Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana gejala yang dialami hewan dan terapi pada indigesti simpleks?

MI Miska Nourma 8 years ago

Indigesti sederhana (simpleks) merupakan sindrom gangguan pencernaan yang berasal dari rumen atau retikulum, ditandai dengan penurunan atau hilangnya gerak rumen, lemahnya tonus kedua lambung tersebut, hingga ingesta tertimbun di dalamnya dan disertai pula dengan sembelit (konstipasi). Proses indigesti bentuk ini terjadi mendadak, berlangsung dari beberapa jam sampai lebih kurang dua hari, dan banyak yang lolos dari pengamatan pemilik ternak. Bagaimana gejala dan terapinya?

cow neck|690x517

19

cows view|690x362

Gejala-gejala
Penderita nampak lesu dan malas bergerak, nafsu makan hilang, sedang nafsu minum mungkin masih ada. Pada hewan yang sedang menghasilkan air susu, produksi air susu menurun dalam berbagai tingkatan. Biasanya penurunan produksi air susu tidak begitu menyolok. Perubahan di atas terjadi secara mendadak. Pada awalnya frekuensi gerak rumen meningkat dan segera diikuti dengan penurunan frekuensi gerak dan tonus rumen. Pada palpasi, rumen terasa berisi ingesta yang lunak. Pembesaran rumen tidak begitu berarti. Hilangnya tonus dinding rumen dapat diketahui dari cara pemeriksaan berikut: tekanlah agak kuat rumen melalui lempeng (fossa para-lumbar, flank) sebelah kiri dengan ujung-ujung jari selama beberapa menit. Pada rumen yang normal lekukan yang dibuat dengan tekanan jari-jari akan segera hilang. Hal tersebut terjadi karena dinding rumen bersifat kenyal. Pada rumen yang kehilangan tonus lekukan tersebut akan dapat diraba, secara palpasi, beberapa menit setelah tekanan dengan jari-jari dilepaskan. Hal serupa juga ditemui pada perco- baan penekanan rumen melalui rektum.

Pada umumnya frekuensi pernafasan dan pulsus masih dalam batas-batas normalnya. Tinja yang dikeluarkan biasanya hanya sedikit, berlendir, berwarna gelap dengan konsistensi lunak.

Indigesti sederhana mungkin sembuh sendiri dalam waktu lebih kurang 24 jam tanpa pengobatan. Apabila pertolongan tidak segera diberikan seringkali indigesti sederhana dapat melanjut menjadi indigesti bentuk lain

Terapi
Pengobatan secara simtomatik paling banyak dilakukan. Obat-obat parasimpatomimetik seperti carbamyl-choline (CarbacholR, LentinR) dengan dosis 2-4 ml, disuntikkan subkutan pada sapi dan kerbau dewasa dapat merangsang gerak rumen dalam waktu singkat. Physostigmin atau neostigmin dengan dosis 5 mg/100 kg juga diberikan secara suntikan subkutan. Secara oral preparat magnesium sulfat atau sodium sulfat, dengan dosis 100-400 gram dapat diberikan dengan aman. Pemberian dengan dosis rendah (50-100 gram), selama 2-3 hari biasanya juga memberikan hasil baik sebagai ruminatorium. Pemberian IstizinumR dalam dosis ringan, sepertiga dari dosis purgatif (15-25 gram) juga terbukti efektif. Pengobatan dengan campuran antara sodium sali silat dengan sodium bikarbonat dalam jumlah yang sama, sebanyak 5-10 gram, diberikan sehari 2-3 kali melalui mulut, telah memberikan hasil memuaskan.

Pemberian makanan penguat atau makanan kasar perlu dihentikan. Sebaliknya, pakan hijauan yang segar akan lebih menarik bagi penderita. Air minum, bila perlu diberi garam dapur harus disediakan secara berlebihan (ad libitum).

Di dalam praktek sering dijumpai pemilik yang memberikan minuman kopi, minyak atsiri, misalnya minyak kayu putih, metil salisilat, atau obat-obatan herbal seperti kencur, jahe dan sebagainya. Sepanjang pengalaman di lapangan, hal-hal di muka belum menunjukkan efek-efek samping yang merugikan. Sebaliknya, karena perbaikan peredaran darah setempat, atau karena efek merangsang langsung atas selaput lendir rumen, bahan dan obat- obatan di atas dapat mempercepat kesembuhan indigesti sederhana. Perlu diingatkan bahwa obat penyebab muntah tartarus emeticus, yang beberapa puluh tahun yang lampau banyak digunakan, terbukti mampu menyebabkan radang hebat atas rumen rumenitis, hingga tidak dianjurkan untuk digunakan lagi.

Referensi: Subronto. 1985. Ilmu Penyakit Ternak I. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.