
Penyebab
Kebanyakan kejadian timbul sebagai akibat perubahan pakan yang mendadak, terutama pada hewan muda yang mulai mendapatkan rangsuman untuk hewan tanggung atau dara. Pakan yang terlalu tinggi mengandung serat kasar serta tidak diimbangi cairan yang cukup akan memudahkan terjadinya indigesti.
Secara teori, hewan yang kekenyangan, atau mengkonsumsi pakan yang terlalu tinggi proteinnya, bahkan makanan yang berjamur juga mudah mendatangkan indigesti. Pemberian obat-obatan antimikrobial yang berlebihan juga merupakan penyebab indigesti di negara-negara yang maju industri peternakannya. Hewan yang terlalu letih, atau sehabis makan terus dikerjakan lagi, juga banyak yang menderita indigesti. Hewan-hewan yang diangkut di dalam truk atau kereta api tidak jarang pula yang menderita indigesti.
Dalam praktek, indigesti sederhana juga sering ditemukan, mengawali gangguan organik lainnya, misalnya radang paru-paru radang retikulum metritis dan lain-lain sebelum gejala kronik utama atau tersifat penyakit-penyakit tersebut dapat diamati. Dalam keadaan demikian gejala-gejala indigesti akan menyatu dengan ge- jala gangguan utama, hingga diagnosa indigesti tidak perlu diajukan.
Proses terjadinya
Terjadinya atoni rumen sulit untuk dijelaskan. Mungkin saja sebelum terjadi atoni ada usaha berlebihan dari otot-otot rumen, yang tercermin dari adanya hipermotili rumen, untuk mengatasi timbunan ingesta. Lama-kelamaan usaha mencernakan secara mekanis menjadi kurang produktif, hingga pada waktu diperiksa otot rumen sudah berada dalam keadaan lelah dan tidak kuat untuk berkontraksi. Akibat lebih lanjut adalah hilangnya tonus dari rumen.
Pakan yang mengandung protein tinggi atau yang mengalami pembusukan akan menghasilkan ammonia, dengan akibat derajat keasaman (pH) rumen yang mengalami kenaikan. Hal ini akan menyebabkan kuman-kuman yang tidak tahan suasana alkalis mengalami kematian, dan menyebabkan pencernaan secara biokimiawi tidak efisien. Ingesta tidak tercerna baik dan tertimbun di dalam rumen, yang secara reflektoris mendorong agar rumen berkontraksi berlebihan. Karena kelelahan, akibat seperti yang diuraikan di atas akan terjadi pula, baik berupa hipotonia atau atonia rumen.
Pengangkutan hewan yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelelahan umum; asam laktat terbentuk berlebihan, hingga hal ini akan menekan kemampuan otot rumen dalam berkontraksi Pembentukan senyawa amine yang bersifat toksik akan mendepresi syaraf, hingga refleks gerakan lambung jadi tertekan pula.
Dalam keadaan stasis rumen, pembentukan asam lemak volatil, volatile fatty acids, jadi terhalang. Karena asam tersebut diperlukan dalam pembentukan air susu, dalam keadaan stasis rumen produksi air susu akan menurun.
Referensi: Subronto. 1985. Ilmu Penyakit Ternak I. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.