Pyometra diklasifikasikan menjadi dua jenis, yakni pyometra tertutup dan terbuka. Dikatakan pyometra terbuka apabila serviks / mulut rahim terbuka selama terjadinya infeksi dan akumulasi cairan, sehingga terdapat leleran dari uterus keluar ke vagina berupah nanah, atau cairan bening bercampur darah.
Sebaliknya, pada kasus pyometra tertutup, serviks tidak terbuka sehingga nanah dan cairan yang ada dalam uterus terus terakumulasi, menyebabkan pembesaran uterus, hal ini dapat memicu kerusakan uterus dan menekan organ-organ lain disekitarnya. Infeksi dalam uterus pun dapat menyebar ke organ lainnya, mengakibatkan radang selaput abdomen (peritonitis), juga mungkin menyebar ke aliran darah (septikemia), yang berlanjut pada terjadinya shock dan tutup usia.
Anjing atau kucing yang dikawinkan dan pernah beranak pun memilki resiko terjadinya pyometra, apabila dilakukan terapi hormon dalam jangka panjang untuk mencegah kebuntingan, sebagaimana yang banyak disebut pemilik hewan sebagai suntik KB. Terapi hormonal untuk mencegah kebuntingan memang tidak dilarang, akan tetapi biasanya sebelum dokter hewan melakukan treatment tersebut, owner akan diberi penjelasan oleh dokter hewan tentang efek samping nya, dan anjuran agar tidak melakukannya dalam kurun waktu yang lama.
Hewan penderita pyometra akan mengeluarkan leleran dari kemaluannya (tipe pyometra terbuka) yang bewarna bening atau keruh kekuningan bercampur darah dan berbau tidak sedap, disamping itu hewan akan tampak lemas, tidak bersemangat, kurang bernafsu makan, muntah, lebih banyak minum dan kencing, adanya pembengkakan daerah perut, dan terjadi demam meski tidak selalu terlihat.
http://pecintasatwa.com/mengapa-pyometra-terjadi-pada-hewan-kesayangan/