Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana pemeriksaan pada hewan memamahbiak yang terkena kembung rumen?

MI Miska Nourma 8 years ago

Kejadian kembung rumen pada sapi perah ditemukan jauh lebih banyak pedaging maupun sapi kerja. Kembung rumen dapat mengakibatkan kerugian yang besar sekali. Bagaimana pemeriksaan patologi-anatomisnya?

cow dairy|690x459

18

ruminants-1100x620|690x388

Pemeriksaan patologi-anatomis
Pada umumnya dalam inspeksi terhadap bangkai hewan yang menderita kembung rumen akan ditemukan perubahan-perubahan berikut: bangkai biasa ditemukan dalam keadaan terbaring dengan badan sebelah kanan di bawah, dan dinding perut tampak menggembung. Mulut biasanya terbuka dengan lidah yang dijulurkan. Pemeriksaan atas selaput lendir superfisial, terutama pada konjungtiva, akan terlihat adanya vasa injeksi.

Setelah tubuh dibuka akan terlihat tanda-tanda terjadinya shock, yang terlihat dari adanya bendungan pada pembuluh darah perifer. Perdarahan titik, atau petechiae, pada jaringan ditemukan pada kelenjar limfe di daerah leher dan kepala, epikard dan pada saluran pencernaan makanan bagian depan. Paru-paru terlihat mengalami kompresi. Pada kerongkongan di daerah leher tampak adanya kongesti dan perdarahan Rumen yang nampak menggembung setelah dibuka menunjukkan perubahan-perubahan sebagai berikut: selaput lendir berwarna pucat, dengan perdarahan titik di berbagai tempat. Mungkin karena kurangnya darah di tempat tersebut, selaput lendir rumen mengalami degenerasi, hingga mudah dikelupas dari lapisan di bawahnya. Ingesta yang terdapat di dalam rumen bersifat setengah padat, dengan cairan yang cukup, dan mungkin busa sudah tidak dapat ditemukan.

Selain tanda-tanda shock, perubahan atas jaringan lainnya tidak banyak mengalami perubahan. Jantung, meskipun tidak mengalami perubahan patologis yang berarti, waktu dibuka tidak berisi darah. Hati dan ginjal mungkin tampak pucat karena darah lebih banyak terdapat di daerah perifer.

Referensi: Subronto. 1985. Ilmu Penyakit Ternak I. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.