Di Bawah Langit Jepang
Aku mengenal Jepang
dari huruf-huruf yang perlahan kupelajari,
dari suara kereta yang hanya kudengar
melalui layar dan cerita.
Ada kota-kota yang belum pernah kupijak,
jalan kecil yang belum pernah kulewati,
dan musim gugur yang belum pernah kusaksikan
jatuh di depan mata sendiri.
Namun entah mengapa,
negeri itu terasa begitu dekat.
Mungkin karena sejak lama
aku menitipkan sebagian mimpi
pada kata-kata bahasa Jepang,
pada nama-nama kota
yang dulu hanya terdengar asing.
Suatu hari nanti,
aku ingin berdiri di sana,
bukan sebagai seseorang yang hanya bermimpi,
tetapi sebagai seseorang
yang akhirnya sampai.
Jika saat itu tiba,
mungkin aku akan diam sejenak,
memandang langit Jepang
dan tersenyum kecil—
mengingat bahwa
perjalanan sejauh itu
pernah dimulai
dari satu huruf
yang kupelajari dengan susah payah.