
Sudah diutarakan di muka bahwa pencernaan di dalam rumen dan retikulum sebagian besar berlangsung secara bio-kimiawi yang dilakukan oleh mikroflora. Dalam keadaan normal, hasil pencernaan hidrat arang berupa asam lemak berantai pendek, asam cuka (6 dan asam susu, atau laktat, yang jumlahnya kurang dari 20 mg%. Asam lain yang jumlahnya juga sedikit adalah asam semut, valerat, kaproat dan suksinat. Karena pergantian susunan pakan, dari susunan berim- bang ke susunan yang kaya hidrat arang, kuman-kuman Gram positif akan tumbuh dengan cepat. Pada awalnya kuman Streptococcus bovis berbiak dengan cepat, dan kemudian digantikan oleh kuman Lactobacillus. Kuman yang terakhir menghasilkan asam susu yang berlebihan, sampai 20%, hingga mampu menurunkan derajat keasaman normal (pH 6-7) menjadi asam (sekitar pH 4.0). Pada saat yang sama histamin juga diproduksikan sebagai hasil dekarboksilasi histidin. Dari domba percobaan yang diberi pakan dengan karbohidrat berlebihan telah dapat diisolasi delapan spesies kuman laktobasilus.
Dengan meningkatnya jumlah asam di dalam rumen tekanan osmose yang normalnya sebesar 6-9 osm, meningkat menjadi 20-25 osm. Peningkatan ini menyebabkan absorb air jadi menurun. Untuk menetralkan asam yang berlebihan, produksi air iur akan meningkat. Karena produksi air liur berlebihan, nafsu minum menjadi turun, hingga pemasukan air dari luar juga berkurang. Akibat lebih lanjut adalah kurangnya cairan dalam darah, anhidremia, pengeringan atau eksikosis jaringan-jaringan di luar rumen dan retikulum, dan kurangnya atau terhentinya produksi dan pengeluaran kemih (oliguria dan anuria).
Meningkatnya asam susu D (+) yang berlebihan mengakibat kan kenaikan kadar asam di dalam darah, sehinga terjadi asidosis. Produksi histamin juga akan diserap oleh darah hingga menyebab- kan toksemia.
Perubahan pada selaput lendir lambung dan usus berupa bercak-bercak merah sebagai akibat iritasi oleh asam susu. Karena suasana jaringan dan darah cenderung bersifat asam, penyediaan alkali (alkali reserve) juga jadi menurun.
Sebagai akibat matinya kuman-kuman yang tahan asam, produksi vitamin B1 juga jadi menurun. Rumen yang pada awal ke jadian indigesti berisikan cairan yang cukup, karena menarik cairan dari jaringan lain, dalam waktu beberapa hari juga akan kekurangan cairan, dengan akibat lebih lanjut rumen jadi sarat berisikan ingesta yang kering. Selanjutnya, karena penurunan aliran darah pada dinding rumen dan retikulum, oleh karena meregangnya jaringan, tonusnya pun akan turun, sel-selnya kekurangan gizi, hingga selaput lendir akan mengalami kematian (nekrobiose). Hal tersebut nampak waktu bedah bangkai di mana selaput kedua lambung tersebut mudah dikelupas dari lapisan di bawahnya.
Referensi: Subronto. 1985. Ilmu Penyakit Ternak I. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.