
Dalam beberapa keadaan vaksinasi hewan dilakukan yaitu:
- Bila dalam perusahaan secara teratur digabungkan hewan dari daerah-daerah atau perusahaan-perusahaan yang mungkin tertular oleh penyakit Aujeszky
- Karena kemungkinan infeksi langsung dari lingkungan
- Untuk menekan kematian hewan dan tekanan infeksi sewaktu penyakit meledak secara akut.
Vaksin yang dikenal dapat dibagi dalam 4 golongan:
1. Vaksin yang berisi galur lapangan dan mempunyai patogenitas rendah.
2. Yang dibikin dari yang dinamakan galur biomutan dan dalam laboratorium .
3. Yang mengandung galur lapangan tetapi telah dipasase dalam biakan sel-sel hewan percobaan atau dalam telor ayam bertunas.
4. Vaksin yang mengandung virus yang diinaktifkan dengan cahaya UV, formalin, saponen dan sebagainya dan dibubuhi atau tidak mengandung ajuvans.
Dalam beberapa negara (Jerman) vaksin hidup tidak diperbolehkan dipakai berdasarkan:
1. Kemungkinan penambahan virulensi virus oleh pasase hewan.
2. Kemungkinan virus vaksin bersifat virulen untuk jenis hewan lain dan
3. Kemungkinan pengeluaran virus.
Umumnya vaksin hidup lebih berbahaya daripada vaksin mati. Pada pemakaian vaksin hidup replikasi virus yang dilemahkan dicegah oleh antibodi kolostral; dengan demikian pembentukan imunitas yang aktif terhindar; pada vaksin yang inaktif hal ini tidak terjadi.
Vaksin yang mengandung DEAE - D (Diethylaminoethyldextran) atau minyak sangat dianjurkan. Perlindungan hewan tercapai kira-kira 7 hari sesudah vaksinasi dan berlangsung 5 - 6 bulan. Oleh karena penyakit Aujeszky umumnya menimbulkan banyak kerugian pada hewan muda maka hendaknya kategori hewan -
hewan ini divaksinasi. Bila anak babi sudah berdaya memberikan respon imun secara aktif maka dapatlah dimulai vaksinasi. Berdasarkan eksperimen - eksperimen dapat dibuktikan bahwa anak babi berumur 2 hingga 3 minggu sudah imunkompeten. Induk babi penting divaksinasi karena badan-badan penangkis kolostral melindungi anak-anak babi selama 3 - 4 minggu. Mengenai metode vaksinasi dianjurkan supaya hewan -hewan disuntik dua kali dengan jarak 3 - 4 minggu. Induk babi hendaknya divaksin sekali lagi 1 - 2 minggu sebelum beranak. Suntikan kedua itu meningkatkan titer antibodi netralisasi.
Disamping itu nyata bahwa immunitas seluler, yang ditetapkan dengan reaksi kutan sudah terangsang sesudah injeksi pertama. Imunitas seluler ini memegang peranan penting pada penyakit Aujeszky karena titer antibodi tidak memberi pegangan. Berkali-kali ditemukan hewan yang mempunyai titer antibodi dalam serum yang cukup tinggi, tetapi tidak terlindung, disamping itu ada hewan-hewan yang kebal terhadap infeksi sedangkan titer antibodinya rendah ada atau tidak berarti.
Referensi: Ressang, AA. 1986. Penyakit Viral Pada Hewan. Jakarta: UI-Press.