Cercaria menembus tubuh inang definitif dan berkembang langsung menjadi cacing muda =Schistosomule) tanpa melalui fase metacercaria. Cacing dewasa hidup berpasangan, cacing betina di dalam Canalis gynaecophorus cacing jantan.
Telur dikeluarkan ke dalam vena mesenterica 3500 butir/hari. Larva miracidium terbentuk di dalam telur, enzim lisis dan kontraksi vena menyebabkan pecahnya dinding vena dan telur dilepaskan dalam jaringan perivaskuler usus. Telur cacing dapat keluar ke dalam lumen usus kemudian dikeluarkan bersama feses penderita. Jika terbuangnya ke air (kolam), telur akan menetas dan miracidium keluar serta berenang bebas sampai menemukan siput air yang sesuai, Oncomelania spp yang bersifat amfibius. Miracidium selanjutnya menembus tubuh siput yang lunak. Di dalam tubuh siput, miracidium berkembang menjadi sporokista primer, sporokista primer akan menghasilkan sejumlah besar sporokista sekunder dan mencapai hepatopankreas dari siput. Sporokista sekunder berkembang menjadi cercaria yang ekornya seperti garpu (=furcocercaria) dan meninggalkan moluska berenang bebas di air untuk mencari inang definitif dan penetrasi aktif melalui kulit.
Infeksi terjadi pada waktu mandi, melalui tempat yang berair,bekerja di sawah atau waktu cuci pakaian di Sungai. Di dalam tubuh inang definitif, furcocercaria menanggalkan ekornya dan parasit ini (cacing muda) disebut Schistosomule. Cacing muda mengalami migrasi terbawa oleh sirkulasi sistemik sampai mencapai tempat habitatnya dan berkembang menjadi cacing dewasa. Habitat cacing dewasa pada plexus vena porta dan vena mesenterica, periode prepaten: 7-8 minggu.
Nama penyakit yang disebabkan oleh cacing S japonicum disebut Schistosomiasis Timur atau penyakit Katamaya. Penyakit ini sangat endemik di Daratan China Tengah, Jepang, Filipina, Sulawesi, Taiwan dan Korea. Merupakan parasit utama pada manusia, tetapi juga dapat menyerang anjing, kucing, sapi, kambing, babi dan tikus.