Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Mengapa (kebanyakan) Siswa Ambis Mendapatkan Pandangan Negatif dari Siswa Lainnya?

162d1c4871aa2eacbffc863b68839da7|690x435

Ambisius dalam KBBI memiliki arti bekeinginan keras mencapai sesuatu (harapan, cita-cita). Akan tetapi sepertinya ambisius mengalami perluasan makna di kalangan masyarakat terutama siswa dan mahasiswa. Ambisius berarti pelit contekan baik ketika ulangan maupun PR, kutu buku, dan tidak mau kalah.

Bahkan banyak sindiran yang datang dari teman-teman, “dulu tuh temen yang ambis, pelit contekan udah jadi apa ya sekarang?” padahal, ambisius itu diperlukan untuk menggapai cita-cita. Lagipula terdapat banyak alasan kenapa seseorang menjadi ambis, ada yang karena tuntutan orang tua, ada juga yang memang keinginan dari dirinya sendiri, ada juga yang memang dari sananya pintar sehingga terlihat effortless ketika mengerjakan tugas kemudian mendapatkan nilai yang baik.

Adanya bias-bias seperti itulah yang membuat seseorang dicap ambis, tetapi sebenarnya tidak se-ambis itu, yang menjadikan citra “anak ambis” makin jelek. Bagaimana menurut kalian?

66
[deleted]

Menurut saya, tergantung dengan pendapat individu masing-masing. Siswa yang memiliki ambisi untuk menjadi yang terbaik bukanlah hal yang buruk. Bisa saja siswa yang dianggap ambis selalu mendapat penilaian negatif dari siswa lainnya karena siswa lain tidak terlalu ambisius dan seringkali karena siswa ambisius biasanya lebih suka berinisiatif terhadap sesuatu, bisa saja itu menyusahkan mereka yang tdak terlalu ambisius. Menurut saya menjadi ambisius bukan suatu masalah besar karena kadang kita memerlukannya agar bisa mencapaitujuan, tetapi menjadi ambisius sampai merugikan diri sendiri dan orang lain, itu yang kurang baik sehingga perlu merubah pola pikir dan perilaku.

'Anak Ambisius' dealam kasus yang esktrim bisa memiliki banyak musuh karena dianggap tidak memiliki solidaritas sesama siswa dengan teman-teman sekelasnya.

Sistem ranking dan nilai tentunya menjadikan pendidikan di sekolah kompetitif dan menciptakan persaingan, namun kehidupan sosial di sekolah lebih dari sekedar nilai dan ranking, juga pertemanan dan interaksi sosial. Seorang Individu yang benar-benar mengedepankan persaingan di dibanding teman-teman seperjuangannya, tidak ragu memihak bersama guru melawan teman-temannya, bahkan mengorbankan temannya di hadapan persaingan jelas akan menjadi asing dan dimusuhi oleh siswa yang lain.

Hal di atas merupakan contoh ekstrim bagaimana seorang siswa ambisius juga bisa menjadi antagonis dalam narasi. Seringkali memang teman-teman di sekitar yang malas dan membebani si anak ambisius. Menurut saya semuanya tergantung perspektif dan saya memiliki pandangan netral karena sudah pernah mengalami memiliki teman ambis, menjadi anak ambis, atau korban keambisan siswa lain.