Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana gejala pada hewan yang mengalami Enteritis?

MI Miska Nourma 8 years ago

Radang yang terdapat pada bagian usus tertentu diberi nama sesuai dengan bagian usus yang menderita, misalnya radang dari kolon disebut dengan kolitis, radang ileum dengan eitis, radang rektum dengan proktitis dan sebagainya. Bagaimana gejala yang dialami hewan saat mengalami Enteritis?

22

cows view|690x362

Rasa sakit pada sapi ditandai dengan kegelisahan. Pada kuda, sering sekali radang usus ditandai dengan gejala kolik yang klasik. Diare merupakan gejala yang selalu dijumpai dalam radang usus. Tinja yang cair dengan bau yang tajam mungkin tercampur darah, lendir atau reruntuhan jaringan usus. Pada radang yang berlangsung kronik, kecuali terjadi kekurusan, maka jarang tinja bersifat cair, berisi darah, lendir atau reruntuhan jaringan yang jumlahnya menyolok. Oleh kurangnya cairan di dalam usus pada suatu ketika akan dijumpai radang usus yang disertai dengan konstipasi, dan tinja bersifat kering. Radang usus akut selalu disertai dengan oliguria atau anuria, dan disertai dengan turunnya nafsu makan, anoreksia, total maupun parsial. Pada radang yang kronik, misalnya paratuberkulosis, nafsu makan biasanya tidak mengalami perubahan.

Oleh adanya gangguan peredaran darah lokal dalam usus biasanya dijumpai vasa injeksi pada pembuluh balik. Pulsus dapat mengalami sedikit kenaikan atau dalam batas batas normal, sedang suhu tubuh sedikit mengalami kenaikan. Auskultasi pada dinding perut akan menghasilkan suara pindahnya isi usus, cairan dan gas, yang dikenal dengan istilah borborigmus, yang terjadi karena peningkatan peristaltik usus. Kadang-kadang borigmus demikian kuatnya hingga dapat terdengar dari jarak pemeriksaan dekat tanpa menggunakan stetoskop.

Akibat kehilangan cairan yang berlebihan penderita akan menyusut berat badannya dalam waktu singkat, dengan tanda dehidrasi yang menyolok. Dehidrasi yang mencapai lebih dari 10% dapat langsung mengancam kehidupan penderita dalam waktu 1-2 hari, dan dapat mengakibatkan mati karena shock.

Referensi: Subronto. 1989. Ilmu Penyakit Ternak I. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.