Permainan tradisional memang satar akan nilai nilai kehidupan. _Soft skill_dan saraf motorik pada anak pun akan terjadi peningkatan padanya. Karena permaian tradisional pada umumnya tidak bisa dimainkan sendiri dan di dalam ruangan tidak seperti permainan berbasis elektronik yang umum dimainkan olah anak pada saat ini. Karena nilai-nilai yang terkandung didalamnya permaian tradisional sangat memungkin dipopulerkan kembali melaui metode pendidikan dan pembelajaran.
Dalam sosiogi pendidikan dikategorikan menjadi dua, yaitu pendidikan primer --pendidikan pertama exg: orang tua dan lingkungan -- pendidikan sekunder -- pendidikan formal dan non formal eg:sekolah dan kursus-- sehingga orang-orang yang telibat dalam kedua kategori pendidikan tersebut sudah selayaknya dapat dijadikan pemangku kebijakan dalam pemasaran permainan tradisional.
Contohnya paling nyata dalam statmen tersebut adalh pelibatan guru dan orang tua dalam mengkampanye kan permainan tradisional, tentu dalam mengkampanyekan permainan tradisional diperlukan penyampainan keunggulan permainan tradisional, sehingga memikat ketertarikan orang tua dan guru dalam mengarahkan siswa atau anak mereka dalam bermain permainan tradisional ketimbang bermainan permainan berbasis elektronik yang cenderung memiliki banyak dampak negatif.
selain itu perdu dukungan pemerintah guna menyediakan wadah yang mewadahi para pegiat pemain tradisional baik produsen maupun konsumen. Wadah yang paling tepat dalam hal ini adalah perlombaan atau kompetisi. Sudah saatnya permainan tradisional dikompetisikan baik produsen maupun konsumen untuk mendukung segala kegiatan pegiat permainan tradisional tersebut