Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana sifat-sifat porcine enterovirus yang dapat menginfeksi babi?

MI Miska Nourma 9 years ago

Apakah enterovirus dapat menginfeksi selain babi? Dan bagaimana enterovirus berkembangbiak?

talfan|279x198

19

teschen|650x488

Sifat Fisika dan Kimiawi:
Enterovirus pada babi berdiameter kira-kira 30 nm. Virus itu resisten. Bila virus disuspensikan dalam medium biakan sel dan dipanaskan pada 65°C maka dalam beberapa menit virus diinaktifkan sebanyak 90%; bila virus disimpan pada 4°C maka ia dapat tahan selama kira-kira satu tahun. Zat desinfeksi yang berdaya ialah NaOH 1%, formaldehyde dan desinfektan yang mengandung khloor.

Sifat Biologis:
Porcine enterovirus hanya menginfeksi babi. Virus berreplikasi dalam tonsil dan selaput lendir faring, akan tetapi juga dalam usus; maka dari itu ia dinamakan enterovirus. Di antara berbagai galur ditemukan perbedaan mengenai virulensi. Isolat yang virulen dan bersifat neurotrop menyebabkan paralisa lengkap pada babi dewasa sesudah diberi virus secara intranasal dan intraserebral. Galur yang lebih kurang virulen hanya menyebabkan gejala-gejala penyakit pada babi muda. Di antara isolat-isolat ada juga yang mungkin tidak mempunyai arti patogen.

Biakan Sel:
Enterovirus babi dapat berkembang biak dalam sel-sel, antara lain dalam sel-sel ginjal babi. Virus membentuk CPE. Sel-sel yang terhama membundar dan menggumpal. Galur-galur yang virulen dapat diatenuasi in-vitro dengan pasase berkali-kali. Biakan sel pergunakan untuk pembikinan vaksin hidup dan vaksin inaktif.

Sifat Antigenis:
Ayam dipergunakan untuk membentuk antisera. Berdasarkan tes netralisasi dikenal beberapa subgolongan. Subgolongan satu meliputi galurgalur yang sangat nerotrop (Kontratice, Tirol) dan kurang virulen (Talfan) dan yang avirulen; dalam subgolongan dua termasuk galur Inggris (T80) yang tidak begitu virulen. Virus SMEDI ditemukan dalam berbagai subgolongan. Serotipe yang berlainan itu saling menimbulkan imunisasi yang terbatas; tetapi ada beberapa galur avirulen yang memberikan kekebalan cukup terhadap galur yang ganas.

Referensi: Ressang, AA. 1986. Penyakit Viral Pada Hewan. Jakarta: UI-Press.