Manusia hanya bisa hamil satu kali dalam jangka waktu sembilan bulan. Namun, anjing dan kucing betina dapat bunting lebih dari sekali dalam setahun. Kedua hewan itu termasuk dalam kelompok hewan tipe monoestrus serta diestrus. Hewan monoestrus seperti anjing mengalami siklus berahi satu sampai dua kali setahun. Sementara itu, kucing yang tergolong hewan diestrus menampakkan hasrat seksual terhadap lawan jenis dua sampai tiga kali setahun. Pesatnya perkembangan populasi kucing dan anjing kemudian mendorong upaya kontrol lewat operasi. Dalam terminologi medis, tindakan bedah sterilisasi dengan mengangkat kelenjar kelamin hewan betina dan jantan secara umum dinamakan gonadektomi. Hewan betina yang akan disterilisasi lewat ovariohisterektomi atau ovariektomi, yakni operasi pengambilan rahim dan indung telur. Pada hewan jantan, bagian testis serta spermatic cord-struktur tubular pendukung testis dan skrotum-diangkat lewat operasi orkiektomi. Kebanyakan orang mengenal dua tindakan bedah untuk hewan betina dan jantan ini dengan istilah spay dan neutering.
Meski begitu, pro dan kontra mewarnai usaha pengendalian jumlah kucing dan anjing. Berdasarkan laporan Alliance for Contraception in Cats & Dogs, kesehatan hewan menjadi alasan dilakukan atau tidaknya tindakan sterilisasi. Bagi kelompok pro sterilisasi, sterilisasi lewat operasi menjadi cara efektif untuk membendung kelahiran, mengurangi risiko kesulitan melahirkan (dystocia) dan penyakit sistem reproduksi, mencegah tumor payudara, dan menambah usia hewan. Di sisi seberang, golongan kontra merasa tindakan pengebirian mengundang sejumlah penyakit, misalnya komplikasi pasca-operasi, obesitas, diabetes, cedera lutut, dan tumor.
Femke Den Haas, pendiri Jakarta Animal Aid Network (JAAN), bercerita JAAN pernah ditolak warga Kepulauan Seribu ketika hendak melakukan sterilisasi. Femke sendiri memandang penting sterilisasi, sebab hewan mempunyai hak untuk hidup dengan tenang. Jika ada yang menolak dengan alasan hewan memiliki hak untuk bereproduksi, ia biasanya mengatakan agar tidak menyamakan hewan dengan manusia. Menurutnya, hewan bereproduksi itu insting saja. Jika setuju dengan hak bereproduksi, nantinya hewan hanya ditaruh di jalan tentu sama dengan menelantarkan. Satwa jadi bahagia bukan karena banyak anak, melainkan karena ada yang sayang.