Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana sifat penyakit Newcastle Disease (ND) pada unggas?

RI Rina Wijaya 9 years ago

usaha-ayam-broiler-tokomesin|636x424

Newcastle Disease (ND) merupakan penyakit menular akut yang menyerang
ayam dan jenis unggas lainnya dengan gejala klinis berupa gangguan pernafasan,
pencernaan dan syaraf disertai mortalitas yang sangat tinggi.

19

images|271x186

Newcastle Disease (ND) merupakan penyakit menular akut yang menyerang ayam dan jenis unggas lainnya dengan gejala klinis berupa gangguan pernafasan, pencernaan dan syaraf disertai mortalitas yang sangat tinggi. Penyakit ini ditemukan pertama kalinya oleh Kreneveld di Indonesia pada tahun 1926, karena menyerupai pes ayam, sehingga disebut pseudovogelpest, Doyle pada tahun 1927 memberi nama Newcastle Disease berasal dari nama suatu daerah di Inggris “Newcastle on Tyne” yang terjangkit penyakit serupa. Kerugian yang ditimbulkan ND berupa kematian yang tinggi, penurunan produksi telur dan daya tetas, serta hambatan terhadap pertumbuhan.

Wabah ND ditandai dengan mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Kematian akibat infeksi strain velogenik type Asia dapat mencapai 80-100°%, strain velogenik Amerika 60-80%, strain mesogenik biasanya tidak melebihi 10%. Strain Lentogenik akhir-akhir ini dilaporkan banyak ditemui di alam bebas, menyebabkan infeksi yang asymtomatis. Berdasarkan virulensinya, yakni kemampuan menimbulan kematian 0-100 % pada hospes, virus ND dibedakan menjadi 3 strain, yakni velogenik, mesogenik dan lentogenik. Strain velogenik adalah strain virulen, penyebab banyak kematian; strain mesogenik, kurang virulen (kerugian terutama berupa penurunan produksi telur dan penghambat pertumbuhan) dan strain lentogenik, avirulen.

Di Indonesia pada umumnya strain velogenik type Asia yang menimbulkan wabah. Strain-strain lentogenik (La Sota, B1, F) dan mesogenik (Kumarov, Mutkeswar, Roikin) dipakai strain untuk pembuatan vaksin. Virus yang apatogen pada burung mungkin sangat patogen pada ayam atau
kalkun, sebaliknya virus-virus yang apatogen untuk ayam kemungkinan masih sangat patogen pada burung. Ketiga strain dapat dibedakan dengan menghitung Mean Death Time (MDT), Intracerebral Pathogenicity Index (ICPI) dan Intravenous Pathogenecity Index (IVPI).

  1. Mean Death Time (MDT)
    Penghitungan MDT dilakukan pada TAB umur 10 hari dengan cara menginokulasikan virus ND dosis lethal minimum pada cairan alantois. Rata-rata kematian seluruh embrio ayam kemudian dihitung berdasarkan waktu (jam). Strain velogenik akan membunuh embrio ayam dalam waktu 40-60 jam, strain mesogenik dalam waktu 60-90 jam dan strain lentogenik membunuh dalam 90 jam.

  2. Intracerebral Pathogenicity Index (ICPI)
    Penghitungan ICPI dilakukan pada anak ayam umur sehari dengan cara menginokulaskan virus ND dengan dosis lethal minimum secara intraserebral. Gejala klinis atau kematian anak ayam kemudian dihitung berdasarkan waktu dan data dinyatakan dalam indeks. ICPI untuk strain velogenik antara 1,5-2; strain mesogenik 0,5-1,5 dan strain lentogenik kurang dari 0,5.

  3. Intravenous Pathogeneicity Index (IVPI)
    Penghitungan IVPI dilakukan pada ayam umur 6 minggu dengan cara menginokulaskan virus ND dengan dosis lethal minimum virus ND secara intravena. Strain velogenik akan membunuh ayam-ayam yang telah disuntik virus ND, tetapi strain lentogenik dan mesogenik tidak akan membunuh ayam-ayam tersebut.