melainkan mengembalikan kemanusiaan ke dalam standar itu.

Aku ingin menutup ini bukan dengan kesimpulan, tapi dengan sebuah renungan yang sering kembali saat aku tergoda menetapkan target yang terlalu keras:

“Barangkali yang membuat target terasa mustahil
bukan karena kita kurang mampu,
melainkan karena kita lupa:
bahwa kita hidup di dalam tubuh,
bukan di dalam angka.”

Ketika Target Kerja Tidak Lagi Berpijak pada Kenyataan

Salah satu tanda paling halus dari toxic productivity adalah saat target kerja terasa semakin menjauh dari realitas, tetapi kita justru merasa bersalah karena tidak mampu mencapainya. Bukan karena kita malas, bukan karena kurang kompeten, melainkan karena standar yang kita gunakan sudah tidak lagi manusiawi. Toxic productivity perlahan menggeser cara kita memandang target: dari alat bantu agar pekerjaan terarah, menjadi tolok ukur harga diri. Di titik inilah realisme mulai runtuh.

Dalam kondisi sehat, target kerja disusun berdasarkan kapasitas, waktu, dan konteks. Namun ketika toxic productivity berkuasa, target tidak lagi berfungsi sebagai panduan, melainkan sebagai tuntutan absolut. Ada dorongan internal untuk terus menaikkan standar, bahkan ketika tubuh dan pikiran sudah memberi sinyal kelelahan. Akibatnya, apa pun yang dicapai selalu terasa kurang, dan apa pun yang direncanakan terasa harus lebih besar lagi.

Bagaimana Toxic Productivity Mengaburkan Penilaian Realistis

Psikologi kognitif menjelaskan bahwa manusia tidak selalu menilai kemampuannya secara objektif, terutama ketika berada di bawah tekanan internal yang tinggi. Dalam toxic productivity, tekanan itu bukan datang dari luar, melainkan dari suara batin yang terus berkata bahwa “seharusnya bisa lebih.” Suara ini membuat kita menetapkan target berdasarkan ideal yang abstrak, bukan kondisi nyata.

Albert Bandura, melalui konsep self-efficacy, menjelaskan bahwa persepsi terhadap kemampuan diri sangat dipengaruhi oleh pengalaman emosional. Ketika seseorang terbiasa menilai diri hanya dari hasil kerja, ia cenderung mengabaikan variabel lain seperti kelelahan, keterbatasan waktu, dan kebutuhan pemulihan. Target pun disusun seolah-olah diri kita adalah mesin yang selalu siap bekerja optimal.

Dalam jangka panjang, pola ini membuat kemampuan menilai kapasitas diri menjadi tumpul. Kita tidak lagi bertanya “apakah ini realistis,” melainkan “kenapa aku belum sanggup.” Fokus bergeser dari evaluasi situasi ke menyalahkan diri sendiri.

Standar Internal yang Terus Bergerak

Salah satu ciri khas toxic productivity adalah standar yang tidak pernah diam. Ketika satu target tercapai, standar segera bergeser ke tingkat yang lebih tinggi, tanpa jeda untuk refleksi atau apresiasi. Psikolog menyebut ini sebagai hedonic treadmill dalam konteks pencapaian. Kepuasan menjadi sementara, karena patokan sukses terus naik.

Dalam kondisi ini, target kerja tidak lagi disusun untuk mencapai sesuatu yang cukup, melainkan untuk mengejar rasa aman yang tak kunjung datang. Banyak orang menetapkan target berlebihan bukan karena tuntutan pekerjaan, tetapi karena ada ketakutan mendasar: takut dianggap tidak kompeten, takut tertinggal, atau takut kehilangan nilai diri.

Akibatnya, realisme dikorbankan demi rasa “aman semu.” Target dibuat tinggi agar tidak ada celah bagi rasa bersalah, meski pada akhirnya justru melahirkan kelelahan dan frustrasi.

Ketika Ambisi Tidak Lagi Sehat

Ambisi sering dianggap sebagai sesuatu yang selalu positif. Namun psikologi membedakan antara ambisi adaptif dan ambisi kompulsif. Ambisi adaptif mendorong pertumbuhan sambil tetap mempertimbangkan batas diri. Ambisi kompulsif, yang sering muncul dalam toxic productivity, mendorong pencapaian sebagai cara untuk menenangkan kecemasan.

Dalam ambisi kompulsif, target kerja menjadi alat regulasi emosi. Ketika merasa cemas, target dinaikkan. Ketika merasa tidak cukup, target ditambah. Sayangnya, strategi ini tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah emosional di bawahnya. Ia hanya menumpuk beban kerja di atas luka psikologis yang belum tersentuh.

Karena itu, orang yang terjebak toxic productivity sering merasa targetnya “masuk akal” secara logis, tetapi secara emosional terasa menindih. Ada jarak antara apa yang direncanakan di atas kertas dan apa yang mampu dijalani oleh tubuh dan pikiran.

Distorsi Kognitif dalam Menilai Target

Aaron Beck, pelopor terapi kognitif, menjelaskan bahwa tekanan internal yang tinggi sering memunculkan distorsi kognitif. Dalam toxic productivity, distorsi ini muncul dalam bentuk pemikiran hitam-putih, overgeneralization, dan “should statements.”

Target dinilai gagal total hanya karena tidak tercapai sempurna. Satu hari tidak produktif dianggap sebagai bukti ketidakmampuan menyeluruh. Kata “seharusnya” menjadi bahasa sehari-hari dalam dialog batin. Distorsi ini membuat penilaian terhadap target menjadi tidak realistis karena tidak mempertimbangkan variasi kondisi manusia.

Alih-alih menyesuaikan target dengan situasi, individu justru memaksakan situasi agar sesuai target. Ketika tidak berhasil, rasa bersalah dan kritik diri semakin menguat, memperkuat siklus toxic productivity.

Mengapa Sulit Menurunkan Target Meski Sudah Kelelahan

Banyak orang menyadari bahwa targetnya terlalu berat, tetapi tetap sulit menurunkannya. Ini bukan sekadar masalah disiplin, melainkan masalah identitas. Dalam toxic productivity, pencapaian sering kali menjadi fondasi identitas diri. Menurunkan target terasa seperti menurunkan nilai diri.

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa individu yang sejak lama mendapat validasi melalui prestasi cenderung mengaitkan cinta, penerimaan, dan rasa aman dengan kinerja. Dalam konteks ini, target kerja bukan lagi soal pekerjaan, tetapi soal kelangsungan emosional.

Itulah sebabnya, meski tubuh lelah dan pikiran jenuh, ada resistensi kuat untuk bersikap realistis. Realisme terasa seperti ancaman, bukan solusi.

Realisme sebagai Keterampilan Emosional

Bersikap realistis terhadap target kerja sering disalahpahami sebagai kurang ambisi atau menyerah. Padahal, realisme adalah keterampilan emosional yang membutuhkan keberanian. Ia menuntut kejujuran terhadap kapasitas diri saat ini, bukan kapasitas ideal yang diharapkan.

Dalam psikologi self-regulation, realisme berperan penting dalam menjaga keberlanjutan motivasi. Target yang realistis tidak mematikan semangat, justru memberi rasa mampu dan progres yang nyata. Namun dalam toxic productivity, keterampilan ini terkikis karena individu terus melampaui batas tanpa memberi ruang evaluasi.

Mengembalikan realisme berarti belajar melihat diri sebagai organisme yang dinamis, bukan entitas statis yang selalu harus optimal. Ada hari produktif, ada hari lambat, dan keduanya valid.

Memisahkan Nilai Diri dari Target Kerja

Langkah psikologis paling mendasar untuk keluar dari ketidakrealistisan target adalah memisahkan nilai diri dari pencapaian. Carl Rogers menekankan pentingnya unconditional positive regard, yaitu penerimaan diri yang tidak bergantung pada performa.

Ketika nilai diri tidak lagi bertumpu pada target, individu lebih mampu menyusun tujuan secara objektif. Target kembali menjadi alat kerja, bukan cermin harga diri. Dalam kondisi ini, menyesuaikan target bukan lagi sumber rasa bersalah, melainkan tindakan perawatan diri.

Proses ini sering kali memunculkan ketidaknyamanan awal, karena sistem lama terbiasa dengan tekanan. Namun seiring waktu, pikiran mulai menemukan keseimbangan baru yang lebih realistis dan berkelanjutan.

Dampak Jangka Panjang Jika Realisme Terus Diabaikan

Jika toxic productivity dibiarkan, ketidakrealistisan target dapat berujung pada burnout, learned helplessness, dan penurunan makna kerja. Ketika target terus melampaui kapasitas, kegagalan menjadi pengalaman berulang. Lama-kelamaan, individu bisa kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri, bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu lama dipaksa melampaui batas.

Psikologi organisasi menunjukkan bahwa produktivitas jangka panjang justru menurun ketika target tidak realistis. Kreativitas menurun, kesalahan meningkat, dan keterlibatan emosional terhadap pekerjaan memudar. Ironisnya, obsesi pada produktivitas justru menghancurkan produktivitas itu sendiri.

Kembali Menyusun Target yang Berpihak pada Manusia

Menghadapi dampak toxic productivity bukan tentang berhenti bekerja keras, tetapi tentang bekerja dengan kesadaran. Target yang realistis lahir dari dialog jujur antara ambisi dan batas diri. Ia mempertimbangkan konteks hidup, kondisi emosional, dan kebutuhan pemulihan.

Dalam pendekatan psikologi humanistik dan eksistensial, hidup yang sehat bukan hidup tanpa tantangan, melainkan hidup yang selaras antara tuntutan dan kapasitas. Target kerja yang realistis memungkinkan individu tumbuh tanpa harus terus-menerus mengorbankan kesehatan mental.

Ketika realisme kembali hadir, target tidak lagi menjadi sumber tekanan kronis, tetapi menjadi struktur yang mendukung. Pekerjaan kembali terasa sebagai bagian dari hidup, bukan medan pembuktian tanpa akhir.

Saat Realisme Menjadi Bentuk Keberanian

Di tengah budaya yang memuja kesibukan dan pencapaian, bersikap realistis sering kali terasa seperti melawan arus. Namun dari sudut pandang psikologi, realisme justru adalah bentuk keberanian emosional. Ia menuntut kejujuran, penerimaan, dan belas kasih pada diri sendiri.

Toxic productivity memang membuat banyak orang sulit bersikap realistis terhadap target kerja. Tetapi kesadaran akan pola ini adalah langkah awal yang penting. Dari sana, perlahan, target bisa kembali diturunkan ke bumi—bukan untuk mengecilkan potensi, melainkan agar potensi itu benar-benar bisa hidup dan bertahan.