Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Benarkah kampanye di tengah pandemi menandakan minimnya empati?

Gambarrr|690x300-350

Pilpres 2024 memang belum dimulai. Namun sejumlah politisi sudah mulai “memperkenalkan diri” ke masyarakat melalui baliho yang belakangan ini cukup banyak bertebaran di jalan. Tidak bisa dipungkiri, sebagai negara demokrasi, pilpres merupakan agenda yang penting. Tapi di saat bersamaan, kita masih berjuang dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang tak kunjung selesai.

Menurutmu, benarkah kampanye di tengah pandemi ini menandakan minimnya empati?

62

[quote="wandaerika, post:8, topic:161521"]
Yang seharusnya dilakukan politikus seperti Ketua DPR Puan Maharani, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Ketum PKB Muhaimim Iskandar, dan Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono adalah mengalokasikan dana promosi tersebut untuk memulihkan situasi negara dan membantu masyarakat yang bergulat menyelematkan diri dari pandemic
[/quote]

[quote="yunikartika02, post:2, topic:161521"]
Harga baliho yang lumayan memakan anggaran bisa dialokasikan untuk membantu masyarakat yang sedang keusahan, politisi seharusnya lebih bijak dalam mengambil keputusan
[/quote]

[quote="Dina_Maharani, post:4, topic:161521"]
lebih baik anggaran para politisi yang melakukan kampanye di tengah pandemi ini di salurkan kepada yang membutuhkan
[/quote]

[quote="andrew_fritz, post:7, topic:161521"]
Mereka alih-alih menyumbangkan dananya untuk membantu meringankan beban para korban yang terkena efek pandemi, mereka justru mengucurkan dananya untuk hal-hal yang sekiranya masih dapat ditunda.
[/quote]

I couldn't agree less with this statement. I mean, justru pemasangan baliho itu juga merupakan salah satu usaha membantu masyarakat yang berkecimpung di dunia indsutri kreatif percetakan yang jelas-jelas juga terdampak pandemi. Lagi pula pemasangan baliho ngga ada hubungannya sama krisis empati, pasang baliho (atau orang-orang menyebutnya kampanye, meskipun saya juga tidak setuju akan hal ini) dan empati merupakan dua sisi koin yang berbeda. Orang pasang baliho, tidak serta merta dikatakan mereka rendah empati. Kita kan cuma tau satu sisi aja ya, yang keliatan aja, namun sayangnya tidak semua masyarakat dapat menerima.

Analoginya tuh gini, ketika masa pandemi trend bersepeda juga merajalela. Tak sedikit orang yang membeli sepeda baru di tengah pandemi. Misalnya kalau kita butuh sepeda baru kamu beli sepeda ngga ? Atau kalau lagi ngga butuh tapi pengen beli sepeda baru, tetep beli kan? Terus kalau ada orang yang tiba tiba nyinyir kenapa harus beli sepeda baru sih di antara banyak orang kelaparan? Kenapa uangnya ngga kamu disumbangkan kepada orang yang membutuhkan?. See, kalau kita ikuti pendirian-pendirian kayak gini, akhirnya kita akan sampai pada nyinyir tak berujung, merembet kemana-mana, tiap ada orang happy di tengah pandemi,langsung dijudge nggapunya empati.

Pemasangan baliho ditengah pandemi ini bukan menandakan rendahnya empati. Kehidupan politik itu juga harus terus berjalan, agar negara ini seimbang. Pemasangan baliho ini akan SALAH, jika... jika pemasangannya ditempat yang tidak diizinkan dan tidak membayar pajak

[quote="dinarizki, post:14, topic:161521"]
Pemasangan baliho ditengah pandemi ini bukan menandakan rendahnya empati. Kehidupan politik itu juga harus terus berjalan, agar negara ini seimbang. Pemasangan baliho ini akan SALAH, jika… jika pemasangannya ditempat yang tidak diizinkan dan tidak membayar pajak
[/quote]

Betul sekali ka bahwa meskipun adanya pandemi seperti ini kehidupan politik tetaplah harus berjalan. Apabila kampanye tidak dilakukan karena adanya pandemi maka jika hal tersebut dibiarkan malah akan menimbulkan masyarakat yang apatis terhadap politik. Apabila masyarakat menjadi apatis masyarakat dapat tak percaya partai politik, politisi, menteri-menteri, DPR, dan bahkan presiden.

Karena sedang pandemi seperti ini maka cara yang dapat ditempuh politisi dalam berkampanye tentunya melalui baliho dan juga media sosial yang lain. Para politisi pastinya ingin sekali bertemu langsung dengan masayrakat untuk memperkenalkan diri , namun hal itu tidak bisa dilakukan karena ada pandemi. Dengan adanya baliho , masyarakat dapat mengenai wajah-wajah dari para calon yang ada. Pemasangan baliho dianggap sebagai media yang paling efektif untuk menarik perhatian publik.

Pemasangan baliho sebagai kampanye di tengah pandemi ini sah-sah saja dilakukan asalkan dalam memasangan baliho prinsipnya harus mentaati aturan dan memperhatikan aspek lingkungan, etika dan estetika. Pemasangan baliho juga berguna agar informasi itu bisa lebih dekat dengan masyarakat, juga terbilang cukup aman dan terjauh dari tangan-tangan perusak yang disengaja ataupun tidak.

Kampanye adalah sebuah tindakan dan usaha yang bertujuan mendapatkan pencapaian dukungan. Kampanye ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti penyluhan, orasi, dan pemasangan baliho tersebut.

Ini tergantung dari persepsi masing-masing. Pemilu harus tetap dilaksanakan walaupun pandemi, tidak mungkin negara kita tidak ada pergantian struktur. Kampanye ini merupakan salah satu rangkaian atau budaya dari Pemiluu, tidak mungkin dihilangkan.

Mungkin yang dimaksud kurang empati di sini adalah bagaimana wujud kampanyenya. Jika kampanyenya menyangkut COVID-19, tergantung juga bagaimana persepsi masyarakat. Misalnya beliau kampanye dengan membagi-bagi sembako gratis. Hal ini merupakan hal yang baik sehingga dapat mendukung PPKM dan ekonomi warga, tetapi terlihat seperti "aji mumpung" dalam era pandemi ini.

Kegiatan tersebut akan terlihat seperti tidak punya empati dan terkesan memanfaatkan keadaan. Lalu, ada juga pemasangan baliho. Menurut saya, pemasangan baliho lebih baik tidak terlalu berlebihan, karena uangnya bisa dialokasikan ke hal lain. Paling tepat sekarang adalah kampanye secara online, walaupun ada pertimbangan bahwa kampanye online tidak efektif dan menjangkau masyarakat.

Kesimpulannya, ini kembali ke perspektif masyarakat itu sendiri. Maksud dan intensi tertentu dari pelaksanaan kampanye ini tentunya memiliki pandangan yang bervariasi. Kembali lagi ke kita apakah bisa memilih yang benar demi kemajuan bangsa.

Ya, saya setuju dengan pertanyaan tersebut. Karena pada dasarnya, pemasangan baliho-baliho itu merupakan suatu simbol yang menunjukkan bahwa elite partai sedang berkontestasi menyusun kekuatan untuk meningkatkan elektabilitas alih-alih bagian dari tindakan rasional untuk mendukung pengentasan wabah pandemi secara teknis medis dan ekonomi, sisi relasi kuasa politik berpadu dengan usaha teknis-medis ekonomi dalam mempengaruhi perspektif masyarakat. Padahal, saat ini ruang publik yang dicitrakan dan dikonsepsikan ialah ruang publik yang menuntut kesetaraan akan kesehatan dan ekonomi yang pro pada masyarakat menengah ke bawah, dan bukan pada aspek pencitraan semu yang dikamuflase oleh kekuasaan dan kerja rasional seolah-olah menuntut masyarakat agar tetap berpikir rasional dan menerima beragam baliho itu sebagai hal yang logis yang dilakukan oleh elite politik.

Jika dikaji menggunakan aspek interaksi atau paradigma komunikasi sebagai perspektif dari Habermas, menjamurnya baliho elit politik di tengah pandemi menandakan adanya sebuah krisis sosial. Dalam artian para elite politik kurang bisa membaur secara sosial dengan kehidupan masyarakat yang terdampak pandemi, terlebih kurang melakukan upaya dialogis secara kekerabatan, dan kekeluargaan. Karena apabila upaya komunikatif dilakukan secara optimal yang dilakukan, para elite akan lebih sadar bahwa yang dibutuhkan masyarakat di ruang publik bukanlah baliho melainkan implementasi nyata penanganan dampak Covid-19 secara komprehensif dan terpadu, yang dengan sendirinya mampu menumbuhkan kepercayaan masyarakat dan mengurangi aspek sinis masyarakat kepada wakil rakyat.