Kata Gandrung berasal dari kata Gandrung, yang berarti tergila-gila atau cinta habis-habisan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) gandrung : sangat rindu (kasih) akan ; tergila-gila karena asmara. Menggandrungi : sangat mencintai ; tergila-gila pada ia-gadis berkulit kuning itu ; 2 sangat menyenangi ; sangat senang akan ; menaruh rakyat-pembangunan.
Asal-Usul Tari Gandrung
Menurut Dariharto (2009) asal-usul Tari Gandrung ialah Pada suatu penyelenggaraan upacara di istana Majapahit, sering dipentaskan suatu bentuk tarian istana yang dikenal dengan istilah “juru I angin”, yaitu seorang wanita yang menari sambil menyanyi dengan sangat menarik. Penari tersebut diikuti oleh seorang “buyut”, yaitu seorang pria tua yang berfungsi sebagai panakawan penari juru i angin tersebut.
Tari gandrung berupa tarian yang mengandung nilai magik, religius serta bersifat yang melahirkan batas-batas kaidah kesopanan yang sesuai dengan kepribadian dan watak khas masyarakat Banyuwangi. Dewasa ini tari gandrung Banyuwangi bersifat hiburan yang berupa tari dengan gendhing Banyuwangi, akan tetapi dalam tari gandrung masih kelihatan sifat aslinya sebagai tari pemujaan dan banyak mempengaruhi para seniman daerah Banyuwangi dalam menciptakan tarian jenis gandrung baru.
Pada tari gandrung Banyuwangi unsur keistanaanpun masih dapat dilihat, antara lain dalam hal busana, tata rias serta bentuk nyanyiannya yakni bentuk teknis pembawa lagu atau vokalnya yang memberikan kesan bentuk seni vokal pada zaman kehidupan kerajaan-kerajaan Blambangan zaman dahulu.